
“Dasar bocah kurang ajar, aku ini masih muda, hanya penampilanku saja yang tua lantaran kekurangan energi kehidupan, jadi berhenti memanggilku tua atau nenek,” teriak salah satu wanita paruh baya kini berdecak pinggang ke arah Bai Da Xing.
Mendengar ocehan wanita yang paling kurus, Bai Da Xing langsung menutupi telinganya sambil menjulurkan lidahnya ke arah wanita paruh baya tersebut.
Hal itu tentu membuat wanita paruh baya yang biasa di panggil Bibi Zi oleh Bai Ha dan Bai Hu di masa lalu melotot.
Seandainya Bibi Zi mempunyai tenaga, ia mungkin akan langsung menghajar Bai Da Xing, bukan hanya Bibi Zi, melainkan Bibi Nie juga akan melakukan hal yang sama karena saudarinya dari awal bertemu selalu di jahili.
Berbeda dengan para laki-laki, mereka malah tersenyum bahagia karena sudah lama mereka tidak pernah melihat ekspresi Bibi Zi dan Bibi Nie.
Tap tap..!!
“Sudah sudah,, Monyet nakal ini memang nakal nek, jadi maklumi saja,” ucap Lan Yuheng langsung mencoba menjadi penengah.
“Nenek kau bilang?” Mata Bibi Zi semakin melotot dan kini di arahkan ke Lan Yuheng, ia merasa kedua anak ini sedang mempermainkannya.
Tapi nyatanya Lan Yuheng memang benar-benar ingin menjadi penengah.
“Hais,, kau memang nenek nenek, apa perlu aku bawakan kaca agar kau dapat melihat wajah keriputmu itu nek,” ucap Lan Yuheng yang langsung membuat kelima laki-laki paruh baya kini tertawa terbahak-bahak.
Pffftt..!!
Hahaha..!!
Hahaha..!!
“Diam kalian semua, awas saja jika aku kembali pulih, akan ku cincang kepala kalian,” teriak Bibi Zi dan Bibi Nie serempak.
Glek..!!
Seketika kelima laki-laki paruh baya tersebut langsung menelan ludah mereka di sertai tubuh berkeringat dingin.
Sementara Bai Da Xing dan Lan Yuheng terdengar masih terus tertawa terbahak-bahak dan berhenti setelah mereka kelelahan.
***
Pasar gelap kota Awan Langit.
Bai Han yang sudah dari tadi membunuh, bukan membunuh, melainkan membantai semua penghuni lantai ke 100, kecuali pemimpinnya.
Kini terlihat membawa satu pria tua yang di yakini dulunya Patriak Klan Tha.
Bai Han juga membawa semua tahanan untuk ikut keluar dari sana dan menyatakan mereka telah bebas.
__ADS_1
Tap tap..!!
“Maafkan aku kakek, aku terlambat datang kesini sehingga tidak mampu menyelamatkan yang lainnya,” ucap Bai Han terdengar merasa bersalah.
Karena beberapa jam yang lalu sebelum Bai Han sampai, beberapa anggota Klan Tha telah di bawa entah kemana oleh pemimpin tertinggi lantai 100 dan hingga saat ini belum kembali.
“Tidak apa-apa nak, kau tidak perlu merasa bersalah, ini sudah di takdirkan dan takdir pun tidak akan mampu di ulang,” ucap pria tua yang bernama Tha Gu Jin.
Tha Gu Jin saat ini terlihat cukup segar, itu karena ia yang paling kuat dan mampu bertahan dari semua anggota klan Tha dari dulu hingga saat ini.
“Hemm..!! Ayo kita kembali, aku yakin yang lainnya juga telah berkumpul di tempat yang sudah kami janjikan,” ajak Bai Han.
Tha Gu Jin pun langsung mengangguk dan terdiam saat tubuhnya di selimuti oleh energi Bai Han.
Dret..!!
Wuss..!!
Dengan cepat Bai Han melesat membawa Tha Gu Jin.
***
Puncak Gunung Langit.
Tap tap..!!
“Hemm..!! Ada apa Du Ling?” Tanya Pemimpin Cabang atau yang biasa di kenal Penguasa Benua Langit.
“Ah itu, tadi beberapa anggota klan kita tidak sengaja melihat pergerakan beberapa anggota Menara Hitam, aku merasa mereka semua berniat menyerang kesini.” Jawab Du Ling dengan nada santai.
“Jadi apa kita biarkan saja mereka atau ada saran lain darimu pemimpin?” Sambung Du Ling kini bertanya sambil melirik Pemimpin Cabang Xiu Hou dengan penuh harap.
Melihat itu, Xiu Hou hanya bisa menghela nafas, tentu ia sangat mengenal Du Ling, kekuatan Du Ling hampir setara dengannya, karena usia mereka sama dan pernah mengembara bersama.
Du Ling dulunya akan di angkat menjadi tetua klan, tapi ia lebih memilih mengikuti Xiu Hou. Du Ling juga sangat gemar bertarung, ia mengikuti Xiu Hou karena akan lebih bebas bertarung dari pada menetap di klan pusat. Du Ling juga tidak pergi sendiri mengikuti Xiu Hou, ada satu orang lagi yang bernama Meng Yusan.
Meng Yusan adalah seorang ahli strategi yang terkenal di klan, ia juga dulunya sempat akan di angkat menjadi tetua, tapi menolak dan lebih memilih Xiu Hou.
Tentu selain Du Ling dan Meng Yusan, Xiu Hou membawa beberapa generasi muda mengikutinya dan jumlah mereka setidaknya sekitaran 20 saja. Jika di totalkan, jumlah mereke secara keseluruhan ada 23.
Tapi kini jumlah mereka bertambah karena beberapa dari generasi muda yang Xiu Hou bawa telah menikah dengan sesama anggota dan beberapa lagi menikah dengan Ras manusia.
Kini jumlah mereka setidaknya mencapai 5000 saja yang tinggal di Puncak Gunung Langit.
__ADS_1
...
Kembali ke Xiu Hou.
“Hemm..!! Jika ingin saran, lebih baik kita minta saran saudara Yusan dulu, apa langkah yang sebaiknya kita ambil.” Ucap Xiu Hou.
Wajah Du Ling seketika berubah, dari yang penuh harap menjadi penuh penyesalan.
Tap tap..!!
“Ayolah kakak Ling, kenapa wajahmu sangat jelek begitu?” Tanya Meng Yusan kini muncul dari balik pintu.
Du Ling yang melirik ke arah Yusan.
Heng..
Hanya suara dengusan saja yang terdengar dari Du Ling.
“Hei hei,, ayolah kak, apa salahku,” ucap Meng Yusan kini mengangkat tangannya sambil memasang wajah datar tanpa ekspresi.
“Berhenti memasang wajah pura-pura polos seperti itu Yusan, jika saudara Ling kesal, aka di hajar habis-habisan dirimu,” ucap Xiu Hou kini terlihat menggelengkan kepalanya.
“Hehe,, aku hanya bercanda kak, ayolah aku tidak menipumu, apa yang aku katakan memang benar adanya jika saat ini putramu telah dewasa dan di tugaskan menjadi Penjaga gerbang bersama putraku. Ini baca jika kau tidak percaya.” Ucap Meng Yusan langsung mengulurkan tangannya.
Du Ling yang kesal karena sudah di tipu dulu kini memasang wajah cerah, dengan cepat ia mengambil Batu Giok Bewarna Biru yang di gunakan sebagai perekam.
Saat ia melihat wajah putranya sangat mirip dengannya, dari wajahnya serta usia dalam bentuk manusia sama dengan wajahnya, seolah mereka adalah saudara kembar, bukan ayah dan anak. Kini membuat perasaan Du Ling menjadi sangat bahagia.
Ia juga melihat wajah putra Meng Yusan yang selalu bersama putranya, wajah putra Meng Yusan juga mirip dengan Yusan sendiri membuat Du Ling semakin bahagia, apalagi mereka juga selalu bersama.
“Bagaimana kak? Aku tidak berbohong bukan,” ucap Meng Yusan kini merasa lega melihat Du Ling tidak lagi marah.
“Huh,, tapi kenapa baru sekarang kau memberikannya? Bukannya 700 tahun yang lalu?” Tanya Du Ling.
“Itu karena informasi yang aku minta baru datang sekarang kak, kau tahu bukan jika jarak tempat kita sangat jauh dari lokasi klan Pusat berada.” Jawab Meng Yusan terdengar mengelak.
“Heng,, baiklah, awas saja jika kau berani membohongi ku, akan ku jahit mulutmu itu jika kau berani membohongi kakak mu ini,” dengus Du Ling.
“Iya iya,” ucap Meng Yusan terdengar cemberut.
Di antara mereka bertiga, Du Ling lah yang paling tua, di susul Xiu Hou dan terahir Meng Yusan.
“Sudah berhenti menindas saudara Yusan, kak, lebih baik kita tanya apakah ada saran darinya,” ucap Xiu Hou kini menengahi sambil melirik Meng Yusan dengan tatapan serius.
__ADS_1