
Rubah kematian mengangguk patuh di sertai berkeringat dingin saat melihat senyum datar Bai Chu Ye.
***
Satu hari telah berlalu, setelah semua masalah kebutuhan desa telah terpenuhi dalam waktu puluhan tahun, kini Bai Chu Ye berniat pergi.
“Hiks hiks,, apa Dewa benar-benar akan pergi?” Tanya Lu Tang Shan terlihat enggan.
Bai Chu Ye langsung mengusap rambut anak laki-laki tersebut dengan senyum lembut.
“Aku pasti akan kembali setelah menemukan keluargaku, aku janji,” ucap Bai Chu Ye mengangkat jari kelinkingnya.
Bai Chu Ye mengikuti gaya dari Lu Tang Shan yang selalu mengangkat jari kelingkingnya saat ia berjanji akan sesuatu. Jadi Bai Chu Ye terlihat biasa.
“Janji ya,” ucap Lu Tang Shan ikut mengangkat jari kelingkingnya.
Hmm..!!
Bai Chu Ye hanya mengangguk, setelah itu pandangannya mengarah ke penduduk desa yang juga terlihat enggan dan sedih saat melihat Bai Chu Ye akan pergi.
Tapi mereka sadar jika tidak bisa menghentikan Bai Chu Ye.
“Aku pasti akan kembali, kalian semua tenang saja,” ucap Bai Chu Ye kembali meyakinkan semua penduduk desa.
Mereka semua pun satu persatu maju lalu memeluk Bai Chu Ye.
Cukup lama mereka bercengkrama, kini Bai Chu Ye melirik Rubah Kematian yang rakus menyantap hidangan yang di siapkan warga desa untuk acara perpisahan.
“Hais,, aku tak menduga jika anak ini sangat rakus dalam hal makanan dan hal inilah yang menyebabkannya kesini, lantaran mencium bau daging bakar.” Gumam Bai Chu Ye dengan nada datar.
“Hei,, ayo kita pergi,” ajak Bai Chu Ye terdengar dingin.
Rubah Kematian seketika gelagapan saat mendengar suara dingin Bai Chu Ye.
Uhuk uhuk..!!
Seketika Rubah Kematian langsung tersendak beberapa potong daging yang ada di mulutnya.
Hal tersebut membuat gelak tawa bagi para penduduk.
Rubah Kematian hanya bisa cengengesan layaknya anak kecil.
Tanpa rasa malu ia mengambil semua hidangan yang ada di atas meja tanah yang di buat oleh penduduk desa.
“Hehe,, ayhooo Tuuuuan, aku telah siap,” ucap Rubah kematian bicara saat masih banyak daging di mulutnya.
Crash..!!
Dengan segera Rubah Kematian merobek langit-langit yang ada di depannya.
Dret..!!
Setelah celah tercipta, Rubah Kematian langsung mempersilahkan Bai Chu Ye masuk.
__ADS_1
Wuss..!!
Wuss..!!
Keduanya langsung lenyap.
***
Sementara di wilayah utara.
Kini Hu Song yang telah bersama dengan Bai Han menuju lokasi Duan Du dan Bo Wuhan berada.
Wuss wuss..!!
“Apa kau yakin jika paman Du dan Bo Wuhan ada di sana?” Tanya Bai Han melirik Bo Wuhan.
Hu Song melirik Bai Han dengan anggukan kecil. “Benar Tuan muda, saat aku kebetulan melalui tempat tersebut, aku mendengar jika ada sebuah keributan dan juga aku melihat poster mereka berdua di pajang di setiap pelosok kota.” Ucap Hu Song dengan nada jujur.
“Dan saat aku berusaha mencari jejak mereka, aku tidak tahu mereka ada di mana, jadi aku memustukan ke kota tempat Tuan muda, aku berpikir jika mereka ada di sana. Tapi aku tak menduga akan bertemu dengan anda,” sambung Hu Song.
“Hemm..!! Jika begitu ayo kita cepat, aku yakin mereka berdua pasti merencanakan dan juga mereka pasti akan mendatangi kita jika aku ke kota.” Ucap Bai Han dengan wajah semangat.
Hu Song mengangguk patuh, langkah mereka langsung mereka percepat.
Wuss wuss..!!
Tak sampai satu jam, Bai Han dan Hu Song muncul di gerbang kota.
Tapi wajah Bai Han dan Hu Song kini terlihat menganga dengan mata melotot.
Pasalnya Bai Han kini melihat kota yang di katakan kota besar kini telah rata dengan tanah tanpa adanya mayat maupun darah.
Bai Han malah menduga jika kota yang mereka datangi ini telah lama hancur.
Glek..!!
Hu Song yang melihat kota yang baru saja 2 hari ia tinggalkan kini telah rata dengan tanah.
“Ba..Bagaimana bisa? Siapa yang bisa membuat Kota besar hancur dalam waktu dua hari?” Ucap Hu Song tergagap tidak percaya.
Mendengar ucapan terkejut Hu Song, Bai Han seketika percaya jika tempat ini tempat pamannya berada beberapa hari lalu.
“Hehe,, kau belum mengenal paman ku, jika ia sudah marah maka apa yang menurutmu tidak mungkin pasti akan terjadi jika ia melakukannya,” kekeh Bai Han.
...
Jauh di bawah tanah, tepatnya di atas reruntuhkan kota.
Duan Du dan Bo Wuhan kini menatap dua Penetua Sekte Sisik Naga.
“Hehe,, kau tidak akan menduga bukan, walau kami jauh lebih lemah darimu, tapi tetap saja kau akan kalah,” kekeh Duan Du melirik Penetua Pertama dan Penetua ketiga yang memiliki tingkat Kultivasi Dewa Surgawi ⭐ 6 Awal.
Sementara kedua penetua Sekte Sisik Naga hanya menatap Duan Du dengan ketakutan, kebencian dan dendam.
__ADS_1
Dret..!!
Dengan santai Duan Du mencengkram erat kepala Penetua Ketiga.
Wung..!!
Argh..!!
Penetua ketiga langsung berteriak saat energinya di serap secara perlahan.
Penetua Pertama yang melihat itu semakin ketakutan. “Dasar iblis, monster, Binatang, kau akan mendapat amarah dari Penetua Agung dan Master Sekte kami, kalian akan di buru,” teriak Penetua Pertama.
Duan Du yang tadinya tersenyum berubah mengganas. “Sumpal mulut bajingan ini Wuhan,” ucap Duan Du dengan nada dingin.
Bo Wuhan yang memejamkan mata karena sedang memulihkan lukanya langsung membuka mata lalu bangkit.
Tap tap..!!
Em em em..!!
Penetua pertama yang ingin menyumpah serapah Duan Du kini hanya bisa melotot, tatapannya juga melotot ke Bo Wuhan yang tidak mengenal rasa sakit saat mereka bertarung semalam.
Dret..!!
Bam bam bam..!!
Tanpa menyimpan energi yang ia serap, kini Duan Du kembali menerobos.
“Hehe Dewa Surgawi ⭐ 4 Puncak,” kekeh Duan Du. “Aku pasti akan menghajarmu paman, saat kita bertemu lagi,” sambung Duan Du mengingat Tu Long yang telah menghajarnya.
Penetua pertama kini hanya bisa melotot dan berkeringat dingin saat melihat Duan Du menerobos dengan cepat tanpa halangan.
“Hem..!! Apa kau takut?” Tanya Duan Du yang melangkah ke arah Penetua pertama.
Hem hem..!!
Dengan cepat Penetua pertama mengangguk patuh. Hal tersebut membuat Duan Du semakin menyeringai lebar, tak lama pandangan Duan Du mengarah ke Bo Wuhan.
“Wuhan, ayo lakukan apa yang telah aku ajarkan kepadamu.” Ucap Duan Du.
Mendengar itu, Bo Wuhan langsung mengangguk patuh di sertai senyum lebar.
Dengan cepat Bo Wuhan duduk di belakang Penetua pertama, tak lama tangan Bo Wuhan langsung menempel di punggungnya di sertai ada Hukum Angin langsung menarik energi milik Penetua Pertama.
Penetua pertama hanya bisa melotot saat merasakan rasa sakit yang luar biasa.
Argh...!!
Argh..!!
Duan Du yang melihat itu langsung melihat ke arah atas. “Huuf,, menggunakan cara ini memang tercepat meningkatkan kekuatan, tapi efeknya sangat bahaya,” gumam Duan Du dalam hati.
“Aku harus menyuruh kakak membantuku menghilangkan Jiwa Iblis yang ada di dalam diriku dan Bo Wuhan saat bertemu nanti,” sambung Duan Du sambil mengerutkan keningnya saat merasakan dua sosok datang dari arah utara.
__ADS_1
Saat akan mengaktifkan formasi untuk membunuh keduanya. Tangan Duan Du terhenti saat merasakan aura yang familiar.