
“Se..Setelah itu, kedua orang bertopeng merah itu langsung membawa Naga itu saat Naga itu di buat pingsan.” Sambung Master Sekte Pedang Cahaya kini meratapi nasib sialnya.
Entah mengapa semenjak klan Long menyatakan kesetiaan mereka kepada Sekte Pedang Cahaya, di situlah selalu bermunculan masalah demi masalah mendatangi Sektenya, dari keluhan penduduk kota, penjahat yang berupa bandit, perampok, dan masalah yang paling besar munculnya sosok Naga datang mengamuk ke Sektenya.
Walau ia dan beberapa penetua hampir membunuh Naga tersebut, datang lagi dua sosok bertopeng melukai dirinya dan penetua Agung. Kini datang lagi pemuda yang berdiri di depannya.
Flasback End...!!
Huuff..!!
Terdengar helaan nafas dari Master Sekte Pedang Cahaya setelah mengingat beberapa waktu pertemuan yang membuatnya sial dan kini ia kembali berpikir.
Entah besok siapa lagi yang akan datang, mungkin juga ia akan mati oleh sosok pemuda di depannya ini.
Sementara Bai An yang sudah mendapat banyak informasi dari Master Sekte Pedang Cahaya kini meneguk arak yang telah ia tuang ke gelas kecilnya.
“Huuf,, sial, apakah aku harus marah kepada Master Sekte ini dan semua penghuninya?” Gumam Bai An memikirkan ingin menghancurkan mereka semua.
“Tidak, dia terlihat jujur dan ucapannya tadi saat menjawab juga terdengar jika ia tidak mengetahui permasalahan mengapa Tu Long datang mengamuk, dan ia hanya berusaha melindungi sektenya saja,” sambung Bai An langsung berpikir jernih dan tidak lagi berpikir dengan emosionalnya.
“Jika begitu, mari bereskan semua penghuni sekte yang bermasalah lebih dulu. Akan bagus jika aku menundukkan sekte ini dan di jadikan tempat tinggal sementara jika berkumpul nanti,” gumam Bai An tersenyum menyeringai.
Senyum Bai An yang tidak ia senyumbunyikan dari Master Sekte Pedang Cahaya membuat melihatnya dan kini tubuh Master Sekte Pedang Cahaya merinding karena merasakan perasaan tidak mengenakan.
Glek..!!
“Hem..!! Siapa namamu?” Tanya Bai An dengan nada sopan.
Bukannya langsung menjawab, Master Sekte Pedang Cahaya terdengar menelan ludah.
“Wu..Wuan De Tuan,” ucap Master Sekte Pedang Cahaya memperkenalkan dirinya.
“Hemm..!! Nama yang bagus, jika begitu kau panggil semua penetua sekte ini berkumpul di aula, ingat ya semuanya tanpa terkecuali,” ucap Bai An terdengar serius. “Dan bereskan masalah yang ada di sini, kau pasti paham maksudku.” Sambung Bai An melirik ke arah kekacauan yang ada di Pelantaran dalam.
Wuan De mengangguk-angguk patuh.
Setelah mendapat izin dari Bai An untuk pergi, ia pun segera pergi melaksakan perintah Bai An.
Tidak sampai lima menit, kekacauan langsung menghilang. Semua murid di suruh kembali dan tidak di izinkan keluar dari kediaman mereka, jika ada yang melanggar maka akan langsung di bunuh oleh Master Sekte sendiri.
Walau sempat gaduh mendengar itu, semua murid pun tetap patuh mengikuti, sementara para penetua yang kedapatan menyalah gunakan kekuasaaan hanya bisa berkeringat dingin saat di suruh berkumpul ke aula.
__ADS_1
...
Sementara Bai An kini terlihat mengikuti Bai Gu yang kembali ke rumahnya, karena Bai Gu memang tidak tinggal di Sekte lantaran tidak mampu membayar biaya tempat tinggal di pelantaran dalam.
Tap tap..!!
Saat Bai Gu sampai ke depan rumah yang hampir bobrok, terdengar jika sebuah suara bahagia dari mulut Bai Gu.
“Gu'er pulang Bu,” ucap Bai Gu.
Srett..!!
Tak lama pintu yang rapuh dan hampir rusak termakan usia kini terbuka.
“Gu'er, apakah latihanmu sudah selesai nak? Kenapa begitu cepat?” Suara lembut dari sosok wanita mengenakan tongkat keluar.
“Sudah bu, kenapa ibu keluar, ayo masuk, ibu lagi sakit, jangan memaksakan dirimu,” ucap Bai Gu cepat-cepat menghampiri ibunya yang berusaha berjalan ke arahnya menggunakan bantuan tongkat.
Tap tap..!!
Bai Gu langsung memapah ibunya kembali masuk dengan perasaan khawatir.
...
Bai An yang berada di kejauhan hanya bisa membatu di tempatnya.
“Siapa wanita tadi? Aku merasakan aura yang sangat kuat darinya?” Gumam Bai An dalam hati.
Bai An juga menyadari jika luka di kaki wanita tersebut tidaklah biasa, entah mengapa Bai An merasakan keakraban dari luka tersebut.
...
Tap tap..!!
Setelah membaringkan ibunya, Bai Gu langsung berniat pergi ke dapur untuk memasak seperti biasa.
Namun sebelum ia melangkah, kepalanya terasa gelap dan ia jatuh pingsan.
Ibu Bai Gu hanya bisa merasa bersalah saat dirinya membuat putranya pingsan.
“Maafkan ibu nak, ibu sebenarnya tidak ingin melakukan hal seperti ini, namun belum saatnya kau mengetahui tamu kita ini.” Ucap Ibu Bai Gu dalam hati.
__ADS_1
Setelah itu Ibu Bai Gu langsung menghilang dari tempatnya.
Wuss..!!
Ia pun muncul tepat di depan pintu.
“Selamat datang keturunan Asura, hamba adalah satu-satunya bawahan dari Yang Mulia Asura yang selamat hingga saat ini,” ucap wanita tersebut membungkukkan badannya ke arah depan.
Bai An hanya bisa membelalakkan matanya. “Kau mengetahui diriku?” Tanya Bai An.
Ibu Bai Gu langsung mengangkat kepalanya lalu tersenyum lembut. “Benar Keturunan Asura, jika anda berkenan, masuklah lebih dulu ke kediaman hamba yang kurang layak ini.” Ucap Ibu Asura.
Bai An langsung menggelengkan kepalanya. “Mungkin orang lain melihat bangunan ini hanya bangunan bobrok, tapi mataku tidak bisa menutupinya, dan aku melihat betapa indahnya istana ini,” ucap Bai An dengan nada kagum.
Mendengar itu, Ibu Bai Gu tersenyum tipis karena sangat jarang orang setingkat Bai An melihat sosok bangunan ini yang sesungguhnya.
“Ilusi ini terlihah sangat nyata, apa nyonya pengguna ilusi?” Tanya Bai An kini melangkah masuk dengan tatapan kagum saat sudah di persilahkan masuk lebih dulu.
Ibu Bai Gu tersenyum hangat. “Nama hamba, Ling Hua, anda bisa memanggil saya dengan sebutan itu,” ucap Ling Hua.
“Ini bukan ilusi, melainkan Artefak yang di buat oleh Yang Mulia Asura saat masa kejayaannya, memang ini terlihat seolah seperti ilusi, namun ini sebenarnya sebuah senjata yang memiliki banyak kegunaan.” Sambung Ling Hua menjelaskan tentang Istana tersebut secara detail.
Tap tap..!!
Setelah berjalan beriringan, kini Bai An dan Ling Hua berhenti di sebuah meja dengan dua kursi.
Walau terlihat sederhana, Bai An tahu jika kursi dan meja tersebut adalah sebuah Material yang pasti di cari-cari oleh penghuni Dimensi Alam Dewa.
Tap..!!
“Silahkan di nikmati Keturunan Asura,” ucap Ling Hua menyajikan makan ringan dan minuman.
Bai An pun tanpa sungkan menikmatinya.
Setelah cukup lama menikmati hidangan yang di sediakan. Kini Bai An merubah wajahnya menjadi serius.
“Baiklah, aku akan langsung bertanya, ini juga membuatku bingung, dari kau mengetahui diriku Keturunan Asura, nama mu yang mirip dengan klan ibuku, siapa kau sebenarnya di masa lalu dan juga masih banyak yang ingin aku pertanyakan termasuk siapa sebenarnya orang-orang yang memburu Leluhurku di masa lalu. Padahal ia yang terkuat? Bagaimana ia bisa kalah? Tentu itu juga menjadi bahan pertanyaanku.” Ucap Bai An menatap ke arah Ling Hua.
Ling Hua terlihat tersenyum, dengan elegan ia menyeruput teh yang ada di tangannya. Setelah itu ia pun meletakkan cangkir berisi teh ke meja yang ada di depannya.
“Baiklah, kita mulai dari pertanyaan anda yang mana?” Ucap Ling Hua menatap ke arah Bai An.
__ADS_1