Lahirnya Raja Para Dewa 2

Lahirnya Raja Para Dewa 2
Ketenangan Sebelum Badai


__ADS_3

Tanpa menunggu jawaban dari orang yang bicara tadi, Hu Yan Di langsung menghancurkan batu komunikasi.


Hu Yan Di langsung menyeringai kejam. “Kita lihat nanti apa reaksi mu saat aku telah sampai disana, aku ingin melihat wajah mu yang ketakutan karena tidak ada yang melindungimu lagi,” kata Hu Yan Di dengan nada dingin.


Hu Yan Di lalu bertepuk tangan.


Prok prok..!!


Seketika ribuan prajurit berseragam lengkap dengan jirah muncul, kekuatan para prajurit tersebut rata-rata Dewa Immortal ⭐ 5 Puncak.


Sungguh kekuatan yang mengerikan jika ratusan prajurit berseragam lengkap dengan alat perang tersebut, mereka bisa menghancurkan satu dunia tanpa perlawan yang berarti.


Wuss..!!


Tap tap..!!


Tak lama 5 orang dengan kekuatan mengerikan datang terahir.


Bruk..!!


Mereka langsung berlutut satu kaki.


“Pasukan Pedang Darah siap di luncurkan Jendral,” ucap salah satu dari kelima orang tersebut.


Hu Yan Di mengangguk di sertai senyum memgembang.


“Tidak sia-sia aku mengumpulkan kalian secara diam-diam, awalnya aku ingin menggerakkan kalian saat mengkudeta Hu Xiao, tapi saat ini, dalam keadaan genting, jadi aku terpaksa mengeluarkan kalian,” kata Hu Yan Di dengan nada penekanan.


“Aku juga berterimakasih kepada Tuan karena telah memberikan kalian berlima sebagai bantuan,” sambung Hu Yan Di.


Kelima orang tersebut mengangguk patuh tanpa menjawab.


Kekuatan kelima orang yang berlutut itu berada satu dan dua tingkat di bawah Hu Yan Di.


“Hmm,, baiklah ayo kita berangkat, siapkan kapal langit,” kata Hu Yan Di.


Seketika salah satu dari kelima orang yang berlutut tersebut bangun. “Kapal Langit sudah siap Jendral, tinggal berangkat saja,” kata orang yang bangun.


“Hmm,, terimakasih Penetua Formasi,” ucap Hu Yan Di sambil melambaikan tangannya untuk memerintahkan semua orang bangun.


Semua orang langsung berjalan ke arah kapal langit tanpa meninggalkan jejak.


***


Tak lama setelah kepergian Hu Yan Di, muncul sebuah bayangan, bayangan tersebut tidak bewarna hitam, melainkan menyatu dengan warna area sekitar.


“Hmm,, apa yang di ucapkan oleh Tuan muda ternyata benar jika Hu Yan Di ini seorang pengkhianat, ia bahkan mengumpulkan pasukannya secara diam-diam.” Gumam bayangan tersebut dengan nada datar.

__ADS_1


“Tapi aku tak menyangka jika kelima penetua dari sekte itu mau menuruti perintah Hu Yan Di, apa mereka telah bekerja sama atau?” Seketika bayangan tersebut menghilang saat merasakan ada seseorang datang.


Wuss..!!


Tap tap..!!


“Hmm,, aku dapat merasakan ada mata-mata di sini? Tapi sampai saat ini aku tidak bisa melihat atau merasakannya,” gumam Penetua Darah.


“Itu hanya perasaan mu saja Darah, lebih baik kita kembali lagi, nanti Jendral Hu Yan Di akan marah dan mengadu ke Patriak. Ayo,,” ajak Penetua Pedang dengan nada tanpa emosi.


Seketika kedua Penetua dari sekte besar kembali menghilang.


Walau begitu, bayangan tersebut belum muncul karena ia tahu saat ini jika kedua penetua tersebut mencoba untuk memancing dirinya dan saat ini kedua penetua tersebut bersembunyi.


Beberapa saat kemudian.


Karena tak ada yang muncul, kedua penetua sekte besar tersebut benar-benar pergi.


Barulah bayangan tersebut keluar lalu ikut pergi juga.


Wuss..!!


“Aku harus memberitahukan ini kepada Tuan muda jika Hu Yan Di tidak bisa di remehkan, terlebih ia bekerjasama dengan Sekte yang menjadi musuh besar Klan Hu,” gumam bayangan tersebut berkelebat keluar.


Wuss..!!


Tap tap..!!


Bayangan tersebut sampai di sebuah gubuk kecil.


“Tuan muda, ini saya Chen Liu.”


“Hmm,, masuklah jangan terlalu formal,” ucap suara seorang pemuda.


Chen Liu lalu masuk.


Cklek..!!


Saat masuk, ia melihat seorang pemuda tampan dengan rambut merah sedang bermeditasi, pemuda tersebut tak lain Hu Liu Chen.


Chen Liu tanpa basa basi langsung memberitahukan apa saja yang ia ketahui tanpa menutup-nutupinya.


Hu Liu Chen langsung tersenyum tipis.


“Aku tak menduga jika Hu Yan Di sebenarnya adalah mata-mata yang di kirim ke klan Hu oleh Patriak Sekte Es Abadi,” gumam Hu Liu Chen dapat menebak garis kasarnya.


Hu Xiao atau ayah Hu Liu Chen sebenarnya mampu membunuh Patriak Sekte Es Abadi, namun karena Hu Xiao tahu jika Sekte besar tersebut di lindungi oleh sesuatu yang tidak bisa ia lawan.

__ADS_1


Jika Penguasa Alam Semesta Inti ke 3 Hu Xiao memaksa maka klan Hu akan mendapat kerugian besar, itulah yang di ketahui oleh Hu Liu Chen.


Karena Sekte Es Abadi mendapat dukungan dari Penguasa Alam Semesta Inti ke 2 dan 3 Sekte besar lainnya, sementara Penguasa Hu Xiao hanya mempunyai bawahan 1 Sekte Besar dan 1 dukungan Sekte Besar. Jika saja ada satu Sekte Besar mau menjadi pendukung, maka Hu Xiao mampu menekan kerugian mereka saat berperang.


Saat ini Hu Liu Chen melirik ke arah Chen Liu.


“Kau bisa pergi, tetap pantau orang-orang yang telah aku beritahu, jangan sampai ada yang ketinggalan,” kata Hu Liu Chen.


Chen Liu mengangguk lalu menghilang menjadi bayangan.


Setelah kepergian Chen Liu.


Hu Liu Chen kini tidak bermeditasi lagi, melainkan ia bangun dan berjalan keluar.


Tap tap..!!


“Apa kau telah mendengarnya Hu Ji Shio atau aku panggil Patriak Ji Shio,” kata Hu Liu Chen melirik ke arah atas.


“Ahh,, maafkan ketidak sopananku Tuan muda,” sapa Patriak Hu Ji Shio atau Patriak Sekte Api Langit.


“Apa yang Tuan muda katakan ternyata benar, musuh abadi klan Hu adalah Sekte Es Abadi telah menyusupkan Hu Yan Di, karena ia sering membunuh anggota klan Hu secara diam-diam dan membunuh murid-murid Sekte Api Langit, akhirnya Penguasa Hu datang menghancurkan setengah Sekte Es Abadi.”


“Tapi karena adanya Penguasa Alam Semesta Inti ke 2 datang, Penguasa Hu mundur,” kata Patriak Ji Shio.


“Tapi aku tak menyangka jika Sekte Es Abadi tidak menyerah begitu saja, ia bahkan mengirim mata-mata kesini dalam waktu yang lama, Hu Yan Di bahkan sering menjilat Penguasa,” sambung Ji Shio menghela nafas berat.


Hu Liu Chen mengangguk santai.


“Lakukan saja apa yang aku katakan dulu, dan jangan lupa kabari dia juga, suruh ia berhenti berpura-pura lemah karena saat ini sudah waktunya bagi dia untuk bergerak,” ucap Hu Liu Chen menghilang.


Wuss..!!


Melihat Hu Liu Chen menghilang, Ji Shio terdiam sesaat.


“Jika Tuan muda sudah bilang begitu, apa boleh buat, aku harus memberitahu anak itu,” gumam Ji Shio menghela nafas dengan sedikit bergidik.


Hu Ji Shio seketika menghilang dari tempatnya.


Wuss..!!


***


“Hmm,, benar-benar mudah di masuki, tanpa ada sambutan yang meriah, Heng, sungguh membosankan,” kata Tu Long kini mendengus kesal saat turun dari kapal langit.


“Sudah-sudah, kau ikuti saja permainan mereka, aku yakin kau akan puas nantinya, terlebih aku merasakan akan ada banyak kekuatan besar yang mendatangi kita,” kata Duan Du tersenyum licik.


Bai An yang melihat kedua kini diam, ia melihat ke segala arah dan merasakan banyak mata sedang mengawasi mereka.

__ADS_1


“Hmm..!! Ketenangan sebelum badai.”


__ADS_2