
Mata Jendral Hu Yan Di langsung melotot. “Tidak, ini tidak mungkin.” Teriak Jendral Hu Yan Di.
Saat ini Jendral Hu Yan Di melihat Penetua Hong berdiri tanpa luka di samping Penetua Bisu.
“Hehe,, kau terlalu meremehkan kekuatan kami Jendral Hu,” kekeh Penetua Hong.
Mendengar itu, Jendral Hu Yan Di langsung tersadar jika Penetua Bisu ahli dalam membuat tubuh tiruan yang mirip dengan kekuatan terlihat sama persis, namun ia harus mengorbankan nyawa seseorang.
“Heng,, aku memang terlalu meremehkan kemampuan kalian, karena itu memang benar jika kemampuan kalian itu hanya semut dimataku,” dengus Jendral Hu Yan Di.
Wuss..!!
Jendral Hu Yan Di kini muncul, namun ia muncul dalam jumlah 5 dengan kekuatan sama persis dengan para penetua.
Keempat orang yang mirip Jendral Hu Yan Di adalah perubahan dari Elemen Apinya, ia menggunakan sedikit inti jiwanya di sertai elemen api untuk membentuk mereka.
“Hahaha,, aku telah mempelajari cara ini dengan waktu yang sangat lama, jadi matilah, jangan kecewakan aku,” teriak Jendral Hu Yan Di di sertai tawa.
Blush..!!
Kelima Jendral Hu Yan Di menyerang secara bersamaan saat berada di depan 5 Penetua.
Lima Penetua hanya mendengus, Penetua Pedang langsung memunculkan jutaan pedang yang di selimuti oleh kegelapan.
Namun kini ada sedikit perbedaan, ada ribuan orang yang mirip dengan Penetua Bisu sedang memegang Pedang yang telah di selimuti oleh Hukum Kegelapan.
Di setiap tubuh Penetua Bisu juga di lindungi oleh Hukum Formasi.
Ini adalah gabungan kekuatan dari keempat Penetua.
Sementara Penetua Hong menentukan dimana kelemahan musuh, Penetua Hong memiliki mata yang tajam, ia tahu dimana kelemahan keempat tubuh api milik Jendral Hu Yan Di.
“Di kepalanya, hancurkan kepalanya, karena kelemahannya ada disana dan kepalanya juga yang paling rapuh.” Teriak Penetua Hong di sertai senyum menyeringai ke arah Jendral Hu yang asli.
Jendral Hu Yan Di hanya mendengus, karena apa yang di ucapkan Penetua Hong adalah kebenaran, maka dari itu ia sangat ingin membunuh Penetua Hong terlebih dahulu.
Melihat keempat Tubuh apinya di serbu, Jendral Hu Yan Di diam-diam menghilang.
Wuss..!!
Jendral Hu Yan Di muncul di belakang Penetua Hong.
“Matilah,” teriak Jendral Hu Yan Di.
Tinju Jendral Hu Yan Di langsung mengarah ke tungkuk kepala belakang Penetua Hong.
__ADS_1
Bom..!!
Ledakan kembali memekak telingai.
Kini Jendral Hu Yan Di terlihat membelalakkan matanya saat melihat sebuah bayangan muncul sammbil menahan tinjunya.
“Ka.. Kau,” teriak Jendral Hu Yan Di langsung menarik tangan lalu mundur.
Saat sudah mundur, amarah Jendral Hu kini tak tertahankan lagi, karena tangan palsunya tidak dapat ia ambil kembali, ia kini hanya bisa menatap dengan penuh amarah ke bayangan yang muncul.
“Heng,, aku tak menduga wakil Master Sekte akan turun langsung untuk membunuhku,” dengus Jendral Hu Yan Di.
Setelah itu ia tiba-tiba tersenyum tipis. “Tapi kematian kalian tak lama lagi akan tiba,” kekeh Jendral Hu Yan Di.
***
Di tempat Bai An.
Bai An saat ini sudah berkumpul bersama yang lainnya, tapi ia menyuruh semua orang masuk ke dalam dunia jiwa dan hanya meninggal Bai An dan Ling Yenrou.
“Hmm,, sedikit lagi Penguasa ke 4, maka kekuatanku akan kembali sampai 75% dan itu cukup untuk membunuh mereka semua,” ucap Ling Yenrou dengan nada serius.
“Hmm,, tapi aku yakin kau pasti membutuhkan usaha, dan aku tak ingin terlalu lama di sini, jadi pulihkan saja kekuatanmu sampai ke puncaknya,” sambung Bai An terus menerus mengalirkan energinya ke tubuh Ling Yenrou.
Tentu saja mereka tak akan sadar, karena mereka saat ini sedang fokus bertarung.
Bai An tentu sudah memikirkan ini dalam beberapa hari jika musuh yang mereka hadapi kuat, maka Bai An mengambil resiko untuk mengadu domba mereka lalu ia menyerap energi dari hasil pertarungan mereka.
Bai An tak tahu sudah berapa lama ia mengalirkan energi yang ia serap ke tubuh Ling Yenrou.
Walau Bai An terus menerus mendengar suara pertarungan dan mengguncang tempat mereka, ia sama sekali tidak tertanggu.
2 hari telah berlalu.
“Sudah waktunya Penguasa ke 4,” ucap Ling Yenrou tiba-tiba membuka matanya.
“Hmm..!! Apakah sudah ke puncaknya?” Tanya Bai An menaikkan sebelah alisnya.
Ling Yenrou menggeleng. “Sudah 85% tapi ini sudah cukup, aku mampu membunuh mereka dengan lambaian tangan,” jawab Ling Yenrou dengan nada serius.
Mendengar itu, Bai An mengangguk-angguk sambil menaikkan sudut bibirnya.
“Hehe,, mungkin sudah waktunya,” kekeh Bai An menyeringai dengan kejam.
Lalu pandangan Bai An mengarah ke arah Jendral Hu Yan Di yang kini di penuhi luka karena serangan Wakil Master Sekte.
__ADS_1
“Ayo,” ajak Bai An mulai melayang.
Ling Yenrou langsung menjentikkan jarinya, seketika formasi yang mengurung mereka langsung hancur.
Wuss..!!
Tap tap..!!
“Hehe,, akhirnya kematian kalian sudah tiba,” kekeh Jendral Hu Yan Di langsung merobek kulit wajahnya.
Wuss..!!
Wajah Jendral Hu Yan Di seketika berubah menjadi wajah Komandan Hu Hong Meng.
Tanpa banyak bicara Komandan Hu Hong Meng mundur hingga ke tempat Bai An berdiri di udara.
Hu Hong Meng langsung membungkuk. “Tugasku sudah selesai untuk menahan mereka Tuan muda,” ucap Komandan Hu Hong Meng.
“Hmm,, terimakasih Komandan Meng, aku tak menduga jika adik iparku mempunyai bawahan sekuat dirimu yang ingin menjadi mata-mata, terlebih mau mengikuti perintahku,” ucap Bai An dengan nada santai.
Hu Hong Meng menggeleng. “Ini sudah tugasku, aku adalah salah satu orang yang mengasuh Tuan Putri dari kecil, ia sudah ku anggap sebagai cucu ku, dan kau adalah suaminya, jadi sudah tugasku untuk membantu menantu cucuku,” kata Hu Hong Meng dengan nada serius.
Bai An mengangguk santai, setelah itu ia melirik ke arah Wakil Master dan lima penetua yang kini di penuhi oleh keterkejutan bercampur amarah.
Bagaimana mereka tidak marah, mereka di abaikan oleh Bai An dan yang lainnya.
Terlebih mereka menganggap mereka di anggap remeh.
“Nak,, seandainya Master Sekte tidak menginginkanmu, aku sudah mencincangmu,” raung Wakil Master Sekte di penuhi oleh amarah.
“Eeh,, apakah benar begitu? Jika benar, maka aku berterimakasih kalau kau tidak membunuhku,” jawab Bai An sambil tersenyum tipis.
“Aku sudah tidak tahan Wakil Master, aku akan memotong kakinya jika tidak boleh di bunuh,” kata Penetua Pedang langsung memunculkan pedang di depan kaki Bai An.
Bai An yang melihat itu hanya diam tanpa memasang ekspresi apapun.
Hu Hong Meng yang melihat itu menjadi tegang, saat ia ingin menolong Bai An.
Pedang yang Penetua Pedang munculkan lnagsung menebas kaki Bai An.
Crash..!!
Argghh..!!
Terdengar suara teriakan kesakitan, tapi yang berteriak bukanlah Bai An. Melainkan?
__ADS_1