
Mereka tidak sadar siapa yang akhirnya memangsa dan di mangsa.
Pria sepuh tersebut tersadar saat ia terlalu senang saat menatap Bai Han, ia kini tersenyum licik ke arah Bai An dan yang lain tanpa merasa malu.
Kekuatan pria sepuh tersebut berada di Kaisar Immortal ⭐ 5 Ahir.
“Hmm,, apakah benar kalian menginginkan budak?” Tanya pria sepuh tersebut langsung ke intinya.
Duan Du maju satu langkah. “Benar, apakah ada barang bagus?” Tanya Duan Du layaknya ia sering membeli budak.
Pria sepuh atau Wuran langsung mengangguk lalu membalik badannya. “Ayo ikuti aku,” ajak Wuran terdengar tergesa-gesa di sertai seringai tipis.
Wudi yang melihat itu hanya terdiam saja, dan tersenyum ke arah Bai An dan yang lain.
“Mari tuan, ikuti senior,” kata Wudi kini membuka suara dengan nada sopan.
Bai An, Duan Du dan Tu Long tentu sadar, tapi mereka hanya mengikuti permainan mereka lebih dulu.
Tap tap..!!
Saat berjalan melalui lorong, Bai An, Duan Du dan Tu Long merasakan banyak sekali para assasint bersembunyi di balik kegelapan.
Namun mereka tak khawatir karena kekuatan mereka hanya berada di Kaisar Immortal ⭐ 1 dan yang paling tinggi ⭐ 3 Awal.
Saat sedang berjalan, tiba-tiba Bai Han terbangun.
“Ayah, biarkan Han'er menangai mereka, karena Han'er melihat hati mereka sangat kotor, terutama pria tua yang mau mati itu,” kata Bai Han melalui telepati kepada Bai An.
Tentu Bai Han juga mengirim pesan telepati kepada Duan Du dan juga Tu Long.
Mereka pun menurut, biasanya Duan Du dan Tu Long menolak keras jika tidak terlibat masalah yang menjadi kegemaran mereka, tapi jika Bai Han yang meminta, mereka sama sekali tidak menolak karena terlihat berlomba menjadi yang terbaik di depan keponakan mereka.
Tap tap..!!
“Kita sudah sampai Tuan-tuan,” kekeh Wuran kini memandang ke arah Bai An dan yang lainnya.
“Apa maksudnya ini?” Tanya Duan Du pura-pura marah saat di bawa ke tempat kosong.
“Hehe,, apa maksudnya? Tentu saja maksudnya menangkap kalian lalu di jadikan budak,” kekeh Wuran kini terlihat sipat aslinya.
__ADS_1
“A.. Apa maksudmu?” Tanya Duan Du pura-pura ketakukan.
Tapi Wuran dan Wudi hanya tersenyum tipis, mereka berdua langsung melambaikan tangan, lalu banyak bayangan datang bertepatan dengan sebuah kerangkeng mengurung mereka.
“Hehe,, lumpuhkan mereka semua, dan tangkap anak itu, karena dia barang utamanya,” kekeh Wuran.
Dengan sigap para assasin bergerak saat mendengar perintah Wuran.
Bai An, Duan Du, Tu Long hanya diam saja, kini wajah mereka berubah santai setelah mendengar suara Wuran.
Bai Han langsung maju, ia mendengus dingin.
“Hatimu sangat hitam pak tua, kau tak pantas untuk hidup di dunia ini, jiwamu juga harus di musnahkan,” kata Bai Han dengan nada tegas.
Mendengar itu Wuran dan Wudi tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha,, bocah kecil, aku sungguh suka keberanianmu, aku ingin-” belum selesai Wuran menyelesaikan ucapannya, kepalanya beserta jiwanya langsung hancur.
Wudi yang melihat itu membelalakkan matanya, kini ia terkejut luar biasa dengan apa yang terjadi, karena ia tidak melihat pergerakan dari Bai An, Duan Du dan Tu Long, ia juga tidak melihat Bai Han bergerak.
Sementara para assasint kini berjatuhan dengan tubuh terpotong-potong, saat melihat itu, tubuh Wudi bergetar ketakutan.
Bruk..!!
Bai Han yang baru selesai memainkan jari kelingkingnya kini tetap memasang wajah dingin.
Mungkin Wudi tidak menyadari jika Bai Han telah menciptakan banyak benang energi saat para assasin muncul, tapi berbeda dengan Bai An, Duan Du dan Tu Long yang kini tersenyum tipis.
“Hehe,, Han'er ku sangat pintar dalam membunuh musuh tanpa di sadari, ia mengikuti cara ayahnya,” kekeh Tu Long.
“Benar, ia mengikuti caraku dalam berpikir rapi,” sambung Duan Du sedikit menyombongkan diri.
Bai Han menghiraukan ucapan pamannya itu, ia kini berjalan santai ke arah Wudi.
“Hatimu terbilang setengah bersih setengah kotor, jika kau ingin bertobat maka aku bisa mengampunimu, tapi dengan satu syarat,” kata Bai Han dengan nada dingin.
Wudi yang mendengar itu semakin berkeringat dingin, ia tahu maksud Bai Han.
“A.. Apa yang Tuan muda ini inginkan?” Tanya Wudi dengan nada ketakutan.
__ADS_1
“Hmm..!! Cukup mudah, kau hanya mengikuti permainanku,” kata Bai Han tersenyum licik, senyumnya bahkan lebih menyeramkan dari senyum licik Duan Du.
Bai An yang melihat itu langsung menatap ke arah Duan Du.
Saat melihat wajah Duan Du yang terkejut juga, Bai An yakin ini bukan ajaran Duan Du karena dari ekspresi Duan Du yang ikut terkejut.
“Apa ini karena ia mendapat berkah dari makam ya?” Gumam Bai An kini menghela nafas.
“Semoga saja sifat Han'er tidak mengikuti Duan Du yang licik, mengikuti sifatku yang dingin dalam membunuh, dan mengikuti Tu Long yang gemar bertarung,” gumam Bai An.
Sementara Wudi yang mendengar ucapan Bai Han kini menelan ludah karena tahu maksud ucapan Bai Han.
“Tu.. Tuan muda apakah-”
“Jika kau tidak mau maka mati saja,” kata Bai Han memotong ucapan Wudi.
Glek..!!
“Ba.. Baiklah, apa yang anda inginkan?” Tanya Wudi kini mau tak mau mencoba menuruti keinginan Bai Han.
“Hmm,, yang ku lihat kini pemilik toko ini belum datang, saat ia datang kau bersikap seperti biasa, jika ia bertanya tentang mereka, maka kau jawab sedang mengejar kelompok kami yang melarikan diri, sedangkan kami berpura-pura menjadi tawananmu yang akan menjadi budak, untuk sisanya serahkan pada kami,” kata Bai Han layaknya pria sepuh bertubuh anak kecil.
Tentu saja Wudi terkejut mendengar ucapan Bai Han, tapi ia tetap mengangguk patuh dan sempat berpikir untuk memberitahu pemilik Walet Emas tentang semua kejadian ini, tapi ia urungkan.
Insting Wudi cukup tajam, jika ia bercerita, maka ia akan mati, bahkan pemilik Walet Emas atau Tuannya akan mati hari ini juga jika ia datang.
“Ba.. Baik Tuan muda,” jawab Wudi sedikit gugup.
Bai Han mengangguk santai tanpa memberikan Wudi peringatan, karena Bai Han yakin jika Wudi cukup pintar, maka ia akan mengambil langkah yang ia terapkan, jika ia bodoh, maka ia akan mengambil jalan kematiannya sendiri.
Setelah itu, wajah Bai Han berubah layaknya anak kecil.
“Ayah,, Han'er lapar, apakah ada makanan?” Tanya Bai Han dengan nada yang membuat Bai An, Duan Du dan Tu Long tidak bisa menolak.
Dengan cepat Duan Du dan Tu Long melambaikan tangannya.
“Hehe,, keponakan paman yang imut, ini paman punya kelinci bakar sisa beberapa hari yang lalu,” kata Tu Long langsung memberikan Bai Han.
Mata Bai Han langsung bersinar, dengan cepat ia mengambilnya lalu memakannya.
__ADS_1
Duan Du juga tak mau kalah, ia dengan cepat berkata. “Hehe,, aku tahu keponakan imutku memiliki selera yang baik.”
“Ini paman Duan berikan Ayam hutan beserta daging Harimau Buas yang telah di resepi bumbu-bumbu terbaik.” Kekeh Duan Du melirik ke arah Tu Long dengan senyum mengejek.