Lahirnya Raja Para Dewa 2

Lahirnya Raja Para Dewa 2
Berkumpulnya Rekan Bai An yang Berasal dari Dimensi Alam Sihir


__ADS_3

Ares yang di takuti kini terlihat seperti anak kecil di hadapan Bai An. Entah apa yang terjadi di masa lalu, yang pasti Ares sangat menghormati Bai An.


“Kak, sudah lama aku menunggumu di sini, kenapa baru sekarang kau datang? Dan juga,” Ares menatap Bai An yang kini telah membuka tudung yang menutupi kepalanya.


“Kau terlihat jauh lebih muda sekarang,” sambung Ares dengan pandangan kagum.


Bai An yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas. “Akan ku ceritakan dari awal aku pergi dari sini, ayo kita duduk dulu di tempat biasa, terlebih mereka juga akan datang kesini, karena aku menyuruh mereka berkumpul di tempat pertama kali aku melatih kalian semua.” Ucap Bai An.


Tanpa menunggu jawaban dari Ares, Bai An melesat ke sebuah kawah. Ares pun tak mau kalah, dengan cepat ia melesat mengikuti Bai An.


Wuss wuss..!!


Dua jam telah berlalu, Ares yang mendengar seluruh cerita Bai An kini menggenggam erat tangannya.


“Jika saja aku ikut bersamamu kak, aku pasti akan membantai mereka semua tanpa ampun,” aura dari Ares seketika keluar dari tubuhnya.


Lembah tempat mereka berdua duduk seketika berguncang hebat.


Buk buk..!!


Bai An langsung menepuk pundak Ares yang langsung membuat Ares tersadar.


“Aah maafkan aku kak karena terbawa emosi,” ucap Ares tersenyum canggung.


“Huuf,, walau usiamu jutaan tahun, tapi sifatmu masih seperti anak-anak Ares, itu mungkin karena kekuatan spesial yang ada pada dirimu yang membuat kau tetap memiliki sifat anak-anak,” ucap Bai An menghela nafas.


Ares hanya cengengesan mendengar helaan nafas kakaknya.


“Kau tahu kak, aku sempat ingin membasmi mereka semua yang ada di sini. Tapi karena peringatan ketiga wanita cerewet itu, aku mengurungkan niatku. Bagaimana tidak.” Ares langsung bercerita layaknya anak berusia 5 tahun di depan kakaknya.


Bai An pun dengan santai mendengarkan hingga tanpa terasa 5 jam telah berlalu.


Wungg..!!


Sebuah celah tiba-tiba muncul dari tiga tempat berbeda.


”Ara ara,, apa kalian telah lama menunggu,” sapa wanita berkulit sawo matang dengan telinga runcing mirip Elf, ia adalah Ras Ancient Blood Demon Anariel.


“Hoho,, apa aku ketinggalan sesuatu,” sosok manusia cantik tak ketinggalan membuka suara, ia tak lain Sintia.

__ADS_1


“Wah kakak Ling Bai, kenapa kau tidak menunggu adikmu yang cantik ini jika kalian berdua telah makan-makan,” ucap Ariel sedikit cemberut, tapi tak lama ia tersenyum kecil.


Ares yang menatap ketiga wanita yang ia kenal hanya memandang dengan kesal. “Kenapa kalian semua datang di saat yang tidak tepat sih, mengganggu saja,” dengus Ares.


“Ara ara,, adik kecil ku mulai marah,” ejek Anariel.


Ares langsung berdiri, orang mungkin mengira jika Ares ingin berkelahi, tapi ia dengan manjanya bersembunyi di balik tubuh Bai An dan dengan tak tahu malu ia mengadu.


Hal itu membuat semua orang yang ada di sana tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.


Ares memang seperti ini, jadi wajar sifat anak-anaknya itu gampang membuat ia marah dan mengamuk tak jelas.


Hanya Bai An saja yang bisa membuat Ares patuh, bahkan ketiga wanita harus berusaha keras untuk menghentikan pembantaian yang dulu Ares lakukan.


Satu jam setelah mereka semua bercanda, kini mereka berlima duduk saling memandang satu sama lain.


“Baiklah kali ini aku akan serius dan meminta bantuan kalian.” Ucap Bai An dengan nada dan pandangan serius.


“Mungkin kalian telah tahu rencanaku, jadi tidak perlu aku menjelaskan secara detail.” Sambung Bai An.


“Lalu apa kita langsung bergerak kakak, aku sudah tidak sabar ingin membantai para orang tua kurang ajar itu,” ucap Ares dengan nada bersemangat.


Bai An langsung menggeleng. “Biarkan anak-anak itu mengacau lebih dulu, dan aku juga yakin pasti di antara mereka ada orang baik yang bisa menjadi orang kita, kalian paham maksudku bukan,” ucap Bai An melirik mereka berempat satu persatu.


Ares tentu memiliki dendam dan orang tuanya adalah salah satu yang di bunuh oleh pihak Kekaisaran di masa lalu.


Mungkin bukan langsung di bunuh oleh mereka, namun karena pertarungan di masa lalu, orang tuanya di paksa ikut berperang untuk menjadi umpan. Hal itulah yang di benci oleh Ares hingga saat ini.


“Ares,, apa kau ingat apa yang kakak ceritakan tadi,” ucap Bai An tersenyum lembut.


Ares melirik ke arah kakaknya, tak lama ia tersadar lalu menundukkan kepalanya.


“Benar apa yang kakak ucapkan, setiap mahkluk hidup memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda, ada kalanya mereka bisa berubaj dengan tulus, ada kalanya mereka berkhianat, jadi makhluk hidup yang mempunyai pemikiran tidak akan bisa di tebak. Bahkan orang baik pun pasti memiliki niat serakah saat melihat adanya kesempatan di depan mata.” Ucap Ares kini seperti anak kecil yang baru di ajar.


Anariel, Ariel dan Sintia hanya bisa tersenyum dan dalam hati, mereka kagum dengan Bai An yang selalu bisa dalam keadaan apapun.


“Baiklah, jika kalian sudah paham maka kembalilah. Ingat untuk melindungi anak-anak dan saudaraku dalam bayangan, bantu mereka saat hidup dan mati saja,” ucap Bai An.


Ketiga wanita tersebut langsung mengangguk paham lalu merobek ruang yang ada di depan mata mereka.

__ADS_1


Crash..!!


Wung..!!


Ketiga wanita tersebut langsung menghilang di hadapan Bai An.


Kini yang tersisa Bai An dan Ares saja.


“Kak, kali ini aku akan ikut bersamamu dan aku juga ingin melihat kedua keponakanku,” ucap Ares bertepuk tangan bahagia.


“Baik baik,, pergilah, aku tahu jika kau memutuskan maka kau pasti akan merengek jika aku menolak,” ucap Bai An.


Tanpa basa basi, Ares langsung menghilang meninggalkan Bai An seorang diri.


“Huuf anak ini, lama-lama aku teringat bocah nakal dan licik itu,” gumam Bai An teringat Duan Du.


Bicara tentang Duan Du.


***


Saat ini Duan Du sedang di kejar-kejar oleh 4 wanita.


“Berhenti kau paman kurang ajar, berani sekali kau membuat putrimu sedih,” teriak Bai Xia Xie melesat mengejar Duan Du.


Di belakang Duan Du, Mu Xia, Chu Jia dan Ling Mei terlihat ikut melesat.


“Sial, kenapa juga Sha'er pura-pura bersedih, ini pasti akal-akalan Xie'er dan Mei Yin,” gumam Duan Du mengutuk kedua wanita tersebut.


Crash..!!


Dengan cepat Duan Du merobek ruang, namun saat ia ingin masuk ke dalam celah.


Energi kehidupan langsung menutup celah tersebut.


Tak kehabisan akal, Duan Du berubah menjadi bayangan dan menghilang entah kemana.


Keempat wanita yang melihat Duan Du kabur lagi hanya bisa mengumpati Duan Du.


Di sisi lain Xie'er hanya tersenyum kecil. Karena tidak ada yang ia kerjakan, ia dengan licik mengajak Duan Sha mengerjai ayahnya.

__ADS_1


“Bocah itu,” ucap Ling Mei memasang wajah galak layaknya ibu-ibu.


“Awas saja jika kau tertangkap, akan ku patahkan tulangmu,” sambung Mu Xia menggerakkan tangannya layaknya ingin meremas sesuatu.


__ADS_2