
Bai Yun membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Bai An yang ternyata membahas Liu Fang.
Setelah mencerna ucapan Bai An, kini Bai Yun kembali mencerna cerita Ling Yenrou.
Bai An bertanya kepada kakaknya Bai Yun karena Liu Fang sangat lama bersama muridnya itu, ia yakin jika Bai Yun cukup mengenal Liu Fang.
***
Sementara di pusat kota.
Saat ini Lang Zai dan Liu Fang sedang membantai tangan kanan pemimpin kota.
Karena sifat liarnya Lang Zai sebagai Serigala bangkit, setelah sampai ia langsung menyerang tanpa banyak tingkah.
Bom bom..!!
Tubuh beberapa prajurit langsung hancur menyisakan beberapa gumpalan daging.
Darah segar kini membasahi tubuh Lang Zai, saat ini Lang Zai terus menerus menyeringai.
Baru kali ini ia merasa puas bertarung, selama ia datang kesini, ia selalu saja berlari dan terus berlari untuk menghindari lawan yang kuat. Terlebih dulu ia masih sangat lemah.
“Hehe,, darah ini rasanya sedikit asin,” kekeh Lang Zai yang baru saja mengisap darah prajurit yang menempel di jarinya.
Tangan kanan pemimpin kota atau Len Sa yang melihat itu langsung meruang marah.
Ia menyesal karena meremehkan lawan, saat ia dan bawahannya di hadang, ia menyepelekan kekuatan Lang Zai dan Liu Fang.
Tapi saat ini penyesalan tidak datang belakangan.
“Aku akan mencincang tubuhmu monster,” teriak Len Sa langsung melesat ke arah Lang Zai.
Kekuatan Lang Zai dan Len Sa setara, yaitu Dewa Immortal ⭐ 1 Awal.
Lang Zai yang melihat Len Sa melesat ke arahnya langsung tersenyum penuh semangat.
Dengan cepat Lang Zai mengubah bentuk tangannya menjadi sebuah cakar.
Lang Zai melakukan ini karena sempat melihat Tu Long melakukan hal tersebut, sehingga Lang Zai langsung meniru cara Tu Long.
Wuss..!!
Lang Zai langsung melesat, ia kini muncul di atas bangunan, tepatnya 100 meter dari rumah para penduduk.
Sama halnya dengan Len Sa, ia juga muncul secara bersamaan.
Dengan cepat Lang Zai mengayunkan tangan kanannya.
Wuss..!!
Trank..!!
__ADS_1
Dengan cepat Len Sa juga ikut mengayunkan pedangnya ke arah tangan kanan Lang Zai hingga benturan tak terelakan.
Betapa terkejutnya Len Sa melihat cakar Lang Zai yang setara dengan pedangnya, bahkan ia merasa cakar Lang Zai lebih kuat.
Saat melihat Len Sa terkejut. Lang Zai langsung memanfaatkan kesempatan tersebut dengan menyerang menggunakan kakinya.
Kaki kiri Lang Zai langsung terayun ke arah kepala Len Sa.
Melihat itu, Len Sa mencoba menarik pedangnya, namun sayang sekali sudah terlambat, karena Lang Zai sudah menggenggam erat pedang Len Sa agar ia tidak bisa kabur.
Crash..!!
Argh..!!
Suara jerit kesakitan seketika menggema membuat para prajurit yang melawan Liu Fang melihat ke arah atas dengan tubuh bergidik ngeri, karena suara teriakan Len Sa sangatalah menyayat hati mereka.
Para penduduk kota juga ikut bergidik ketakutan saat melihat Len Sa kini terbang menuju bawah.
Duar..!!
Tubuh Len Sa langsung menabrak salah satu bangunan hingga hancur.
Bertepatan dengan jatuhnya Len Sa. Lang Zai juga muncul di depan Len Sa.
Tanpa menunggu waktu lama, Lang Zai langsung mengayunkan tangannya.
Carsh..!!
Mulut Lang Zai kini di penuhi oleh darah, hal tersebut membuat para penduduk pribumi yang rata-rata seorang kultivator kini mulai muntah saat melihat Lang Zai memakan tubuh Len Sa.
Sementara Liu Fang yang memanfaatkan kesempatan para prajurit yang ketakutan saat melihat tuan mereka kalah langsung dengan cepat mengalahkan mereka dengan mudah.
Kekuatan Liu Fang hanya Kaisar Sejati ⭐ 3 Awal, dan itu murni tanpa bantuan dari Bai An dan dunia jiwanya.
Setelah di rasa tugasnya telah selesai, Liu Fang langsung menuju Lang Zai berada.
“Paman Lang, ayo kita ke tempat kakak Tian, kakak Du, paman Tu Long dan yang lainnya,” kata Liu Fang.
Mendengar saura Liu Fang tepat di sampingnya, Lang Zai sempat melompat mundur.
“Eeh,, kau ini bikin kaget saja,” dengus Lang Zai.
Lang Zai tentu kaget, karena ia sama sekali tidak dapat merasakan kehadiran Liu Fang, ia juga tidak mendengar suara langkah kakinya.
“Hehe,, kau terlalu asik makan, makanya tidak menyadari aku sudah disini dari tadi paman,” kekeh Liu Fang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Lang Zai langsung mengangguk karena merasa apa yang di ucapkan Liu Fang benar.
“Baiklah, ayo kita kesana,” ajak Lang Zai.
***
__ADS_1
Tidak terlalu jauh dari kediaman milik Pemimpin Kota Air Tawar. Ba Rong
Saat ini Duan Du, Tu Long dan Cen Tian berdiri di udara, mereka berdiri layaknya udara adalah pijakan seperti tanah.
Di depan mereka ada Ba Rong yang kini memasang wajah terus menerus memerah di penuhi amarah.
“Jadi kau yang membunuh putraku,” kata Ba Rong dengan nada amarah.
“Hehe,, itu benar tapi satu lagi tidak ada disini,” kekeh Duan Du mengedipkan matanya.
Mendengar ucapan Duan Du yang bangga, terlebih ia mengerti arti kedipan tersebut, ibarat putranya hanyalah angin lalu.
Namun Tu Long yang melihat itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Hei Du'er, apa sekarang kau telah berubah haluan ya, aku kira kau masih normal?” Ucap Tu Long dengan nada bingung.
Wajah Duan Du seketika gelap, sementara Cen Tian kini tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha..Hahaha, paman Tu, kau memang yang terbaik,” sanjung Cen Tian.
“Tentu saja, aku pintar bukan dalam menebak,” balas Tu Long dengan bangga sambil menepuk-nepuk dadanya.
Tawa Cen Tian semakin jadi saat kebodohan Tu Long mengartikan sanjungannya dengan tanggapan berbeda.
Duan Du kini terlihat mencoba untuk sabar dan terus bersabar, ia mengelus-elus dadanya.
Sementara Ba Rong yang kini di acuhkan oleh ketiganya tak bisa menahan emosinya lagi.
“Kepung mereka semua, jangan biarkan mereka melarikan diri atau kalianlah yang akan aku-”
Belum sempat Ba Rong menyelesaikan ucapannya, terlihat Duan Du dan Tu Long kini muncul di depan Ba Rong.
Keduanya yang telah berseteru lama kini mencoba lebih dulu membunuh Ba Rong.
Tangan Tu Long yang telah di selimuti oleh Hukum Angin langsung terayun ke tubuh Ba Rong.
Sementara Duan Du yang muncul dari bayangan Ba Rong telah membentuk pedang energi dan kini mengayunkan pedang energinya ke jantung Ba Rong.
Crash..!!
Jlep..!!
Ba Rong yang tidak siap akan hal tersebut mati dengan mata melotot tatapan tak percaya.
Kepala Ba Rong kini melayang melambung tinggi dan perlahan jatuh, sementara jantungnya telah hancur.
“Hahaha,, akulah yang lebih dulu membunuhnya,” teriak di sertai tawa Tu Long langsung menggema di seluruh kota.
“Enak saja, akulah yang lebih dulu membunuhnya,” dengus Duan Du kini tak mau kalah.
“Apa kau bilang? Apa kau tidak lihat aku menebas kepalanya,” kata Tu Long dengan nada ngotot.
“Heng,, coba kau buka matamu otak dongol, aku lebih dulu sampai lalu menusuk jantungnya sebelum kau menebas kepalanya.” Duan Du juga terlihat ngotot dan tak mau kalah.
__ADS_1
Cen Tian, yang mendengar itu biasa saja, karena ia kini lebih fokus memungut jarahan yang telah di bunuh oleh Fu Jian.