
Sementara di dalam tubuh Jhon Bonyong. Jiwa Jendral Mo Hung kini tak henti-hentinya bergetar.
“Di..Dia.”
Suara Jiwa dari Jendral Mo Hung terhenti karena tak bisa menahan getaran kebahagian yang tak pernah ia bayangkan.
Tanpa terasa air mata Jendral Mo Hung keluar saat ini. Perlu di ketahui jika ini kedua kalinya Jendral Mo Hung mengeluarkan air mata.
Pertama saat kematian orang yang ia anggap ibu karena telah mengasuhnya sepenuh hati, dan yang kedua, seperti yang terlihat saat ini.
“I..Ibu kau pasti ibu,” suara Jendral Mo Hung kembali terdengar, ia yakin jika wanita muda di depannya ini adalah ibunya.
Walau Jendral Mo Hung melihat sifat ibunya saat ini berbeda jauh dengan yang dulu.
Lalu pandangan Jendral Mo Hung melihat ke arah Bai An yang muncul bersama Duan Du, Bai Han dan Tu Long.
Saat ini Bai An tersenyum tipis ke arahnya, hal itu membuat dirinya sedikit tertekan.
“Kekuatan jiwa ini, ini adalah Inti Kekuatan jiwa yang telah membentuk tubuh,” gumam Jendral Mo Hung.
Walau begitu Jendral Mo Hung sama sekali tidak takut, karena Inti Jiwa Bai An, atau bisa di panggil Bai So saat ini masih lemah menurutnya.
Jiwanya juga saat ini telah membentuk wujud dan bergabung dengan dirinya. Jadi saat ini Jendral Mo Hung memiliki kelebihan di banding Bai An yang masih belum bergabung dengan Bai So.
Saat pandangan Jendral Mo Hung mengarah ke Bai An, ia tidak sadar jika Xie'er kini mendatanginya.
“Kau melihat kemana gentong,” dengus Xie'er yang masih belum menyadari ayahnya.
Tangan mungil Xie'er kembali mengarah ke wajah Jhon Bonyong.
Bom..!!
Tubuh Jhon Bonyong langsung tertanam ke tanah. Xie'er tak berhenti sampai di sana saja, ia kembali memukul Jhon Bonyong berkali-kali hingga wajahnya kini tak memiliki bentuk lagi.
Jiwa Jendral Mo Hung hanya diam saja, ia sama sekali tidak melawan karena saat ini sedang bahagia bisa bertemu orang yang paling berjasa besar dalam hidupnya.
Mo Hung juga tidak merasakan sakit, karena ia hanya menetap sementara di tubuh Jhon Bonyong.
Tap tap..!!
Duan Du, Tu Long dan Bai Han seketika bergidik ngeri saat wajah Xie'er di penuhi oleh darah Jhon Bonyong, sementara Rian dan Husen sudah pingsan lebih dulu saat melihat kesadisan Xie'er.
__ADS_1
“Ehem,, Xie'er ayah kenapa bisa melakukan hal seperti ini,” ucap Bai An dengan lembut, pandangan Bai An tidak pernah lepas dari Jiwa Jendral Mo Hung yang masih bersemayang di dalam tubuh Jhon Bonyong.
Xie'er yang mendengar suara familiar langsung merubah wajahnya yang galak menjadi senyum bahagia.
Dengan cepat ia membalikkan badan lalu menerjang ke arah ayahnya.
Wuuss..!!
Bruk..!!
“Ayah, dia ini sangat jahat, bahkan ia membuli Xie'er tadi, makanya Xie'er menghajarnya. Tapi tenang saja, ia tidak mati kok,” ucap Xie'er memamerkan giginya.
Mo Liang Liu dan Mo Denshan langsung bergumam. “Membuli apanya, saat kau datang, bahkan kau tidak memberinya peluang untuk bernafas sekalipun.”
Keduanya hanya bisa mengutuk Xie'er dalam hati, mereka juga tidak menyangka Xie'er pintar dalam berbohong.
Sementara Bai Chu Ye hanya diam saja, ia yakin jika ayahnya tahu Xie'er berbohong. Tapi Bai An tentu tidak ingin membiarkan putrinya sedih dengan memarahinya.
Dengan santai Bai An mengusap rambut putrinya. “Uhh,, Xie'er ayah sangat bau,” ucap Bai An sambil menutup hidungnya.
Hmm..!!
“Ayah, ini gara-gara dia, jika bukan karena dia Xie'er tidak akan bau darah,” Xie'er langsung menyalahkan Jhon Bonyong yang kini dalam kondisi setengah mati.
“Iya dia yang salah Xie'er yang benar, jadi Xie'er mandi dulu sana, ibu juga akan sebentar lagi sampai.” Ucap Bai An membela putrinya.
Tap tap..!!
Tak lama Mu Xia'er bersama Ling Dong muncul.
Wajah Mu Xia'er terlihat ganas, pandangannya mengarah ke Mo Liang Liu, Mo Denshan, Bai Chu Ye, dan terahir ia melirik ke arah putrinya.
Deg deg..!!
“Xi..Xie'er apa yang terjadi kepadamu nak,” seketika wajah ganas Mu Xia'er berubah khawatir.
“Dia baik-baik saja, ini hanya darah orang itu, jadi saat ini aku menyuruhnya mandi.” Ucap Bai An secara langsung agar Mu Xia'er tidak terlalu khawatir.
Mu Xia'er seketika menjadi tenang, dengan cepat ia menarik Xie'er ke pelukannya.
Tanpa melihat siapapun ia pergi membawa putrinya pergi.
__ADS_1
Suasana yang tadinya tegang kini menjadi lebih hidup, Duan Du dan Tu Long menghela nafas lega, Mo Liang Liu, Mo Denshan langsung mengusap keringat mereka.
Sementara Bai Han dan Bai Chu Ye hanya santai saja.
“Kalian berdua. Hmm,, apa dia yang kalian maksud?” Tanya Bai An melirik Mo Liang Liu dan Mo Denshan.
Kedua Jendral Muda itu seketika menjadi tegang, jika mereka mengakui, mereka takut akan terjadi pertarungan dahsyat.
“Benar, sepertinya kedua keponakanku ini telah bercerita banyak.” Bukan kedua Jendral muda yang menjawab, melainkan Jendral Mo Hung.
Suara Jendral Mo Hung terdengar berat, ia kini mengambil alih jiwa Jhon Bonyong.
Bai An melirik Jendral Mo Hung dengan santai. Sementara Duan Du, Tu Long, Bai Han dan Bai Chu Ye langsung waspada.
“Hmm,, jika di lihat dari reaksimu tadi saat putriku memukul orang ini, kau sama sekali tidak melawan. Dan aku juga ingin bertanya mengapa kau ingin menemuiku?” Tanya Bai An melalui telepati.
Jendral Mo Hung yang sadar ini masalah pribadi langsung tersenyum tulus.
“Mungkin jika aku menceritakannya kau tidak akan percaya, tapi yakinlah aku mencarimu hanya untuk menjadi bawahanmu, bila perlu kau boleh menandai jiwaku atau memperbudak-ku,” ucap Jendral Mo Hung dengan nada serius.
“Hoho,, sungguh unik, aku suka sikapmu. Tapi aku tidak membutuhkan bawahan lagi,” jawab Bai An dengan santai.
Jendral Mo Hung mengerutkan keningnya, menurutnya. Dengan adanya dirinya yang memiliki kekuatan cukup untuk menjaga mereka, mengapa Bai An menolaknya mentah-mentah, ia juga heran mengapa Bai An tidak penasaran dengan ucapannya tadi. Ia mengira Bai An akan bertanya misal tujuannya datang kesini.
“Pergilah, bawa juga kedua keponakanmu ini,” ucap Bai An langsung membalikkan badannya.
“Tu..Tunggu dulu Tuan.”
Bruk..!!
Jendral Mo Hung langsung menjatuhkan lututnya ke tanah, ia kini ingin bersujud. Namun sebuah energi hangat menahannya.
“Aku tahu kau sepertinya sangat mengenal putrinya, dari pandanganmu saat pertama kali melihatnya, ia seolah sangat berharga bagimu. Aku hanya cukup bingung. Mengapa semua keluargaku di Reinkarnasi termasuk diriku. Seolah aku mengulangi hidup masa lalu bersama orang yang sama.”
Bai An seketika mengeluarkan isi hatinya saat ini.
“Huuff,, memang takdir tidak bisa di tebak. Tapi satu hal yang pasti, takdirku adalah jalan ku sendiri, bukan di atur oleh orang lain, walaupun itu oleh diriku di masa lalu sekalipun,” sambung Bai An sambil melirik ke semua keluarganya.
Sementara semuanya hanya diam saat mendengar Bai An kini bicara tanpa melalui telepati lagi.
Terlintas di mata mereka juga memiliki tekad kuat untuk melawan takdir mereka sendiri tanpa di atur oleh orang lain.
__ADS_1