
“Apa mau mu Racun, apakah kau ingin menindas kami lagi,” teriak Jenius Sejati yang memiliki tubuh tinggi menggunakan jubah putih.
“Heng,,!! Kami bukan orang lemah yang bisa di tindas begitu saja,” sambung salah satu Jenius Sejati berjubah merah.
Tatapan mereka semua mengarah ke pemuda yang di panggil racun.
“Kekeke,, bukankah kalian yang ingin merendahkan kami lantaran kami semua miskin, di mana otakmu kau taruh. Apa aku buta,” kekeh Racun dengan nada mengejek.
Semua murid kalangan Bangsawan atau klan mereka memiliki drajat tinggi langsung menggertakkan gigi mereka, terutama kelima Jenius Sejati yang kini hanya diam di tempat mereka tanpa berani bergerak.
Pasalnya murid Jenius Sejati yang mereka panggil racun munduduki peringkat pertama di jajaran Jenius Sejati di dalam Sekte, dan Biksu yang ada sebelahnya menduduki peringkat kedua.
Dia adalah rakyat miskin yang orang tuanya hanya petani, namun karena tubuh racunnya, dan kegigihannya, ia bisa mendapat posisi pertama, sementara Biksu yang di sebelahnya bisa di katakan kalangan Bangsawan karena klannya termasuk Klan Besar yang memiliki kekuatan klan ketiga terkuat di jajaran klan Besar. Namun entah apa yang terjadi di masa lalu mereka berdua bisa berteman sekaligus menjadi rival memperebutkan peringkat pertama.
...
“Heeh,, mengapa kalian diam? Ayo kesini, aku juga rakyat miskin loh, apa kalian tidak ingin menindas diriku,” ejek Racun kini menyeringai tipis.
Haah..!!
Haah..!!
Terdengar seketika teriakan bahagia dari para murid-murid kalangan miskin, mereka kini menatap ke arah Racun dengan tatapan kagum lantaran dia selalu menjadi sosok pahlawan bagi mereka, di setiap ada masalah, ia selalu muncul membantu. Hal itulah yang membuat kalangan miskin selalu bersatu walau mereka sering bersaing. Namun mereka tetap kompak jika mendapat masalah dengan kalangan Bangsawan.
Wuss..!!
Tap tap..!!
Di saat para murid miskin bahagia, mereka seketika memasang wajah gelap saat melihat beberapa penetua sekte pelantaran dalam kini bermunculan.
__ADS_1
Bukan hanya mereka saja, ada juga Jenius Sejati yang menduduki peringkat ketiga, keempat dan kelima muncul.
“Heeh,, kau masih saja arogan dan sombong Racun, apa kau ingin membantu murid yang menyebabkan masalah,” dengus Jenius Sejati yang menduduki peringkat keempat.
“Biar ku beritahu kau, ini adalah masalah penetua yang mengurus murid bersalah, kebetulan juga aku membawa penetua penegak hukum di sini.” Sambung Murid peringkat keempat tersenyum tipis.
Tak lama penetua penegak hukum langsung maju dengan wajah datar. “Aku sudah mengetahui masalah antara Wang Fu dan Bai Gu, di sini yang salah adalah Bai Gu karena mengganggu dan memprovokasi Wang Fu, sehingga Wang Fu tersulut emosi hingga terjadinya pertarungan di antara mereka.” Ucap Penetua penegak hukum dengan tenang.
Tap tap..!!
Penetua penegak hukum langsung muncul di depan Wang Fu.
“Hemm..!! Melihat betapa bengisnya Bai Gu menyiksa Wang Fu hingga menyebabkan kaki dan tangannya cacat, walau bisa di sembuhkan, tapi butuh waktu lama, maka aku akan menetapkan jika Bai Gu menjadi tersangka tetap dan akan di hukum Kurungan kegelapan selama 10 tahun dengan hukuman cambuk 100 kali setiap hari.” Ucap penetua penegak hukum dengan nada tenang. Namun dalam hatinya ia kini tersenyum licik.
Mendengar itu, para murid Bangsawan langsung menyeringai kejam.
Sementara para murid miskin memasang wajah jelek lantaran paham ini akal-akalan Penetua Penegak Hukum yang lebih membela murid-murid Bangsawan. Itu sudah sering terjadi di masa lalu, mereka semua sudah tidak satu atau dua kali melihat kelakuan Penetua Penegak Hukum.
Wajah penetua penegak hukum langsung memerah saat namanya di panggil secara langsung, bahkan para penetua lain tidak ada yang berani memanggil namanya secara langsung karena menghormati dirinya.
“Lancang, kau sudah melanggar aturan sekte Racun, kau juga akan di kenakan hukum seratus tahun penjara kegelapan dengan hukuman 1000 kali cambuk setiap harinya,” raung Penetua Penegak Hukum menunjuk ke arah Racun.
Mendengar itu, semua murid Bangsawan semakin tertawa dan mencemoh Racun.
Namun Racun semakin tersenyum mendengar itu. “Heeh,, hukum apanya Le Gui? Apa kau mau membuat Hukum Sekte sendiri? Jika begitu kenapa kau tidak pergi membuat sekte mu sendiri,” ejek Racun.
“Perlu kau ketahui, semua masalah Hukum Sekte Pedang Cahaya sudah aku hafal, kau jangan menambah-nambahkan. Bahkan memanggil seorang penetua dengan namanya pun tidak ada hukumannya,” sambung Racun kini menatap tajam Penetua Penegak Hukum.
“Jadi apa? Apa kau ingin membuat aturan sendiri?” Ucap Racun kembali, lalu ia kembali menambahkan. “Seperti yang aku dengar dari Master dan Penetua Agung, para Penetua yang menambah-nambahkan hukuman semau mereka sendirilah yang harusnya di hukum, bahkan di keluarkan.”
__ADS_1
Wajah Penetua Penegak Hukum dan para penetua lainnya seketika menegang. Mereka semua saling melirik satu sama lain sambil berkomunikasi.
Tak lama mereka pun mengangguk serempak. “Tangkap mereka semua, siapapun yang berhasil menangkap Racun, Biksu dan Bai Gu bersama yang ingin menghalangi akan di hukum seberat-beratnya,” teriak Penetua Penegak Hukum.
Mendengar itu, wajah Racun dan Biksu seketika berubah gelap karena sadar jika penetua ini ingin membunuh mereka untuk menghilangkan bukti.
Sementara Bai Gu langsung memasang kuda-kudanya, ia terlihat tetap tenang tanpa merasa takut dengan murid-murid Bangsawan.
“Jangan takut, kita harus bersatu, jika kita bersatu maka mereka tidak akan bisa apa-apa dan juga para Penetua Pelantaran Inti, maupun Master Sekte pasti akan keluar jika mendengar suara pertarungan kita, jadi intinya kita harus berhasil bertahan sebelum mereka datang.” Teriak Bai Gu dengan suara di aliri energinya hingga suara menggema ke sebagian pelantaran dalam.
Wajah para Penentua seketika berubah gelap mendengar itu, hal itu mereka lupakan, benar apa yang di ucapkan oleh Bai Gu dan kini mereka berpikir harus cepat membereskan semuanya sebelum para Penetua Inti maupun Master Sekte keluar.
“Jangan ragu, kita tidak akan ketahuan jika berhasil dengan cepat membereskan mereka,” teriak Penetua penegak hukum.
Wuss wuss wuss..!!
Seketika semua penetua dalam mengelilingi para murid kalangan miskin yang membentuk lingkaran.
“Lumpuhkan mereka semua, jangan ragu untuk membunuh mereka jika perlu,” teriak Penetua Hukum menyeringai kejam ke arah Racun.
...
Tidak jauh dari semua murid maupun penetua Sekte Pedang Cahaya. Bai An duduk santai sambil menikmati araknya.
“Heeh,, semakin kacau saja,” gumam Bai An dengan nada santai. “Ini mengingatkanku dengan Du'er dan bocah yang gila akan bertarung itu yang selalu membuat kacau.” Sambung Bai An mengingat Duan Du dan Tu Long.
“Ngomong-ngomong apa kau yakin jika ada orang-orang bertopeng merah membawa saudaraku yang telah ku berikan ciri-cirinya itu?” Tanya Bai An melirik ke arah Master Sekte Pedang Cahaya yang terlihat babak belur.
Entah kapan Bai An bergerak menemui Master Sekte Pedang Cahaya hingga membuatnya babak belur, tapi yang pasti, itu terjadi sewaktu Bai Gu kembali bertarung melawan Wang Fu.
__ADS_1
“I..Iya Senior, saya mengenal jelas orang yang Senior cari, karena kami memang memiliki konflik dengannya, sebenarnya bukan kami, melainkan beberapa Penetua Inti,” ucap Master Sekte Pedang Cahaya kini mengelus-elus wajahnya yang bengkak.