
Apa hanya perasaanku saja atau dia seperti tersenyum tadi?” Gumam Bai An dalam hati.
...
“Xie'er apa kau tahu kemana ayahmu pergi bersama bocah nakal itu?” Tanya Mu Xia penasaran.
Xie'er mengangguk ringan. “Ayah pergi membantu paman Du mengambil peninggalan paman Du yang ia simpan dahulu.”
Jia Li Ling, Chu Jia dan Ling Mei yang mendengar itu penasaran dengan jawaban Xie'er. Lantas mereka pun bertanya sambil menyiapkan hidangan sarapan bersama para wanita lainnya.
...
Di tempat yang tidak jauh, kini Ling Feng, Mei Yin, Ling Sui membantu mengatur pembuatan benteng yang cukup kokoh di perbatasan.
“Hei saudara Tu, perintahkan pasukanmu yang tersisa untuk berlatih lagi agar bisa menghadapi serangan musuh nantinya. Aku yakin setelah kematian Xiong Zai itu, mereka pasti akan mengirim pasukan lebih cepat untuk membalas dendam.” Ucap Mei Yin.
Tu Long yang duduk santai sambil menikmati araknya langsung bangkit, tatapannya tertuju ke semua jendral Ras Half Giant Dragon.
“Apa kalian dengar, beritahu yang lain, jika mereka ingin menjadi lebih kuat lagi. Maka dalam waktu 5 menit aku menunggunya di sana,” ucap Tu Long menunjuk ke arah lahan kosong.
Tak sampai 5 menit, kini hampir semua pasukan Ras Half Giant Dragon serta pasukan teman Gou Long dan pasukan pembantai kini berkumpul.
Bahkan Bai Han, Bai Chu Ye, Duan Li, Cen Tian serta seluruh keluarga terdekat Bai An ikut berkumpul.
“Hem..!! Aku tak menduga jika mereka semua sesemangat ini,” ucap Ling Feng kini berdiri di samping Tu Long.
“Tentu saja mereka semangat, semua demi Tuan muda, semua demi keluarga. Jika mereka tidak melakukan ini, mereka sadar akan menyesal di saat terahir. Jadi jika mereka telah berusaha dari awal lalu tetap gagal. Tidak akan ada penyesalan, malah mereka akan bahagia saat menerima kekalahan bahkan kematian.” Balas Tu Long dengan nada bermartabat.
Ling Feng mengangguk setuju.
Tak lama mereka pun memberikan semuanya menu latihan. Tak lupa Ling Feng dan Tu Long ikut berlatih meningkatkan pemahaman mereka di bidang mereka masing-masing.
***
Wuss wuss..!!
Tap tap..!!
Bai An dan Duan Du kini berhenti di depan sebuah rumah bertingkat. “Hmm..!! Bisa-bisanya kau menaruh peninggalanmu di tempat seperti ini,” ucap Bai An menggelengkan kepalanya.
Duan Du tersenyum kecil. “Hehe,, siapa yang akan menduga aku mearuhnya di sini kak,kau pun tidak akan menduganya bukan,” kekeh Duan Du.
__ADS_1
“Iya ya, lebih baik kau cepat masuk, aku akan menunggu di luar,” ucap Bai An langsung menghilang.
Duan Du pun langsung melangkah masuk.
Tap tap..!!
“Hmm..!! Masih ramai seperti dulu,” gumam Duan Du melihat banyak sekali para kultivator laki-laki hidung belang yang kini menggoda para wanita penghibur.
Saat melirik, salah satu wanita yang cukup dewasa menghampiri Duan Du.
“Apa anda ingin melakukan servise Tuan muda? Kebetulan kami memiliki beberapa yang baru dan tentunya masih belum terjamah. Tapi harganya sedikit jauh lebih mahal dari yang biasanya,” ucap wanita dewasa yang tak lain seorang mucikari.
“Hmm..!! Bawa aku menemui pemilik tempat ini,” ucap Duan Du tanpa basa basi.
Seketika tempat tersebut menjadi hening saat mendengar ucapan Duan Du. Tak lama suara gelak tawa dan pandangan merendahkan semua mereka berikan ke arah Duan Du.
“Apa dia bermimpi, dalam kurun waktu yang cukup lama, pemilik tempat ini bahkan tidak pernah keluar walau banyak patriak klan Besar dari berbagai tempat secara pribadi datang kesini ingin menemuinya.” Ucap laki-laki dengan telinga dan hidung Babi.
“Hmm..!! Benar bahkan dengan terang-terangan pemilik tempat ini mengusir semua orang besar itu,” sambung seorang manusia dengan tatapan mengejek ke arah Duan Du.
“Biarkan saja, tidak usah terlalu mengurusi orang gila, lebih baik kita bersenang-senang saja,” ucap salah satu iblis.
Semua orang yang ada di sana langsung melanjutkan aktivitas mereka kembali. Tak sedikit yang langsung melakukan taruhan jika Duan Du pasti akan di usir sebentar lagi.
Melihat penampilan Duan Du yang sangat tampan, ia terdiam cukup lama.
“Ikuti aku ke ruang tunggu,” ajak sang mucikari.
Duan Du mengangguk santai. “Aku tak menduga jika dia mendengar ucapanku jika harus melayani tamu dengan baik, jangan mengusir sebelum tahu keinginan mereka,” gumam Duan Du dalam hati.
Tap tap..!!
“Langsung saja, apa tujuanmu ingin menemui Tuan putri kami?” Tanya mucikari menatap Duan Du dengan tatapan tajam setelah berada di balik tembok.
Pandangan Duan Du mengarah ke para wanita yang bersembunyi di balik bayang-bayang.
“Hmm..!! Beritahu jika ayah Duan telah kembali, maka ia pasti akan tahu sendiri,” ucap Duan Du santai.
Mendengar itu, sang mucikari terheran-heran, ia kini menganggap pemuda tampan di depannya ini orang gila. Walau begitu, ia tetap pergi menuju pemilik tempat hiburan ini.
Tap tap..!!
__ADS_1
Setelah sampai di lantai 7, sang mucikari terdengar sedikit gugup.
“Hmm..!! Ada apa Mi kecil, apa ada orang yang ingin menemuiku lagi? Jika ia, maka usir saja, aku tak ingin di ganggu.” Ucap sebuah suara lembut di balik pintu indah bermotip bunga.
“I..Ibu orang yang ingin menemui mu ini sama sekali tidak bisa aku lihat tingkat kultivasinya, ia juga mengatakan jika-” sang mucikari atau Mi terdiam lebih dulu lalu memberanikan diri untuk meneruskan ucapannya.
“Ia bilang jika ayah Duan telah kembali, apakah-”
Wuss..!!
Sebuah hamparan angin langsung menerpa wajah Mi.
Mi terdiam dengan pandangan shok saat melihat kecantikan ibunya yang awet sampai saat ini. Melihat ibunya telah membuka pintu lalu berjalan keluar. Mi sama sekali tidak percaya.
Sudah lama ia tidak melihat orang yang ia anggap ibu keluar seperti ini.
“Dimana ayahku menunggu?” Ucap suara lembut langsung menyadarka Mi yang masih terpana.
Eeh..!!
Mi seketika terkejut saat mendengar pertanyaan ibunya.
Dengan ragu-ragu ia menjawab tanpa berani bertanya. “Di lantai 3 ibu.”
Wuss..!!
Wanita cantik yang ada di depan Mi langsung menghilang.
Mi melihat itu sedikit tak percaya, dengan cepat ia mengejar ibunya.
Wuss..!!
Tap tap..!!
Saat di depan pintu, Mi bersama wanita lainnya tidak berani masuk. Walau begitu, mereka bisa melihat kejadian yang ada di dalam ruangan dengan wajah terkejut luar biasa.
“Hmm..!! Sha'er kau telah tumbuh dewasa rupanya,” ucap Duan Du tersenyum lembut.
Tidak ada yang mengetahui kebenaran jika Duan Du memiliki seorang putri dari wanita penghibur yang tak sengaja ia tiduri dahulu.
Namun Duan Du tetap mempertanggung jawabkan perbuatannya dan merawat istri serta putri kecilnya.
__ADS_1
“A..Ayah, Sha'er merindukan ayah, kenapa ayah lama sekali kembali? Kenapa ayah meninggalkan Sha'er? Kenapa ayah tidak membawa Sha'er ikut, kenapa ayah tega membiarkan Sha'er di sini sendiri.” Seketika Duan Sha langsung mengeluarkan semua keluh kesah dan unek-uneknya.
Duan Du hanya bisa tersenyum sambil mengusap rambut putrinya hingga Duan Sha tertidur pulas akibat kelelahan menangis.