
Saat menginjak tanah dan melihat sebuah gubuk kecil di kejauhan, tiba-tiba jantung Bai An berdetak kencang.
“Kenapa ini, kenapa aku merasa gugup?” Gumam Bai An langsung berhenti.
Hu Liu Chen yang melirik Bai An langsung tersenyum kecil. “Itu karena ikatan batin,” kata Hu Liu Chen memberitahu Bai An. Hu Liu Chen seolah tahu isi pikiran Bai An.
Bai An yang mendengar itu sedikit bingung, tapi tak lama badannya bergetar cukup hebat saat ia tak sengaja mengedarkan kesadarannya.
Bruk..!!
Bai An jatuh berlutut.
“Mata itu, mirip mataku, wajah itu pun mirip wajahku, sedangkan rambut dan bibirnya mirip dengan Hu Qia. A,, apakah dia?” Tanya Bai An melirik ke arah Hu Liu Chen sedikit ragu.
“Benar,, dia putramu, dia selama hampir 9 tahun menderita, jauh dari keluarga, jauh dari ayah dan ibunya, ia hanya di temani oleh seorang nenek tua di tengah hutan,” kata Hu Liu Chen cukup sedih.
Mendengar itu, Bai An langsung berkaca-kaca, putranya ini sungguh mengalama nasib yang mirip dengan dirinya.
Bai An langsung melangkahkan kakinya.
Tap tap..!!
Langkah kaki Bai An terasa berat setiap ia melangkah ke gubuk kecil tersebut.
Hu Liu Chen hanya diam saja di tempatnya membiarkan pertemuan ayah dan anak.
Di dalam gubuk kecil, Bai Han yang sedang belajar melukis mendengar suara langkah kaki.
“Paman, apakah itu kau?” Teriak Bai Han langsung berlari keluar.
Cklek..!!
Bai An dan Bai Han langsung terdiam di tempat.
Bai An kini tak tahu harus bicara apa kepada putranya, karena ia takut salah bicara, hal itu membuat putranya marah atau sedih.
“A.. Ayah apakah ini kau?” Terdengar suara imut menyengat telinga Bai An.
__ADS_1
“Benar nak, ini ayahmu,” jawab Bai An sedikit menahan diri agar tidak terlihat sedih.
Dengan cepat Bai Han berlari ke_arah Bai An.
Bruk..!!
“Ayah, ayah apakah kau benar ini ayahku?” Tanya Bai Han berulang kali.
Bai An tetap menjawab sama, jika ia adalah ayah Bai Han.
Seketika Bai Han menangis, ia juga bicara sangat banyak tentang keluh kesahnya kepada Bai An.
Bai An kini menjadi pendengar setia saat melihat anaknya yang kini sangat aktip dalam bicara tanpa terputus-putus.
Setelah Bai Han puas bercerita banyak tentang kehidupannya, menceritakan tentang yang Hu Liu Chen pernah ceritakan, termasuk pertemuannya dengan ibunya Hu Qia.
Bai Han langsung terlelap di pelukan Bai An.
Bai An dapat melihat senyum putranya saat tertidur di dadanya, hal itu membuat Bai An ikut tersenyum bahagia, bercampur mengepalkan tangannya erat-erat.
Bai An lalu membalikkan badannya, ia kini melihat Duan Du dan Tu Long sudah berada di sana, mereka berdua terlihat bicara dengan Hu Liu Chen layaknya sahabat.
Mendengar suara langkah kaki.
Duan Du seketika melirik ke arah Bai An dan Bai Han.
“Woah,, jadi ini keponakan kecil ku,” teriak Duan Du.
Namun mulutnya langsung di sumpal oleh Tu Long. “Jangan berteriak, nanti Tuan kecil bisa bangun,” bisik Tu Long sambil menatap Duan Du dengan ganas.
Duan Du langsung cekikikan, ia sadar kini dirinya salah sehingga mengangguk patuh.
Bai An dan Hu Liu Chen hanya menggelengkan kepala saat melihat kelakuan keduanya.
Setelah Bai An sampai, Duan Du dan Tu Long seketika berebut ingin menggendong Bai Han.
Namun Bai An langsung melarangnya sehingga mereka berdua hanya mengangguk patuh sambil memasang wajah cemberut.
__ADS_1
Bai An kini melirik ke arah Hu Liu Chen. “Apa nama yang di berikan oleh Hu Qia?” Tanya Bai An.
“Bai Han, itu adalah namanya,” jawab Hu Liu Chen dengan jujur.
Bai An mengangguk. “Nama yang bagus,” gumam Bai An.
Cukup lama terjadi keheningan. Bai An kini menatap ke arah Hu Liu Chen dengan pandangan serius.
Saat melihat mata Bai An. Hu Liu Chen menghela nafas berat karena tahu apa maksud tatapan Bai An.
“Jangan bertanya, aku tahu apa yang ingin kau tanyakan,” kata Hu Liu Chen.
“Sebenarnya ini cukup berat untuk ku menjawab pertanyaanmu, karena klan Hu tempatku di besarkan dan klan Hu juga keluargaku, tentu saja aku tak ingin keluarga di sakiti, siapa juga yang ingin keluarganya di sakiti, jika itu terjadi, maka kau pasti paham maksudku bukan?” Tanya Hu Liu Chen.
Bai An hanya diam saja, sementara Duan Du dan Tu Long hanya melirik ke arah Bai An dan Hu Liu Chen bergantian.
“Tapi, semenjak kematian ibu, ayahku berubah drastis, ia bahkan menyakiti putrinya sendiri, hal itu membuatku kecewa, terlebih lagi klan Hu, aku merasa klan Hu bukan klan Hu yang dulu lagi, mereka sekarang terlalu semena-mena sehingga aku sekarang tak terlalu percaya kepada klan ku sendiri, bahkan mereka memata-matai aku sendiri, walau aku tahu ayah yang menyuruhnya.”
Hu Liu Chen terdiam sambil menghela nafas kecewa, ia kini melirik ke arah Bai An yang masih diam.
“Aku saat ini memutuskan mengambil resiko, aku telah di anggap mengkhianati klan karena telah membawa Han'er, agar bisa bertemu denganmu, hanya dia dan Kakak Qia keluargaku saat ini, jadi kau mau membunuh mereka aku tak apa. Tapi jangan sampai melibatkan atau melukai Han'er dan kakak Qia,” kata Hu Liu Chen menatap Bai An dengan tatapan tajam.
“Hmm..!! Untuk melibatkan, aku yakin mereka berdua sebenarnya telah terlibat, karena akar masalah ini dari mereka berdua dan diriku,” kata Bai An dengan jujur.
“Kalau untuk melukai, tentu saja siapa yang ingin melukai istri dan putraku sendiri, aku juga tak akan membuatnya di lukai oleh siapapun, jika ia terluka hanya segores saja, maka aku akan membantai semua keluarga orang yang melukai putraku.”
Hu Liu Chen mengangguk saat melihat keseriusan Bai An dalam mengatakan hal tersebut.
“Baiklah, tapi satu hal informasi penting yang aku beritahu, sebenarnya ini bukan akibat dari Han'er maupun Kakak Qia, melainkan akibat dirimu yang telah menikahi putri Penguasa Alam Semesta Inti ke 10, jadi ayahku dulu mengirim Kakak Qia untuk membunuhmu, tapi ayah tak menyangka jika kakak Qia akan menyukai bahkan melahirkan anakmu.” Kata Hu Liu Chen menghela nafas.
Bai An yang mendengar itu mengerutkan keningnya. “Mu Xia'er, huuff,, aku tak menyangka akan terjadi seperti ini, aku sebenarnya tahu sedikit akar permasalahan ayahmu dengan ibu Xia'er termasuk leluhur ku. Tapi akar permasalahan tersebut terasa rekayasa dan itulah yang ingin aku selidiki siapa yang bermain di belakang mereka bertiga,” kata Bai An.
Hal itu membuat Hu Liu Chen terkejut.
Tapi tak lama ekspresinya kembali normal, ia mengangguk paham. “Baiklah, aku akan pergi, jika kau butuh bantuan, jangan ragu untuk meminta bantuan,” kata Hu Liu Chen.
Bai An mengangguk dan tidak ingin menghentikan Hu Liu Chen, karena ia merasa ada masalah yang saat ini Hu Liu Chen hadapi tapi ia tak mau memberi tahu Bai An.
__ADS_1
Bai An juga tak ingin terlalu memaksa, karena ia belum terlalu mengenal Hu Liu Chen.