Lahirnya Raja Para Dewa 2

Lahirnya Raja Para Dewa 2
S4. Kekacauan di Perbatasan Benua Langit


__ADS_3

Dan saat ia pergi, ia lupa membawa alat Mata Iblis yang biasa ia gunakan untuk mendengar dan melihat.


Wuss..!!


Wuss..!!


***


2 hari telah berlalu.


“Bagaimana situasinya paman?” Tanya Bai Han sambil melirik ke arah Yu Fan yang baru saja selesai melihat masa depan.


“Sangat kau, di segala sisi perbatasan Benua Langit saat ini di penuhi oleh mereka yang mengincar kita.” Jawab Yu Fan terdengar khawatir.


“Yang lebih parah, mereka menangkap dan menahan orang-orang yang mereka curigai. Hal tersebutlah yang membuat pertabatasan Benua Langit tidak terkendali saat ini,” sambung Yu Fan.


Mendengar itu, Bai Han sedikit merenung, karena mencoba memikirkan bagaimana cara mereka melewati orang-orang Menara yang kini semakin agresif.


“Lalu apakah paman sudah melihat masa depan Klan Mu Kuno?” Tanya Bai Han kini mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke pamannya.


“Sudah, Kapal Klan Mu langsung masuk tanpa ada yang berani menghentikannya. Aku tidak yakin akan hal ini, tapi sepertinya Klan Mu Kuno ini sangat kuat sampai-sampai Organisasi Menara Gelap tidak berani memprovokasinya.” Yu Fan terlihat berhenti sesaat, lalu ia kembali melanjutkan ucapannya.


“Walau Organisasi Menara Gelap hanyalah sebuah Boneka seperti yang Tuan muda katakan, tapi untuk seorang Boneka, mereka sangatlah kuat bagi kita.”


...


“Kau memang benar paman, jika mereka semua mengepung kita, mungkin kita tidak akan ada memiliki kesempatan untuk menang. Karena saat kita bertarung dengan Menara Gelap, mereka yang asli berasal dari Menara pasti akan keluar juga. Dan di itulah yang jadi permasalahannya, sehingga aku tidak ingin mencari masalah terlebih dahulu dan berusaha menghindari mereka.” Balas Bai Han di sertai anggukan kecil.


Tapi tak lama mata Bai Han seketika melebar saat ia teringat token pemberian Patriak Klan Mu.


“Hehe,, ayo percepat perjalan kita paman, karena Han'er sudah menemukan cara agar lolos dari mereka tanpa perlu di geledak atau di tanyai,” ucap Bai Han tersenyum kecil.


“Eeh,, bagaimana caranya Tuan muda?” Tanya Yu Fan kini membelalakkan matanya sambil membuka mulutntya lebar-lebar karena tak percaya Bai Han dapat dengan cepat menemukan cara untuk lolos dari musuh yang terlihat seperti sebuah tembok yang menjulang ke langit.


“Kau akan tahu saat sudah sampai paman, jalankan saja lebih cepat kapalnya,” ucap Bai Han tersenyum misterius.


Yu Fan pun seketika tersenyum kecut. Tapi dengan segera ia melaksanakan perintah Bai Han.


Sementara Bai Han kembali memejamkan matanya.


Dret..!!


Bai Han yang muncul di dunia Jiwanya kini mengarahkan pandangannya ke arah paman dan para saudaranya.


“Bagaimana situasi di luar? Apakah terkendali?” Tanya Chen Long dengan santai.

__ADS_1


“Hemm..!! Hanya beberapa Bonekanya saja yang menunggu kedatangan kita di perbatasan Benua Langit, tapi aku sudah menemukan cara untuk lolos.” jawab Bai Han sambil melangkah duduk di kursi kosong dan melanjutkan diskusi mereka tentang masalah pencarian keluarga Bai Han.


***


Di sebuah puncak Gunung yang menembus awan, tepat di kaki gunung tersebut ada sebuah tangga yang terlihat mengarah ke puncak gunung tersebut.


Dan di kaki Gunung tersebut ada 3 orang sedang berdiri menunggu kedatangan seseorang.


Tap tap..!!


“Salam Patriak Mu, Tuan muda Luen dan Nona Li, mari silahkan ikuti saya,” ucap sosok pria tua yang muncul dari atas.


Patriak Mu Feng Lu, Tuan muda Mu Feng Luen dan Nona Mu Feng Li pun langsung mengikuti pria tua tersebut menaiki anak tangga.


“Dia sangat kuat ayah, bahkan mungkin setara dengan paman dan para tetua klan,” ucap Mu Feng Luen dengan nada serius melalui telepati.


Mu Feng Luen sedikit tidak menyangka jika orang sekuat di depannya ini hanyalah seorang pelayan.


Sementara Patriak Mu yang mendengar suara telepati dari putranya pun langsung tersenyum tipis.


Sama halnya dengan dirinya di masa lalu, saat ia di bawa ke sini oleh ayahnya, ia juga mengatakan hal yang sama dengan putranya. Hal tersebut membuat Patriak Mu bernostalgia.


“Kau akan lebih terkejut lagi setelah kita mencapai puncak Gunung Luen'er,” ucap Patriak Mu melalui telepati membalas ucapan putranya.


“Begitu ya, akan ku nantikan itu,” gumam Mu Feng Luen terlihat memasang wajah bersemangat.


Tap tap..!!


Kini Patriak Mu bersama putra dan putrinya pun melangkahkan kaki di puncak Gunung.


“I..Ini,” mata Mu Feng Luen seketika melotot tak percaya dengan apa yang ia lihat. Padahal ia sudah menguatkan tekadnya untuk tidak terkejut. Tapi tetap saja ia saat ini sangat terkejut dengan apa yang ia lihat di depannya.


Mu Feng Luen berpikir jika di puncak Gunung tempat timggal Penguasa Benua Langit atau Sang Iblis Perang adalah sebuah Istana yang megah dan di penuhi banyak harta tak ternilai harganya.


Tapi bayangan Mu Feng Luen seketika hancur saat pandangannya mengarah ke rumah gubuk kecil yang teelihat sekali tiup angin akan langsung hancur.


“A..Apakah benar ini tempatnya, ayah?” Tanya Mu Feng Luen sedikit ragu.


“Tentu, ayo beri salam kepada Tuan Penguasa Benua ini,” jawab Patriak Mu sambil mengintruksi kedua putra putrinya.


Tap tap..!!


“Salam Penguasa Benua,” ucap Mu Feng Luen dan Mu Feng Li langsung membungkukkan badannya.


Blush..!!

__ADS_1


Bruk..!!


Urgh..!!


Mata Mu Feng Luen dan Mu Feng Li langsung melotot saat sebuah tekanan tiba-tiba muncul dan menekan tubuh mereka hingga berlutut.


Hoek..!!


Mu Feng Luen dan Mu Feng Li pun langsung memuntahkan seteguk darah karena sudah tidak kuat menahan tekanan yang menimpa mereka saat ini.


“Bocah, kenapa kau tidak memberitahu kedua putra dan putrimu untuk jangan memanggilku sebutan Penguasa Benua. Rupanya kau ingin di berikan pelajaran,” ucap sosok pemuda yang sangat tampan kini muncul di depan Mu Feng Luen dan Mu Feng Li.


“Eehh,, tadi itu hanya salam perkenalan saja untuk mereka paman, agar mereka dapat merasakan hal yang sama seperti diriku di masa lalu,” ucap Patriak Mu dengan cepat melambaikan tangannya dan terlihat tidak tahu malu.


Wajah Mu Feng Luen seketika menjadi gelap saat mendengar ucapan ayahnya. “Dasar pak tua sialan, jadi kau tidak ingin hanya kau yang merasakannya. Betapa tidak tahu malunya dirimu,” teriak Mu Feng Luen yang hanya berani berteriak dalam hati.


Bruk..!!


Pandangan patriak Mu dan Mu Feng Luen pun teralihkan ke Mu Feng Li yang langsung pingsan.


“Li'er,” teriak ayah dan kakaknya serempaknya.


“Tidak perlu panik, ia sama sekali tidak terluka, melainkan hanya kelelahan saja, akibat kehabisan energi,” ucap sosok pemuda tampan pemilik gubuk kecil di Puncak gunung ini.


Dret..!!


“Ayo masuk dan bawa langsung putrimu ke rumah obat,” ajak pemuda tampan tersebut langsung melangkah ke sebuah celah yang baru saja ia ciptakan.


Tap tap..!!


Ketiganya pun langsung masuk sambil membawa Mu Feng Li.


Jlep..!!


***


“Berhenti,” teriak sosok topeng hitam langsung mengepung Kapal Dimensi milik Bai Han.


Tap tap..!!


Melihat Kapal Dimensi Bai Han terhenti, mereka semua pun langsung melesat ke dek kapal milik Bai Han sambil berteriak lantang.


“Geledah semuanya, jangan biarkan satu pun terlewati.”


“Dan kumpulkan semua orang ke-”

__ADS_1


“Apa kau mempunyai hak untuk menggeledah Kapal ku,” ucap Bai Han dengan nada dingin yang kini wajah serta tubuhnya di samarkan oleh Spititnya.


__ADS_2