
“Hei,, dimana hartaku cepat berikan, kata kakak kau yang menyimpannya.” Dengus Duan Du sambil menatap Tu Long dengan pandangan tidak puas.
Tu Long yang baru saja sampai langsung mendengus juga, dengan santai ia melambaikan tangannya lalu memberikan dua cincin penyimpanan milik Hun Ceng dan tetua Hun.
“Sisanya kau ambil sendiri,” kata Tu Long. “Saat masalah harta kau sungguh agresif, aku tahu semua harta ini kau akan berikan ke Han'er, agar Han'er menjadi senang setelah itu ia akan suka kepadamu, lalu lama kelamaan, ia akan mengikuti tingkah dan ajaranmu, itulah yang kau inginkan bukan?” Dengus Tu Long.
Tu Long tentu saja memahami maksud Duan Du, maka dari itu ia juga tak akan mau kalah dan ingin menyenangkan keponakannya juga.
Bai An yang melihat Duan Du dan Tu Long terlihat kini bermusuhan karena ingin menyenangkan putranya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
Tak lama setelah Duan Du dan Tu Long saling menatap satu sama lain, Tu Long langsung melirik ke arah Bai An.
“Tuan muda, kenapa kau tidak membunuh dua orang itu dan kelompoknya? Bukankah akan berbahaya jika ia pergi dan nanti kembali dengan kekuatan yang lebih mengerikan lagi? Walau itu bagus bagiku, tapi aku takut kita tidak bisa melawan kekuatan mereka nanti,” tanya Tu Long dengan nada serius.
“Benar,, aku juga ingin bertanya kenapa kakak tidak membunuh orang yang aku lawan tadi?” Tanya Duan Du ikut menatap ke arah Bai An dengan pandangan serius.
“Hmm,, kita bisa saja membunuh mereka, namun itu akan menghilangkan setengah energi kalian jika bertarung dengan mereka berdua, hal itu akan di manfaatkan oleh musuh yang lebih kuat, saat ini musuh kita sedang bersembunyi bersama kelompoknya menunggu kita melawan semua musuh terlebih dahulu, saat kita kehabihan energi dan lengah, mereka baru keluar untuk membunuh kita,” kata Bai An lalu melirik ke arah atas.
“Bukankah begitu Jendral Hu Yan Di,” kata Bai An tersenyum tipis.
Duan Du dan Tu Long membelalakkan mata mereka, mereka berdua tidak sadar jika selama ini telah di intai oleh orang-orang dari klan Hu.
Sementara Jendral Hu Yan Di kini sedikit terkejut saat dirinya di ketahui telah bersembunyi.
“Hahaha,, bocah, aku tak menyangka dengan hilangnya dirimu selama 11 tahun lebih ini kekuatanmu meningkat pesat, tapi saat ini aku hanya menonton saja, tidak berniat menyerangmu, menyerangmu sama saja dengan bunuh diri,” kata Jendral Hu Yan Di sambil tertawa.
Wuss..!!
Hu Yan Di muncul bersama 9 komandannya.
“Ho,, seandainya kekuatanmu tidak di segel oleh Hukum Semesta ini, aku yakin dari awal kau pasti akan menyerangku tanpa banyak alasan seperti ini,” kekeh Bai An, kilat mata Bai An terlihat sangat ingin membunuh Hu Yan Di.
__ADS_1
Jendral Hu Yan Di, yang melihat itu terkekeh kecil. “Hoho,, jika ingin membunuhku, aku akan menunggumu di Alam Semesta Inti ke 5, disana kita lihat apakah kau mampu,” kata Hu Yan Di melambaikan tangannya membuat Gerbang Dimensi antar Alam Semesta.
“Heh,, ingin pergi begitu saja setelah rencanamu di ketahui oleh kakak, sungguh Jendral tak tahu malu, terlebih lagi apa kau tak malu saat di selamatkan oleh penguasamu, apa kau benar-benar Jendral atau seorang pengecut,” kekeh Duan Du.
“Kau,,” sebelum seluruh badannya masuk ke gerbang Hu Yan Di menunjuk ke arah Duan Du dengan tatapan membunuh.
Saat Hu Yan Di ingin menarik tangannya.
Crash..!!
“Akhh,, sialan aku akan membunuhmu bocah,” teriak Hu Yan Di saat melihat tangannya terputus, lalu ia melirik ke arah 9 komandannya.
Jendral Hu Yan Di seketika sadar karena terbawa suasana ia tidak sadar jika 5 komandannya mati dan hanya tersisa 4.
“Bocah,, jika kau ke Alam Semesta yang lebih tinggi lagi,, aku akan memburu dan menyiksamu lebih dulu sebelum membawamu ke Penguasa,” teriak Hu Yan Di langsung masuk ke dalam Gerbang Dimensi sambil menarik sisa komandannya.
Tatap Hu Yan Di juga mengarah ke Tu Long, karena ia yang membunuh 5 komandannya sambil menikmati daging komandannya.
Blussh..!!
Gerbang Dimensi langsung lenyap.
Bai An saat ini tersenyum tipis sambil memegangi tangan kanan Jendral Hu Yan Di.
“Nikmatilah kemarahanmu Jendral Hu,” kekeh Bai An dalam benaknya karena saat ini Hu Yan Di tidak akan bisa menumbuhkan tangan kanannya lagi, dan secara otomatis kekuatan bertarungnya akan kurang.
Tap tap..!!
“Hehe,, kakak ucapanmu benar, jika memancing amarahnya, maka ia tidak sadar sekelilingnya,” kekeh Duan Du.
“Hmm,, ia bahkan tidak sadar saat aku membunuh lima dari mereka,” sambung Tu Long. “Tapi aku heran, mengapa Tuan muda menyuruhku hanya membunuh 5, kenapa tidak 8 dan hanya menyisakan Hu Hong Meng itu aja?” Tanya Tu Long bingung.
__ADS_1
“Heng,, apa kau pura-pura bodoh atau memang bodoh benaran sih paman Tu Long,” dengus Duan Du.
“Kau tahu tidak? Jika kau membunuh 8 dari 9 anggota klan Hu itu, aku yakin Jendral Hu itu akan curiga karena kau hanya menyisakan Hu Hong Meng saja, kenapa ia bisa curiga, tentu saja jarak yang paling dekat dirimu adalah Hu Hong Meng, lalu kenapa ia tidak di bunuh lebih dulu? Kenapa membunuh yang paling belakang lebih dulu kau bunuh, jendral Hu pasti akan berpikir seperti itu sehingga Hu Hong Meng pasti di tuduh pengkhianat.”
“Jika Hu Hong Meng di tangkap atau di bunuh, maka kita tidak bisa mendapat informasi apapun lagi.”
Duan Du menatap Tu Long dengan pandangan kesal. “Dasar otak batu.”
“Heng,, dari pada kau otak belut, sangat licin, dan penuh tipu daya. Tapi pada saat tertangkap,” Tu Long langsung menggerakkan gaya paling menyedihkan, saat membalas ejekan Duan Du.
Hal tersebut membuat Duan Du tidak terima, sehingga adu mulut pun terjadi di antara Duan Du dan Tu Long.
“Tak ku sangka, ternyata mereka sangat akur Tuan,” kata Jiu Long berdiri di samping Bai An.
Bai An mengangguk santai. “Tentu saja mereka sangat akur, saking akurnya aku ingin-”
1 jam telah berlalu.
Saat ini wajah Duan Du dan Tu Long terlihat babak belur.
Walau keduanya diam, tapi keduanya masih saling menatap satu sama lain seolah berkata jika ‘kau yang mulai duluan’
1 jam kembali berlalu.
Saat ini Duan Du dan Tu Long saling berpelukan dengan senyum yang sangat di paksakan, terlihat wajah mereka banyak sekali benjolan, jauh lebih parah dari sebelumnya.
Seetelah dirasa aman, Bai An kini melirik ke arah Jiu Long.
Jiu Long yang paham langsung menjadi serius.
Duan Du dan Tu Long yang melihat itu ikut memasang wajah serius.
__ADS_1
Mereka berempat kemudian duduk membentuk kotak yang saling berhadapan.