
“Cinta itu memang sangat menyakitkan jika salah langkah dalam memilih, bahkan banyak yang memilih bunuh diri di saat bahagia lalu di khianati,” sambung Duan Du bergumam dalam hati.
Duan Du tentu tidak terlalu percaya akan semua ekspresi yang Pelayan Sia Yun perlihatkan, itu karena ia pun bisa bersandiwara seperti itu.
Malam terasa panjang bagi Duan Du dan Pelayan Sia Yun, terlihat taman indah di hiasi oleh danau tempat mereka berada semakin ramai oleh para pasangan yang ingin menikmati malam bersama.
Walau terlihat canggung, sesekali Pelayan Sia Yun mengucap sepatah dua patah kata dan Duan Du tentu memainkan ritmenya dalam hal mengolah kata agar tidak terlalu hening dan ambigu.
“Hemm..!! Nona Yun, apa kau tidak kembali?” Tanya Duan Du. “Ini sudah larut malam, aku takut jika kedua orang tua mu khawatir karena aku membawamu terlalu lama,” sambung Duan Du dengan di hiasi oleh senyum hangat.
“I..Itu itu, aku sudah tidak mempunyai orang tua Tuan muda Duan,” ucap Pelayan Sia Yun menundukkan kepalanya.
Duan Du pun spontan mengulurkan tangan kanannya lalu menarik kepala Pelayan Sia Yun dan menaruhnya di pundaknya.
“Maafkan aku jika membuatmu mengingat kenangan pahit, bersandarlah di pundak ku, anggap aku sebagai orang yang kau sayangi seperti kau menyayangi orang tua mu,” ucap Duan Du yang dapat melihat ekspresi Pelayan Sia Yun yang tertekan.
Hem..!!
Pelayan Sia Yun hanya mengangguk-angguk tanpa suara, tanpa terasa air matanya menetes.
“Maafkan aku Tuan muda Duan, sebenarnya aku adalah musuhmu, tapi entah kenapa aku merasa nyaman bersama mu, saat pertama kali kita bertemu aku seolah melihat kehangatan kasih sayang darimu, dari sana aku penasaran sehingga diam-diam mendatangimu tanpa di ketahui oleh rekan ku,” gumam Pelayan Sia Yun dalam hati.
“Menangislah, jangan ragu untuk meluapkan semua isi hatimu, itu akan membuatmu akan jauh lebih baik jika menumpahkan semua yang tersimpan selama ini,” ucap Duan Du mengusap rambut Pelayan Sia Yun yang merasakan kenyamanan lebih, hingga ia tertidur.
...
Tidak jauh dari tempat Duan Du dan Pelayan Sia Yun. Terlihat beberapa orang yang kini mengepalkan erat tangan mereka.
“Sialan wanita itu, aku saja tidak pernah di berikan kasih sayang melebihi itu oleh Guru,” ucap Master Xi Juan terdengar cemburu.
“Hemm..!! Ingin rasanya aku kesana lalu memberitahu guru jika dia adalah musuh,” sambung Xi Luan dengan nada dingin.
“Aku tak menduga jika betapa bodohnya Tuan Duan, bisa-bisanya dia dengan mudahnya di tipu,” ucap Wakil Master Li Hixie mengepalkan erat tangannya. Tentunya ia juga cemburu karena belum pernah ada laki-laki yang melakukan hal yang Duan Du lakukan itu.
Wakil Master Li Hixie juga sedikit marah karena merasa betapa bodohnya Duan Du.
Saat ketiganya mengintip, Bai An yang melihat ketiganya hanya bisa menggelengkan kepala. “Apa mereka benar-benar Master Sekte, Wakil dan Penetua Agung? Kenapa sifat mereka seperti anak kecil,” gumam Bai An sedikit heran.
“Ehem,, apa yang kalian lakukan di sini? Apa kalian mengintip orang berkencan,” sapa Bai An dengan suara tenang.
__ADS_1
Wuah..!!
Ketiganya langsung terkejut lantaran terlalu fokus melihat Duan Du dan Pelayan Sia Yun.
“A..Apa yang anda lakukan di sini Tuan Bai?” Tanya ketiganya serempak dengan nada canggung.
“Hemm..!! Hanya mengawasi kalian saja, aku takut jika kalian bertindak di luar kendali,” jawab Bai An dengan nada santai.
“Eeh,, itu, kami hanya kesini jalan-jalan, benarkan Master,” ucap Wakil Master Li Hixie langsung mengelak.
Hemm hemm..!!
Xi Luan dan Xi Juan mengangguk serempak membenarkan.
“Kami kembali dulu, di sini sudah terlalu ramai, permisi,” tanpa menunggu jawaban dari Bai An, ketiganya dengan cepat pergi meninggalkan Bai An lantaran sedikit malu lantaran di ketahui mengintip.
Bai An semakin menggelengkan kepalanya melihat ketiganya pergi buru-buru.
Dret..!!
Mata Bai An langsung bersinar hingga mengeluarkan sedikit petir dan api. Tatapannya kini mengarah ke sosok wanita yang menatap ke arah dirinya dengan seutas senyum.
Saat Bai An akan membuka ruang hampa, muncul dua bilah belati energi tepat di depan kedua tangan Bai An untuk menghentikannya membuka ruang hampa.
Wuss..!!
Bom..!!
Ledakan kecil terdengar saat Bai An menghindar dan kedua bilah mengenai danau di dekat Bai An.
Dret dret..!!
Xi bersaudara langsung muncul saat merasakan aura musuh yang sangat berbahaya.
Terlihat keduanya mengapit Bai An sambil melihat sekelilingnya. Namun mereka sudah tidak merasakan keberadaan musuh.
“Sial kita terlambat selangkah,” umpat Master Xi Juan.
“Hem..!! Aura tadi, seperti aura dari sosok bertopeng Hitam yang mendekati sosok bertopeng kuning,” ucap Penetua Agung Xi Luan datar.
__ADS_1
Sementara Bai An yang berhasil menghindar hanya bisa mengepalkan erat tangannya karena sadar jika wanita yang ia lihat ingin mencoba kemampuannya. “Hemm,, ayo kembali sebelum banyak orang berdatangan,” ajak Bai An.
Xi bersaudara mengangguk serempak.
Dret..!!
Ketiganya langsung menghilang tanpa meninggalkan jejak.
...
Sementara Duan Du yang mendengar suara ledakan di seberang hanya menatap dengan wajah dingin.
“Kakak,” gumam Duan Du dalam hati. “Jika terjadi apa-apa dengan kakak, aku tidak akan mempunyai hati nurani lagi kepada semua orang-orang Menara,” sambung Duan Du.
Pelayan Sia Yun yang ikut tersadar akibat suara ledakan di sertai aura dari rekannya kini sedikit marah, tapi tak lama ia membeku saat melihat tatapan mata Duan Du yang dingin.
“Tu..Tuan muda Duan, apa yang terjadi?” Tanya Pelayan Sia Yun menyadarkan Duan Du.
“Tidak ada, ayo kita kembali,” ajak Duan Du datar.
Pelayan Sia Yun seketika membeku. “Ba..Baiklah,” ucap Pelayan Sia Yun kaku.
***
Bom..!!
“Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin merusak rencanaku,” ucap sosok bertopeng biru dengan jubah hitam kini mengayunkan tinjunya hingga menghancurkan meja yang ada di sebelah sosok bertopeng biru dengan jubah putih bercampur merah.
“Hemm,, kenapa marah hanya masalah kecil, aku hanya ingin melihat kekuatannya saja sehingga menyerangnya tadi, aku takut jika kekuatannya setara dengan Master Sekte Kekacauan, jika itu terjadi, maka akan merepotkan kita nantinya,” ucap sosok bertopeng biru dengan jubah putih bercampur merah.
Tak lama topengnya pun berubah saat tangan kanannya memegang dinding topeng. Kini terlihat warna topeng yang tadinya biru berubah menjadi hitam dan bernomer 2 di pojok kanan atas.
“Ingatlah, di masa lalu kau telah gagal memimpin kita semua sehingga pangkat kita turun, jika kau gagal lagi, maka kita semua akan mati,” sambung sosok bertopeng hitam bernomer 2.
Mendengar itu, sosok bertopeng biru pun ikut mengubah warna topengnya ke bentuk aslinya. Yaitu hitam Terlihat nomer 1 yang artinya dari semua sosok bertopeng hitam, ia adalah yang terkuat.
Tapi dulunya ia pernah mengenakan topeng kuning bernomer 100 jika dulu ia tidak gagal, mungkin saat ini angka di nomernya telah berubah menjadi satu digit di jajaran topeng kuning.
“Hemm..!! Mungkin kali ini aku akan mati, karena aku merasa gagal menjadi pemimpin,” gumam sosok bertopeng hitam bernomer 1.
__ADS_1