
“Hehe,, apakah ini yang di sebut Ras pengecut,” kekeh Bai Han dengan nada mengejek.
Setiap yang Bai Han lontarkan kini membuat wajah Hu Lan semakin gelap, tak pernah terbayangkan jika seorang anak kecil memprovokasinya sampai serendah ini.
Sebuah penyesalan juga muncul di hati Hu Lan, jika ia tahu Bai Han adalah sosok dalam ramalan, mungkin saat ia masih dalam kandungan, Hu Lan langsung membunuhnya.
Tapi apa boleh buat.
Kini tatapan mata Hu Lan berubah, dari yang bewarna merah kehitaman langsung menjadi hitam sepenuhnya.
“Tunggu pembalasan dariku, aku akan membuat semua orang yang kau kenal menderita dan di mulai dari ibumu,” ucap Hu Lan langsung berubah menjadi partikel.
“Heeh,, ancaman apa yang pengecut lontarkan, sungguh tak tahu malu,” kekeh Bai Han terlihat santai.
Bai Han tidak mengejar Hu Lan, karena ia merasa ada sebuah dinding yang tidak bisa Hu Lan tembus di Dunia Jiwa Duan Du.
Walau Bai Han tidak tahu secara pasti siapa yang membuat dinding tersebut, tapi setidaknya ia menduga jika ini perbuatan ayahnya.
Bam..!!
Seketika terdengar suara ledakan.
Bai An melirik ke arah suara ledakan, ia kini melihat Hu Lan terpental mundur.
Bom..!!
Tubuh Hu Lan kini membentur tanah yang langsung membentuk sebuah kawah karena kerasnya tubuh Hu Lan yang terlempar.
“Hehe,, bagaimana? Apakah kau sadar kemampuanmu yang tidak seberapa itu,” kekeh Bai Han dengan senyum mengejek.
Hu Lan yang merasakan tubuhnya kini terluka di seluruh tubuhnya hanya diam saja, energi yang ada di dalam tubuhnya kini trus menerus merebes keluar.
Bai Han yang melihat Hu Lan terdiam langsung bergerak cepat, tangannya juga ikut bergerak untuk membuat benang energi agar Hu Lan tidak bisa melarikan diri.
Tangan Bai Han yang terkepal langsung terayun saat sudah di depan Hu Lan.
Bam..!!
Tinju Bai Han hanya mengenai udara, walau begitu, saking kuatnya tinju Bai Han, membuat suara ledakan kecil.
Pandangan Bai Han langsung mengarah ke samping kirinya, Bai Han kini melihat Hu Lan sedang menatap Bai Han sinis.
“Saat kita bertemu lagi, saat itulah kematianmu,” ucap Hu Lan langsung menusuk tepat di bagian dadanya.
Bom..!!
Ledakan energi langsung mengguncang Dunia Jiwa milik Duan Du.
Sementara Duan Du yang tengah bertarung langsung mundur.
Duan Du awalnya mengerutkan keningnya saat merasakan energi yang melimpah di dunia jiwanya.
__ADS_1
Tapi tak lama ia kini tersenyum tipis. “Walau iblis itu berhasil pergi dengan cara menghancurkan diri, tapi aku cukup mendapatkan asupan energi yang bisa meningkatkan kekuatanku,” gumam Duan Du langsung menyerap semua energi milik Hu Lan.
Bai Chen yang melihat Duan Du mundur dengan wajah tersenyum tipis langsung mengerutkan keningnya.
Saat Bai Chen ingin menyerang Duan Du, ia langsung terhenti saat mendapat sebuah pesan telepati.
Seketika Bai Chen memasang wajah jelek.
“Hmm,, sampai ketemu lagi Fang Duan, saat pertemuan kedua kita nanti, aku pasti akan membuatmu mengerti betapa mengerikannya para leluhur Bai,” ucap Bai Chen langsung merobek ruang.
Srek..!!
Wuss..!!
Duan Du yang melihat Bai Chen pergi langsung memasang wajah gelap.
“Kenapa kau membiarkannya pergi kakak,” dengus Duan Du kini melirik ke arah samping.
Bai An yang sudah ada dari tadi kini hanya mengeluarkan senyum tipis.
“Belum saatnya kita membunuhnya, terlebih lagi aku merasakan hatinya terus berperang, antara memilih kita atau mereka,” jawab Bai An santai.
Bukannya mengangguk, Duan Du langsung cemberut.
“Bukan jawaban itu yang ingin aku dengar,” dengus Duan Du.
“Hmm..!! Kau akan sadar saat kita sampai Alam Semesta Inti ke 2,” balas Bai An.
Setelah itu pandangan Duan Du mengarah ke Hu Qia yang berdiri kaku.
“Kak, apa kau tidak menyapa-”
“Biarkan Han'er yang menemui ibunya lebih dulu,” ucap Bai An langsung memotong pertanyaan Duan Du.
Duan Du mengangguk santai.
***
1 minggu kemudian.
Saat ini Bai Han menatap ibunya dengan tatapan rumit.
Selama seminggu ini Bai Han telah bersama ibunya dan mengajak ia kembali bersama keluarganya. Tapi ibunya menolak dengan alasan tidak jelas.
Tentu Bai Han mengerti mengapa ibunya menolak ikut, dan Bai Han berusaha untuk tetap meyakinkan ibunya.
“Maafkan ibu Han'er, ibu akan pergi dan suatu saat kita pasti akan bertemu lagi, saat pertemuan kita, ibu akan tetap bersama dan menjagamu,” ucap Hu Qia kini membelai rambut putranya.
Bai Han yang mendengar itu, mulai meneteskan air matanya.
“Ibu,, aku tahu kau merasa bersalah dan aku juga telah memberitahumu jika ayah selalu terbuka,” ucap Bai Han memeluk ibunya.
__ADS_1
“Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, coba kau lihat disana jika mereka semua sangat menantikan kedatanganmu,” sambung Bai Han sambil menunjuk Bai An bersama semua keluarganya.
Hu Qia yang mendengar itu hanya melirik sekilas, ia merasa malu jika menatap wajah mereka semua.
“Han'er, maafkan ibumu nak, sampai jumpa,” ucap Hu Qia langsung memukul pundak Bai Han sampai pingsan.
Setelah itu Hu Qia pergi tanpa melihat ke arah belakang.
Hu Qia pergi bukan karena malu atau merasa bersalah. Tapi ia hanya ingin pergi memperbaiki dirinya sendiri agar bisa menjadi lebih baik lagi.
Tentu Hu Qia sadar jika Bai An tidak marah akan kelakuannya, walau ia tahu Bai An sedikit kecewa dulu, tapi ia yakin jika Bai An akan memaafkannya.
Hu Qia juga ingin menjadi lebih kuat agar ia bisa melindungi putranya kelak.
Tidak jauh dari tempat Bai Han.
Bai An hanya bisa menghela nafas saat melihat keras kepala istrinya itu.
Mu Xia'er dan Chu Jia langsung memegang lengan suaminya.
“Aku yakin ada alasan tertentu mengapa ia lebih memilih pergi,” bisik Mu Xia'er.
Bai An hanya tersenyum saat mendengar Mu Xia'er mencoba menghiburnya.
“Bukan itu yang aku kecewakan, aku hanya ingin ia melihatku walau sedetik saja, tapi ia tetap tidak berani melihatku,” ucap Bai An.
Mu Xia'er dan Chu Jia terdiam.
Hu Qia melirik ke arah sini hanya untuk melihat Bai Chu Ye dan Bai Xia Xie saja, mereka pun sadar akan hal tersebut.
Sementara Duan Du dan Tu Long hanya melihat tanpa berani mengeluarkan pendapat.
Hu Xiao yang tidak jauh dari tempat mereka duduk juga ikut terdiam. Ia terlihat merasa sangat bersalah saat ini yang tidak bisa mendidik putra putrinya.
Terlebih ia sangat terpukul saat putranya Hu Liu Chen mati.
“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya Tuan muda?”
Bai An melirik ke asal suara.
“Jangan memanggilku seperti itu, kau tetap ayahku juga walau Qia'er pergi, terlebih cucumu pasti akan terpukul saat ia sadar nanti.” Ucap Bai An tersenyum hangat.
“Hanya kau satu-satunya anggota klan Hu yang tersisa yang di miliki Han'er di sini, jadi cobalah hibur ia saat sadar,” sambung Bai An.
Hu Xiao mengangguk dengan senyum terharu.
Hu Xiao kini merasakan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan.
Saat Hu Xiao tersenyum bahagia.
Duan Du dan Tu Long kini maju.
__ADS_1