
Bai Han kini menyeringai polos saat melihat wajah ketakutan pemuda tersebut.
“A.. Apa yang ingin kau lakukan?” Teriak pemuda tersebut kini berusaha mundur sambil merangkak.
“Hehe,, apa yang aku lakukan? Kau bertanya apa yang aku lakukan, ya tentu saja aku saat ini sedang berjalan, apakah kau sudah mulai buta atau menjadi idiot karena kurang keras menghajarmu,” kata Bai Han tertawa kecil.
Pemuda atau Diu Cung langsung mengutuk Bai Han dalam hatinya, ia juga melihat kiri kanan untuk mencoba mencari bantuan, tapi apa yang ia lihat hanyalah pohon saja.
Saat ini Diu Cung dan Bai Han cukup jauh dari yang lainnya, jadi suara ledakan tidak terlalu jelas terdengar.
Tap tap..!!
Sreet..!!
Bai Han langsung menjambak rambut Diu Cung. “Hmm,, kenapa kau malah ngompol kakak?” Tanya Bai Han sedikit kesal saat melihat pemuda ini malah ngompol di depannya.
Bukannya menjawab, Diu Cung malah diam dengan tubuh bergetar hebat.
“Heng,, rupanya kau harus di berikan beberapa pelajaran agar harus menjawab pertanyaan orang baik.”
Bai Han tersenyum kecil. “Kata ayah dan paman ku, pelajaran itu sangat penting agar kita bisa sedikit lebih pintar, jadi saat ini aku merasa kau sangat bodoh sehingga tidak bisa menjawab pertanyaanku,” kata Bai Han.
Jlep..!!
Bai Han langsung menusuk perut Diu Cung, lebih tepatnya dantiannya.
Akhhh..!!
Terdengar jerit kesakitan Diu Cung, terlebih ia kini tidak mempunyai energi lagi untuk membantunya mengurangi rasa sakitnya, ia telah lumpuh sepenuhnya.
“Hehe,, itu pelajaran pertama, dan paman Duan ku yang telah mengajariku,” kata Bai Han tertawa polos.
“Selanjutnya pelajaran kedua dari paman Tutu ku,” kata Bai Han.
Crak..!!
Akhh..!!
Terdengar suara renyah saat kaki Diu Cung di patahkan. “Ups, itu pasti nyilu,” kata Bai Han sedikit mengeryitkan matanya seolah ia merasakan hal yang sama, padahal ia hanya mengejek saja.
Diu Cung kini berusaha lepas dari Bai Han dengan perlahan mundur setelah Bai Han melepaskan dirinya saat mematahkan kakinya.
Sret sret..!!
Terdengar Diu Cung sangat berusaha mundur.
“Pelajaran ketiga, kau tahu apa yang paling penting?” Tanya Bai Han.
Diu Cung langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat berusaha untuk menjawab agar ia tidak di siksa.
“Hmm,, Kata ayahku, ia paling benci orang menggeleng saat ia bertanya,” kata Bai Han.
Akhh..!!
Akhh..!!
Beberapa saat kemudian, Diu Cung kini terlihat seperti anjing patuh.
“Hehe,, ini baru anak patuh, ayo jalan,” ajak Bai Han tertawa bahagia.
__ADS_1
Diu Cung mengangguk patuh lalu berjalan pincang mengikuti Bai Han.
***
Trank..!!
Bom..!!
Bom..!!
Terdengar kini pertarungan Diu Gu melawan Tu Long.
Saat ini tubuh Tu Long telah di penuhi luka, bahkan terlihat bersarang 2 jarum menyerupai tombak di dada kiri dan paha kanan Tu Long.
Namun itu justru membuat Tu Long semakin gencar menyerang Diu Gu.
Sementara Diu Gu terlihat baik-baik saja di bagian luar, namun organ dalamnya telah di penuhi luka, bahkan Diu Gu merasakan beberapa syarap_nya telah putus, untung saja itu bukan syarap bagian dantian dan merdiannya.
“Sial, jika begini terus aku pasti akan terluka parah sebelum membunuhnya,” gumam Diu Gu dengan kesal.
Diu Gu yakin mampu membunuh Tu Long, hanya saja Tu Long beruntung memiliki kecepatan sehingga Diu Gu agak lama jika ingin membunuhnya.
Wuuss..!!
Tu Long muncul di depan Diu Gu sambil mengayunkan tangan kirinya.
“Cakar Naga Penghancur,” teriak Tu Long, terlihat di cakar Tu Long telah di selimuti energi yang lumayan besar di sertai Hukum Angin Tingkat Sempurna.
Diu Gu yang melihat itu langsung berteriak.
“Elemen Besi.”
Bomm..!!
Diu Gu mundur beberapa langkah di sertai senyum mengejek karena saat ini ia mampu menangai Hukum Angin Tu Long yang memasuki organ dalamnya.
Diu Gu tentu mengalirkan Elemen Besinya kedalam organ dalamnya di sertai Hukum Besi tingkat menengah.
“Hukum Besi Ganda.”
“Penghancur Bumi.”
Dengan cepat Diu Gu membuat beberapa jarum besi lalu terlihat di setiap bagian jarum tersebut di sertai Hukum Besi, itu terlihat seperti magnet penolakan, karena setiap sisi jarum besi terlihat pasir besi.
Tu Long yang melihat itu tak mau kalah, dengan cepat ia mengalirkan semua energinya.
“Cakar Naga Semesta.”
“Hukum Angin Cakar Naga.”
“Tebasan Kehampaan,” Teriak Tu Long.
Wuss..!!
“Biar aku membantumu Saudara Tu, karena aku ingin membalas perbuatannya,” kata Lang Zai dengan dingin yang tiba-tiba muncul.
“Hukum Api.”
“Cakar Serigala Api Perak.”
__ADS_1
“Tebasan Cakar Api,” teriak Lang Zai.
Seketika puluhan cakar energi Tu Long di selimuti oleh api yang mampu melelehkan apa saja.
Wuss..!!
Serangan gabungan Tu Long dan Lang Zai melesat membelah apa saja yang ia lewati.
Sementara serangan Diu Gu juga sama.
Wuss..!!
Bom..!!
Duar..!!
Ledakan tersebut langsung mengguncang dunia pertama Alam Semesta Inti ke 9, bahkan ledakan tersebut dapat dirasakan oleh dunia-dunia yang berdampingan dengannya.
Kini tercipta lubang yang sangat dalam akibat ledakan tersebut, itu bukan kawah lagi, melainkan lubang yang sangat dalam.
Tu Long dan Lang Zai juga terlempar jauh akibat ledakan tersebut.
Sementara Diu Gu, entah apa yang terjadi dengannya.
Bai Han dan Diu Cung yang ingin ke tempat mereka bahkan ikut terlempar jauh hingga ke daratan utama.
10 menit kemudian.
Kini dapat terlihat jelas setelah asap menghilang sepenuhnya.
Dunia Pertama di Alam Semesta Inti ke 9 kini telah hancur sebagian.
Bai An dan Duan Du kini melayang melihat hasil ledakan tersebut.
“Hmm..!! Seperti perkiraanku, dunia ini pasti akan hancur,” gumam Bai An menghela nafas berat.
Tak lama kemudian, muncul Ling Wenli membawa Tu Long dan Lang Zai yang kini dalam keadaan sedikit mengenaskan, mereka juga telah pingsan.
“Lalu dimana Han'er dan Wudi?” Tanya Bai An.
Ling Wenli langsung menunjuk ke arah Lao Zhao yang kini membawa Bai Han, Diu Cung dan Wudi.
“Ayah,” teriak Bai Han langsung melesat memeluk Bai An.
“Ayah lihat lah, aku membawa hadiah untuk paman Lang,” tunjuk Bai Han ke arah Diu Cung sambil memamerkan giginya.
Bai An yang melirik Diu Cung langsung menggelengkan kepalanya. “Apa yang kau lakukan padanya sehingga ia kehilangan mental, ia bahkan kini terlihat seperti mayat hidup,” kata Bai An sedikit tidak bisa berkata apa-apa untuk memarahi putranya ini.
“Hehe,, aku mengajarinya beberapa pelajaran yang cukup penting ayah,” kata Bai Han dengan nada polos.
Mendengar itu, Bai An terdiam lagi. “Huuf,, tidurlah Han'er, ayah tahu kau saat ini sedang capek,” kata Bai An.
Bai Han mengangguk polos lalu tertidur di bahu kanan Bai An.
Setelah itu Bai An melirik ke arah Lao Zhao, ia merasakan familiar saat melihat Lao Zhao.
“Hmm..!! Dia itu salah satu prajurit elit milik klan Ling Tuan muda,” kata Bai Tan melalui pikiran Bai An untuk memberitahu Bai An.
Mendengar itu Bai An kini tersenyum saat mengingat siapa orang ini. “Salam tetua Ling Zhao,” kata Bai An.
__ADS_1