Lahirnya Raja Para Dewa 2

Lahirnya Raja Para Dewa 2
Tidak Di Anggap Hanya Karena Hasutan Orang


__ADS_3

“Tenanglah ini aku, biarkan aku memelukmu sedikit lebih lama Qia'er,” bisik Bai An.


Tubuh Hu Qia semakin bergetar hebat, bukan bergetar karena takut, melainkan bahagia.


Apa yang Hu Qia impikan selama ini kini menjadi kenyataan.


“Ge.. Gege, apakah ini kau?” Tanya Hu Qia dengan nada bergetar.


“Hmm,, ini aku An Gege,” jawab Bai An semakin erat memeluk Hu Qia.


Hu Qia yang mendengar itu seketika menangis bahagia, tapi beberapa saat kemudian ia mengusap air matanya, lalu melepaskan pelukan Bai An.


Tanpa menunggu waktu lama, Hu Qia membalikkan badannya.


Bomm..!!


Tubuh Bai An langsung terlempar hingga menabrak dinding transparan, dinding tersebut di buat oleh Bai So agar orang-orang yang berada di luar kamar Hu Qia tidak dapat merasakan kehadiran Bai An.


“Ugrrhh, kenapa kau malah memukul ku Qia'er?” Tanya Bai An pura-pura tidak mengerti alasan Hu Qia memukulnya.


“Heng,, kemana saja kau selama ini hah?” Bentak Hu Qia pura-pura marah dan terlihat kuat agar Bai An tidak tahu penderitaannya selama ini.


“Tentu saja meningkatkan kekuatan dan mencari cara kesini agar bisa membawamu,” jawab Bai An pura-pura polos.


Mendengar itu, Hu Qia langsung berdecak pinggang.


“Aku tidak percaya, aku merasa kau pasti pergi mencari wanita lagi?” Ucap Hu Qia kini menatap Bai An dengan tatapan menyelidik, karena instingnya mengatakan jika bukan ia dan Mu Xia'er saja yang menjadi wanitanya.


Dan dugaannya ternyata benar, terlihat dari wajah Bai An yang sengaja mengalihkan pandangannya dengan wajah sedikit ambigu.


“Heng,, laki-laki bajing*n kenapa aku bisa jatuh cinta kepada laki-laki sepertimu,” dengus Hu Qia langsung mengalihkan pandangannya pura-pura semakin marah.


Bai An tersenyum kecut.


“Huuff,, insting wanita memang mengerikan jika terkait masalah pasangannya,” gumam Bai An dalam hati.


Setelah bergumam, Bai An kembali berjalan ke arah Hu Qia dan memeluknya.


“Aku tahu kau pura-pura terlihat kuat dan mencoba menutupi semua masalahmu,” bisik Bai An.


“Tidak ada yang bisa kau tutupi dari ku Qia'er, termasuk penderitaan mu selama ini,” sambung Bai An.


Tapi nada suara Bai An sedikit berbeda. Tentu saja Hu Qia dapat merasakannya.


“An Gege,, jangan, aku mohon.” Ucap Hu Qia dengan nada sedih. “Kita pergi saja dari sini, berkumpul bersama keluargamu dan memulai hidup baru bersama mereka di tempat yang jauh,” bisik Hu Qia yang kini sambil memeluk erat Bai An agar Bai An meredakan amarahnya.


“Kau mungkin tidak tahu Qia'er,” ucap Bai An terdiam sesaat.


“Selama ini kau dan adikmu hanyalah sebuah boneka untuk ayahmu, dan ia bukan lagi ayahmu.”

__ADS_1


“Bagaimana mungkin ia menyiksa putrinya sendiri selama ini dan juga, bagaimana mungkin ia membiarkan putranya di tangkap oleh klan yang akan di jodohkan denganmu yaitu Klan Ho,” sambung Bai An.


Saat Bai An ingin bicara lagi.


Plaakk..!!


Terdengar suara tamparan keras.


“Cukup An Gege,, kau tidak tahu apa-apa masalah keluargaku, dan aku tak ingin kau ikut campur,” ucap Hu Qia kini mulai menangis tersendu-sendu.


“Ohh,, apakah orang yang di dalam tubuhmu telah memberitahumu, mengapa ayahmu berubah dan aku yakin kau juga tahu jika ibu-”


“Cukup, aku bilang cukup, lebih baik kau pergi saja sana, kau tidak akan mengerti masalah keluargaku, kau hanyalah orang jauh yang tak mengerti apa-apa.”


Terdengar teriakan Hu Qia memotong ucapan Bai An.


Bai An hanya diam saja.


“Baiklah jika kau menyuruh aku untuk tidak ikut campur masalah keluargamu,” ucap Bai An kini terdengar acuh.


“Jangan salahkan aku jika adik mu mati karena keegoisan mu,” Bai An kini berniat pergi meninggalkan Hu Qia.


Tentu saja Bai An kini mulai menampakkan sifat aslinya yang acuh tak acuh, apalagi kepada orang yang kini tidak menganggapnya sebagai suami lagi.


Untuk apa ia berjuang kesini jika orang yang ia perjuangkan tidak menghargai perjuangannya dan kini tidak menganggapnya ada.


“Apa maksudmu jika adik ku mati hah,” teriak Hu Qia langsung mengeluarkan pedangnya.


Bai An terdiam sambil melirik ke arah Hu Qia.


Tanpa basa basi Bai An menghilang lalu menampar wajah Hu Qia.


Plakk..!!


“Buka mata mu,” ucap Bai An dengan nada dingin.


Seketika Bai An melambaikan tangannya.


Muncul sebuah proyeksi gambar Duan Du, Bai Han dan Tu Long sedang mengejar Ho Ming Chun.


Lalu gambar pada proyeksi tersebut berpindah ke sebuah meteor tempat Hu Liu Chen di rantai dan di salip.


Terlihat jika Hu Liu Chen mengalami luka mengerikan dan tak butuh waktu lama baginya untuk mati.


Mata Hu Qia melebar saat melihat kondisi adiknya.


Bukannya sedih, Hu Qia malah menatap Bai An dengan tatapan tajam.


“Aku yakin ini pasti perbuatanmu, aku tahu kau marah kepada ayahku sehingga me-”

__ADS_1


Plakk..!!


“Aku menyesal telah memperjuangkanmu jika ini yang aku dapat, jika aku tidak memikirkan Han'er, mungkin aku sudah membunuhmu,” ucap Bai An dengan nada dingin.


“Aku lebih senang jika kau bukan ibunya,” dengus Bai An lalu menghilang.


Sebelum menghilang, Bai An sempat berkata jika ia sangat menyesal telah mengenal wanita egois seperti Hu Qia.


Bai An juga menyuruh Hu Qia merenungkan keegoisannya.


***


Di tempat Duan Du yang kini mengejar Ho Ming Chun dengan santai.


Tiba-tiba Duan Du menghentikan langkahnya.


Tu Long yang asik mengejar hampir menabrak Duan Du, beruntung ia dengan cepat menggunakan hukum angin memiringkan badannya.


Wuss..!!


“Bocah sialan, apa kau sengaja hah,” dengus Tu Long kini berteriak kesal.


Namun Duan Du hanya diam karena fokus mendengar pesan telepati dari Bai An.


“Huuff,, mengapa bisa begini,” gumam Duan Du terdengar menghela nafas.


Bai Han yang tertidur langsung membuka matanya, ia merasakan ada yang tidak beres dari ucapan Duan Du.


Bai Han juga merasakan jika jantungnya kini berdetak lebih cepat dari biasanya.


“Apa yang terjadi? Apa ayah telah bertemu ibu atau ia gagal menyelamatkan ibu,” kini Bai Han langsung membanjiri Duan Du banyak pertanyaan.


Sementara Tu Long yang mendengar itu langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia terlihat beberapa kali melihat Ho Ming Chun dan ingin mengatakan sesuatu, tapi ia urungkan.


Duan Du yang di banjiri pertanyaan oleh keponakannya kini menatap Bai Han dengan tatapan rumit.


“Aku yakin pikiranmu telah dewasa Han'er, jadi berusahalah untuk tenang,” ucap Duan Du.


Bai Han seketika gugup saat mendengar ucapan Duan Du, dengan patuh ia mengangguk mencoba untuk bersikap dewasa.


Tanpa menunggu waktu lama Duan Du langsung mengirimkan pesan yang telah Bai An berikan kepadanya.


Beberapa menit kemudian.


Bai Han langsung mengepalkan tangannya erat-erat.


“Aku yakin ayah tahu jika ibu telah di hasut oleh seseorang, tapi mengapa ayah diam saja,” ucap Bai Han kini dengan nada tidak terima.


“Apa ayah ingin aku yang pergi agar ibu sadar jika ia selama ini salah dan terkena hasutan orang,” gumam Bai Han kini langsung mencoba berpikir tenang.

__ADS_1


__ADS_2