Lahirnya Raja Para Dewa 2

Lahirnya Raja Para Dewa 2
Kondisi Hu Liu Chen dan Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

“Pergilah, saudara kita sedang dalam bahaya, jangan menunda lagi.”


Bai An terhenti sesaat sambil tersenyum ke arah 'He' kecil.


“Jangan berikan mereka ampun, waktunya bagi kita memperlihatkan kekuatan sebenarnya milik kita. Agar mereka semua tahu jika kita bukanlah orang yang mereka bisa injak-injak,” sambung Bai An memasang wajah dingin.


Secara spontal 'He' kecil juga memasang wajah dingin. Hal tersebut membuat Duan Du dan Tu Long merasa gemas.


Mereka kini tidak mendengar ucapan Bai An saking semangatnya mereka ingin menggendong 'He' kecil.


Mereka juga terlihat berlomba-lomba ingin mengajari 'He' kecil kemampuan mereka masing-masing yang sudah mereka rencanakan jauh-jauh hari.


Bai An hanya bisa menggeleng sambil memberikan 'He' kecil kepada keduanya.


“Kalian ini,” ucap Bai An menghela nafas.


“Hehe,, kakak biarkan aku melihat dan menggendong 'He' kecil lebih lama dulu, terlebih aku tidak sabar ingin-”


“Ingin apa hah?” Dengus sebuah saura menyeramkan bagi Duan Du dan Tu Long.


Saat ini Mu Xia'er dan Chu Jia bersama Nenek He masuk sambil membawa beberapa makanan ringan.


Duan Du dan Tu Long yang melihat itu buru-buru memberikan 'He' kecil, setelah itu mereka pergi dengan alasan melakukan tugas.


Tanpa menunggu jawaban dari semua orang, keduanya langsung menghilang.


Bai An hanya bisa tertawa lucu melihat reaksi keduanya yang begitu berlebihan.


“Oh ya, apakah Ning'er belum keluar dari latihan tertutupnya?” Tanya Bai An tiba-tiba setelah kedua istri dan Nenek He duduk.


Bai An juga memberikan 'He' kecil kepada ibunya.


“Hmm..!! Belum, kau ingin melakukan apa jika Ning'er selesai pelatihan tertutup?” Tanya Mu Xia'er curiga kepada Bai An.


“Jangan bilang kau ingin menyuruh Ning'er keluar untuk bertarung? Tidak-tidak, aku tidak memperbolehkan Ning'er keluar dari sini,” sambung Mu Xia'er dengan nada tegas tanpa memberikan Bai An menjawab.


Bai An hanya bisa tersenyum masam.


Karena awalnya ia ingin membuat Mei Ning jauh lebih kuat jika ia berada di dunia nyata yang di hadapkan oleh pertarungan hidup dan mati.


Setelah cukup lama terdiam. Kini Chu Jia yang merasa ada yang kurang langsung bertanya.


“Dimana Han'er?” Tanya Chu Jia sambil mengedarkan kesadarannya ke batasnya.


Namun ia masih tidak menemukan keberadaan Bai Han.

__ADS_1


Mendengar itu, Mu Xia'er ikut mengedarkan kesadarannya. Untuk Mu Xia'er ia hampir bisa mengedarkan kesadarannya ke seluruh Dunia Jiwa milik Bai An.


Sementara Bai An pura-pura mengerutkan keningnya dan wajah Bai An terlihat nyata seolah tidak tahu apa-apa.


“Bocah kurang ajar itu, aku akan mencincangnya jika ia kembali nanti. Apalagi saat Han'er ku terluka,” geram Mu Xia'er mengepalkan tangannya di penuhi rasa kesal karena mengira Duan Du mengajak Bai Han keluar dunia jiwa.


Chu Jia langsung tertawa kecil saat melihat Mu Xia'er kini mulai emosi lagi.


Padahal selama ia hamil, ia tidak pernah emosi apapun kelakuan Duan Du danTu Long, malah ia ikut tersenyum saat melihat tingkah konyol keduanya.


“Xia Jie-jie, tahan emosi mu,” ucap Chu Jia menenangkan.


“Saat ini kau hamil besar dan menunggu hari lagi kau akan melahirkan,” sambung Chu Jia.


“Benar Xia'er, berhentilah marah-marah tak jelas. Perlu kau ketahui, saat ini Han'er sudah besar ia sudah menginjak 9 tahun. Jadi berhentilah egois dengan membatasinya ini itu,” ucap Bai An ikut memberikan Mu Xia'er masukan.


Namun yang Bai An dapatkan adalah ceramah dari istrinya yang keras kepala ini.


“Huuf,, memang jika seorang ibu akan selalu mengerikan jika menyangkut anaknya,” gumam Bai An sedikit merinding.


Bai An kini hanya mengangguk-angguk saat mendengar ceramah Mu Xia'er, sementara Chu Jia dan Nenek He hanya tertawa kecil saja saat melihat Bai An yang patuh dan menjadi pendengar baik tanpa menimpali.


***


Tap tap..!!


“Hoam,, kenapa kalian sangat lama keluar paman? Han'er jadi ngantuk,” ucap Bai Han dengan nada malas.


“Heng,, bocah licik, aku tahu maksud pertanyaanmu ini, ayo kita cari rumah makan yang menjual informasi,” dengus Duan Du sambil mengacak-ngacak rambut Bai Han.


Bai Han yang lebih dulu keluar dari dunia jiwa, karena tak ingin di hentikan maupun di larang keluar oleh ibunya, jadi ia menyuruh ayahnya mengirim ia keluar lebih dulu.


Kini Bai Han langsung bersemangat, ia tersenyum kecil. Wajah malasnya langsung hilang.


“Ayo,, aku tahu kota yang cocok, karena selama menunggu, aku juga mencari info dari para perampok yang kini menjadi bawahanku,” ucap Bai Han.


Prok prok..!!


Bai Han langsung bertepuk tangan.


Wuss wuss..!!


Seketika 4 orang keluar dengan tingkat kekuatan cukup mengerikan bagi para penduduk maupun klan besar sekalipun.


Mereka adalah para ketua perampok yang Bai Han tundukkan dalam waktu 3 jam.

__ADS_1


Kekuatan terlemah dari keempatnya ada di tingkat Dewa Raja Semesta ⭐ 4 Awal dan terkuat berada di tingkat Dewa Master Semesta ⭐ 2 Awal.


Kekuatan seperti itu cukup untuk mengacaukan Klan Besar, terlebih untuk setingkat Dewa Master Semesta yang setara para penetua klan besar dan patriak di Dunia Awan.


Beruntung bagi Bai Han yang muncul bertepatan dengan keempat ketua ini sedang melakukan pertemuan dan mereka berencana akan merampok rombongan Paviliun Awan yang sedang dalam perjalan ke pusat Paviliun Awan.


Entah bagaimana cara Bai Han menundukkan keempatnya sekaligus tanpa pertarungan.


Tapi yang pasti itu cukup membuat Duan Du dan Tu Long kagum, apalagi saat melihat wajah patuh di sertai hormat keempatnya terhadap Bai Han.


“Hehe,, kau yang terbaik Han'er,” kekeh Duan Du dengan bangga.


“Hmm hmm,, tapi alangkah baiknya jika kau menghajar mereka lebih dulu sebelum kau tundukkan, itu agar membuat kau di segani,” sambung Tu Long menggerakkan ototnya.


“Heng,, tanpa otak otot bisa apa,” dengus Duan Du menimpali.


“Tentu saja untuk menghajar otak mu,” sambung Tu Long.


Bai Han yang melihat kedua pamannya mulai lagi langsung berkata.


“Ya,, kalian bertarung saja, aku dan mereka akan pergi jika begitu,” dengan santai Bai Han memberikan intruksi kepada keempat bawahannya.


Mereka berempat langsung melesat ke arah kota yang bersebelahan dengan pusat kota.


Duan Du dan Tu Long seketika menghentikan aktipitas mereka lalu berteriak.


“Han'er tunggu,” secara serempak keduanya melesat melesat mengejar Bai Han.


***


“Hehe,, aku tak menduga jika satu dari tiga anggota klan Ho era kuno ternyata selalu bersama ku, sungguh bodohnya diriku telah mempercayai dirimu dari kecil. Tapi jika kau merasa menang maka kau salah besar,” ucap Hu Liu Chen terkekeh mengejek bayangan yang kini muncul.


Yaps..!!


Bayangan yang selalu bersembunyi dan Hu Liu Chen menganggap ia adalah bawahannya yang paling setia ternyata adalah musuh dalam selimut.


Mendengar ancaman dari Hu Liu Chen. Penetua Inti Pertama dari Sekte Es Abadi atau Ho Zhen kini berdiri untuk memberi Hu Liu Chen pelajaran.


Namun banyangan tersebut menghentikannya.


“Jika kau melukainya, maka aku tak segan-segan akan membunuhmu Ho Zhen,” ucap bayangan tersebut dengan nada dingin.


Ho Zhen seketika terdiam.


Kini terlihat Ho Zhen berkeringat dingin saat merasakan aura mengerikan dari tubuh banyangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2