
Tepatnya ia menunjuk ke arah lantai 10 dimana dua sosok bertopeng merah dengan jubah hitam dan merah menunggu kedatangan mereka.
“Ayo kita kesana,” ajak sosok bertopeng bernomer 76.
Mereka pun melangkah sambil membawa Tu Long yang sebenarnya sudah tersadar.
Namun ia terlihat pura-pura pingsan dan saat ini ia sadar akan situasinya sehingga memaksakan dirinya untuk berpikir jernih, berbeda dengan beberapa waktu lalu saat ia selalu bar-bar.
“Urgh,, sialan orang-orang ini, semoga saja Tuan muda dan bocah itu tidak bertindak gegabah. Walau aku sadar mereka pasti akan melakukan segala cara untuk menyelamatkanku, tapi setidaknya aku berharap mereka tidak datang menyelamatkanku,” gumam Tu Long dalam hati.
Tu Long sadar jika musuhnya kali ini jauh di atasnya, ia juga sadar jika Dimensi Alam Dewa terlihat biasa dari luar, tapi banyak tersembunyi yang belum ia ketahui.
Misalnya yang ia ketahui yang terkuat hanya Master Sekte yaitu berada di tingkat Dewa Surgawi ⭐ 6 Puncak.
Tapi itu hanyalah tipuan saja, karena banyak orang-orang kuat yang sengaja menyembunyikan keberadaan mereka. Itulah yang Tu Long prediksi setelah melawan salah satu dan bertemu dengan orang bertopeng merah ini.
***
Dimensi Mixture.
Wuss wuss..!!
Saat ini Bai An bergerak bersama Gu Sheng munuju portal yang terhubung dengan Dimensi Alam Surgawi.
Tap tap..!!
“Apa Tuan muda yakin jika tidak apa-apa meninggalkan mereka di sana?” Tanya Gu Sheng terdengar khawatir.
Bai An yang mendengar itu melirik ke arah Gu Sheng. “Ini sudah ke lima kalinya kau bertanya Gu Sheng,” ucap Bai An menghela nafas.
“Kau tenang saja karena di sana ada Ye'er, Rubah kematian dan terahir Ling Hua, aku yakin Ling Hua sangat kuat, walau sampai saat ini ia tidak memberitahu ada di tingkat berapa tahapan kultivasinya, tapi setidaknya aku menduga ia berada di tingkat Dewa Surgawi ⭐ 7 Awal.” Sambung Bai An sambil melangkah ke sosok penjaga portal.
Setelah selesai dengan pembayaran, Bai An dan Gu Sheng pun langsung melangkah ke portal.
__ADS_1
Wuss..!!
Mereka berdua bersama dengan orang-orang yang ingin ke Dimensi Alam Dewa langsung menghilang.
Wuss..!!
Pandangan Bai An dan Gu Sheng mengarah ke sebuah kota indah saat pertama kali mereka muncul.
Lebih tepatnya, portal yang berada di Dimensi Alam Surgawi berada di pusat kota.
“Hemm..!! Apa kau tahu dimana tempat Kota Pelelangan berada?” Tanya Bai An kini melangkah keluar portal.
“Eeh,, kenapa kita ke kota itu? Bukannya kita mencari Tuan Tu Long yang di bawa oleh sosok bertopeng merah?” Tanya Gu Sheng sedikit terkejut.
Tap tap..!!
“Ling Hua memberitahuku jika menurutnya orang-orang bertopeng merah ini memiliki cabang di sana, jadi kita akan mencari informasi mulai dari kota itu,” jawab Bai An.
Gu Sheng seketika ragu, karena ia sangat sadar jika Kota Pelelangan tidak sesederhana yang terlihat. Menurutnya kota itu ibarat pasar gelap terbesar di Dimensi Alam Dewa ini.
Glek..!!
Tubuh Gu Sheng seketika merinding saat melihat tatapan mata Bai An. “Maafkan aku Tuan Besar, aku begini karena khawatir dengan anda. Sekali lagi maafkan aku,” ucap Gu Sheng dengan tubuh bergetar.
“Huuf,, aku sadar akan tersebut, tapi setidaknya kau jangan terlalu berlebihan,” ucap Bai An langsung menepuk pundak Gu Sheng.
Gu Sheng pun mengangguk. “Ayo ikuti aku, kebetulan aku cukup mengetahui kota ini, kota ini juga terlihat tidak terlalu berubah, artinya bisa kemungkinan kota pelelangan dan jalur menuju kesana tidak ikut berubah.” Ajak Gu Sheng langsung melesat bersama Bai An.
Wuss wuss..!!
***
Tap tap..!!
__ADS_1
“Bagaimana Juan'er? Apakah kau tahu dimana Paman Gurumu berada?” Tanya Duan Du saat melihat Xi Juan kembali.
Xi Juan yang melangkah santai langsung mengangguk penuh semangat. “Aku tahu guru, dia ada di Rumah Lelang Gedung Merah yang terletak di pusat kota, saat ini Paman Guru baik-baik saja.” Ucap Xi Juan.
“Lalu seperti yang Guru kira, ia benar-benar akan di lelang untuk memancing Guru dan Leluhur ke kota ini. Juan'er juga melihat ada total 12 orang bertopeng merah yang berada di setiap perbatasan tembok kota, sementara di Rumah Lelang Gedung Merah ada 8, jadi semuanya ada 20.” Sambung Xi Juan menjelaskan secara terpecinti permintaan Duan Du sebelumnya.
“Heh,, jumlah mereka ternyata di luar dugaanku, aku hanya menduga total mereka ada kurang dari 10, jika total mereka berjumlah 20, itu artinya di sinilah cabang mereka berada,” ucap Duan Du langsung berasumsi.
“Orang-orang dari Tower ya, aku jadi penasaran dan ingin masuk ke dalam sana suatu saat nanti,” gumam Duan Du dalam hati setelah mengatahui cukup banyak seluk beluk orang-orang bertopeng merah ini yang tidak lain musuh yang ingin memburu kakaknya bersama dengan anggota keluarganya.
“Jadi kapan mereka akan memulai pelelangannya?” Tanya Duan Du kini melirik Xi Juan.
“Satu bulan di mulai dari hari ini,” jawab Xi Juan.
“Ooh,, mereka cukup cerdas juga, aku yakin tidak butuh sampai 2 minggu kakak akan datang kesini, karena aku sangat mengetahui kakak yang sebenarnya jauh lebih mengerikan dalam hal menggali informasi,” ucap Duan Du.
“Jadi kalian pasti paham maksud dari perkataam guru bukan,” ucap Duan Du melirik Xi bersaudara dan Yang Tan.
“Hemm..!! Tapi Guru jangan lupa juga jika jangan beritahu identitas kami kepada Kakek, karena belum saatnya kakek mengetahui kami.” Ucap Xi Juan sambil mengangguk.
“Jadi sambil menunggu kakak datang, Guru meminta tolong untuk menghentikan waktu, karena Guru ingin meningkatkan kekuatan Guru dan ingin membuat kakak terkejut akan peningkatan Guru saat bertemu nanti.” Ucap Duan Du dengan senyum lebar. “Aku juga sudah tidak sabar ingin menghajar paman Guru kalian setelah membebaskannya.”
Senyum Duan Du membuat Xi Juan semakin menyeringai. “Hehe tentu saja Juan'er akan melakukan apa yang Guru perintahkan, Juan'er juga penasaran dengan apa yang Guru lakukan nanti,” ucap Xi Juan bersemangat karena mengira setiap apa yang di lakukan gurunya adalah sebuah pencerahan. Sama halnya dengan Xi Luan yang tidak sabar menanti datangnya hari yang gurunya maksud.
Dengan cepat kakak beradik menyatukan tangan mereka, dan tak lama muncul sinar bewarna biru.
Wung..!!
Sebuah bola kecil langsung muncul, tapi tak lama bola tersebut mulai membesar hingga seukuran kamar tempat mereka berada.
“Guru dan dia berlatihlah di sini, kami akan menunggu keluar.” Ucap Xi Juan dengan senyum lebar.
Duan Du mengangguk santai, lalu tatapannya mengarah ke Bo Wuhan yang selalu diam setelah mengetahui jika Xi bersaudara adalah Cucu dari Tuan mudanya.
__ADS_1
“Hei,, ayolah semangat sedikit, kenapa kau jadi pengecut sekarang ini,” ejek Duan Du.
Bibir Bo Wuhan hanya bisa mengerucut di sertai dahi basah kuyup. “Heng,, kau tahu apa, jika kau ada di posisiku yang pernah jadi musuh dan di siksa, maka kau akan sadar betapa menakutkannya Tuan muda dan seluruh Tuan mudanya,” dengus Bo Wuhan.