
Mereka berempat yang memiliki kekuatan dapat menghancurkan Sekte besar dan ternama, tidak dapat menghadapi satu orang.
Jika itu menyebar, nama mereka dan sekte mereka pasti akan rusak.
Beruntung saudara dari Masternya Heng Yu datang menghentikan saudaranya tersebut dan langsung membuat kesepatakan.
Sampai saat ini Guru dari Li Qian masih mengingat jelas syarat yang di ajukan oleh Penetua Agung Lu.
“Hanya satu yang Bibi peringatkan. Jangan pernah mengusik mereka dengan sesuatu yang bisa membuat mereka marah, suatu saat kau pasti akan mengerti Qian'er. Bahkan klan kita tidak akan mampu menghadapi kemarahan dari Master Ju.” Ucap Guru sekaligus bibi Li Qian.
Li Qian yang mendengar itu sedikit tertegun saat melihat ekspresi serius Bibinya. Karena baru kali ini ia melihat bibinya memperingatinya dengan tegas.
“Hem..!! Walau aku tidak terlalu paham maksud dari bibi, tapi yakinlah, aku akan selalu mendukung Suam- Ehem. Maksudku Yu-Yu, walau ayah dan kakek menentangnya,” ucap Li Qian dengan nada sedikit malu-malu.
Li Hanyi terlihat tak bisa berkata-kata saat melihat keponakannya yang terlalu terobsesi dengan Heng Yu.
Tapi mendengar ucapan Li Qian tentang kakak dan ayahnya. “Dasar bodoh, mereka tentu tidak akan berani menolak jika Master Ju datang membawa muridnya lalu melamar dirimu. Jika mereka menolak-” Li Hanyi seketika terdiam.
“Aah sial, kenapa aku bisa menjadi sedikit bodoh, bisa-bisanya aku terbawa sifat bocah ini yang selalu ceroboh, terlebih ia sulit menangkap ucapanku tadi.”
...
Wuss wuss..!!
“Penetua Agung, anda di panggil oleh Master.” Ucap seorang wanita dengan wajah tertutup cadar.
“Hemm..!! Ayo kita kembali Qian'er, mungkin sudah waktunya kita mendiskusikan masalah tentang berita yang menyebar.” Ajak Li Hanyi sekaligus Penetua Agung Sekte Teratai Langit.
Li Qian menggelengkan kepalanya. “Aku akan menyusul, aku ingin bicara dengan Yun Yiwei lebih dulu.” Ucap Li Qian melirik Yun Yiwei yang masih membungkukkan badan di depan Penetua Agung Li Hanyi.
“Baiklah, jangan terlalu lama,” tanpa menunggu balasan, Li Hanyi langsung mengayunkan lengan kirinya.
Crash..!!
__ADS_1
Sebuah celah langsung tercipta. Tak lama Li Hanyi langsung menghilang bersamaan dengan celah mulai menutup.
“Yiwei, apakah kau sudah menemukan petunjuk dimana keberadaan Bo Wuhan dan Suami?” Tanya Li Qian terdengar serius.
Yun Yiwei menggeleng. “Maafkan Yiwei senior, sampai saat ini belum ada petunjuk kemana Suami Senior setelah sampai Dimensi Alam Dewa.” Ucap Yun Yiwei sedikit malu.
“Sementara untuk Bo Wuhan, mungkin ia belum kembali dari tempat yang senior datangi.”
“Ini hanya analisa Yiwei saja, karena Yiwei telah mengerahkan mereka semua ke semua pintu masuk dimensi, walau hanya beberapa yang tidak bisa di datangi karena Sekte yang menjadi musuh kita memegang wilayah tersebut. Yiwei tentu selalu mempunyai koneksi yang terpercaya.” Ucap Yun Yiwei menjelaskan panjang lebar.
Li Qian seketika memegangi dagunya sembari memasang wajah cemberut.
Yiwei yang melihat itu seketika tegang. Jarang-jarang Li Qian memasang wajah seperti itu selama ia menjadi bawahannya.
“Hem..!! Awas saja jika Bo Wuhan itu menceritakan yang tidak-tidak lagi sama seperti Chen Long sialan itu. Aku sangat takut jika ia menyebar cerita bohong tentang suami yang ikut turun tangan membantu orang-orang yang berasal dari Dimensi Tanpa Nama. Jika itu terjadi, aku akan memburunya sampai ke ujung neraka sekalipun.” Ucap Li Qian dengan nada mengerikan.
Li Qian melupakan tentang gilanya Bo Wuhan, jika ia mengingatnya. Maka ia tentu tak mau repot-repot seperti ini.
Keduanya pun langsung melesat ke arah tertentu.
***
“Bagaimana? Apa semua bawahan yang kau kerahkan sudah menemukan jejaknya?” Tanya sosok manusia iblis.
“Belum Master, sampai saat ini bocah sialan itu belum menunjukkan batang hidungnya dimanapun.” Ucap Penetua ketiga Manusia Iblis sambil mencengkram erat tangannya.
Penetua Ketiga adalah orang yang paling terobsesi untuk memburu Bo Wuhan. Ia mengingat jelas bagaimana Bo Wuhan membunuh putranya melalui bola kegelapan saat bola kegelapan milik putranya hancur. Kejadian-kejadian Bo Wuhan selalu tersenyum saat membunuh putranya sangat jelas penetua ketiga lihat.
“Argh..!! Master izinkan aku turun tangan kali ini, sampai saat ini aku tidak akan bisa tenang jika tidak menangkap bocah sialan itu dengan tanganku sendiri. Terlebih bukan hanya kita saja yang memburunya. Melainkan semua sekte besar lainnya.” Ucap Penetua ketiga seketika meraung.
Master Sekte, Penetua Agung dan semua tetua hanya diam tanpa menegur apa yang Penetua Ketiga lakukan saat ini.
Mereka semua tahu jika Penetua Ketiga hanya memiliki satu putra dan sangat menyanginya. Saking sayangnya, ia selalu memanjakannya. Bahkan penetua ketiga tidak takut memusuhi Master Sekte dan para penetua jika putranya di tindas.
__ADS_1
“Tenangkan dirimu Penetua ketiga, aku melarangmu bergerak karena sampai saat ini Sekte Pengacau belum menunjukkan diri, kau tahu jika sekte tersebut hanya di isi oleh beberapa orang saja. Tapi sekte tersebut sudah di akui menjadi Sekte Besar yang di takuti lantaran mereka semua sangat kuat.”
“Terlebih Sekte Pengacau ini sangat tersembunyi, jika mereka tidak menunjukkan diri, kita tidak akan bisa menemukan mereka.” Ucap Master Sekte.
“Aku takut mereka ikut campur, jika mereka ikut campur maka pasti akan terjadi kekacauan lagi seperti ribuan tahun lalu.” Sambung Master Sekte Manusia Iblis.
Wajah Penetua ketiga seketika memasang wajah jelek. Ia sangat sadar saat bentrok dengan salah satu dari mereka dulu, ia hampir saja mati jika tidak di bantu oleh aliansi dari beberapa Sekte besar di masa lalu.
Tentu Penetua ketiga sadar jika para penetua ikut bergerak, mungkin mereka akan ikut bergerak juga. “Argh sialan, aku tidak mau tahu Master. Walau aku mati tidak masalah, asal aku bisa menyiksa bocah sialan tersebut.”
“Tahan dia, aku sudah muak.” Ucap Penetua Agung.
Para penetua langsung bergerak mengepung Penetua ketiga. Tak lama terdengar suara ledakan beberapa saat akibat bentrokan. Namun dalam hitungan menit suara bentrokan langsung hening.
***
“Ah silahkan masuk Tuan-tuan di kedai kecil kami, apa ada yang bisa saya bantu?” Terdengar suara pemuda tampan dengan rambut bewarna hitam kebiruan.
“Haha kau semakin tampan saja Juan, siapkan kami minuman dan makanan yang biasa,” ucap seorang pria bertubuh besar, ia adalah pelanggan kedai milik pemuda yang bernama Juan tanpa memiliki nama marga.
“Adik Yu, cepat bawakan pelanggan kita 5 Anggur Lebah dan 5 sup binatang buas kelas 9,” teriak Juan.
“Siap kakak, tunggu 2 menit lagi, kakak Luan saat ini sedang menyiapkannya,” terdengar balasan dari balik pintu dapur.
Tap tap..!!
Tak lama terlihat sosok pemuda tampan membawakan beberapa pesanan yang tadi di perintahkan oleh kakaknya.
“Makanan sudah datang, silahkan di nikmati Tuan-tuan,” ucap Yu-Yu atau Heng Yu.
Bukan hanya mengantar makanan ke pria berbadan besar bersama teman-temannya. Terlihat Juan dan Heng Yu sangat sibuk melayani pelanggannya yang telah penuh di dalam kedai.
Bahkan saking penuhnya, banyak para pelanggan membuat dan mengeluarkan meja sendiri di luar.
__ADS_1