Lahirnya Raja Para Dewa 2

Lahirnya Raja Para Dewa 2
Taruhan Mendapat Harta Jarahan Terbanyak


__ADS_3

Bai An hanya menghela nafas. “Semoga saja kedua orang ini tidak ikut kecanduan” Gumam Bai An dalam hati.


Baru saja Bai An selesai bergumam. Sebuah suara terdengar di kepala Bai An.


“An'er cepat keluarkan kami dari dunia jiwa.”


Suara teriakan tersebut berasal dari Cen Tian yang kini telah sadar dan pulih dari lukanya.


Bai An seketika memasang wajah jelek. Jika Duan Du dan Cen Tian bersama, ia yakin semua harta di Kota ini akan habis.


Terlebih Duan Du belajar menjarah dari Cen Tian, jika Cen Tian tidak mengajarinya maka ia yakin sifat Duan Du hanya di pikiran licik saja.


Tapi setelah tahu jika Cen Tian mengumpulkan harta untuk di bagikan kepada keluarga dan orang yang kurang mampu, tentu saja Duan Du dengan nada semangat mengikuti langkah Cen Tian.


“Huuff,, 2 orang saja sudah membuatku pusing, kini bertambah 2 lagi,” gumam Bai An.


Yang di maksud bertambah dua lagi adalah Lang Zai dan Cen Tian.


Karena desakan dari Cen Tian, akhirnya Bai An mengeluarkan Cen Tian, Liu Fang dan kakak kandungnya Bai Yun.


Wuss..!!


Tap tap tap..!!


Duan Du, Tu Long, Lang Zai dan yang lainnya melihat kemunculan Cen Tian, Liu Fang dan Bai Yun langsung tersenyum senang.


“Kakak, ayo cepat ikut bergabung bersama kami,” teriak Duan Du ke arah Cen Tian.


Cen Tian langsung menyeringai saat melihat arak.


Dengan cepat Cen Tian melesat ke arah Duan Du lalu duduk sambil menyapa semua orang yang ada tanpa rasa malu.


Sementara Bai Yun dan Liu Fang kini berdiri di samping Bai An.


“An'er bagaimana caramu menyelamatkan kami?” Tanya Bai Yun penuh tanda tanya.


Pasalnya setelah sadar, ia bertanya ke Mu Xai'er, namun Mu Xia'er hanya menjawab Bai An lah yang pantas menjawab.


Jadi Bai Yun kini bertanya ke adiknya.


“Itu bukan aku, melainkan Hu Hong Meng yang menyelamatkan kakak,” jawab Bai An sambil menunjuk ke arah Hu Hong Meng yang kini terlalu asik minum bersama yang lainnya.

__ADS_1


Bai Yun yang melihat ke arah mana tangan Bai An menunjuk langsung mengangguk santai.


“Oh ya, aku lupa jika saat di dunia jiwa aku telah bertemu putramu yang ada Di Alam Semesta Inti ini,” kata Bai Yun tersenyum senang saat tahu adiknya memiliki putra di sini dan yang Bai Yun maksud adalah Bai Han.


Bai An mengangguk santai lalu mengajak kakaknya untuk ikut minum karena ia takut kakaknya nanti tidak akan berhenti bertanya jika tidak di alihkan.


Bai An juga melirik ke arah murid pertamanya. Muridnya ini terbilang normal, karena sifatnya tidak seperti yang lain membuat Bai An cukup beruntung memiliki murid tidak seperti Duan Du.


“Fang'er, apakah kau minum juga?” Tanya Bai An kini telah ikut bergabung bersama yang lainnya.


Liu Fang mengangguk malu-malu, melihat itu, semua orang seketika tertawa.


Liu Fang terbilang telah dewasa, umurnya juga lebih tua dari Duan Du. Tapi ia masih malu-malu, hal tersebut tentu membuat lucu semua orang.


Melihat dirinya di tertawakan. Liu Fang hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal di sertai tawa canggung.


Ling Yenrou yang dari tadi melihat Liu Fang kini mengerutkan keningnya saat merasa familiar dengan Liu Fang ini.


“Apakah?... Tidak, itu tidak mungkin dia,” gumam Ling Yenrou menggelengkan kepalanya.


Bai An yang melihat Ling Yenrou menggeleng-geleng mengira jika Ling Yenrou telah mabuk karena baru pertama kali mencoba arak buatan Duan Du.


Sama halnya dengan semua orang berpikir hal yang sama dengan Bai An.


“Hmm..!! Apa yang di pikirkan Leluhur Ling terhadap kakak Fang?” Gumam Duan Du.


Duan Du memanggil Liu Fang sebutan kakak karena tentunya selain ia murid pertama Bai An, Liu Fang juga lebih tua darinya.


Sementara Liu Fang hanya diam saja sambil tersenyum canggung.


***


Di tempat yang cukup indah, ada sebuah bangunan besar, setiap sisi tembok kediaman tersebut di lapisi oleh emas murni dan beberapa tembaga. Halamannya pun sangatlah luas.


Kediaman tersebut cukup jauh dari pemukiman penduduk.


Kediaman tersebut milik pemimpin Kota Air Tawar.


Bom bom bom..!!


Arrgghh..!!

__ADS_1


“Aku tak mau tahu, cepat cari, cari dan tangkap orang yang telah membunuh putraku satu-satunya,” teriak Pemimpin kota yang bernama Ba Rong.


Ba Rong kini melihat ke arah krital darah milik putranya yang telah hancur.


Amarahnya kembali memuncak saat tidak bisa melihat siapa orang yang telah membunuh putranya Ba Wang.


Ada sebuah asap yang menghalangi pandangan mata Ba Rong saat melihat rekaman kejadian sebelum putranya mati.


Ba Rong mencoba menenangkan diri, ia mencoba berpikir jernih.


“Apakah ini ada kaitannya dengan pemilik penginapan Naga Air?” Gumam Ba Rong sedikit terkejut.


Mengingat saat pemilik penginapan Naga Air memberinya peringatan jika ia mempunya Tuan sebagai Penetua di Sekte Besar. Ba Rong hanya menganggapnya omong kosong. Terlebih ia sudah di butakan oleh keserakahan.


“Heng,, aku tak mau tahu, mau penetua, mau Master Sekte Besar yang turun tangan, aku akan membunuh mereka,” raung Ba Rong kini mengeluarkan auranya.


Blush..!!


Tekanan Dewa Raja Semesta ⭐ 1 Awal langsung mengguncang kediaman miliknya, bukan hanya itu saja, bahkan hampir semua wilayah Kota Air Tawar ikut berguncang.


Setelah itu Ba Rong menghilang dari tempatnya, terlihat tujuannya adalah penjara.


***


Bai An, Duan Du, Ling Yen Rou, Bing Lou dan yang lainnya kini tersenyum tipis saat merasakan aura di sertai guncangan kecil.


“Hehe,, akhirnya ia akan bergerak kesini juga,” kekeh Duan Du dengan mata bersinar.


Cen Tian yang melihat itu langsung ikut bersemangat. “Apakah ini ada kaitannya dengan harta?” Tanya Cen Tian dengan nada bersemangat.


Mendengar itu Tu Long langsung cemberut karena menurutnya Cen Tian ini jauh lebih serakah dari Duan Du.


Bagaimana tidak, baju yang sedikit bolong saja di embat juga oleh Cen Tian, sementara Duan Du masih bisa di bilang tidak terlalu serakah karena ia masih pilih-pilih.


“Hehe,, tentu saja kakak Tian, apakah kau mau bertaruh siapa yang mendapatkan banyak harta kali ini,” tantang Duan Du.


“Hehe,, tapi nominal harga tidak di hitung, yang di hitung adalah jumlah berapa yang di dapat, misalkan 100 pedang, hitung 100 pedang saja, jangan hitung harganya,” kekeh Cen Tian.


Mendengar itu, Duan Du sedikit terkejut karena ia baru kali ini melihat sifat kakaknya yang memiliki sifat sedikit licik juga.


Duan Du tentu tidak tahu jika Bai An lah yang memberikan Cen Tian saran tersebut. Jika ia tahu maka ia akan keberatan dan tidak terima.

__ADS_1


“Heng,, baiklah siapapun yang mendapat lebih banyak maka ia berhak mengambil harta yang kalah,” dengus Duan Du.


Mata Cen Tian langsung bersinar cerah. “Hehe,, siap-siap saja berikan hartamu kepadaku Du'er.”


__ADS_2