Lahirnya Raja Para Dewa 2

Lahirnya Raja Para Dewa 2
Membebaskan Anak-anak dari Perbudakan


__ADS_3

Wudi mengangguk patuh, karena ia juga tahu jika lari pasti akan tertangkap.


Wudi tak bisa membayangkan bagaimana ia akan di siksa nanti jika tertangkap, tubuh Wudi berkeringat dingin saat ia membayangkan hal tersebut.


Tak menunggu lama Bai An membuka matanya. “Hmm,, apakah sudah selesai?” Tanya Bai An dengan santai.


“Heng,, pura-pura bertanya,” dengus Duan Du, saat ini Duan Du masih kesal kepada Bai An karena di pukul dan energinya di segel sehingga ia dan Tu Long merasakan sakit.


Bai An terkekeh mendengar dengusan Duan Du, ia lalu menyelimuti tubuh Bai Han dengan energinya, lalu mengangkatnya, setelah itu ia menaruh putranya itu di punggungnya.


Setelah itu ia melirik ke arah Duan Du, Tu Long dan Wudi.


“Hmm,, ayo kita kebawah,” ajak Bai An.


Wudi dengan cepat maju jadi depan untuk menjadi petunjuk jalan.


Walau Bai An dan yang lainnya tahu jalan menuju kebawah karena telah mengedarkan kesadarannya, tapi mereka tetap mengikuti Wudi.


Tap tap..!!


Setelah turun melalui jalan berliku-liku, saat ini Bai An, Duan Du dan Tu Long melihat para tahanan yang akan di jadikan budak, kebanyakan dari mereka seusia dengan Bai Han.


Saat para tahanan melihat Bai An dan yang lainnya, mereka semua mundur ketakutan.


“Huuff,, kalian sekarang aman, kami bukan orang jahat, karena kami akan membebaskan kalian lalu mengembalikan kalian kepada keluarga kalian masing-masing,” kata Bai An menghela nafas.


Mendengar itu, anak-anak tetap ketakutan, sementara para remaja yang baru berusia 17 tahun, kini terlihat gadis desa maju dengan tubuh bergetar.


“A..Apa yang Tuan ucapkan itu benar, bahwa kami bebas dan di kembalikan ke keluarga kami?” Tanya gadis tersebut mencoba memastikan.


“Hmm..!! Benar,” kata Bai An melambaikan tangannya.


Klang..!!


Semua sel langsung hancur.


Melihat itu, semua anak-anak kini semakin ketakutan, hingga anak perempuan berusia 10 tahun maju lebih dulu, ia memberanikan diri untuk keluar.


Tap tap..!

__ADS_1


“Terimakasih paman, karena telah membebaskan kami, tapi banyak dari kami tidak mempunyai tempat untuk kembali lagi, karena saat kami di tangkap, orang tua kami di bunuh, desa kami di hancurkan,” jawab anak perempuan tersebut dengan wajah sedih.


Mendengar itu, Duan Du dan Tu Long langsung menatap ke arah Wudi.


Wudi langsung berlutut. “Tu.. Tuan, mereka bukan kami yang menangkap, namun ada kelompok tertentu yang bekerjasama dengan Wutan, merekalah yang menangkapnya,” kata Wudi dengan nada ketakutan setengah mati.


“Heng,, apakah benar apa yang di ucapkan olehnya?” Tanya Tu Long menatap lembut ke arah para anak-anak.


Para anak-anak saling melirik lalu mengangguk. “Dia bukan orang yang menangkap kami, dia hanyalah petugas yang menjaga kami, bahkan dia memberikan kami makanan enak,” jawab anak perempuan yang berusia 10 tahun.


Mendengar itu Tu Long mengangguk, sementara Duan Du maju ke arah Wudi lalu berbisik ke telinganya.


“Kau cukup pintar juga mengambil hati anak-anak, jika keponakanku mengizinkan aku menyiksamu, aku sudah menyiksamu dari tadi,” bisik Duan Du dengan nada menyeramkan.


Tubuh Wudi tak henti-hentinya bergetar ketakutan, ia kini lebih baik memilih mati, tapi tanpa rasa sakit.


“Jangan berpikir untuk bunuh diri, jika kau mati, maka aku akan mencari jiwamu di neraka lalu menyiksamu,” kata Duan Du langsung mengerti saat melihat reaksi Wudi.


Wudi terdiam, ia kini hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.


Bai An yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, lalu melirik ke arah anak-anak.


Tak lama para anak-anak dan remaja saling memandang, setelah itu mereka membentuk barisan kiri dan kanan.


Bai An yang melihat sisi kanan paling banyak hanya menghela nafas, ia sebenarnya tidak ingin campur tangan dalam menghabisi kelompok yang memperbudak mereka, tapi jika di biarkan, Bai An yakin jika mereka semakin jadi suatu saat nanti.


“Baiklah yang ingin kembali, akan di antar oleh prajurit ke desa mereka masing-masing, sementara yang tidak punya tempat tinggal aku ingin memberi pilihan kepada kalian,” kata Bai An terdiam sambil melirik ke arah Duan Du.


Duan Du mengangguk paham, ia melirik ke arah Wudi.


“Kau jemput seseorang di luar, namanya adalah Fu Jian, ia saat ini menunggu di depan pintu Toko,” kata Duan Du.


Wudi mengangguk, ia langsung bergegas menuju atas.


Tap tap..!!


Tak lama kemudian ia kembali bersama Fu Jian.


“Tuan muda,” sapa Fu Jian ke arah Bai An.

__ADS_1


Bai An mengangguk. “Gunakan tokenmu untuk memerintahkan prajurit kota untuk membawa anak-anak ke desa mereka masing-masing,” perintah Bai An.


Fu Jian mengangguk patuh, tak lama ia membawa anak-anak dan remaja yang ingin kembali ke tempat tinggalnya.


Setelah itu Bai An kembali melirik anak-anak.


“Baiklah, pilihannya adalah mengikutiku, tapi kalian akan menjadi prajurit pembantai, dan saat kalian sudah kuat, maka kalian tidak boleh sewenang-wenang saat kalian telah kuat, kalian juga akan di latih dengan keras, tapi jika ingin hidup bebas maka aku akan memberikan kalian bekal.”


“Namun saat di luar, jika kalian tertangkap lagi, itu bukan urusanku,” kata Bai An panjang lebar.


Semua anak-anak saling melirik satu sama lain.


“Tuan, jika kami menjadi kuat, apakah kami bisa memberantas kejahatan?” Tanya remaja berusia 16 tahun.


“Iya, kalian bisa memberantas kejahatan bersama teman-teman kalian yang lain,” jawab Bai An.


“Lalu siapa anak tampan yang tertidur di bahu Tuan? Apakah ia juga sama seperti kami?” Tanya anak perempuan berusia 10 tahun dengan nada malu-malu saat melirik ke arah Bai Han.


Mendengar itu, Bai An, Duan Du dan Tu Long langsung menampilkan wajahnya agar di lihat oleh anak-anak tersebut.


“Tidak, dia adalah putraku,” jawab Bai An tersenyum lembut.


Wajah anak-anak terpana melihat ketampanan Bai An, Duan Du dan Tu Long.


“Tuan-tuan, jika kami dewasa, apakah kami bisa memiliki wajah tampan seperti dirimu?” Tanya anak laki-laki berusia 6 tahun.


Bai An melirik anak tersebut lalu mengangguk. “Benar, kalian bisa setampan dan sekuat diriku.”


Semua anak-anak langsung bersemangat, kecuali anak perempuan 10 tahun yang bernama Mei Ning.


Mei Ning walau kecil terlihat tersipu saat melihat wajah Bai Han, ia bahkan tidak mendengar ucapan Bai An, Mei Ning hanya fokus menatap Bai Han.


Bai An, Duan Du dan Tu Long hanya menggeleng saja, mereka tentu sadar Mei Ning dari tadi melihat Bai Han.


Tapi mereka tak habis pikir, anak-anak seperti Mei Ning ini apakah mengerti arti cinta?


“Baiklah, jika kalian ingin menjadi kuat, maka masuklah ke dalam sini, setelah masuk, kalian akan di jemput nanti oleh Guru pembimbing kalian,” kata Bai An membuka dunia jiwa.


Semua anak-anak langsung bergegas masuk tanpa takut atau bertanya, itu karena mereka antusias ingin menjadi seperti Bai An, Duan Du dan Tu Long.

__ADS_1


“Anak-anak ini sangat polos,” gumam Duan Du menggelengkan kepalanya, lalu ia mengalihkan pandangan ke arah satu anak masih berdiri.


__ADS_2