
Tangan Bai An dengan cepat terulur ke kepala Rian.
Blush..!!
Argh..!!
Rian seketika berteriak kencang saat merasakan sakit yang luar biasa, ia tidak pernah merasa sesakit ini dan saat ini ia mengerti, lebih baik ia mati dari pada tersiksa seperti ini.
Tubuhnya kini tak henti-hentinya bergetar hebat. Sama halnya dengan Husen, ia malah lebih ketakutan melihat kondisi Rian saat ini.
“Tu..Tuan aku mohon lepaskan dia, aku akan memberikan semua yang kau mau jika kau melepaskannya, dia adalah temanku satu-satunya,” ucap Husen memohon sambil membenturkan kepalanya ke tanah berkali-kali.
“Ini lebih baik,” ucap Bai An memang sengaja melakukan hal seperti ini, ia merasa mereka akan mudah di ajak bekerjasama jika melakukan tindakan sedikit kasar.
Bai An mungkin tidak tega menyerap ingatan manusia fana di depannya ini, tentu saja ia langsung mati jika Bai An menyerap ingatannya.
“Baiklah ceritakan semua yang kau ketahui, jika kau berbohong satu kata saja, maka aku tidak akan segan-segan menyiksa kalian berdua seumur hidup kalian,” ucap Bai An langsung memberikan ancaman.
Tubuh Husen bergetar hebat, Rian tentu mendengar itu, tapi ia saat ini sedang lemas di sertai masih merasakan rasa sakit yang luar biasa.
“Ba..Baik akan kami katakan,” ucap Husen. Tanpa basa basi, Husen memberikan semua yang ia ketahui tanpa menutupi atau berbohong.
Bai An terdiam sesat. “Bumi ini tidak sesederhana yang terlihat dari luar saja,” gumam Bai An.
Hanya keluarga Bai An yang dapat mendengar Bai An bergumam sehingga mereka mengangguk setuju.
“Lalu kita akan kemana lebih dulu?” Duan Du langsung bertanya, ia sadar jika saat ini mereka tidak punya banyak waktu.
“Hehe,, bagaimana jika ke markas mereka, aku mencium bau makanan menanti disana,” kekeh Tu Long.
“Bagus juga itu, seperti cerita orang ini, jika pemimpin mereka sangat keji, ia sama sekali tidak menghargai nyawa setiap bawahannya, jadi aku cukup kesal,” sambung Bai Han seakan setuju ucapan Tu Long.
Bai An melirik ke arah Rian yang kini telah selesai mengobati dirinya.
“Bicaralah, aku tahu kau lebih banyak tahu dari dia,” ucap Bai An dengan nada dingin.
Tubuh Rian menjadi kaku, ia kini merutuki nasibnya bertemu orang-orang gila dalam menyiksa tanpa belas kasih.
__ADS_1
Dengan sedikit keengganan Rian bercerita semua yang ia ketahui.
Bai An yang mendengar itu kini melirik ke arah ketiga keluarganya.
“Jangan kasih ampun pemimpin dan orang-orang tertentu yang telah di ceritakan olehnya,” ucap Bai An memberi perintah.
“Hehe,, inilah yang ku tunggu,” secara serempak Bai Han, Duan Du dan Tu Long bicara.
Mereka pun langsung melesat mengikuti kecepatan milik Rian dan Husen.
3 hari telah berlalu, kini Bai An melihat hutan yang cukup luas untuk seukuran manusia.
“Eeh,, kenapa kesadaranku terhalang oleh kabut ini?” Gumam Duan Du sedikit mengerutkan keningnya.
Tu Long dan Bai Han ikut mengedarkan kesadarannya saat mendengar ucapan Duan Du.
Benar saja, mereka berdua tidak bisa melihat secara keseluruhan yang ada di dalam hutan karena sebuah kabut menghalangi kesadaran mereka.
Kini pandangan ketiganya mengarah ke Bai An, mereka merasa Bai An tahu apa yang ada di seluruh hutan ini.
Tapi harapan mereka sirna mendengar ucapan Bai An.
Bukannya tak ingin memberitahu apa yang ada di dalam hutan, Bai An juga tidak mengetahuinya karena ada penghalang. Tapi Bai An merasakan energi melimbah di balik penghalang yang berada di tengah-tengah hutan.
Rian dan Husen mengangguk patuh, mereka langsung menunjukkan jalan dimana tempat markas pemimpin mereka.
Kelompok tempat Husen dan Rian bergabung bernama Tarung Sejati.
Tarung Sejati sangat kuat di Negara Magin ini, tapi bukan kelompok mereka saja, ada 3 lagi yang memiliki kekuatan setara, dan keempat kelompok ini yang menjadi pelindung Negara Magin ini.
***
“Hmm..!! Kenapa mereka lama sekali kembali,” sebuah suara dingin terdengar menyeramkan, ia kini duduk di tempat yang paling tinggi dengan wajah galak.
“Mungkin mereka bersenang-senang lebih dulu pemimpin,” jawab salah satu dari 20 orang yang duduk berjejer di meja panjang.
“Jangan asal menjawab, kedua orang ini yang paling setia dan patuh, jadi tidak mungkin mereka bekerja lambat,” dengus pria yang duduk di urutan kelima.
__ADS_1
“Heng,, kau melindunginya karena dia di bawah kepemimpinanmu, coba jika orang yang di tugaskan bawahanku, kau pasti akan menjelekkan namaku,” dengus pria yang bicara asal tadi.
“Kau..!”
Brak..!!
“Cukup,” sebuah suara menghentikan kedua orang yang ingin bertarung.
“Kalian ini, setiap bertemu selalu saja bertengkar, jika kalian ingin bertarung maka lakukan di luar, bila perlu sampai mati juga,” dengus pemimpin mereka.
Keduanya kembali duduk ke tempat mereka masing-masing, walau begitu, mereka tak henti-hentinya saling menatap.
“Aku merasa orang yang aku rasakan itu cukup kuat sehingga mereka mungkin mati, aku terlalu meremehkan kemampuan mereka,” ucap pemimpinnya dengan santai.
“Jika begitu kirim saja yang lebih kuat untuk membunuh penyusup itu, aku yakin jika mereka dari Negara Gun yang ingin mengincar tempat itu,” celoteh salah satu pria muda dengan santai.
“Benar juga, tapi siapa yang akan kita kirim, jika kita mengirim yang lemah-lemah lagi, itu akan sia-sia saja,” sambung wanita terlihat berumur 40 tahunan, namun kecantikannya masih cukup terlihat.
“Hmm,, dari pada mendengar kalian berdebat, lebih baik aku mengirim 4 dari kalian, karena menurut penghalang yang aku pasang di perbatasan Negara kita, jumlah mereka ada 4, kalian juga boleh bawa semua pasukan kalian. Jika pemerintah betanya maka beritahu saja ini tugas rahasia dariku.”
Mendengar perintah dari pemimpin mereka, kini ke 20 orang tersebut mulai saling melirik, terlihat tidak ada yang mau pergi karena merasa orang yang ingin mereka bunuh sangat lemah. Itu akan mengotori dan mencemari nama mereka jika ikut turun tangan.
“Jika tidak ada yang mau dari kalian turun tangan, maka aku akan turun tangan sendiri, tapi setelah aku kembali, jangan harap anggota tubuh kalian akan utuh lagi,” dengan wajah dingin Pemimpin Tarung Sejati bangkit.
Wajah semuanya seketika menegang, kini terdengar sebuah suara berlomba-lomba ingin pergi.
“Aku akan pergi, tidak perlu membawa pasukan, cukup aku saja sudah bisa membunuh mereka semua.”
“Tidak aku saja yang pergi, aku akan berangkat sekarang.”
Diam..!!
Setelah bentakan di sertai teriakan dari pemimpin mereka, kini aula tersebut menjadi hening.
“Aku sendiri yang akan memilih kalian, nomer 3 kau jadi pemimpin, lalu yang ikut nomer 12, nomer 15 dan nomer 20, kalian boleh berangkat sekarang, terserah mau pergi sendiri atau membawa pasukan, yang aku ingin hanya mayat keempat penyusup itu.” Ucap pemimpin Tarung Sejati.
Nomer 3, nomer 12, nomer 15 dab nomer 20 mengangguk penuh semangat, padahal di dalam hati mereka, mereka enggan dan jijik.
__ADS_1
Saat mereka akan berangkat, terdengar sebuah suara menggema di seluruh aula.
“Eeh,, katanya mereka ingin membunuh kita, apa mereka tidak bermimpi ya.”