
“Hei,, apa kalian tahu siapa kelinci gila itu? Dan apa ucapannya ini benar atau hanya angin lalu?”
Bai Tan dan Bai So terdiam sesaat, ia diam bukan karena pertanyaan Bai An, melainkan mendengar suara yang baru saja menggema di telinga mereka berdua.
Setelah tersadar, Bai Tan dan Bai So melirik ke arah Bai An.
“Kau akan tahu siapa dia suatu saat nanti, yang pasti dia adalah sosok yang mengerikan di Dimensi Pusat,” ucap Bai So dengan datar.
Bai An mengerutkan keningnya, banyak sekali yang kini ia simpulkan setelah mendapat penjelasan dari Bai So dan celotehan dari kelinci yang ia anggap gila.
Kepala Bai An terasa akan pecah saat menyimpulkan semua yang terkait dengan dirinya.
“Aah,, bikin pusing saja, dari pada memikirkan yang belum pasti di masa depan, lebih baik aku memikirkan yang saat ini,” gumam Bai An dalam hati.
Kini Bai An mengalihkan pandangan ke arah Bai Tan dan Bai So.
“Aku tahu apa yang ingin kau ucapkan, kami tidak bisa keluar karena telah di kurung olehnya, untuk lubang tempatmu teejatuh itu adalah ulahnya agar kau dan dia bertemu.” Ucap Bai Tan yang paham maksud Bai An.
“Jangan bertanya lagi, jalani dan cari tahu sendiri,” tambah Bai Tan dengan datar.
Dahi Bai An berkerut. “Kenapa lama-lama kau mirip dengannya,” dengus Bai An menunjuk Bai So.
Dengan kesal Bai An merobek ruang, tak lama ia muncul di tempat dimana ia terjatuh.
“Hmm..!!”
Bai An seketika heran saat ini, pandangannya menjadi jelas walau kabut masih ada, ia bisa melihat semua yang ada di.seluruh hutan kabut ini.
Tak lama, tatapan Bai An mengarah ke putrinya kini menyeret Tu Long yang pingsan kehabisan energi.
***
“Hemm,, kenapa juga paman Tu ikut masuk kesini sih,” ucap Xie'er cemberut bercampur kesal.
Layaknya hewan buruan yang baru tertangkap, kini Tu Long di seret menggunakan benang energi.
Terlihat bekas tubuh Tu Long saat di seret berbekas, tanda ia sangatlah berat, hal itu membuat Xie'er kesal, ia juga terus menerus mengalirkan energinya yang tak seberapa ke benang energi yang ia ciptakan agar tidak putus.
“Ayolah paman, bangun woe. Jangan buat Xie'er semakin marah.”
Xie'er saat ini berhenti, ia memandang ke arah Tu Long sambil bergaya, kedua tangannya berpangku ke pinggang, kaki kirinya bergerak-gerak layaknya ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya.
Gaya ini sama persis dengan gaya Mu Xia'er, memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, itulah kata pepatah jika kelakuan ayah dan ibu pasti ada kemiripan dengan keturunan mereka.
__ADS_1
Tap tap..!!
Bai An yang baru sampai kini menggeleng saat melihat kelakuan putri kecilnya ini.
Di-samping itu, ia juga cukup heran, heran karena putrinya sama sekali tidak berpengaruh dengan kabut di sekelilingnya. Malah kabut ini seolah senang kepada putrinya.
Buktinya terlihat jelas di mata Bai An, di sekeliling Xie'er kabutnya jauh lebih padat.
“Ehem,, Xie'er kenapa kau memarahi paman mu yang sedang pingsan, itu tidak baik loh,” ucap Bai An dengan nada hangat.
Sontak Xie'er menoleh ke asal suara.
“Ayah,” tanpa menunggu lama, Xie'er langsung menerjang ke arah ayahnya.
Bruk..!!
Kepala Xie'er kini tertanam di pundak kiri Bai An, ia seketika menangis tersendu-sendu.
“Ayah kemana saja kau selama ini? Xie'er sangat kesepian tahu,” seketika Xie'er langsung berceloteh banyak, ia juga mengeluh tentang Tu Long yang ia seret selama berbulan-bulan lamanya.
Bai An cukup terkejut saat mendengar itu, kini Bai An mengendong Xie'er, pandangan Bai An mengarah ke Tu Long.
“Kenapa dia cepat sekali pingsan, terlebih cepat sekali kehabisan energi?” Gumam Bai An yang kini menyentuh tubuh Tu Long.
Satu hari berlalu, tanda-tanda Tu Long akan sadar sudah terlihat dari jari-jarinya yang kini bergerak.
Urgh..!!
Tu Long merasakan kepalanya berputar-putar saat sadar, ia juga merasa nyeri di setiap tubuhnya.
Pandangan Tu Long sedikit kabur, ia melihat ke segala arah hingga ia memandang ke arah Bai An dan Xie'er.
Hehe..!!
Hal yang Tu Long tampilkan pertama kali adalah senyum lucu, ia sadar dulu sebelum pingsan, ia di tolong oleh Xie'er. Itulah yang membuat ia tertawa lucu.
“Hehe,, hehe,, kepalamu itu hehe,” dengus Xie'er kesal.
Tu Long hanya bisa menggaruk kepalanya saat di marahi oleh Xie'er. “Kenapa saat ini aku merasa seolah di marahi oleh Nyonya yah?” Tentu saja ia heran, dari bayi hingga saat ini Xie'er tidak pernah seperti saat ini.
“Ehem,, sudah-sudah, Xie'er lebih baik tidur saja, Ayah tahu Xie'er ngantuk.”
Xie'er mengangguk, wajahnya yang awalnya kesal menjadi lunak.
__ADS_1
Dengan segera Xie'er menanamkan kembali kepalanya ke pundak Bai An.
Kini Bai An melirik Tu Long sambil bertanya mengapa mereka berdua ada di sini.
Saat mendengar jawaban Tu Long, ia paham jika telah membuat semua khawatir.
“Hmm,, lebih baik kau kembali dulu, sampaikan saja pesanku jika aku tidak apa-apa bersama Xie'er, berikan juga pesan ini kepada kedua istri dan putraku,” ucap Bai An memberikan sebuah token penyimpan pesan.
Tu Long terdiam, ia merasa enggan dan sedikit merinding jika kembali.
Melihat hal tersebut, Bai An kembali berkata. “Berikan saja pesan ini kepada mereka, mereka pasti tidak akan marah.”
Mendengar itu, sebuah angin segar Tu Long rasakan. “Baiklah Tuan muda, lebih baik kau secepatnya kembali, karena kita di sini telah bertahun-tahun,” ucap Tu Long sambil mengambil token yang masih ada di tangan Bai An.
Bai An tersenyum kecil saat Tu Long berkata mereka di telah bertahun-tahun lamanya.
“Hmm,, baiklah aku pasti akan kembali secepatnya,” jawab Bai An, pandangan Bai An teralih ke arah timur. “Karena pusatnya saat ini sudah dekat, jadi perkiraanku, tidak sampai 1 bulan aku kembali,” sambung Bai An.
Tu Long yang mendengar itu bersemangat, ia langsung membalikkan badan lalu berjalan ke arah tanda garis panjang yang ia yakini itu bekas tubuhnya.
Wuss..!!
Satu hari berlalu setelah kepergian Tu Long.
Saat ini Bai An melesat ke arah timur, ia terlihat sudah bisa menggunakan energinya untuk terbang.
Walau begitu, saat ini ia hanya berlari cepat untuk menghemat energi.
Dengan adanya Xie'er di pangkuannya, lebih memudahkan Bai An untuk bergerak.
Tap Tap..!!
“Hmm..!! Sebuah Istana,” gumam Bai An.
Istana yang Bai An lihat terlihat kecil dan unik.
“Apa ini yang dinamakan istana peri?” Tanya Bai An ke arah Bai Tan.
Bai Tan yang baru keluar hanya mengangguk santai.
“Di dalam sana ada Inti Energi Semesta yang masih tersegel, anehnya lagi inti ini seolah menunggu kedatanganmu sehingga ia tidak berepolusi menjadi bentuk manusia seperti diriku,” ucap Bai Tan.
“Tunggu apa lagi, ayo kita kesana,” ajak Bai An dengan penuh semangat.
__ADS_1