
Mulut Lo Zeng dan Lo Ei terbuka lebar saat melihat senjata yang mereka gunakan dapat membunuh musuh dalam hitungan detik.
“Hei,, Lo Ei, apakah matamu buta? Ini benar kan?” Ucap Lo Zeng tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Lo Zeng terus menerus bertanya sambil mengusap matanya berkali-kali.
“Ini benar-benar nyata Jendral Zeng, apakah kau ingin aku mencoba senjata ini ke tubuhmu,” ucap Lo Ei sedikit kesal dengan tingkah Jendralnya.
Pasalnya, Lo Zeng menepuk-menepuk senjata tersebut ke punggungnya menggunakan energi dalam jumlah besar sehingga membuat punggungnya merasakan sakit yang luar biasa.
“Hahaha,, itu tidak perlu, aku percaya ucapanmu Lo Ei, jika begitu mari kita bantai mereka semua,” ucap Lo Zeng tertawa terbahak-bahak, saat ini ia terlihat sangat bahagia karena bisa membunuh musuh bebuyutan leluhurnya di masa lalu.
Lao Hu yang melihat itu terlihat panik. “Sialan itu pasti benar senjata dewa, jika begini,” tatapan Lao Hu mengarah ke sisa pasukannya yang kini di tekan oleh pasukan milik Lo Zeng.
“Kalian semua mundur dan bentuk formasi pertahanan cepat,” teriak Lao Hu.
Lao Hu juga tidak tinggal diam, ia seketika menerjang ke arah Lo Zeng dan berniat merebut senjata tersebut.
Tapi baru saja ia melangkahkan kakinya, ia melihat banyak butiran cahaya yang keluar dari senjata yang memiliki 6 lubang kecil.
Sret..!!
Sret..!!
Bam bam..!!
Tubuh Lao Hu seketika terlempar, bagaimanapun usahanya untuk menghindar, tetap saja ia tidak bisa. Karena jumlah butiran cahaya tersebut dalam sekali tembak ribuan cahaya.
“Sial, beruntung aku menggunakan jubah artefak kelas surgawi, jika tidak aku bisa mati seketika,” gumam Lao Hu kini sedikit ketakutan, pandangan Lao Hu mengarah ke pulau, ia yakin jika kembali pasti mati, lebih baik ia mati dalam pertarungan, tapi ia tak ingin mati seorang diri, kini Lao Hu memikirkan cara bagaimana ia bisa mendekati Lo Zeng.
Melihat pasukan Lo Zeng mundur, wajah Lao Hu semakin jelek, ia yakin kini Lo Zeng berniat memusnahkan pasukannya.
“Sial kau Lao Hu, ayo berpikir,” teriak Lao Hu mengutuk kepalanya yang kini sedang buntu.
Di arah barat, Lo Zeng yang telah mengisi peluru langsung menembakkan Senjata yang ada di tangannya.
Dret dret dret..!!
Dret dret dret...!!
Jlep jlep..!!
Bom bom bom..!!
Tubuh pasukan Lao Hu kini mulai berkurang drastis hingga musnah seluruhnya.
Pandangan Lo Zeng mengarah ke Lao Hu.
Sreet..!!
Dengan santai Lo Zeng memasukkan senjatanya lalu melesat ke arah Lao Hu yang kini memasang wajah gelap.
“Haha,, aku tidak tega membunuhmu menggunakan senjata terkuatku, tidak akan menarik jika kau mati tanpa perlawanan, jadi lebih baik aku bertarung secara langsung dan membunuhmu dengan pedangku ini,” ejek Lo Zeng.
__ADS_1
Lao Hu yang mendengar itu langsung melesat, karena inilah yang ia inginkan. Pertarungan sejati.
Dret..!!
Lao Hu yang dalam bentuk aslinya langsung mengayunkan cakar kanannya.
Goar..!!
“Mati kau,” teriak Lao Hu.
Lo Zeng dengan santai memiringkan kepalanya, lalu membalas dengan tangan kiri.
Wuss..!!
Tak mau kalah, Lao Hu langsung memiringkan badannya yang membuat ia melewati Lo Zeng.
Sreet..!!
Keduanya langsung membalik badan secara bersamaan.
“Hehe,, aku tidak sama dengan yang dulu Lao Hu, akan ku perlihatkan perbedaan kita yang sebenarnya,” kekeh Lo Zeng.
Pedang yang Lo Zeng genggam menggunakan tangan kanan langsung ia genggam menggunakan kedua tangannya.
Lo Zeng langsung mengambil kuda-kuda yang unik, kaki Lo Zeng melebar ke sisi kiri dan kanan.
Lalu tubuhnya membungkuk 90° seperti sebuah belalang.
Lao Hu yang merasakan bahaya seketika memasang wajah serius.
Dengan sedikit keraguan ia berpikir apakah akan melawan Lo Zeng secara langsung atau menggunakan benda itu untuk meledakkan diri lalu mati bersama Lo Zeng.
Dret.!!
Tak lama Lo Zeng melompat, dan lompatannya kini sangat mengerikan, lompatan tersebut seperti kecepatan seorang Dewa Penguasa Immortal Suci ⭐ 3 Puncak.
Crash..!!
Argh..!!
Tanpa bisa bereaksi, Lao Hu kini melihat tangan kanannya terpotong rapi. Ia juga merasakan sakit yang luar biasa.
“Racun,” gumam Lao Hu kini langsung waspada.
Crash..!!
Belum sempat Lao Hu membalik badan, kaki kanannya langsung putus, kini hanya tersisa kaki kiri dan tangan kiri saja.
Dengan panik Lao Hu ingin mengeluarkan sebuah batu bewarna merah untuk meledakkan diri. Tapi lagi-lagi tangan kirinya terputus sebelum ia mengalirkan energinya ke batu tersebut.
Arghh..!!
Crash crash..!!
__ADS_1
Lo Zeng yang belum puas langsung memotong-motong tubuh Lao Hu hingga menjadi daging cincang, setelah itu ia memasukkan seluruh tubuh Lao Hu untuk di makan bersama nanti.
...
Bai An dan Tu Long yang melihat itu sedikit terkejut melihat senjata yang berasal dari bumi.
“Aku tak menduga jika Xie'er membawa senjata yang ku kira rentan rusak itu kesini, ternyata dugaanku salah, senjata tersebut cukup mengerikan,” ucap Bai An mengangguk santai.
“Hem hem..!! Akupun juga begitu Tuan muda, jika saja aku ikut membawanya waktu itu,” sambung Tu Long sedikit menyesal.
Tap tap..!!
Lo Kai yang melihat Lo Zeng sampai langsung memaksa Lo Zeng untuk mengeluarkan senjata yang di gunakan untuk ia lihat.
Lo Zeng yang terus di paksa kini hanya bisa tersenyum kecut.
“Haha,, bagaimana cara menggunakannya? Kenapa Tuan Putri Xie tidak mengajariku juga cara menggunakannya?” Tanya Lo Kai memegang senjata tersebut.
Karena tidak sadar ia menekan senjata tersebut dengan kekuatan fisik, bukan menggunakan energi, alhasil senjata tersebut langsung hancur.
Hal itu membuat Lo Zeng memarahi Patriaknya secara membabi buta.
Lo Kai hanya bisa menggaruk kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak tanpa merasa bersalah sedikitpun.
...
Di pulau Wilayah Inti Pusat.
Ling Ling yang melihat itu sedikit menggeram, ia tak menduga jika pasukan yang Bai An bawa sudah memiliki rencana yang sangat matang.
“Biarkan aku yang maju,” ucap salah satu dari 7 Jendral milik Wing Zhen.
Sebenarnya ada 8 Jendral yang tersisa, satu telah Ling Ling kirim untuk membunuh Bai Han dan menghancurkan keluarga Bai An yang Ling Ling yakini di sembunyikan.
Orang yang Ling Ling kirim adalah putranya sendiri Ling Suan, Ling Suan juga di tugaskan mencari dua Jendral yaitu Ling Qin dan Dong Jin.
Kini hanya 7 saja yang tersisa di pulau tersebut.
“Hem..!! Apa kau yakin? Utuslah mereka dahulu, karena mereka semua adalah tumbal milik Tuan,” ucap Ling Ling mengarah ke Ling Hen.
Ling Hen mengangguk santai. “Kau tenang saja, dendamku dengan Mo Liang Yun belum terbalas, jadi setelah aku membunuhnya aku akan langsung kembali,” ucap Ling Hen langsung menghilang.
Wuss..!!
Ling Hen muncul di depan pasukan mayat hidup dari berbagai Ras.
“Setengah dari kalian semua ikuti aku,” ucap Ling Hen datar.
Seketika 30 juta pasukan mayat hidup langsung maju mengikuti Ling Hen yang sudah pergi lebih dulu.
...
Di kejauhan Mo Liang Yun melihat siapa yang mendekat kini mencengkram erat tangannya.
__ADS_1