
Cen Tian, yang mendengar itu biasa saja, karena ia kini lebih fokus memungut jarahan yang telah di bunuh oleh Fu Jian.
“Haha berdebatlah para pengacau, biarkan aku sendiri yang mengurus harta-harta ini,” ucap Cen Tian tertawa dalam hati.
Dengan cepat Cen Tian melesat mengikuti jejak Fu Jian yang membantai musuh satu persatu hanya dengan satu lambaian tangan.
Walau Cen Tian hanya berada para Kaisar Sejati ⭐ 2 Puncak, dan ia meningkatkan kekuatannya tanpa bantuan dari siapapun, itu murni usahanya sendiri dari pertama kali datang ke Alam Semesta Inti.
Walau ia yang terlemah dari Liu Fang dan Bai Yun, namun untuk kekuatan fisik, Cen Tian setara dengan tubuh Liu Fang yang memiliki Tubuh Dewa Perang.
Wuss..!!
Terlihat Cen Tian kini berlari kesana kemari.
“Harta,, dimana hartaku, tunggu aku menjemputmu,” teriak Cen Tian kini layaknya orang gila.
Fu Jian yang mendengar teriakan Cen Tian langsung berhenti, ia kini menggelengkan kepalanya.
“Yang satu selalu berdebat masalah tidak jelas, yang satunya lagi kini berteriak tidak jelas. Jika begini, lama-lama aku ikut menjadi orang gila seperti ketiga anak ini,” gumam Fu Jian menghela nafas.
Bruk..!!
Cen Tian yang tidak sadar karena saking bahagianya memikirkan harta, kini menabrak tubuh Fu Jian.
Fu Jian juga langsung terkejut, ia terlalu sibuk dengan dunia imajinasinya sehingga tidak sadar Cen Tian mendekatinya.
Sontak saat bertabrakan, kini keduanya terjatuh dan saling tindih.
Lang Zai dan Liu Fang yang baru saja datang.
Mereka berdua kebetulan melihat Fu Jian dan Cen Tian saling tindih langsung membelalakkan matanya.
“Hei hei,, kalau kalian ingin melakukan hal seperti itu, lebih baik di tempat sepi, kalian ini tidak sabaran sekali,” dengus Lang Zai.
Cen Tian yang baru saja bangun langsung mendengus kesal.
“Heng..!! Kau tidak tahu apa-apa lebih baik paman Lang diam saja,” ucap Cen Tian dengan nada kesal.
Liu Fang yang mendengar itu hanya tersenyum kecil, ia tak pernah tersenyum seperti ini.
Saat semuanya berkumpul saja Liu Fang merasakan kehangatan, maka dari itu ia menyinggungkan senyum.
Sementara Lang Zai kini hanya memasang wajah acuh, ia tentu saja sadar maksud Cen Tian sehingga untuk menutupi malu karena salah menuduh ia langsung acuh sambil melirik ke arah Duan Du dan Tu Long yang kini mendekat.
Tap tap..!!
“Heh,, kenapa tidak lanjutkan saja perdebatan kalian,” dengus Lang Zai kini memarahi Tu Long dan Duan Du.
__ADS_1
Duan Du langsung menghiraukan ucapan Lang Zai, kini ia memandang ke arah kakaknya dengan senyum penuh makna.
“Hehe,, kakak Tian, bagaimana? Apakah kau sudah mengumpulkan semua harta yang kau dapatkan?” Kekeh Duan Du.
“Tentu saja,” jawab Cen Tian sambil menyentuh hidungnya dengan nada bangga. Lalu Cen Tian menambahkan.
“Aku tahu kau tidak mendapatkan apa-apa, jadi aku tidak akan meminta apa-apa, hanya saja aku minta cincin yang terselip di jarimu itu,” kekeh Cen Tian.
Seketika semua orang memandang Cen Tian dengan tatapan aneh.
Mereka seolah salah dengar, tadi mereka mendengar Cen Tian bilang tidak meminta apa-apa? Tapi ia kembali meminta cincin penyimpanan Duan Du.
Sementara Duan Du yang mendengar itu kini tersenyum penuh makna.
“Hehe..!! Siapa bilang aku tidak mendapatkan apa-apa. Coba kau buka matamu kak,” kekeh Duan Du langsung melambaikan tangannya.
Wuss..!!
Seketika ratusan ribu baju anak kecil, jutaan pisau dapur, pakaian dalam wanita, dan masih banyak lagi yang kini menggunung di depan mata Cen Tian dan yang lainnya.
Bahkan saking banyaknya, Cen Tian dan yang lainnya harus mundur.
Kini mata Cen Tian membelalakkan matanya.
“Hei hei,, ini curang, kau menjarah semua barang milik penduduk kota yang tidak bersalah, aku tidak terima. Cepat kembalikan,” teriak Cen Tian dengan nada menyangkal.
Setelah itu Duan Du melirik ke arah para penduduk, dengan senyum penuh kemenangan ia berkata.
“Apa kalian semua aku paksa untuk memberikan ini semua kepadaku?” Tanya Duan Du.
“Tentu saja tidak Tuan penolong.” Teriak para penduduk dengan nada sedikit ketakutan.
Mendengar itu Cen Tian tetap saja menyangkal.
“Heh,, kau memaksa mereka agar semua hartanya di berikan kepadamu, aku tidak terima, kau tetap kalah. Cepat berikan cincinmu itu kepadaku,” ucap Cen Tian maju ke arah Duan Du.
Seketika Duan Du memasang wajah cemberut, padahal ia memang tidak memaksa para penduduk. Namun mereka takut karena jika tidak cepat-cepat menjawab, maka mereka berpikir akan di hukum.
Tapi tak lama, Duan Du tersenyum kecil.
“Huuf..!! Baiklah jika kakak memaksa maka aku akan berikan,” ucap Duan Du dengan nada terpaksa.
Cen Tian tersenyum penuh kemenangan. Matanya kini bersinar cerah.
Dengan santai Duan Du kini membuka cincin penyimpanan yang terselip di jarinya.
Tapi semua orang tidak sadar kecuali Liu Fang dan Hu Hong Meng yang berada di balik awan tahu jika tangan Duan Du bergerak cepat memindahkan semua hartanya dan hanya menyisakan beberapa harta yang tidak berguna.
__ADS_1
“Tangkap kak,” ucap Duan Du melempar cincin penyimpanannya.
Hap..!!
Dengan sigap Cen Tian menangkapnya lalu memeriksa isinya.
Wajah Cen Tian berseri-seri saat melihat tumpukan harta. Ia tidak sadar jika telah di tipu oleh Duan Du.
Terlebih Cen Tian tidak terlalu mengetahui barang langka apa saja yang ada di Alam Semesta Inti ini. Itu karena mereka bertiga dulu hanya berada di satu tempat dan berusaha meningkatkan kekuatan mereka.
***
Di tempat Bai An.
Saat ini Bai Yun telah selesai mengutarakan pendapatnya.
Bai An, Ling Yenrou dan Bing Lou yang mendengar itu mengangguk membenarkan ucapan Bai Yun.
“Hmm..!! Apa yang kakak ucapkan ada benarnya juga, kita lebih baik melupakan masalah ini, terlebih lagi jika ia memang benar Jendral Leluhur Klan Ling terkuat di era kuno, maka itu lebih baik lagi dan kita tidak boleh untuk berusaha mengungkapkan identitasnya yang bersembunyi.”
“Walau ia bukan dia juga itu tidak masalah, karena Liu Fang tetaplah keluarga kita, murid sekaligus aku anggap adik.” Ucap Bai An dengan nada santai.
Setelah sepakat melupakan masalah Liu Fang. Bai An, Bai Yun, Ling Yenrou dan Bing Lou kini membahas apa langkah selanjutnya yang akan mereka ambil.
Setelah mendengar usulan Bing Lou, kini mereka mengangguk santai.
Tak menunggu lama terdengar suara langkah kaki.
“Kami pulang,” teriak Cen Tian dengan nada bersemangat.
Mendengar itu. Bai An dan yang lainnya melirik ke arah pintu masuk.
Saat pandangan Bai An mengarah ke beberapa orang yang tidak ia kenal. Bai An kini melirik ke arah Bing Lou.
Bing Lou kini tersenyum bahagia saat melihat semua bawahannya selamat tanpa ada yang mati.
Tap tap..!!
“Tu.. Tuan,” teriak puluhan orang berpakian hitam dengan banyak sobekan di setiap sisi pakian.
Langkah mereka terhenti tepat di depan pintu setinggi 4 meter dengan lebar 10 meter.
Bruk..!!
Dengan cepat puluhan bawahan Bing Lou berlutut dengan satu kaki.
“Ma...Maafkan-”
__ADS_1
“Cukup,, nanti saja bahas masalah lain, yang penting aku senang melihat kalian selamat.” Ucap Bing Lou memotong ucapan Bing Xian.