
“Aku merasa tidak sedikit biaya yang di habiskan untuk membuat dimensi buatan ini yang menggunakan banyak bahan material.” Ucap Duan Du.
Bai An dan Bai Han langsung memandang ke arah Duan Du dengan tatapan aneh seolah mengatainya. “Apa kau ingin menjadi Cen Tian kedua.”
Untuk Master Xi Juan yang belum sadar hanya mengangguk ringan mendengar ucapan Gurunya. Walau ia sudah melihat banyak material langka, tapi saat ini, Dimensi Buatan ini hanya terbuat dari material yang cukup umum. Namun jumlahnya yang fantastis lah membuat Master Xi Juan tidak menyangkanya.
Sementara Pelayan Sia Yun hanya bisa tersenyum kecil. “Ini hanya bahan-bahan dasar saja, jika ingin melihat bahan yang jauh lebih berkualitas, maka ada di sana,” tunjuk Pelayan Sia Yun dengan seutas senyum bahagia saat menjelaskan tentang bahan-bahan yang di gunakan untuk membuat Dimensi Buatan.
Mata Duan Du seketika bersinar cerah. Tapi dengan cepat ia mengubah ekspresinya lantaran sadar jika saat ini sudah banyak para peserta lelang memasuki dimensi buatan.
Tap tap..!!
Bai An dan kelompoknya pun melangkah melewati lantai datar seluas 100 kali lapangan sepak bola.
Tepat di tengah-tengahnya ada sebuah bangunan layaknya sebuah Arena yang di tengahnya sebuah panggung berbentuk kotak.
Namun itu tentu berbeda dari sebuah arena gladiator, itu karena bangunan yang mengelilingi panggung tertutup semua dan bangunannya ada tiga tingkat. Tingkat pertama adalah khusus bagi peserta lelang umum.
Di lantai pertama di buat menjadi satu bangunan bundar tanpa di halangi oleh dinding. Mirip seperti tempat kursi penonton sepak bola.
Terlihat juga kursinya kurang lebih berjumlah 10 ribu.
Sementara lantai dua khusus peserta lelang VIP yang berjumlah 50 ruangan dengan luas ruangannya kurang lebih 5 x 7 meter dengan di hiasi oleh bahan-bahan material berkualitas.
Untuk lantai 3 atau Ruangan VVIP berjumlah 25 dengan luas ruangannya 10 x 20 meter dan di hiasi oleh bahan material tingkat tinggi.
“Hemm..!! Dinding ini sangat kuat, aku yakin tanpa menggunakan perisai pun orang yang ada di sebelah kita tidak akan mampu melihat kita walau mereka menggunakan kesasarannya.” Ucap Duan Du yang kini telah berada di ruangan VVIP no 08 bersama Bai An, Bai Han dan Xi Juan.
Tapi di sini ada lagi satu orang tanpa di undang, dia adalah Pelayan Sia Yun. Ia berasalan jika setiap pelanggan VVIP akan selalu di temani oleh pelayan Rumah Lelang.
“Ehem,, kembalilah Nona Yun, jika kami membutuhkan sesuatu, aku pasti akan menghubungimu,” ucap Duan Du sedikit canggung karena adanya orang yang asing di sekitarnya.
Menurutnya, ia akan sulit melakukan apapun jika di awasi oleh musuh. Jika salah mengambil langkah, bisa-bisa rencananya yang sudah ia buat cukup lama akan langsung hancur karena adanya Pelayan Sia Yun.
__ADS_1
Pelayan Sia Yun yang mendengar dirinya di usir keempat kalinya hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah tegas.
Pelayan Sia Yun memiliki alasan sehingga tidak ingin meninggalkan Duan Du dan keluarganya. Itu karena ia ingin melindungi mereka semua jika bawahan, rekan atau bahkan Tuannya tiba-tiba menyerang nanti.
Ingin rasanya Pelayan Sia Yun mengungkapkan identitasnya. Tapi ia ragu jika Duan Du akan marah, kecewa hingga menolaknya keberadaannya.
Bukan hanya Duan Du yang tidak nyaman, bahkan Master Xi Juan pun terlihat memasang wajah kesal karena tidak bisa melakukan apapun.
Sementara Bai Han hanya fokus melihat ke arah jendela kaca kristal, tepatnya pandangan Bai Han mengarah ke panggung yang masih di penuhi oleh para pelayan laki-laki melakukan beberapa pertarungan kecil sebagai pembukaan acara lelang.
Berbeda dengan Bai An, ia kini memejamkan matanya. Tepatnya ia berkomunikasi dengan Roh Asura Blood.
“Apa kau yakin jika tidak apa-apa kita membiarkan wanita ini di sini?” Tanya Bai An sekali lagi.
“Hem..!! Aku merasa niatnya ingin melindungi kalian, itu artinya besar kemungkinan ia akan berkhianat kepada Menara.” Ucap Roh Asura Blood terdengar ragu.
Bai An dalam bentuk jiwa kini mengerutkan keningnya saat melihat nada serta ekspresi Roh Asura Blood.
“Hemm..!! Aku melihat jika seluruh tubuh wanita ini telah di kuasi atau di segel menggunakan darah campuran yang berasal dari Menara.”
“Itu artinya setiap penghuni Menara tidak akan pernah bisa berkhianat. Bahkan jika mereka berpikir berkhianat pun mereka akan langsung mati. Walau dahulu cukup banyak yang melakukan pemberontakan, tapi mereka semua tidak ada yang hidup.”
“Lalu yang membuatku heran dan ragu adalah, jika wanita ini benar-benar ingin melakukan pemberontakan, ia pasti akan langsung mati karena seluruh anggota tubuhnya akan bisa di deteksi pergerakan maupun pikirannya.” Ucap Roh Asura Blood memberikan penjelasan.
Bai An seketika terpana. Bukan karena penjelasan yang di ucapkan oleh Roh Asura Blood yang membuat Bai An terpana, melainkan baru kali ini ia mendengar Roh Asura Blood berbicara sangat banyak dan sedikit jelas.
“Hemm..!! Apa kau mendengar ucapanku bocah?” Tanya Roh Asura Blood mengerutkan keningnya.
“Tentu,” ucap Bai An sedikit salah tingkah. “Tunggu, aku akan keluar lebih dulu, jika ucapanmu memang benar, maka aku ingin membuktikannya.” Ucap Bai An memasang wajah serius karena terlihat ingin mengambil resiko.
Wung..!!
Jiwa Bai An pun langsung pudar.
__ADS_1
Tak lama Bai An langsung membuka mata, tanpa basa basi Bai An langsung bangkit.
Tap tap..!!
Bai An melangkah ke tempat Pelayan Sia Yun berdiri di samping pintu keluar.
“Du'er, Han'er, Master, bersiaplah tentang segala kemungkinan yang akan terjadi.” Ucap Bai An melalui telepati.
Duan Du yang merenung bersama Master Xi Juan lantaran berpikir bagaimana cara mengusir Pelayan Sia Yun seketika menegang. Tapi tak lama mereka pun langsung bersiap bersama dengan Bai Han.
Tap tap..!!
Langkah Bai An terhenti tepat 2 meter di depan Pelayan Sia Yun yang sadar akan ada masalah serius saat melihat ekspresi Bai An.
“Langsung saja katakan dengan jujur, apa kau menyukai adik ku?” Tanya Bai An menatap tajam Pelayan Sia Yun. Sekilas terlihat Bai An tersenyum licik.
Glek..!!
“I..Itu itu?” Wajah Pelayan Sia Yun seketika memerah, saking merahnya ia langsung gugup.
“Tidak perlu di jawab, aku sudah tahu jawaban dari tingkahmu.” Potong Bai An mengangkat tangannya.
“Lalu apa kau tidak takut mati? Kau pasti sadar akan pertanyaanku ini, karena aku tahu siapa kau sebenarnya, bukan hanya aku, tapi semua kami yang ada di ruangan ini.” Bai An tidak mengucapkan tentang pengkhianatan, karena itu terdengar terlalu menyakitkan.
“Kakak-” Duan Du seketika terdiam saat tangan Bai An menjulur ke belakang isyarat dia belum di berikan untuk bicara.
Duan Du pun hanya bisa menggertakkan giginya sambil menahan sakit karena mengira kakaknya ingin membunuh Pelayan Sia Yun.
Duan Du tidak menyangka jika Pelayan Sia Yun benar-benar jatuh cinta terhadap dirinya.
Walau ia menduganya pun, ia tentu tidak terlalu percaya, kecuali Pelayan Sia Yun langsung mengungkapkannya seperti tadi.
Kini keheningan terjadi di ruangan VVIP no 08. Saking heningnya, suara nafas pun tidak terdengar.
__ADS_1