Lahirnya Raja Para Dewa 2

Lahirnya Raja Para Dewa 2
Pertemuan Otak Dongol dengan Otak Harta


__ADS_3

“Hehe,, dasar otak harta, aku tak menduga kau masih hidup. Jika kau mati mungkin aku akan membuat kubur untukmu.” Ucap Tu Long menyeringai tipis.


Dengan cepat Tu Long dan Cen Tian saling menerjang.


Wuss..!!


Bruk..!!


“Haha aku tak menduga bertemu denganmu di tempat antah berantah ini saudara Tu Long, atau bisa ku panggil Yang Mulia,” ejek Cen Tian.


“Sama halnya dengan dirimu, saat pertama datang kesini orang yang pertama aku temui ternyata orang yang tidak waras, bahkan aku menduga kau telah mati, karena aku mencium bau darah mu dan darah saudara Lang di pedang orang itu,” ucap Tu Long tertawa terbahak-bahak.


Tapi saat menyebut atau menyangkut pautkan Leluhur Hendric, nada suara Tu Long sangat jauh berbeda.


“Haha sudah-sudah, kau tak perlu marah seperti itu, toh pada akhirnya kau telah membunuhnya,” ucap Cen Tian tertawa bahagia saat ini.


Tapi tak lama wajah Cen Tian seketika berubah menyeramkan saat mendengar ucapan Tu Long.


“Kau salah, orang itu berhasil melarikan diri. Aku tak tahu benda apa yang ia gunakan, tapi orang yang aku bunuh bukanlah dia, walau orang yang aku bunuh mempunyai nyawa.”


“Aku sempat berpikir jika itu adalah sebuah boneka, tapi tidak. Aku juga menduga itu adalah sosok bagian jiwanya, atau juga sebuah tubuh tiruan yang telah di buat.” Ucap Tu Long sedikit serius.


“Jika begitu, apa ia bisa memindahkan inti jiwanya?. Hanya orang tertentu bisa melakukan hal tersebut, jika orang tersebut akan mati, maka ia akan menempati tubuh orang lain yang telah mati atau merebut paksa tubuh orang yang masih hidup.” Tanya Cen Tian kini menahan emosinya.


“Bukan juga, aku tidak tahu apa yang ia gunakan. Tapi semua yang kita bayangkan yang berada di Dimensi kita tidak ada satupun yang ada atau yang sama dengan orang itu lakukan.”


“Terlebih kita juga bukan di Dimensi kultivator, melainkan Dimensi Sihir.” Ucap Tu Long menjawab sambil menjelaskan Cen Tian.


Cen Tian pun langsung tersadar jika saat ini mereka berada di Dimensi Sihir.


“Oh ya kemana yang lain? Kenapa kau seorang diri kesini?” Tanya Tu Long kini dengan bersemangat bertanya.


“Nanti akan aku beritahu serta menjelaskan semuanya, aku sadar kenapa kau datang kesini.” Jawab Cen Tian melirik ke segala arah.


Tu Long pun ikut melihat kemana arah pandangan Cen Tian. Tak lama ia menyeringai dingin.


“Heh,, kenapa kau takut dengan mereka semua, apa perlu aku memakan mereka hidup-hidup, kebetulan saat ini aku lagi lapar.” Ucap Tu Long dengan nada santai namun di aliri oleh energi sehingga suara langsung menggema.


Orang-orang dari Ras Elf langsung mundur saat mendengar itu, mungkin hanya para leluhur yang memiliki kekuatan satu tahap di bawah Leluhur Hendric saja yang masih diam melihat sambil bersembunyi. Untuk Ras manusia mereka semua sudah tidak ada di sana karena saat ini mereka merasa Ras mereka terancam.


Sementara para Leluhur Ras Ancient Blood Demon hanya diam saja. Karena merasa Ras netral, mereka sama sekali tidak terlalu takut, terlebih mereka merasa tidak pernah mencari masalah dengan sosok Naga di depan mereka.


...

__ADS_1


“Tidak usah, ayo kita pergi dari sini, dan jangan terlalu memakai energimu, karena di sini sama sekali tidak ada Energi yang ada hanya Mana,” ajak Cen Tian langsung mengajak Tu Long pergi.


Wuss..!!


Wuss..!!


...


Melihat kepergian Tu Long, tidak ada dari mereka berani menghentikan kedua orang itu.


Tapi satu hal yang pasti, kejadian ini pasti akan menjadi berita paling besar dalam sejarah di Dimensi Alam Sihir.


“Hemm..!! Aku tak mengira jika Ling Bai mengenal orang itu,” gumam Anariel semakin tertarik dengan Tu Long saat ini, pandangannya mengarah ke Tu Long yang akan pergi entah kemana.


Setelah itu ia melirik ke arah kedua saudarinya, saat melihat kedua saudarinya, ia melihat wajah kedua saudarinya menatap dirinya dengan pandangan aneh.


“Apa? Kalian jangan berpikir yang aneh-aneh,” dengus Anariel dengan wajah sedikit memerah. Dengan cepat ia menghilang dari tempatnya karena sadar jika terlalu lama di depan kedua saudarinya, maka ia akan selalu di tatap seperti itu.


Wuss..!!


Tak lama Ariel dan Antoni langsung pergi juga, kini hanya Sintia yang masih berdiri di sana, pandangan Sintia mengarah ke Ratu Diane.


Dret..!!


Kini yang tersisa hanya Ratu Diane saja.


“Aku tak menduga jika orang ini teman dari si Ling Bai itu,” gumam Ratu Diane seketika memasang wajah cemberut.


***


Dret..!!


Wung..!!


Bai An langsung muncul di depan sebuah gua yang sedikit aneh.


Dari luar gua itu terlihat seperti gua pada umumnya. Tapi Bai An tahu jika di dalam gua ada aura jahat yang sangat besar, itulah yang ia rasakan saat ini.


“Aku tak menduga jika orang itu bersembunyi di di dalam sana, ini sepertinya akan jauh lebih mudah,” gumam Bai An tersenyum kecil.


“Bukankah begitu Asura Blood,” sambung Bai An melirik sosok Roh yang kini berdiri di sampingnya dengan tatapan berseri-seri.


“Haha tempat ini menjadi makanan untukku, jika kekuatan Pedang Asura telah kembali pulih 50% saja, maka kau tak perlu takut melawan orang-orang dari Dimensi Alam Dewa saat kekuatanmu masih berada di Dewa Penguasa Immortal Suci.” Ucap Asura Blood tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Dret..!!


Asura Blood dan Bai An langsung masuk, saat akan memasuki pintu gua, Bai An mengayunkan pedangnya.


Crash.


***


Leluhur Hendric yang berhasil selamat kini mengutuk Tu Long hidup-hidup.


Bam bam bam..!!


“Sial sial sial, ada lagi satu musuh kuat yang menjadi penghalang bagiku,” teriak Leluhur Hendric kini memukul-mukul tanah hingga hancur.


“Hemm..!! Ingat, jiwamu kelak akan menjadi milikku karena perjanjian yang telah kita buat,” ucap sosok Roh keluar dari senjata miliknya.


Dahi Leluhur Hendric berkerut, tapi ia tidak terlalu memikirkan ucapan Roh di depannya ini.


Dret...!!


“Siapa di sana?” Teriak Leluhur Hendric dan Roh senjatanya bersamaan.


Wung..!!


“Hehe aku tak menduga akan bertemu Roh rendahan seperti dirimu, pantas saja aura jahat di sini sangat pekat ternyata itu darimu.” Asura Blood kini mencekik Roh di depannya dengan seringai lebar sambil menjilat bibirnya.


Tubuh Roh senjata Leluhur Hendric bergetar tak kendali. Hanya dua Roh yang paling ia takuti di Dimensi Alam Dewa. Yaitu sosok di depannya ini lalu sosok Roh Kehidupan.


“A...Apa maumu?”


Di sebelah kedua Roh tersebut, kini Bai An terlihat mencekik leher Leluhur Hendric juga.


Bai An seketika memiringkan kepalanya saat mendengar pertanyaan tersebut.


“Apa mauku. Kau bertanya apa mauku?” Nada suara Bai An seketika menjadi mengerikan bagi Leluhur Hendric.


“A..Ampuni aku,” ucap Leluhur Hendric meminta ampun, walau belum tahu kesalahannya dari dulu, ia baru kali ini meminta ampun.


“Hemm..!! Kau meminta ampun setelah melukai kakak dan saudaraku. Jika saja aku di sana mungkin mereka tak akan terluka, tapi sayangnya aku sedang sibuk waktu itu,” ucap Bai An langsung melambaikan tangannya.


Tak lama sosok dua manusia tercipta dari energi Bai An.


“Apa kau mengenal mereka berdua?” Tanya Bai An mengencangkan erat tangannya.

__ADS_1


Argh..!!


__ADS_2