
Bai An tersenyum kecil karena tahu apa permintaan kecil mereka yang mereka bilang syarat.
“Hmm,, tanpa kalian katakan pun aku akan menghancurkan mereka semua, terlebih aku juga telah merusak dinding dimensi ini dan membiar Bangsa Iblis Merah masuk,” ucap Bai An santai.
“Hehe,, kalian pasti apa yang terjadi bukan?” Kekeh Bai An menyeringai kejam.
Seluruh tubuh semua orang merinding kecuali Bai Han, Duan Du dan Tu Long.
Baru kali ini orang-orang terdekat Bai An melihat Bai An terkekeh sekejam ini.
Sementara para leluhur Bai An kini tersenyum lebar, mereka sangat bahagia karena saat mereka mati nanti, dendam mereka terbalaskan. Terlebih mereka yakin jika Bai An akan menepati janjinya.
“Baiklah nak, majulah dan aku akan mengirim teknik pertama,” ucap pria berambut putih.
Bai An langsung bangkit dan berjalan ke arah pria berambut putih yang bicara tadi.
Blush..!!
Sebuah cahaya langsung melesat masuk ke kening Bai An.
Bai An langsung mencernanya selama beberapa detik, ia langsung membuka matanya dengan wajah tersenyum kecil.
Melihat kecepatan Bai An dalam menyerap teknik tersebut, kelima dari mereka yang akan mati kini sangat kagum.
Tak lama, satj persatu dari mereka mulai memberikan sisanya hingga teknik kelima yang berada di Ling Yun.
Ling Yun kini memegangi pundak Bai An kemudian menepuk-nepuknya berkali-kali.
“Aku percayakan teknik ini padamu dan gunakan dalam hal yang positif saja, kau paham bukan?” Ucap Ling Yun melalui telepati.
“Aku mengerti leluhur,” jawab Bai An dengan nada hormat.
Ling Yun langsung menembakkan cahaya putih yang melesat dari tangannya.
Wuss..!!
Bai An yang mencerna teknik kelima terdiam beberapa saat.
Saat ini Bai An langsung masuk ke dunia jiwanya dan meninggalkan tubuh aslinya di dunia luar, ia yakin jika keluarganya akan menjaga tubuhnya.
“Bagaimana?”
__ADS_1
Mendengar petanyaan Bai An, Bai So melirik ke arah Bai An sesaat, lalu mengalihkan pandangan ke sebuah cahaya berkabut di penuhi oleh tulisan kuno.
“Hmm..!! Memang benar teknik yang mereka berikan ini berasal dari Dimensi Pusat, tepatnya pusat dari segala pusat dan hanya orang tertentu saja bisa memasuki tempat itu. Tapi!”
Bai So terhenti dan kembali menatap kelima teknik yang sebenarnya dalam satu buku, Leluhur Bai An sengaja membaginya menjadi 5 dan mereka namakan teknik pertama hingga kelima.
“Tapi apa?” Tanya Bai An terburu-buru, ia kini di penuhi oleh rasa penasaran.
“Tapi teknik ini masih belum lengkap, sebenarnya teknik ini ada 7 lembar, sementara ini ada 5 lembar,” jawab Bai So dengan nada datar.
“Eeh,, dari mana kau tahu? Bukankah kau hanya bilang jika mengenal teknik ini saja tanpa tahu isinya?” Tanya Bai An kini mulai curiga.
“Heng,, sebenarnya aku tak ingin memberitahumu, karena dengan sifatmu yang licik ini, akan jadi bahaya jika kau menguasai seutuhnya.”
“Tapi apa boleh buat, aku pada akhirnya harus memberitahumu semuanya karena kau adalah Tuan ku sekarang,” dengus Bai So.
Bai An terkekeh kecil, mungkin hanya beberapa orang saja yang mengetahui sifat Bai An yang sebenarnya dan salah satunya tentu saja Inti Energi Jiwanya.
“Dulu aku mempunyai Tuan yang sangat luar biasa kuat, ia yang telah membuat teknik ini dan ia jual ke pusat yang tak ingin aku beritahu namanya, karena pada akhirnya kau pasti akan kesana suatu hari nanti.”
“Teknik ini bernama Jiwa Penghancur dan Jiwa Kehidupan, orang-orang yang mempelajarinya hanya bisa sampai tahap 5 dan untuk tahap enam, tujuh, itu adalah teknik yang berisi tentang cara menghancurkan jiwa orang yang jauh lebih kuat darimu.”
Mendengar penjelasan Bai So, Bai An terkejut luar biasa.
“Luar biasa, suatu hari nanti aku juga ingin menciptakan banyak teknik kuat untuk semua keluarga dan keturunanku, aku juga akan membuat untuk di perjual belikan,” gumam Bai An tersenyum tipis.
“Heng,, otak mu ini,” Bai So tidak bisa meneruskan ucapannya karena tidak tahu harus mengatakan apalagi kepada Bai An.
Tanpa menunggu respon dari Bai An, Bai So melambaikan tangannya mengusir Bai An.
Blush..!!
Bai An langsung membuka mata tanpa ekspresi, tapi sebenarnya ia sangat kesal kepada Bai So yang mengusirnya.
Duan Du dan Bai Han tersenyum kecil, mereka sadar jika Bai An merasa kesal.
“Bagaimana?”
Pandangan Bai An mengarah ke asal suara bertanya.
“Cicit mu ini sangat senang karena leluhur telah memberikan teknik yang sangat kuat ini, terimakasih,” ucap Bai An penuh penghormatan kepada Ling Yun.
__ADS_1
Ling Yun langsung menepuk pundaknya.
“Kau tidak perlu berterimakasih, aku sangat bahagia jika kau bisa mempelajarinya, dengan begitu kami bisa pergi.” Ucap Ling Yun.
Kini Ling Dong maju langsung memeluk semua pendahulunya. Begitupun dengan Bai An dan yang lainnya.
Tak menunggu waktu lama, kini kelimanya mulai memudar secara perlahan.
“Jagalah keluargamu An'er dan jagalah ibu mertuamu, jika bukan karenanya, kami tidak akan pernah bisa memiliki semangat untuk hidup.”
Seketika Ling Yun dan yang lainnya menghilang setelah Ling Yun memberikan pesan terahirnya melalui telepati.
“Ehem-ehem, ibu mertua apakah kau tidak ingin menyapa menantumu,” ucap Duan Du dengan nada pelan, namun dapat di dengar oleh semua orang.
Bai An mengeryitkan alisnya saat tingkah Duan Du kumat lagi.
“Hmm.. Dasar bocah nakal, yang harus menyapa duluan adalah menantu bukan ibu mertuanya,” dengus Ling Dong melototi Duan Du, lalu pandangannya mengarah ke Bai An.
Seketika Bai An tersenyum kecut. “Tadi ia sangat pendiam saat masih ada leluhur, kini kumatnya Paman Ling Dong juga mulai kambuh lagi,” gumam Bai An.
Bai An mau tak mau melangkah ke arah Mu Gia.
“An'er menyapa ibu,” ucap Bai An dengan nada tulus.
“Han'er menyapa nenek,” tak lama Bai Han ikut maju, ia terlihat senang saat tahu jika dirinya mempunyai nenek, terlebih bisa di ajak kerja sama, itulah yang ada di dalam otak Bai Han.
Tubuh Mu Gia sedikit bergetar, mungkin ia tahu Bai An, tapi ia tidak tahu jika ia telah mempunyai seorang cucu, dimana cucunya kini telah tumbuh dewasa dan kuat.
“Bangunlah nak, apa dia putramu dari Hu Qia?” Tanya Mu Gia langsung ke intinya.
Bai An dan Bai Han bangun. Pandangan Bai An melirik ibunya lalu mengangguk.
Tanpa peringatan atau pemberitahuan. Mu Gia memeluk Bai Han dengan erat.
Mu Gia tahu akan penderitaan Bai Han dari salah satu temannya yang kini ada di belakang. Temannya adalah salah satu orang yang menyusup ke klan Hu dahulu dan ia berasalah dari klan terbuang.
Bai Han kini merasa sesak, ia tidak bisa bernafas saat dua gunung milik neneknya menempel di wajahnya.
Mmm..!!
Mmm..!!
__ADS_1
Mendengar suara Bai Han yang ingin mencoba bicara, Mu Gia seketika tersadar jika saat ini cucunya kesulitan bernafas akibat terlalu bahagia saat memeluk Bai Han.
“Uhh,, cucu nenek sangat imut saat cemberut,” bukannya menyesal melihat wajah Bai Han cemberut, ia malah semakin jadi sehingga mencubit Bai Han.