
“Jadi berikan saja barang sampah-sampah itu agar aku bisa memperlihatkannya kepada mereka,” sambung Duan Du menyeringai tipis.
Wung..!!
Wung..!!
“Jangan banyak omong kosong, turun kau sialan,” seketika beberapa para Master berteriak karena sudah tidak bisa menahan diri lagi.
“Baik-baik, jangan menindas seorang junior, betapa menyedihkannya kalian,” ucap Duan Du dengan nada lemas.
Setelah menerima cincin penyimpanan yang di lempar oleh Bai An. Duan Du langsung turun.
Namun sebelum Duan Du membuka pintu, langkahnya terhenti.
Duan Du, Bai An, Xi Juan, Sia Yun, langsung saling memandang.
“Perasaan ini,” keempatnya dapat menyadari bahaya akan datang, dan bahaya tersebut bukanlah main.
Bahkan Sosok yang berada di ruangan VIP no 30 pun ikut bangkit saat merasakan bahaya yang datang mengancam.
Bukan hanya mereka saja, Tu Long yang berusaha menyembuhkan diri juga ikut bergumam hal yang sama.
Sementara di luar Rumah Lelang Gedung Merah.
Xi Luan, Li Hixie, Gu Sheng, Hu Song, Luo Sha dan para penetua sekte kekacauan ikut merasakan hal yang sama.
“Apa sebaiknya kita menghubungi Master terlebih dahulu? Perasaan yang ku rasakan ini jauh lebih berbahaya dari masa lalu,” tanya Wakil Li Hixie menghubungi Penetua Agung Xi Luan melalui telepati.
“Tidak perlu, aku yakin mereka juga merasakannya,” jawab Xi Luan lalu melanjutkan. “Lebih baik awasi saja mereka dengan lebih hati-hati, jika ada sedikit pergerakan aneh, beritahu aku.” Sambung Xi Luan kembali menutup matanya.
Banyak yang mengira jika Xi Luan menutup mata karena tidur atau berkultivasi. Tapi nyatanya tidak, hanya adiknya saja yang mengetahui mengapa Xi Luan memejamkan matanya.
***
Sementara di ruangan VVIP no 08.
Saat ini Duan Du yang melirik ke arah kakaknya mencoba untuk mencari saran akan bahaya yang akan mendatanginya.
Sementara Bai An hanya diam saja. Ia diam bukan karena tidak menemukan solusi, tapi saat ini ia mengingat sebuah pesan dari orang yang membawa putranya.
__ADS_1
Pesan tersebut bukan hanya memberitahu ia membawa putranya, melainkan pesan jika bahaya akan datang jauh lebih bahaya dari yang ia duga. Bahkan jika Bai An sekeluarga dan sekutu bergabung, ia tidak akan bisa menang.
Tapi, satu pesan terahir yang mencoba ia uraikan saat ini.
Pesan tersebut bertulis. “Waktu adalah segalanya.”
Ini yang membuat Bai An mencoba berpikir apakah yang di katakan di ahir kalimat ini mengatakan jika Bai An dan keluarganya harus melarikan diri sebelum terlambat atau mencoba bergerak cepat menyelamatkan Tu Long lalu melarikan diri dengan cepat.
Tak lama, Bai An mengangkat kepalanya. “Lakukanlah, tapi ingat untuk tetap waspada, karena orang itu sangat kuat,” ucap Bai An mengarah ke Duan Du.
Hemm..!!
Tanpa ragu Duan Du langsung melangkah keluar menuju panggung lelang.
Xi Juan dan Sia Yun yang melihat itu, tentunya khawatir lantaran bahaya yang mereka rasakan.
“Tuan Bai, apa sebaiknya kita mundur terlebih dahulu lalu merencanakan ulang strategi kita umtuk melawan mereka, termasuk menyelamatkan Tuan Tu Long,” ucap Master Xi Juan.
Bai An menggelengkan kepalanya. “Tidak ada kesempatan kedua bagi kita untuk menyelamatkan Tu Long, jadi inilah kesempatan satu-satunya,” jawab Bai An sambil menggelengkan kepalanya.
...
Tap tap..!!
“Hei, buka tudungmu itu sialan,” teriak salah satu Master Sekte Menengah yang duduk di lantai pertama, Master tersebut mencoba untuk mencari tahu identitas Duan Du lantaran saat ini ia sangat marah dan mencoba berbagai cara untuk membunuh Duan Du.
“Hoho,, apakah kau bodoh atau idiot,” ejek Duan Du.
“Apakah ada peraturan peserta lelang harus membuka identitas aslinya, jika ada, lebih baik kau suruh mereka semua termasuk pembawa acara lebih dulu membuka identitas aslinya sebelum kau menyuruhku,” sambung Duan Du langsung membuat Master Sekte Menengah tersebut diam seribu bahasa.
Sementara sosok bertopeng kuning yang berada di sebelah Duan Du semakin tertarik dengan Duan Du yang sangat pandai bicara. Ia kini berpikir untuk membawa paksa Duan Du ke Menara, lalu mencoba menariknya menjadi bawahannya.
Seutas senyum mengerikan Sosok bertopeng kuning perlihatkan di balik topengnya.
Duan Du yang menyadari hal tersebut sedikit merinding. Tapi ia mencoba untuk tetap tenang.
Pandangan Duan Du juga mengarah ke Tu Long. “Eeh,, aku merasa paman Tu berpura-pura pingsan, terlebih ada banyak energi di dalam tubuhnya,” gumam Duan Du sedikit terkejut.
Padahal ada sebuah rantai yang mengikat tubuh Tu Long, dan rantai tersebut di pakai untuk menyerap energi Tu Long.
__ADS_1
Tentu aneh bagi Duan Du, dan hanya dirinya saja yang bisa merasakannya. Bahkan sosok bertopeng kuning tidak bisa merasakannya.
Tap tap..!!
Sebelum Duan Du melangkah lebih jauh, satu sosok bertopeng hitam menghadang langkah Duan Du.
“Kembali ke tempatmu Tuan, kau tidak boleh mendekatinya sebelum kau bisa memenangkan budak tersebut,” ucap sosok bertopeng hitam yang bertugas mengawasi Tu Long.
Duan Du pun mengangguk santai di sertai memasang wajah acuh saat mendengar cibiran terus menerus dari para peserta lelang.
“Hei,, ayo keluarkan barang-barang sampahmu itu, atau jangan-jangan kau hanya membual saja,” teriak Master Sekte Kapak Dewa kini sudah mulai emosi karena Duan Du terlihat sengaja mengulur-ulur waktu dari tadi.
Tentunya Duan Du memang sengaja terus menerus memancing amarah mereka semua termasuk orang-orang Menara juga.
Wung..!!
Setelah rencana pertamanya sukses, kini Duan Du langsung mengeluarkan dua item terlebih dahulu.
Saat kedua item tersebut keluar, mata semua orang seketika melebar. Bahkan sosok bertopeng kuning dan semua bawahannya kini melotot tak percaya.
Bukan hanya mereka saja, Sia Yun pun ikut terkejut luar biasa.
“Bu..Bukan kah ini item yang hanya ada di Menara?” Ucap Sia Yun tak bisa percaya sampai saat ini.
Item yang Duan Du keluarkan memang tidak berharga bagi dirinya yang berada di Lantai ke 6, karena item yang ia lihat ini khusus berada di lantai dua hingga lantai 5 di dalam Menara. Dan setahunya item ini tidak akan pernah ada di seluruh Dimensi ini selain Menara.
“Jadi, bagaimana bisa item yang berasal dari Menara bisa keluar dari sini?” Gumam Sia Yun melirik ke arah Bai An.
“Hemm..!! Aku cukup terkejut saat mendengar ucapanmu tadi, item yang berasal dari menara ya,” bukannya menjawab, Bai An malah tertarik dengan apa yang Sia Yun ucapkan.
....
Sementara dua item yang Duan Du keluarkan saat ini membuat kegaduhan di antara para peserta lelang.
Terlihat Duan Du menyeringai tipis dan mencoba memanfaatkan situasi dengan menyelinapkan beberapa bayangannya ke tempat Tu Long berada.
Bahkan Tu Long pun mencoba memanfaatkan situasi dengan melempar pil pemberian sosok berjubah putih ke dalam mulutnya.
Setelah di rasa berjalan lancar. “Hoho,, apakah kalian terkejut dengan aura dari kedua item ini,” ejek Duan Du.
__ADS_1
“Biar kuperjelas nama dan kegunaan kedua item ini,” ucap Duan Du tanpa basa basi. “Nama item ini adalah-”