Lahirnya Raja Para Dewa 2

Lahirnya Raja Para Dewa 2
S3. Menakut-nakuti Bo Wuhan dan Rencana Sosok Bertopeng Merah


__ADS_3

Mata Duan Du dan Bo Wuhan hanya melotot sambil membuka mulut mereka lebar-lebar tak percaya dengan apa yang mereka dengar saat ini.


“A...Apakah kalian bercanda? Dan juga siapa kalian ini? Bisa-bisanya kalian berbohong di depan kami,” dengus Bo Wuhan terlihat sama sekali tidak percaya.


“Ah ya Guru, aku lupa jika yang paling lemah di antara kami ber 25 adalah adik sekaligus murid ku, sebenarnya jumlah kami hanya 26, tapi aku tidak menghitungnya karena suatu sebab,” ucap Xi Juan melirik ke arah gurunya dengan senyum bangga.


Walau tersenyum bangga, tidak ada jejak kesombongan Xi Juan perlihatkan di depan gurunya.


Duan Du yang mendengar itu seketika menyeringai lebar.


Wuss..!!


Brak brak..!!


“Haha,, jika begitu kita bisa menyelamatkan Paman Tu saat ini,” ucap Duan Du tertawa bahagia sambil memukul-mukul kepala Bo Wuhan hingga hampir pingsan.


Xi Juan yang melihat trik gurunya dalam membalas apa yang orang ini lakukan tadi kepala gurunya seketika tercerahkan.


“Guru memang yang terbaik, walau saat ini aku merasa sedikit lebih cerdas, tapi dalam hal kecerdikan, guru tiada lawan,” gumam Xi Juan kagum dalam hati.


Xi Luan yang melihat cara Gurunya tanpa beban ikut kagum, namun ia mengambil pandangan berbeda dengan adiknya, yaitu Xi Luan merasa harus lebih kejam saat melawan musuh. Itulah yang Xi Luan ambil dari pelajaran yang ia lihat.


Duan Du tentu tidak sadar jika apa yang ia lakukan saat ini akan membuat kedua muridnya menerapkannya di dalam Sekte mereka hingga akan membuat kekacauan yang lebih parah dari yang mereka sebabkan di masa lalu.


“Jadi,” tiba-tiba Duan Du terdengar serius, tatapannya mengarah ke Xi bersaudara dan Yang Tan.


“Apakah kalian bisa membantu Guru untuk menyelamatkan Paman Guru kalian?” Tanya Duan Du mengepalkan erat tangannya.


Duan Du saat ini sadar jika merasa lemah, ia seharusnya yang melindungi atau membantu muridnya, tapi saat ini berbeda terbalik. Tangan Duan Du terkepal sangat erat.


Namun Xi Luan langsung memegang tangan Gurunya. “Luan'er paham perasaan guru, Luan'er dan Juan'er dulu juga sama saat kami merasa tidak bisa melakukan apa-apa, tapi Guru tiba-tiba muncul melatih kami hingga menjadi sekarang ini.”


“Hemm..!! Apa yang kakak ucapkan benar, jangan merasa begitu lemah, sejujurnya Guru saat ini sudah kuat, dan Juan'er berjanji akan membantu Guru untuk menjadi kuat.” Sambung Xi Juan ikut memegang tangan kiri Gurunya dengan hangat.


“Benar Guru besar, kami kuat karena perbedaan waktu, dan jika Guru Besar ada di posisi kami, aku yakin Guru besar mungkin saat ini sudah berada di puncak kekuatan tertinggi,” ucap Yang Tan meyakinkan dengan tatapan mata jujur tanpa sedikitpun ingin berbohong.

__ADS_1


Wajah Duan Du seketika tersenyum hangat. “Kalian sama persis dengan ibu kalian yang lemah lembut, tegas dan selalu bisa menenangkan di saat orang-orang dalam mengalami masalah. Terimakasih,” ucap Duan Du.


Xi Bersaudara dan Yang Tan menggelengkan kepala mereka. “Jangan berterimaksih guru, seharusnya kamilah yang berterimakasih,” ucap Xi Luan datar.


“Tanpa adanya Guru, kami tidak akan pernah berada di sini,” sambung Xi Juan dengan mata berkaca-kaca.


Saat keempat mereka dalam keadaan bahagia, Bo Wuhan yang merasa seperti nyamuk kini hanya bisa memasang wajah jelek lantaran di abaikan.


“Hei saudara sialan, dan juga kalian, setidaknya sapa juga diriku ini, cepat panggil aku Guru Kecil, karena aku adalah saudara Duan Du juga,” teriak Bo Wuhan dengan wajah kesal di sertai bangga di saat-saat terahir mengatakan ia mengatakan Guru.


Wajah keempatnya berkedut-kedut.


“Siapa orang gila ini Guru, Juan'er baru sadar jika ada lalat pengganggu di sini?” Tanya Xi Juan menunjuk ke arah Bo Wuhan di sertai senyum kecil.


Namun Bo Wuhan yang melihat senyum Xi Juan seolah melihat senyum dari Tuan mudanya Bai An.


Glek..!!


Tanpa sadar Bo Wuhan mundur dengan tubuh merinding.


Bruk..!!


Wajah Yang Tan terlihat sangat garang, seakan ingin ******* Bo Wuhan.


Glek..!!


“Apa-apaan ini, apa kalian ingin membuat ku mati berdiri hah,” teriak Bo Wuhan frustasi.


“Jika ingin mati, maka mati saja,” ucap Xi Luan yang berdiri di depan Bo Wuhan.


Duan Du yang melihat tingkah murid-muridnya mengintimidasi Bo Wuhan hanya bisa tertawa lucu, apalagi saat melihat wajah Bo Wuhan.


Tawa Duan Du seketika meledak.


“Haha haha,, sudah-sudah, jangan menakutinya, dan kau juga Wuhan, apa kau tahu siapa mereka-mereka ini?” Ucap Duan Du langsung menghentikan tawanya.

__ADS_1


“Mereka adalah cucu dari kakak ku, jika kakak mendengar kau menyuruh cucu mereka menyebut mu Guru, apa yang akan terjadi ya,” sambung Duan Du tersenyum jahat.


Glek..!!


Bruk..!!


“A..Ampuni aku, aku tobat,” ucap Bo Wuhan seketika berlutut, ia kini sangat lemas saat mengetahui jika mereka adalah cucu dari Tuan mudanya. Dan pantas saja ia merinding saat melihat tatapan dari Xi Juan dan Xi Luan tadi, ternyata mereka adalah cucunya. Ia juga berpikir jika buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.


Semua keturunan Bai An tidak ada yang tidak mengerikan menurutnya.


...


Setelah puas menakut-nakuti Bo Wuhan, kini Duan Du, Xi Luan, Xi Juan, dan Yang Tan.


Mereka langsung membahas tentang permintaan Duan Du serta mengikuti rencana dari Duan Du.


Tentu saja Xi bersaudara akan senang hati membantu guru mereka dan mengikuti semua strategi gurunya. Mereka sangat ingin melihat secara nyata strategi dari guru mereka.


Karena mereka hanya bisa membaca buku yang Duan Du buat dan menerapkan. Kini mereka berkesempatan melihatnya.


***


Tap tap..!!


“Apa kau yakin jika kita berkeliaran bebas di Kota ini tidak akan menimbulkan masalah nanti?” Terdengar sebuah pertanyaan dari sosok Bertopeng merah dengan angka kecil di ujung kanan topengnya, angka tersebut bernomer 79.


“Kau tenang saja, walau ada anggota Sekte Kekacauan yang menyadari kita, mereka tidak akan bisa melakukan apa-apa di Kota ini, terlebih Pemimpin kota ini adalah Anggota dari Tower.” Jawab salah satu sosok bertopeng merah dengan nomer 71.


“Lalu kita apakan orang ini?” Tanya nomer 78.


“Kau sadar bukan, jika orang ini adalah anggota dari orang yang akan kita buru, jadi kita akan memancing mereka, aku yakin jika cukup cerdas, terlebih aku sengaja meninggalkan bukti, yaitu membiarkan Master Sekte Pedang Cahaya Hidup.” Jawab sosok bernomer 71 di sertai senyum lebar di balik topengnya.


“Jika begitu, satu-satunya cara untuk memancing mereka yaitu dengan lelang ya,” gumam sosok bernomer 75 lalu melanjutkan. “Apa sebaiknya kita tunda dulu, kita harus menunggu petir hitam dan petir merah datang, karena mereka adalah pemimpin kita.”


“Aku rasa itu tidak perlu, mereka sudah di sana menunggu kita,” ucap sosok bernomer 72 menunjuk ke arah sebuah gedung berlantai 10.

__ADS_1


Tepatnya ia menunjuk ke arah lantai 10 dimana dua sosok bertopeng merah dengan jubah hitam dan merah menunggu kedatangan mereka.


__ADS_2