Lahirnya Raja Para Dewa 2

Lahirnya Raja Para Dewa 2
S3. Menunggu Xi Luan dan Kedatangan Pelayan Sia Yun


__ADS_3

“Hem..!! Aku rasa apa yang di katakan Tuan Duan benar, tidak akan ada yang menyangka Rencana sederhana ini, aku pun tidak akan menyangkanya jika menjadi musuh.” Xi Juan mengangguk setuju sambil melirik semuanya satu persatu.


“Aku setuju dengan rencana sederhana Tuan muda Duan,” ucap Gu Sheng.


“Aku juga.” Satu persatu mulai setuju, hanya Bai An dan Wakil Master Sekte Kekacauan yang masih belum mengeluarkan suara.


“Hem..!! Walau sederhana, seperti yang aku dengar dari Master Sekte Kekacauan barusan jika Penetua Agung saat ini sedang mengawasi dan mencoba mencari tahu berapa total musuh kita, kita lebih baik menunggu Penetua Agung tiba lebih dulu sebelum benar-benar mengambil langkah yang adik ku rencanakan.” Ucap Bai An dengan nada santai lalu melanjutkan.


“Jika kita sudah mendapat jumlah serta kekuatan mereka secara pasti, barulah kita dapat mengambil keputusan.”


Mendengar saran dan masukan dari Bai An. Mereka semua pun langsung tertegun lantaran lupa jika jumlah musuh belum di ketahui keseluruhannya sampai saat ini.


Karena informasi dari Penetua Agung atau Xi Luan, jumlah musuh terus bertambah dari waktu ke waktu.


“Apa yang di ucapkan oleh Tuan Bai adalah saran yang benar-benar bagus, jadi kita tunggu terlebih dahulu Penetua Agung memberikan kita informasi, terlebih lagi para penetua sekte juga belum berkumpul seluruhnya.” Ucap Wakil Master Sekte Kekacauan langsung setuju.


“Hem..!! Aku sampai tidak memikirkan ini tadi, aku pun setuju,” ucap Master Sekte Kekacauan. “Aku sangat kagum dengan otak Leluhur yang sangat luar biasa tenang, di saat semua orang sedikit tegang, ia terlihat sangat santai.” Gumam Xi Juan dalam hati dengan wajah penuh kekaguman.


Sementara Duan Du yang mendengar saran kakaknya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Hehe kakak memang yang terbaik.” Ucap Duan Du mengangguk-angguk.


Tap tap..!!


Saat mereka mengobrol santai sambil menunggu Penetua Agung datang, terdengar suara langkah kaki menghampiri tempat kelompok Bai An.


“Hemm..!! Apa yang di lakukan oleh Pelayan Rumah Lelang di sini?” Ucap Gu Sheng terdengar heran.


Mendengar itu, semua orang ikut melirik wanita anggun yang beberapa waktu lalu melayani Duan Du saat di Rumah Lelang.


“Dia berbahaya,” secara serempak Bai An, Master, Wakil Master Sekte Kekacauan dan Ling Hua bergumam. Namun dengan cepat mereka menekan kekuatan mereka sedalam mungkin.


Bai An pun langsung memasang tudungnya bersama dengan Ling Hua mengenakan jubah pemberian Bai An.


“Ah maaf menganggu, apakah saya bisa bicara dengan Tuan Duan,” ucap Pelayan Anggun tersenyum ramah ke arah Bai An dan yang lainnya.

__ADS_1


Duan Du hanya bisa menelan ludah lantaran kesal dengan wanita di depannya ini.


“Sial, mengapa ular ini datang kesini, jika Kakak berpikir yang tidak-tidak lalu mengadu ke kakak ipar dan Li'er, bisa mati aku di kuliti hidup-hidup.” Gumam Duan Du dalam hati.


“Ah ya, apa yang Nona Sia Yun ingin bicarakan?” Tanya Duan Du kini bangkit.


“I..Itu, apakah kita bisa bicara berdua saja,” ucap Pelayan Sia Yun terdengar canggung lantaran banyak orang di sekitar Duan Du.


“I..Ini,” wajah Duan Du seketika menegang, tatapannya mengarah ke semua orang, dan terahir ia menatap kakaknya.


Melihat tatapan sekilas Bai An. Duan Du langsung mengangguk.


“Baiklah, kita bicara di mana?” Tanya Duan Du dengan wajah senyum tulus.


“Apakah kita bisa bicara di luar?” Tanya Pelayan Sia Yun canggung.


“Mari,” ajak Duan Du.


Tap tap..!!


Sementara Bai An, Xi Juan, Li Hixie, dan Ling Hua saling menatap satu sama lain.


“Aku akan mengawasi mereka, aku yakin jika wanita itu salah satu dari sosok bertopeng biru,” ucap Xi Juan langsung bangkit, tanpa menunggu jawaban ia pun menghilang.


“Aku akan pergi melihat area sekitar terlebih dahulu, Wakil Master dan yang lainnya bisa menunggu Penetua Agung tiba di sini, jika sudah tiba, Wakik Master bisa menyuruh Gu Sheng menghubungi saya.” Ucap Bai An langsung pergi keluar.


Tap tap..!!


Setelah menjauh dari kedai, Bai An langsung berhenti.


“Apa kau yakin jika wanita itu menyukai Du'er?” Tanya Bai An dengan nada suara serius.


“Heng,, apa kau meragukan ucapanku, walau aku jarang membantumu, tapi kali ini aku sangat serius, jika bocah itu bisa memanfaatkannya, maka kita bisa menang dan menyelamatkan saudaramu,” ucap Roh Asura.

__ADS_1


“Tapi jika bocah itu gagal memanfaatkannya, maka kehancuran yang kita dapatkan, dan aku tak yakin jika saudaramu bisa selamat. Jadi saat ini apakah kau mau bertaruh di tangan bocah itu atau tidak. Ini tergantung kau sendiri.” Ucap Roh Asura terdengar serius.


“Ucapanmu sedikit meragukan, katamu ia berasal dari Menara dan kekuatannya tidak sesederhana yang terlihat, jika ia berasal dari Menara, maka itu artinya orang ini pasti memburu kami, terlebih lagi menurut ucapan Master Sekte Kekacauan, jika orang-orang menara ini memandang rendah semua penghuni Dimensi Alam Dewa, dan tidak mungkin mengkhianati Menara.” Ucap Bai An kini menatap tajam Roh Asura.


“Huuf,, sebenarnya aku tak ingin memberitahumu, tapi apa boleh buat. Dengar baik-baik.” Ucap Roh Asura.


“Tidak semua penghuni menara itu seperti yang kau pikirkan, walau mereka di kendalikan, ada beberapa yang memberontak, tapi pada akhirnya yang memberontak di masa lalu mati. Namun mungkin ada beberapa dari mereka yang masih memberontak secara diam-diam hingga saat ini walau di kendalikan.”


Bai An termenenung. “Hingga saat ini ucapanmu selalu setengah-setengah, tapi apa boleh buat, suatu saat aku akan membuktikannya dengan masuk ke Menara, apa yang sebenarnya ada di dalam sana.” Ucap Bai An kini melanjutkan langkah kakinya menuju luar kota.


***


Tap tap..!!


“Tatapan kakak tadi, apa ia mengisyaratkan aku untuk waspada atau memanfaatkan, atau bisa jadi keduanya,” gumam Duan Du kini melangkah sambil terus merenung hingga tidak mendengar semua ucapan Pelayan Sia Yun.


“Ehem ehem,, Tuan Duan, apa anda mendengar semua apa yang saya ucapkan?” Tanya Sia Yun kini menepuk pundak Duan Du dengan sedikit malu-malu.


“Ah,, apa yang tadi Nona Yun ucapkan? Bisa ulangi sekali lagi?” Tanya Duan Du tersenyum lembut. Hal tersebut membuat wajah Sia Yun sedikit memerah.


“I..Itu, tadi saya bilang apakah Tuan muda ada waktu luang nanti malam,” ucap Pelayan Sia Yun langsung berhenti sambil kedua jari telunjukknya berputar-putar.


“Ooh itu, tentu saja bisa, tapi apakah Nona Yun tidak bekerja?” Tanya Duan Du melirik Sia Yun.


“Aku sudah pulang, aku kerja hingga sore hari saja,” ucap Pelayan Sia Yun kini dengan wajah berbunga-bunga.


“Hemm..!! Jika begitu, kita akan kemana nanti malam?” Tanya Duan Du melangkah santai mengikuti langkah Pelayan Sia Yun.


“A..Aku juga tidak tahu Tuan Duan. Ki..Kita baiknya kemana ya?” Tanya Pelayan Sia Yun malu-malu.


“Lebih baik aku mengambil taruhan saja, walau bahaya, aku akan memanfaatkannya sambil waspada, karena saat ini aku merasa masuk jebakannya,” gumam Duan Du dalam hati.


***

__ADS_1


“Hemm..!! Sialan wanita itu, apa ia ingin menjebak Guru?” Ucap Xi Juan dengan penuh amarah saat melihat jika Gurunya masuk jebakan musuh.


__ADS_2