
“Apakah kau ingin kuat. Apakah kau ingin kekuatan. Apakah kau ingin kekayaan. Apakah kau ingin kekuasaan.”
Suara tersebut menggema berulang kali di dalam otak Jhon Bonyong, hal tersebut membuat Jhon Bonyong memegangi kepalanya yang kini merasakan sakit luar biasa.
Argh..!!
Langkah Husen terhenti saat melihat Jhon Bonyong berteriak kesakitan.
“Eeh,, apa yang terjadi?” Tanya Rian kini mendekati Husen.
Tap tap..!!
“Aku juga tidak tahu, tapi yang pasti, ia terlihat tidak berpura-pura,” jawab Husen merasa bingung dengan tingkah Jhon Bonyong saat ini.
Saat ini Jhon Bonyong tiba-tiba memiliki pandangan gelap, saat ia membuka mata, yang pertama ia lihat hanyalah kegelapan tanpa batas.
“Di..Dimana ini, hei dimana ini? Cepat keluarkan aku,” Jhon Bonyong langsung berteriak sekuat yang ia bisa.
Namun tidak ada jawaban sama sekali, dan setelah beberapa detik.
Sebuah cahaya berjumlah dua muncul, cahaya tersebut bewarna merah. Awalnya Jhon Bonyong mengira itu api, tapi tubuhnya langsung bergetar hebat, ia tak pernah merasakan setakut ini, jika di suruh memilih, ia akan memilih mati saja.
Jhon Bonyong juga mendengar suara itu kembali.
“Apakah kau ingin kuat. Apakah kau ingin kekuatan. Apakah kau ingin kekayaan. Apakah kau ingin kekuasaan.”
Dua cahaya besar yang tak lain adalah mata kini berbicara kepada Jhon Bonyong.
Jhon Bonyong sedikit tertegun.
“A..Apakah aku bisa menjadi kuat?” Tanya Jhon Bonyong terlihat memberanikan diri bertanya.
Hehe..!!
Tak lama mata tersebut menampilkan sosok aslinya di sertai tawa menyeramkan.
Bruk..!!
Jhon Bonyong langsung terjatuh saat melihat sosok asli dua mata tersebut. Melihat monster setinggi 500 meter, siapa saja pasti akan ketakutan, apa lagi yang melihatnya hanya manusia Fana.
“Hahaha,, apakah kau meragukan ucapanku manusia, aku akan memberikan bukti tapi dengan syarat jiwamu akan menjadi milik ku. Bagaimana?” Ucap sosok yang tak lain Jendral Mo Hung.
Jendral Mo Hung hanya bisa memasuki alam sadar manusia Fana yang kotor, haus akan semuanya, karena mereka-lah yang paling mudah di masuki.
Jhon Bonyong yang mendengar itu ragu. Tapi dengan bujuk rayuan Iblis, kini Jhon Bonyong tersenyum bahagia.
“Haha,, jika aku kuat dan bisa menguasai Dunia ini, maka tidak apa-apa aku menjadi budakmu, ayo berikan aku kekuatan,” ucap Jhon Bonyong dengan tawa menjijikkan bagi Jendral Mo Hung.
Jendral Mo Hung langsung menembakkan sebuah cahaya bewarna hitam.
Bam..!!
__ADS_1
Seketika Jhon Bonyong langsung merasakan kekuatan luar biasa.
“He..Hebat, hanya dengan satu cahaya hitam tadi, aku merasa sudah sekuat ini.” Gumam Jhon Bonyong kini menampilkan senyum liciknya, ia terlihat ingin membalas apa yang telah di perbuat oleh Rian dan Husen kepadanya tadi.
***
Sementara Rian dan Husen kini saling melirik satu sama lain.
“Bagaimana ini? Apakah kita akan membunuhnya?” Tanya Rian sedikit ragu.
“Hmm,, seperti yang pernah Tuan Bai katakan, jangan terlalu mengiba kepada orang jahat, itu akan membuat kita menyesal suatu saat nanti,” jawab Husen langsung mengayunkan pedangnya.
“Teknik Berpedang.”
“Gaya Pertama, Pedang Tanpa Hati.” Ucap Husen.
Pedang Husen langsung menuju ke arah leher Jhon Bonyong, terlihat ada sebuah hembusan saat Husen menggunakan teknik berpedang.
Wuss..!!
Trank..!!
Husen langsung membelalakkan matanya saat melihat pedangnya kini tidak bisa menebas kepala Jhon Bonyong.
“Apa itu?” Ucap Husen mundur saat melihat sebuah asap hitam mengelilingi leher Jhon Bonyong.
“Hehe,, kalian akan mati, aku akan memakan jiwa kalian,” kekeh Jhon Bonyong.
“Di..Dia dia bukan lagi manusia, mungkin dia di rasuki oleh Siluman,” ucap Rian sedikit terkejut.
“Siapapun dia, kita harus membunuhnya, karena akan membahayakan jika membiarkan dia hidup,” sambung Husen dengan nada dingin.
Rian mengangguk membenarkan.
Mereka berdua-pun langsung mengeluarkan kemampuan mereka yang sesungguhnya.
Blush..!!
Blush..!!
Tenaga dalam jumlah besar langsung mengelilingi tubuh Rian dan Husen.
Jhon Bonyong yang melihatnya hanya mengeluarkan giginya yang kini berbentuk taring.
Wuss..!!
Bom..!!
Tubuh Rian dan Husen langsung terlempar saat Jhon Bonyong muncul begitu saja dengan sebuah ayunan tinju.
***
__ADS_1
Jauh di Seribu Pulau.
Saat ini Bai Chu Ye, Bai Xia Xie dan kedua Jendral Iblis Muda sedang bermain kuda-kuda,an.
Mo Liang Liu kini di tunggangi oleh Xie'er dan Mo Denshan di tunggangi oleh Ye'er.
“Ayo cepat lari, jangan sampai di kejar oleh Ye Gege,” teriak Xie'er menjambak rambut Mo Liang Liu.
Mo Liang Liu mengangguk patuh, ia terlihat menderita saat di tunggangi oleh Xie'er.
Di belakang mereka, Ye'er hanya diam saja, hal itu membuat Mo Denshan merasa lega. Mo Denshan terlihat sengaja menjaga jarak agar saudaranya tidak terkejar, jika terkejar ia yakin Mo Liang Liu semakin menderita oleh Xie'er.
“Berhenti.”
Tap tap..!!
Mo Denshan berhenti saat mendengar suara Ye'er.
Pandangan Ye'er kini mengarah ke tempat ia pertama kali muncul di Bumi.
“Bau Energi Iblis,” ucap Xie'er tiba-tiba muncul di samping Bai Chu Ye.
Bai Chu Ye hanya diam saja sambil tetap menatap ke arah kejauhan.
Mo Liang Liu dan Mo Denshan yang mendengar itu hanya mengerutkan kening mereka.
“Apakah Invasi Iblis Merah sudah sampai ke sini?” Gumam kedua Jendral Iblis Muda bersamaan.
“Tidak, ia hanya seorang diri, tapi ia bukan memakai tubuhnya, melainkan tubuh manusia Fana, yang artinya hanya jiwanya saja yang kesini.” Sambung Bai Chu Ye dengan nada serius.
“Hehe,, penciuman dan indra Ye Gege memang yang terbaik,” puji Xie'er dengan bangga, setelah itu Xie'er menampilkan senyum lebih cerah lagi.
“Bagaimana jika kita kesana?” Ajak Xie'er.
Bai Chu Ye terdiam. “Tidak boleh, ibu akan memarahi kita jika ketahuan,” ucap Bai Chu Ye dengan nada datar.
“Heng,, Ye Gege, kau ini tidak bisa di ajak kerja sama,” dengus Xie'er memanyunkan bibirnya cemberut.
“Kita tinggal pergi tanpa sepengetahuan mereka gampang kan. Terlebih lagi, apa Ye Gege mau jika banyak manusia yang di sesatkan nantinya di sini.” Sambung Xie'er dengan nada kesal.
Bai Chu Ye yang awalnya ingin kembali langsung menghentikan langkahnya. Karena apa yang Xie'er ucapkan ada benarnya juga.
Kedamaian Bumi ini sudah cukup baik bagi mereka, walau di dalamnya hanya ada manusia saja yang saling menjatuhkan demi kekuasaan, harta dan sebagainya. Itu tidak terlalu bermasalah bagi mereka.
“Baiklah, tapi nanti saat kembali kau yang beritahu ibu alasannya, aku malas bicara,” ucap Bai Chu Ye datar.
“Hehe,, aku tahu kau memang terbaik Ye Gege,” kekeh Xie'er dengan senyum lebar.
Kini pandangan Xie'er mengarah ke Mo Liang Liu dan Mo Denshan, mereka berdua hanya diam saja.
Mereka juga dalam hati mendoakan iblis yang akan Xie'er datangi bernasib baik dengan mati lebih cepat. Karena mereka sudah tahu kengerian Xie'er di balik senyum polosnya.
__ADS_1
“Kenapa kalian diam saja, ayo bawa kami pergi bersenang-senang.” Ucap Xie'er cemberut.