Lahirnya Raja Para Dewa 2

Lahirnya Raja Para Dewa 2
Pernikahan Duan Du dengan Jia Li Ling dan Niat Menyerang


__ADS_3

“Dia benar-benar seperti yang orang bilang jika ia tidak akan memberikan musuh hidup.” Gumam kedua tetua Jia kini mulai merasakan lutut mereka lemas.


Setelah membunuh tiga tetua yang memprovokasinya, Duan Du kini melirik ke arah luar Restaurant.


Tanpa menunggu perintah dari Bai An, Duan Du langsung menghilang.


Bom..!!


Bom..!!


Duar.!!


Terdengar suara ledakan menggema di luar, bahkan suaranya dapat di dengar oleh dua Paviliun.


Wuss..!!


Tap tap..!!


Duan Du muncul lalu duduk, ekspresi Duan Du kini cemberut saat melihat wajah keluarganya yang terlihat polos.


“Heng,, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” dengus Duan Du, ia tahu jika ini pengaruh dari Bai An.


“Dimana pohon dan buahnya paman?” Tanya Bai Han terlihat bersemangat.


“Kebetulan aku belum pernah memakan buah cukup lama,” sambung Bai Han kini menatap Duan Du dengan pandangan berkaca-kaca.


Mendengar itu, Tu Long langsung tertawa bersama Hu Xiao.


Untuk Duan Du, ia kini merasa semakin malu, baru kali ini ia di permalukan seperti ini oleh keponakannya sendiri, terlebih ia merasa jika gayanya di tiru.


“Hmm,, baiklah aku paham sekarang,” dengus Duan Du.


“Aku akan-”


Ucapan Duan Du terhenti saat Bai An mengangkat tangannya.


Duan Du yang paham kini sedikit malu saat Jia Li Ling menatap mereka dengan tatapan bingung.


Duan Du tadi sebenarnya ingin mengatakan akan menikahi Jia Li Ling.


Mungkin jika bukan karena ejekan dari keluarganya ini, Duan Du akan menunda sedikit lebih lama untuk menikahi Jia Li Ling.


Duan Du tahu jika ia telah menikah, maka ia akan terikat. Jadi Duan Du yang ingin bebas sehingga berniat menunda.

__ADS_1


Tapi niatnya telah di ketahui sehingga mau tak mau Duan Du akan melangsungkan pernikahannya sebentar lagi.


“Ehem,, mengapa begitu canggung, ayo duduk.”


Raut wajah Duan Du kini berubah, dari yang dingin menjadi murah senyum.


Seolah tidak ingin membuat Duan Du marah, dua tetua dari klan Jia langsung berjalan terburu-buru menuju kursi yang di tunjukkan oleh Duan Du.


Patriark Jia hanya diam saja, karena tatapannya kini mengarah ke Hu Xiao.


Hu Xiao mengangguk ringan sehingga ia langsung duduk ke kursi kosong.


Duan Du yang ingin duduk juga kini tidak jadi. Jia Li Ling lebih dulu melesat duduk di tempat yang Duan Du ingin duduki.


Senyum bahagia terpancar di wajah Jia Li Ling, tangannya melambai seolah menyuruh Duan Du duduk berdua di satu kursi.


Melihat kelakuan Jia Li Ling, Bai Han tersenyum nakal.


“Wah,, apakah bibi mau mengajak paman Du ke kursi pernikahan sehingga mengajak duduk satu kursi,” suara Bai Han terdengar nyaring di telinga semua orang sehingga tatapan mereka kini mengarah ke Bai Han.


Melihat Bai Han yang polos, para tetua, patriark Jia dan Jia Li Ling menganggap jika Bai Han masih anak kecil yang tidak mengerti arti ucapannya.


Berbeda dengan Bai An, Tu Long, Hu Xiao, mereka kini tersenyum bahagia sambil mengacungkan jempolnya sesaat kepada Bai Han.


Sementara Duan Du memasang wajah merah karena malu, ia juga diam saja.


“Padahal Han'er melihat jika paman Du dan bibi Ling sangat serasi menjadi pasangan,” sambung Bai Han mengembungkan pipinya.


Blush..!!


Seketika wajah Jia Li Ling memerah malu saat mendengar ucapan Bai Han, ia juga terlihat menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


“Hmm apa yang di ucapkan Han'er ada benarnya juga, aku melihat dengan teliti jika wajah mereka kini sedikit mirip,” sambung Hu Xiao langsung membantu Bai Han untuk memojokkan Duan Du.


Mendengar itu, Patriark Jia hanya mengangguk-angguk, ia terlihat akan menyetujui apa saja yang di ucapkan oleh Hu Xiao karena telah mendapat pesan dari ayah dan leluhurnya dulu jika apa pun yang di ucapkan Hu Xiao maka itu adalah berkah bagi klan Jia.


Untuk kedua tetua klan Jia, mereka hanya diam saja karena tidak tahu apa yang harus mereka ucapkan.


Sementara Duan Du yang semakin tersudut hanya bisa mengutuk nasibnya yang mempunyai keluarga semuanya licik.


“Apapun yang Leluhur Guru ucapkan, maka saya akan selalu setuju, walau saat ini Ling'er mempunyai ikatan pernikahan dengan Huang Shen, putra sekaligus penerus dari Paviliun Phoenix Perak,” ucap Patriark Jia dengan nada tegas.


Bai An dan Bai Han terlihat saling memandang, seolah mereka berunding apakah akan setuju atau tidak.

__ADS_1


“Hmm..!! Aku juga setuju jika Du'er menikah dengan Jia Li Ling, tapi apakah Jia Li Ling setuju? Jika ia tidak setu-”


“Aku setuju Tuan Bai,” potong Jia Li Ling terlihat memberanikan diri, walau wajahnya saat ini memerah layaknya bara api.


Bai An langsung mengangguk, ia kini melirik ke arah Duan Du yang sewaktu-waktu memasang wajah jelek.


“Bagaimana menurutmu Du'er, apakah kau setuju juga? Tapi aku yakin kau akan setuju, jika begitu acara pernikahan adik ku akan di laksanakan hari ini di sini, dan yang akan menjadi saksi adalah kita,” ucap Bai An yang kini sama sekali tidak memberikan Duan Du ruang untuk mengeluh.


Melihat semua orang mengangguk, seketika Duan Du dan Jia Li Ling langsung di nikah kan.


Prosesnya hanya 10 menit saja, kini Duan Du dan Jia Li Ling telah resmi menjadi suami istri.


Dengan malu-malu Jia Li Ling menggandeng tangan Duan Du.


Duan Du yang awalnya diam saja kini mengeluarkan senyum, senyum sedikit bahagia dari wajah Duan Du yang cukup jarang terlihat.


Duan Du kini merasakan kehangatan, ia awalnya ingin menolak. Tapi apa boleh buat, Bai An selalu menekannya yang tidak dapat di ketahui oleh semua orang.


Tekanan tersebut sebenarnya untuk kebaikan Duan Du sendiri, jika Bai An tidak melakukan ini, maka selamanya mungkin tidak akan menikah.


***


Kota Sumberdaya.


Wilayah Utara, saat ini wajah Patriark Klan Huang tidak pernah tersenyum saat melihat kondisi putranya.


Sudah banyak tabib maupun alkemis yang patriak Huang undang untuk menyembuhkan penyakit putranya, tapi tidak ada satupun dari mereka yang bisa menyembuhkan Huang Shen.


Jangankan menyembuhkan, mendiagnosa penyakitnya saja tidak ada yang tahu.


“Huang Xan, Huang Dan,” panggil patriark Huang.


Wuss wuss..!!


Tap tap..!!


Huang Xan dan Huang Dan langsung muncul tepat di samping patriark Huang dengan kaki di tekuk lalu memberi hormat.


“Siapkan pasukan, kita akan mendatangi Paviliun Semesta sekarang, kita juga akan membawa Shen'er ikut kesana karena aku ingin Shen'er ku melihat kehancurkan Paviliun Semesta untuk sedikit obat yang ia derita,” ucap Patriak Huang dengan nada dingin.


Huang Xan dan Huang Dan mengagguk patuh, mereka langsung menghilang untuk mengumpulkan semua pasukan.


Melihat kepergian keduanya, Patriark Huang kini mengeluarkan token telepati.

__ADS_1


“Patriark Lang,, apakah Paviliun Serigala angin ingin ikut juga bersama kami? Karena Paviliun Phoenix Perak akan menyerang sekarang.”


Setelah mengirim pesan, Patriak Huang langsung menghilang bersama Huang Shen.


__ADS_2