
“Hahaha,, dasar bodoh, justru kalian menyerangnya membuat daya ledaknya semakin dahsyat.” Teriak Lang Zai tertawa terbahak-bahak.
“Dan karena kebodohan kalian ini yang suka menyerang senjata asing, makanya Tuan muda Han memodifikasi senjata seperti ini.” Sambung Bai Yu Long.
“Ayo kesana, mungkin ada beberapa barang beharga yang bisa kita ambil, lalu berikan kepada Cen Tian.” Ajak Lang Zai.
Bai Yu Long langsung mengejar Lang Zai yang menuju reruntuhan kota, mereka juga mengedarkan kesadaran mereka, jika ada yang masih hidup, maka mereka akan langsung membunuhnya.
Wuss..!!
Tap tap..!!
“Setelah selesai di sini, kemana tujuan kita selanjutnya paman?” Tanya Bai Yu Long yang kini berjalan ke arah salah satu Jendral.
Melihat Jendral mampu bertahan hidup, walau kini ia sekarat dan tubuhnya tertimpa tembok, Bai Yu Long langsung menarik pelatuknya.
Dor..!!
Bom..!!
Kepala Jendral Ras Elf tersebut langsung meledak.
“Hemm..!! Tujuan kita adalah titik ini,” jawab Lang Zai kini mengayunkan tangannya, tak lama puluhan kantong penyimpanan langsung melayang.
Setelah kantong penyimpanan berkumpul di udara, Lang Zai langsung menariknya.
***
Wuss wuss..!!
“Paman Ares, kenapa kita harus menaruh benda ini di setiap tempat yang kita lewati? Memang apa pungsi benda aneh ini?” Tanya Duan Li.
“Hemm..!! Aku juga tidak terlalu tahu, kau tahu kan jika kita hanya di suruh menaruh benda ini lalu keluar kota, setelah itu kita tinggal menekan ini.” Jawab Ares langsung menekan tombol.
Bip..!!
Tak lama benda yang Duan Li pedang berupa bom waktu langsung mengeluarkan bunyi.
“Aah sial, cepat lempar benda itu Li'er,” teriak Ares.
Duan Li yang bingung hanya mengangguk patuh lalu melempar bom waktu.
Wuss..!!
Tanpa basa basi Ares langsung menarik Duan Li.
Wungg..!!
Bom bom bom bom..!!
__ADS_1
Bom bom bom..!!
Kota yang Ares serta Duan Li datangi langsung meledak di setiap bangunan yang ada di kota, beruntung penduduk kota yang kelas rendah, atau yang tertindas oleh para bangsawan telah di evakuasi oleh para anggota Guild Petualang yang menjadi sekutu Bai Han dan Bai Chu Ye.
Wungg..!!
Sebuah dengungan seketika terdengar, tak lama muncul lubang di sertai dua sosok yang tak lain Ares dan Duan Li.
“Hahaha,, lihat paman, kotanya meledak, ini sangat seru, ayo kita lakukan lagi di kota berikutnya,” ajak Duan Li langsung bersemangat.
“Hem hem,, ini memang luar biasa, tanpa membuang Mana terlalu banyak, satu kota bisa hancur bersama penduduknya yang serakah,” ucap Ares kini tersenyum menyeringai.
“Tapi tunggu dulu, aku paman akan membereskan beberapa tikus yang berhasil selamat,” ucap Ares langsung melesat.
Duar..!!
Tak lama setelah kepergian Ares, suara ledakan terdengar.
Dua menit berlalu Ares kembali muncul. “Hehe sudah selesai, ayo kita lakukan hal yang sama kepada kota-kota yang telah di tandai oleh saudara Bai Han,” ajak Ares melihat ke arah titik tertentu di peta yang ia pegang saat ini.
“Ya paman, ini sangat seru, aku ingin menaruh benda-benda yang bernama bom waktu itu di semua tempat. Jadi berikan Li'er ribuan bom waktu,” ucap Duan Li kini tersenyum licik.
Ares melihat senyum Duan Li. “Apa yang kau pikirkan Li'er? Jangan bilang kau ingin menaruh benda ini dalam jarak satu meter?” Tanya Ares curiga.
“Hehe bukankah itu akan tambah seru paman, terlebih saat mendengar teriakan mereka, pasti akan menambah melodi dalam suara ledakannya.” Ucap Duan Li menaikkan alisnya berkali-kali.
Dengan cepat kedua yang memiliki sifat anak-anak itu langsung pergi dengan senyum bahagia sambil bernyanyi tak jelas.
...
Wuss wuss..!!
Tap tap..!!
“Paman kenapa kota yang kita datangi tidak ada prajurit maupun ahli kuat, seperti ahli rangking S?” Tanya Duan Li bingung.
“Ah paman lupa, jika mereka semua pergi berperang di wilayah perbatasan dengan Ras Manusia, dan tugas kita di sini adalah menghancurkan kota mereka berserta keluarga mereka.” Jawab Ares.
“Eeh,, jika begitu tidak akan seru jika membunuh mereka yang lemah, Li'er ingin membunuh yang kuat-kuat. Lebih baik kita kesana saja paman, akan semakin seru jika kita mengacau di tengah-tengah pertarungan mereka,” ajak Duan Li kini memasang wajah memohon.
“Tidak, kita selesaikan tugas kita lebih dulu, apa kau ingin kedua kakakmu memarahimu dan menghukum kita.” Ucap Ares.
Duan Li seketika merinding saat membayangkan di hukum oleh kakaknya Bai Han. “Hem hem,, lebih baik kita bersenang-senang dengan mereka dulu, baru kita bersenang-senang di tempat yang sebenarnya,” ucap Duan Li kini melesat ke arah kota.
Ares pun langsung mengikuti dari belakang.
Tak sampai 10 menit, seluruh kota kini terlihat di lalap api.
“Hehe,, apa kau dengar teriakan mereka Li'er,” ucap Ares bertepuk tangan.
__ADS_1
“Hem hem..!! Suara mereka sangat indah.” Sambung Duan Li bertepuk tangan.
Setelah puas, keduanya langsung pergi menuju kota lain lagi.
***
Sementara Pixiu yang bersama Bai Gi Pixiu dan Bai Ji Pixiu kini terlihat duduk di atas bukit.
Terdengar suara pertempuran di bawah bukit tempat mereka duduk santai.
“Apa tugas kita paman?” Tanya Bai Gi Pixiu penasaran.
“Hehe,, tugas kita adalah ini,” ucap Pixiu langsung mengeluarkan meriam.
“Apa ini?” Tanya Bai Ji Pixiu langsung mendekati meriam sambil mengelus-elus meriam tersebut.
Wuss wuss..!!
“Ini namanya meriam, tugas kita adalah mengacau, kalian ambil ini dan cara menggunakannya seperti ini.” Ucap Pixiu langsung menjelaskan secara detail.
Mereka bertiga pun langsung mengarah ke bawah, saat ini terlihat puluhan ribu dari kedua Ras yang sedang bertermpur sengit.
Pandangan mata Pixiu mengarah ke pemimpin Ras Manusia. ”Hemm..!! Pemimpin Ras Manusia ada dua Leluhur Ras manusia dan pemimpin Ras Elf ada 3 Leluhur Elf.” Gumam Pixiu kini sedikit berpikir.
“Jika aku tidak salah, tempat ini berarti tempat ke lima atau titik pertempuran besar tingkat kelima, dan aku mendapat info jika ada 5 titik pertempuran besar yang di pimpin oleh setiap Leluhur.” Gumam Pixiu.
“Apa Han'er dan Ye'er menuju tempat titik pertama dan kedua ya, karena di tempat titik pertama pasti ada Leluhur Terkuat di sana bersama sebagian leluhur tertua. Sementara titik pertempuran kedua hanya di isi oleh beberapa leluhur tertua.”
Kini Pixiu memikirkan siapa yang menuju titik ke empat dan ketiga, karena tugasnya di sini hanya ke titik kelima saja.
“Paman paman,, apa yang kau pikirkan?” Tanya Bai Ji Pixiu langsung menggoyang-goyang pundak Pixiu.
Seketika Pixiu tersadar. “Ah sial, apa yang aku pikirkan,” gumam Pixiu langsung mengarahkan pandangnya ke meriam.
“Kalian berdua berpencar, cari tempat yang strategis. Tunggu aba-aba dari ku baru aktipkan meriam.” Ucap Pixiu langsung memberikan perintah.
Bai Ji Pixiu dan Bai Gi Pixiu langsung mengangguk, mereka pun melesat ke arah yang berlawanan.
Wuss wuss..!!
Tap tap..!!
Tak menunggu lama, setelah kedua bersaudara berada pada posisi mereka masing-masing. Pixiu langsung mengangkat tangannya.
Pandangan Pixiu mengarah ke para prajurit yang baru bergerak kembali untuk melakukan bentrok di tengah hamparan tanah yang luas.
“Sekarang.” Teriak Pixiu melalui telepati.
Blush..!!
__ADS_1