Lahirnya Raja Para Dewa 2

Lahirnya Raja Para Dewa 2
Pertarungan Bai An Melawan Mu Xia'er dan Chu Jia


__ADS_3

“Jangan gugup Xia'er” bisik Bai An sambil tersenyum penuh makna.


Tubuh Mu Xia'er seketika bergetar hebat, ini pertama kalinya ia malu seperti ini. Dengan cepat Mu Xia'er membenamkan kepalanya di dada Bai An yang bidang tersebut untuk menutupi wajahnya yang kini malu.


Bai An yang melihat kelakuan istrinya ini hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Ia sadar jika ini pertama kalinya bagi Mu Xia'er seperti ini. Sementara Bai An yang sudah cukup berpengalaman langsung membelai rambut Mu Xia'er.


“Tenanglah, jangan gugup. Aku akan melakukannya dengan lembut,” bisik Bai An.


Mu Xia'er yang mendengar itu awalnya sedikit gugup. Tapi saat merasakan tangan Bai An yang mengusap rambutnya, entah mengapa ia menjadi tenang sehingga ia mengangguk dengan sedikit malu-malu.


Dengan cepat Bai An mengangkat dagu Mu Xia'er.


Kini pandangan Bai An dan Mu Xia'er bertemu.


Tatapan mata Mu Xia'er yang polos membuat Bai An sedikit tidak dapat menahan diri, dengan cepat ia menjulurkan kepalanya.


Bai An langsung mencium aroma tubuh istrinya hingga Bai An mencium leher istrinya.


Sementara Mu Xia'er terdiam kaku, saat merasakan ini, karena ini pertama kalinya bagi Mu Xia'er.


Secara perlahan tapi pasti, akibat permainan Bai An yang dengan sabar, kini Mu Xia'er telah terbiasa dengan gerakan suaminya.


Karena terbawa suasana, Bai An langsung menidurkan istrinya ini secara perlahan.


Tanpa menunggu lama Bai An kembali menggerakkan tangannya.


Merasakan tangan suaminya bergerak liar. Mu Xia'er entah mengapa kini tidak gugup lagi, tangannya juga dengan cepat bergerak ke pedang tumpul milik suaminya yang sudah berdiri dari tadi. Seolah pedang Bai An siap menusuk mangsanya.


Tak menunggu lama, kini Bai An dan Mu Xia'er bergerak saling membuka pakaian masing-masing.


***


Sementara Chu Jia yang berada di luar kini wajahnya sudah memerah layaknya lava, bahkan asap kini tak henti-hentinya terus keluar dari kepalanya.


“Heng..!! Apa gege sengaja tidak memasang perisai agar aku mendengarnya?” Gumam Chu Jia kini terlihat malu, tangannya kini tergerak ke bagian hutan belantara miliknya.


Secara tidak sadar ia memegangi hutan belantara yang telah basah akibat hujan alami.


Chu Jia terlihat berdiri di balik pintu, ia terdiam saja Mu Xia'er teriak, yang semakin lama semakin membesarkan suaranya.


Tangan Chu Jia juga entah mengapa kini semakin aktip akibat mendengar suara teriakan Mu Xia'er.


***


Di dalam kamar kini Bai An terus secara perlahan bergerak untuk menembus perisai gua milik Mu Xia'er.


“Pelan-pelan Gege,,” suara Mu Xia'er sangat kecil karena saat ini ia merasakan perih saat pedang tumpul Bai An mencoba masuk lebih dalam untuk memecahkan dinding perisai alami.


Bai An mengangguk di sertai senyum tulus, secara perlahan Bai An kembali menarik pedang tumpul miliknya.

__ADS_1


Setelah merasakan Mu Xia'er tidak keperihan lagi dan sudah siap. Bai An kembali menusukkan pedang tumpulnya.


Bai An secara sabar meladeni istrinya ini yang kini sedikit menjadi manja.


30 menit berlalu.


Argh...


Teriakan Mu Xia'er terdengar keras saat dinding perisai alaminya kini telah di tembus oleh Pedang tumpul milik Bai An hingga mengeluarkan darah.


Bai An kembali lagi menarik senjatanya saat melihat Mu Xia'er mengeluarkan air matanya menahan rasa perih.


Bai An juga mengalirkan energinya agar Mu Xia'er tidak merasakan kesakitan lagi.


Setelah menunggu 5 menit, kini Bai An melanjutkannya lagi.


Perlahan tapi pasti, kini Mu Xia'er telah terbiasa, suara teriakan keenakan bahkan terdengar menggema di kamar Bai An.


3 jam telah berlalu.


Saat ini Bai An melihat istrinya telah terbaring lelap di sertai senyum bahagia.


Bai An langsung membelai rambut istrinya lalu mengecup bibirnya.


“Isirahatlah Xia'er,” bisik Bai An.


Setelah berbisik, Bai An langsung membersihkan dirinya menggunakan elemen lalu mengenakan pakaian.


Wuss..!!


Wajah Chu Jia kini memerah saat melihat suaminya yang muncul tiba-tiba.


Tapi.


Karena tidak tahan ingin melakukan apa yang telah Bai An lakukan bersama Mu Xia'er, dengan cepat Chu Jia memeluk Bai An.


“An Gege, Jia'er juga ingin-” bisik Chu Jia.


Bai An langsung membawa Chu Jia menghilang.


Wuss..!!


Bai An muncul di kamar milik Chu Jia.


Lalu hal yang sama terjadi, dengan apa yang Bai An lakukan dengan Mu Xia'er.


Tapi terlihat Chu Jia lebih galak, bahkan ia kini berada pada posisi atas.


Emhh emhh..!!


Chu Jia terus menerus mengerang saat merasakan sensasi yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya.

__ADS_1


Waktu berlalu dengan cepat.


Kini Bai An, Mu Xia'er, Chu Jia dan Bai Han telah duduk di meja makan.


Wajah Bai Han terlihat melihat wajah bahagia kedua ibunya.


Melihat wajah polos dan penasaran putra mereka.


Mu Xia'er langsung menjewer telinga Bai Han dengan lembut.


“Ini bukan urusan anak kecil, jadi jangan penasaran,” ucap Mu Xia'er dengan lembut.


Wajah Bai Han terlihat kecewa. Tapi ia paham dengan maksud ibunya sehingga tidak memaksa dengan apa yang terjadi semalam.


Lalu pandangan Bai Han mengarah ke ayahnya.


“Ayah,, kapan kau akan melanjutkan rencanamu? Han'er juga ingin keluar untuk mencoba meningkatkan pengalaman bertarung Han'er,” ucap Bai Han bertanya di sertai kini mulutnya di penuhi oleh makanan.


“Han'er,, sudah ibu beritahu jika jangan bicara saat makanan ada di dalam mulutmu,” kata Mu Xia'er berdecak pinggang sambil menatap tajam ke arah Bai Han.


“Benar apa yang di ucapkan Ibu Xia, habiskan dulu makanmu lalu bicara Han'er,” sambung Chu Jia sambil mengusap rambut putranya.


Hmm hmm..!!


Dengan memasang wajah polos, Bai Han mengangguk patuh.


Hal tersebut membuat Mu Xia'er dan Chu Jia kini tersenyum lembut dan tidak meneruskan untuk menceramahi putranya lagi.


Bai An yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.


“Bocah ini jauh lebih mengerikan dari bocah nakal itu,” gumam Bai An dalam hatinya.


Yang Bai An maksud bocah adalah putranya dan bocah nakal adalah adiknya Duan Du.


“Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika ia sudah dewasa nanti? Semoga saja ia tidak terlalu parah dalam mengikuti sikap semua orang,” sambung Duan Du dalam hati.


Tentu Bai An sadar jika Bai Han selalu melihat karakter para pamannya dan mengikuti tingkah laku mereka.


Dan yang Bai An takutkan adalah jika Bai Han seperti dirinya mempunyai banyak istri.


Karena ia melihat wajah putranya yang kini sedikit lebih tampan dari dirinya.


***


Kota Serigala Air.


Bom..!!


Bom..!!


Terdengar ledakan di sertai dampak ledakan yang membuat beberapa bangunan ikut hancur.

__ADS_1


“Kurang ajar, berani sekali kau menghancurkan kotaku,” teriak pria paruh baya terlihat berumur sekitar 50 tahunan.


“Hehe,, siapa suruh anak buahmu menyerangku lebih dulu,” kekeh Tu Long menyeringai lebar.


__ADS_2