
Pandangan Jendral Mo Hong mengarah ke depan, tepatnya Bumi. Namun anehnya Jendral Mo Hung sama sekali tidak bisa melihat bumi ini selain orang-orang terpilih.
Bahkan Pemimpin Klan Bai pun tidak bisa melihat Bumi.
Sejarah Bumi ini sungguh banyak misteri, hanya sedikit orang saja yang mengetahuinya.
Bumi sudah berdiri sebelum Klan Bai mendirikan Dimensi di sini. Mereka semua tidak tahu jika ada Dunia di tempat mereka mendirikan Dimensi ini.
Bumi jauh lebih tua dari umur semua Alam Semesta yang ada di Dimensi Klan Bai.
Sementara untuk jeempat Siluman Wanita yang Bai An temui, mereka juga sudah lebih dulu berada di sana untuk menunggu kedatangan Bai An atas perintah Tuan muda yang sebagai bawahan setia Bai An dulu.
...
“Hmm,, aku merasakan adanya sesuatu di sana, tapi kenapa aku tidak bisa melihatnya?” Jendral Mo Hung kembali memusatkan penglihatannya ke arah Bumi, tapi tetap saja ia tidak menemukan apa-apa.
Bahkan ia melewati Bumi beberapa kali, ia masih belum menemukan petunjuk.
Selama sebulan penuh Jendral Mo Hung menyelidiki tempat yang ia rasakan ada hal tersembunyi. Hingga ia dapat merasakan energi tipis, bukan energi tepatnya tenaga dalam milik seseorang yang sedang bertarung di langit.
“A..Apa ini yang di maksud ibu tempat kelahiran ayahnya, tempat yang bahkan jauh lebih tua dari Dimensi milik klan Bai. Tempat yang lemah akan energi dan sangat jarang orang berbakat di tempat ini.” Gumam Jendral Mo Hung dengan nada bergetar hebat.
Tubuhnya bergetar karena merasa bahagia, karena ia yakin jika orang yang ia cari ada di sana, terlebih ia juga yakin jika kedua Jendral Muda Iblis Merah sat ini masih hidup.
“Tapi bagaimana caraku agar bisa memasuki tempat yang bahkan tidak bisa aku lihat?” Ucap Jendral Mo Hung berpikir keras.
Tak lama senyum iblisnya terlihat jelas yang bisa membuat manusia ketakutan.
Dengan segera Jendral Mo Hung mengerahkan kekuatan jiwanya.
Blush..!!
Tekanan mengerikan seketika keluar dari tubuh Jendral Mo Hung. Setelah itu Jendral Mo Hung menarik nafas dalam-dalam, ia memusatkan jiwanya yang kini secara perlahan-lahan.
Srek..!!
Kini Jiwa Jendral Mo Hung menatap ke arah tubuhnya yang diam menatap kosong.
“Baiklah, waktunya mencoba,” gumam Jendral Mo Hong mendekat ke arah Tenaga dalam yang ia rasakan paling besar.
***
Bom bom..!!
Di langit-langit bumi, saat ini ada dua orang sedang bertarung menggunakan kekuatan penuh mereka.
Jika Bai An ada di sana, maka ia pasti akan mengenal salah satunya.
“Haha,, aku tak menyangka setelah kehancuran kelompok Tarung Sejati, akan ada pemimpin baru langsung menggantikannya, terlebih pemimpin barunya jauh lebih kuat,” ucap seorang pria tua dengan tubuh gempal berotot di sertai tawa.
__ADS_1
Tatapan pria gempal itu sangat tajam, ia juga merasa puas karena bisa melawan orang yang setara dengannya.
“Heng,, kau tahu, jika saja aku melarang saudaraku ikut campur, mungkin kau sudah mati dari tadi,” dengus pemuda yang tak lain adalah Rian.
Pria gempal di depan Rian ini adalah salah satu pemimpin kelompok terkuat dari Negara Gun, pria gempal inilah yang paling berinisiatif menginginkan Negara mereka ini.
“Haha,, lalu kemana saudaramu itu, cepat suruh ia keluar, aku ingin melihat bagaimana kekuatan kalian berdua jika bergabung melawanku,” ejek pria gempal tersebut.
Wuss..!!
Crash..!!
Trink..!!
“Aku ada di sini dan kau mempunyai insting yang bagus juga bisa menangkis seranganku,” ucap Husen dengan senyum tipis.
Tapi ucapan Husen tidak di balas, kini pria gempal tersebut mundur beberapa langkah.
Wuss..!!
“Dia jauh lebih kuat dari Rian,” gumam pria gempal sedikit berkeringat dingin.
“Tunggu dulu, aku tahu siapa kau, kau adalah Husen, orang yang dulu sangat lemah itu?” Tunjuk Pria gempal terkejut saat mengingat siapa Husen. “Ba..Bagaimana kau bisa sekuat ini?” Sambungnya tidak percaya.
Husen hanya bisa tersenyum tipis. “Oh, kau masih mengingatku juga Jhon Bonyong, dan aku sangat berterimakasih dulu saat masih kecil kau membiarkanku hidup karena menganggapku tidak membahayakan,” ejek Husen.
Tap tap..!!
“Tentu saja meningkatkan kekuatan, aku juga ke Negara Seribu Pulau untuk mencari Tuan Bai, tapi aku hanya menemukan keluarganya saja.” Jawab Husen dengan nada santai.
“Ooh,, jadi apa yang kau dapat?” Tanya Rian dengan nada semangat.
“Aku dapat buku kuno, kata salah satu dari putri Tuan Bai, teknik ini sangat kuat, bahkan dengan teknik ini kita bisa melawan ribuan orang yang setara dengan kita, itu pun hanya menguasai tingkat-”
“Sialan, berani sekali kalian mengabaikanku,” teriak Jhon Bonyong dengan wajah memerah padam.
Jhon Bonyong saat ini datang seorang diri karena merasa bisa melawan dua kelompok yang tersisa setelah mendengar kelompok Tarung Sejati musnah dalam selamam tanpa tahu siapa pelakunya.
Tapi ia menyesal meremehkan Negara ini, tapi di satu sisi ia merasa di rendahkan oleh kedua pemuda di depannya ini, ia seolah di anggap tidak ada.
Rian dan Husen hanya menatap Jhon Bonyong sekilas.
“Hmm..!! Seandainya Tuan Bai tidak melarang kita membunuh, mungkin aku sudah membunuhnya dari tadi,” dengus Rian yang ternyata masih menahan diri.
“Eeh,, kau salah paham maksud Tuan Bai, jika orang-orang yang seperti ini, darahnya halal untuk kita minum, karena merusak dan menyengsarakan banyak pihak,” sambung Husen.
Seketika Rian dan Husen saling pandang, mereka langsung melesat dengan kecepatan penuh ke arah Jhon Bonyong.
Jhon Bonyong yang melihat itu langsung mengerahkan tanaga dalamnya, pedang bermata dua yang ia pegang kini semakin erat ia pegang.
__ADS_1
“Mati,” teriak Husen muncul lebih dulu, tangan Husen terayun dengan tekanan berat.
Husen memusatkan jumlah tanaga dalamnya ke tangannya agar kekuatan serangnya jauh lebih kuat.
Jhon Bonyong langsung mengyunkan pedangnya ke arah tinju Husen.
Brak..!!
Bam..!!
Dengan mudah Husen mematahkan pedang milik Jhon Bonyong hingga tinjunya terus melaju ke arah bibir Jhon Husen.
Duar..!!
Tubuh Jhon Husen langsung membentur tanah, saat berusaha bangun, sebuah kaki tiba-tiba muncul di depan wajah Jhon Bonyong.
“Sialan kau Rian,” teriak Jhon Bonyong saat melihat kaki Rian sudah sampai.
Bam..!!
Wuss..!!
Duar duar..!!
Tubuh Jhon Bonyong pontang panting layaknya bola lalu berhenti saat menabrak pohon yang cukup kokoh.
Hoek hoek..!!
Jhon Bonyong langsung memuntahkan banyak darah, terlihat jika giginya saat ini telah hilang sepenuhnya.
Tap tap..!!
Rian dan Husen muncul di depan Jhon Bonyong.
“Sangat lemah, tidak ada perlawanan sama sekali,” dengus Rian dengan sombong.
“Jangan meninggikan dirimu sendiri saudara Rian, nanti kau bisa lupa diri,” ucap Husen memberi peringatan.
Rian seketika tersenyum malu, ia sadar jika merasa sombong dan mengakui kesalahannya dengan terdiam.
Husen yang memandang Jhon Bonyong kini mulai menarik pedang yang ada di pinggangnya.
“Apakah kau ada permintaan terahir?” Ucap Husen dengan nada dingin.
Jhon Bonyong hanya berkeringat dingin, ia tahu jika dirinya pasti akan mati saat ini.
Saat Jhon Bonyong ingin bicara, tiba-tiba sebuah suara muncul di dalam otaknya.
“Apakah kau ingin kuat. Apakah kau ingin kekuatan. Apakah kau ingin kekayaan. Apakah kau ingin kekuasaan.”
__ADS_1