Lahirnya Raja Para Dewa 2

Lahirnya Raja Para Dewa 2
S3. Kota Pelelangan


__ADS_3

“Aku serahkan ia kepadamu agar bisa setia mengikuti Ye'er,” ucap Bai An tersenyum tipis.


Roh Asura hanya mendengus ringan, tapi ia tetap melakukan perintah dari Bai An.


Dret..!!


Roh Asura langsung menyeret Roh Tuyul masuk ke dalam pedang Asura.


Sementara Ling Hua yang sedari awal melihat Roh Asura dan Roh Tuyul kini termenung setelah melihat kepergian mereka.


“Hemm..!! Bukannya aku ingin terlalu ikut cpur masalah mu Keturunan Asura,” ucap Ling Hua kini melirik ke arah Bai An. “Tapi aku hanya penasaran, setahuku, Roh Asura yang mendiami pedang Asura pasti lebih mengetahui semua informasi dari diriku. Lantas kenapa kau tidak bertanya saja kepadanya?” Tanya Ling Hua penasaran.


Bai An yang menyeruput tehnya langsung menaruhnya setelah meminum seteguk. “Itu karena sifat anehnya, ia selalu berkata ini itu dengan alasan belum saatnya karena kau masih lemah.” Jawab Bai An memasang wajah berkedut-kedut lantaran mengingat setiap kali ia bertanya, ia pasti memberitahu setengah-setengah, setelah itu diam.


...


Waktu terus berlalu.


Setelah mengatur ulang Sekte Pedang Cahaya, kini Bai An menyuruh Master Sekte menyebar orang-orang kepercayaannya untuk mencari informasi mengenai orang-orang bertopeng.


Bai An sadar jika mencari Tu Long mungkin susah, tapi jika ia menemukan satu sosok bertopeng merah, maka ia yakin bisa mengetahui dimana Tu Long.


“Hemm..!! Bagaimana ayah? Apakah ayah benar-benar mengikat Ye'er dan Han'er di sini?” Tanya Bai Han cemberut lantaran ia dan adiknya tidak pernah di biarkan keluar dari Sekte.


Tempat terjauh ia keluar hanyalah kediaman Ling Hua saja, hal itulah membuat Han'er merasa terpenjara saat ini sehingga ia kini memperotes.


Pandangan Bai An melirik ke arah Bai Han dan Bai Chu Ye yang mendekat.


“Huuf,, Han'er, Ye'er, bukannya ayah tidak ingin mengekang kalian berdua, ayah hanya khawatir kalian kenapa-kenapa, kalian tahu yang kita hadapi saat ini belum jelas, kekuatan mereka pun kita belum mengetahuinya. Ayah harap kalian paham,” ucap Bai An menghela nafas panjang.


“Tapi jika kekuatan kalian sudah cukup, maka ayah pasti tidak akan mengekang kalian dan kalian bebas mau kemana saja.” Sambung Bai An menatap ke arah kedua putranya.


Mendengar itu, Bai Han hanya mengerucutkan bibirnya. Di antara mereka bertiga, ia yang tertua dan ia yang terlemah. Hal itu membuat Bai Han mengepalkan erat tangannya penuh tekad untuk ingin menjadi terkuat agar bisa melindungi kedua adiknya.


“Baiklah, Han'er akan pergi berkultivasi, jangan ganggu Han'er.” Ucap Bai Han langsung melangkah pergi dengan wajah dongkol.


Namun Bai Chu Ye dan Bai An sadar jika Bai Han sangat ingin menjadi kuat dan ingin melindungi semua keluarganya.


“Apa ayah tidak heran mengapa Han'er tidak bisa meningkatkan kekuatannya?” Ucap Bai Chu Ye kini membuka suara.


“Ayah sudah menyelidikinya, namun Ling Hua dan Roh Asura tempat ayah bertanya pun belum mengetahui sebabnya. Namun-” ucap Bai An merenung.


“Apa ayah berpikir kesana juga?” Tanya Bai Chu Ye.

__ADS_1


“Hemm..!! Ayah berpikir jika Roh Tuyul mengetahuinya, namun ayah masih belum mempercayainya. Jadi satu-satunya cara adalah membuat ia setia lebih dulu.” Ucap Bai An mengangguk.


Bai Chu Ye pun sama dengan ayahnya, ia juga tidak mempercayai Roh Tuyul. Bai Chu Ye sadar jika Roh Tuyul sangat licik saat pertama kali ia bertemu.


“Baiklah jika begitu, Ye'er serahkan saja kepada ayah. Ye'er akan pergi meningkatkan kekuatan Ye'er dulu bersama Bian-Bian.” Ucap Bai Chu Ye langsung pergi setelah mendapat anggukan dari ayahnya.


***


Kota Pelelangan.


Di kota Pelelangan ini semua akan di lelang, mau budak, barang, herbal dan lain-lain, di samping itu Kota Pelelangan adalah Kota bebas pertarungan.


Jika ada yang melakukan pertarungan, maka akan langsung di bunuh, bersalah maupun tidal bersalah, keduanya akan di bunuh.


Bukan hanya itu saja, masih banyak peraturan tertentu di Kota Pelelangan. Dan sampai saat ini belum ada yang mengetahui siapa yang mengelola Kota Pelelangan.


Pernah ada Sekte yang mengklaimnya, namun tidak sampai satu malam, sekte tersebut musnah beserta isinya.


Dengan kejadian tersebut, tidak ada yang berani lagi mengklaim Kota Pelelangan hingga saat ini.


...


Tap tap..!!


“Apa itu benar-benar dia saudara Duan?” Tanya Bo Wuhan melirik ke arah Duan Du.


Saat ini keduanya menyamar menjadi ahli bebas. Raut wajah mereka pun di rubah sedemikian rupa.


Walau begitu, jika orang setingkat Dewa Surgawi ⭐ 7 Awal melihat Duan Du dan Bo Wuhan, maka mereka akan ketahuan menyamar.


“Aku yakin jika itu dia,” ucap Duan Du mengepalkan erat tangannya hingga mengeluarkan darah.


“Lalu kenapa kita diam saja, ayo kita ikuti mereka atau kita langsung serang saja.” Ucap Bo Wuhan heran.


Bam..!!


Tangan Duan Du yang terkepal erat langsung memukul kepala Bo Wuhan.


“Aku yakin kau sangat pintar, jadi jangan berpura-pura bodoh,” dengus Duan Du.


“Lihat saja, Keenam orang bertopeng merah itu memiliki kekuatan Dewa Surgawi ⭐ 6 Puncak, jika kita melakukan kesalahan, maka kita pasti akan ketahuan.” Dengus Duan Du.


“Dan satu dari mereka tidak bisa kita hadapi, itu sama saja dengan bunuh diri.” Sambung Duan Du dengan nada dingin.

__ADS_1


Bo Wuhan hanya meringis kesakitan sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Ia ceroboh karena sangat ingin menolong sosok yang keenam orang itu bawa.


Dan sosok yang mereka bawa tak lain adalah Tu Long.


Tu Long kini di ikat layaknya akan di panggang menggunakan kayu panjang, kedua kaki dan tangannya di ikat mengarah ke atas dan tubuhnya mengarah ke bawah. Tu Long juga terlihat belum sadar.


Tap tap..!!


“Ayo kita pergi dari sini, aku merasa mereka akan menjual Paman Tu, jika ia di lelang maka itu akan memudahkan kita.” Ucap Duan Du.


“Tapi-” Ucapan Bo Wuhan berhenti saat melihat mata Duan Du melotot.


Mereka pun langsung mengarah ke sebuah kedai kecil.


Tap tap..!!


Saat Duan Du akan masuk. Tubuhnya seketika membeku saat merasakan aura yang begitu familiar.


Tatapan Duan Du mengarah ke kedua sosok yang duduk saling berhadapan menggunakan Jubah hitam bertudung.


Bukan hanya Duan Du saja, kedua sosok bertudung hitam pun merasakan hal yang sama. Lantas mereka pun membalik kepala mereka.


Glek..!!


Kedua tubuh sosok berjubah hitam membeku.


“Guru,” secara serempak dan tanpa sadar keduanya mengucapkan sebutan guru dengan nada yang dapat di dengar oleh semua penghuni kedai.


Duan Du yang mendengar kedua suara familiar tersebut semakin melototkan matanya tidak percaya.


Walau kedua suara tersebut bertambah serak, namun ia sangat mengetahui suara dari kedua keturunan Xi Xing yang tak lain kakak ipar atau istri dari Bai An.


“I..Ini,” gumam Duan Du.


Tap tap..!!


“Apakah aku sedang bermimpi?” Tanya Duan Du melirik Bo Wuhan yang tidak mengetahui apa-apa.


Bam..!!


Secara spontan tangan Bo Wuhan meninju kepala Duan Du.


“Dasar sialan,” teriak Duan Du melotot ke arah Bo Wuhan sambil memegangi wajahnya yang nyeri.

__ADS_1


__ADS_2