Lahirnya Raja Para Dewa 2

Lahirnya Raja Para Dewa 2
Keluarga Baru. Bai Chu Ye


__ADS_3

Bai An dan yang lainnya kini bingung saat mendengar ucapan sang nenek.


Tapi dengan cepat Bai An maju tanpa bertanya banyak ia langsung berkata. “Baiklah langsung ambil darahku, aku tidak peduli apapun yang dibutuhkan putra dan istriku, selagi aku mampu, maka aku akan memberikannya.”


Nada Bai An terdengar serius.


Nenek yang bernama Kim He langsung mengangguk.


Melihat Nenek He mengangguk, Bai An kini diam, ia diam bukan karena tidak mau bicara, melainkan tidak tahu harus melakukan apa, karena Nenek He belum menyuruhnya untuk mendonorkan darahnya.


Sementara terdengar juga Duan Du, Bai Han, Mu Xia'er, Tu Long dan yang lainnya jika mereka bersedia mendonorkan darah mereka jika di butuhkan.


“Bisakah aku minta tolong untuk membawa Nyonya muda ke tempat yang memiliki ruangan tertutup,” ucap Nenek He menatap ke arah Bai An.


Bai An tanpa basa basi langsung menyelimuti tubuh istrinya dan semua orang.


Wuss..!!


Seketika semua orang menghilang lalu muncul di kamar Bai An.


Nenek He yang melihat itu sedikit tersenyum masam.


“Apakah kalian bisa keluar lebih dulu, biarkan Nyonya Xia saja yang menemani Nyonya muda, dan untuk Tuan, aku akan memanggil Tuan saat di butuhkan.”


Bai An kini terdiam, ia terlihat masih khawatir melihat kondisi istrinya yang masih terus menerus berteriak.


“An Gege,, dengarkan lah saran Nenek He, karena ia ahli dalam bidang ini,” bisik Mu Xia'er mencoba menenangkan suaminya.


Bai An seketika tersadar. “Baiklah, aku akan menunggu di luar, jika kau butuh seseuatu, jangan ragu untuk memanggilku,” ucap Bai An.


Setelah itu ia mengajak semua orang untuk keluar.


Saat di luar, terlihat semua orang khawatir.


Sementara Bai An dan Duan Du, setelah keduanya keluar dari kamar, mereka berdua hanya terdiam saja, itu karena saat ini Bai An berada di Dunia Energi bersama Duan Du.


“Kakak,, pergerakan siapa yang kau maksud?” Tanya Duan Du kini menatap ke arah Bai Tan.


Bai An hanya terdiam saja karena saat ini pikirannya sedang mengkhawatirkan istri dan putra yang masih dalam kandungan.


“Hmm..!! Tuan muda, saat ini klan Ho sudah melakukan pergerakan terbuka, ia juga menangkap Hu Liu Chen dan mengumumkan jika kau tidak keluar maka Hu Liu Chen akan di bunuh,” ucap Bai Tan langsung ke intinya.


Bai An langsung mengerutkan keningnya. “Ada pengkhianat di sini, jika tidak ada, maka ia mempunyai mata-mata yang tidak bisa di lihat, bahkan oleh dirimu sendiri,” ucap Bai An dengan nada dingin.

__ADS_1


Bai An meyakinkan dua hal tersebut, karena tidak ada orang yang tahu jika mereka berdua saling kenal atau sering bertemu.


“Apakah Penguasa Hu Xiao dan klan Hu diam saja?” Tanya Duan Du kini memikirkan Penguasa dan klan Hu.


“Dia hanya diam saja,” jawab Bai Tan sambil menggelengkan kepalanya.


“Tapi ada beberapa anggota klan Hu yang melakukan pergerakan diam-diam seolah mencari seseorang, aku merasa mereka klan Hu pemberontak yang di ketuai oleh Hu Liu Chen.” Sambung Bai Tan.


Bai An yang mendengar itu membuka sedikit matanya. “Jika pengkhianat tidak ada di keluarga kita, maka pengkhianatnya ada di kelompok Hu Liu Chen,” ucap Bai An dan Duan Du serempak.


Bai An kini bimbang, jika ia bergerak maka ia tidak bisa melihat istrinya melahirkan, terlebih darahnya juga di butuhkan oleh putranya, walau tidak tahu bagaimana prosesnya nanti.


Melihat kakaknya yang terus menerus menerung. Duan Du langsung menepuk pundak kakaknya.


“Serahkan ini padaku dan Tu Long kak,” ucap Duan Du terdengar serius.


Mendengar itu, Bai An kini cukup terkejut karena baru kali ini ia mendengar nada suara Duan Du yang berbeda.


“Lakukan dengan cepat, aku tahu kau ingin melihat keponakanmu juga,” ucap Bai An kini tersadar saat melihat tatapan Duan Du yang berbeda juga.


Tatapan Duan Du menyiratkan kemarahan karena acara kebahagiannya kini di ganggu.


Terlebih ia juga telah menganggap Hu Liu Chen sebagai kakak.


Bertepatan dengan Bai An membuka matanya.


Mu Xia'er langsung keluar dengan langkah tergesa-gesa.


“Gege,, cepat masuk, salurkan darahmu ke putraku cepat,” teriak Mu Xia'er.


Mendengar itu, seketika semua orang langsung melihat ke arah Mu Xia'er.


“Apa yang terjadi Xia'er?” Tanya Bai An kini memegang kedua pundak istrinya.


“Sudah jangan banyak tanya, langsung masuk saja, nanti An Gege akan di intruksikan oleh Nenek He,” ucap Mu Xia'er dengan nada khawatir bercampur takut.


Dengan cepat Bai An menghilang.


Melihat itu, orang-orang yang ada di sana juga ingin ikut masuk.


Namun Mu Xia'er langsung menghentikannya karena saat ini hanya Bai An saja yang di butuhkan.


Sementara Duan Du yang ingin memberitahukan perihal Hu Liu Chen kepada Tu Long kini mengurungkan niatnya saat melihat Bai An dan Mu Xia'er telah masuk.

__ADS_1


Duan Du juga merasakan khawatir jika terjadi apa-apa dengan keponakan kecilnya. Sehingga ia menyampingkan masalah Hu Liu Chen terlebih dahulu.


Karena Duan Du yakin jika Hu Liu Chen pasti tidak akan di bunuh.


***


Bai An yang sudah di dalam kini berubah menjadi tegang saat melihat istrinya yang bersimbah darah.


“A..Apa yang-”


“Tuan, langsung keluarkan darahmu lalu masukkan ke mulut putramu,” ucap Nenek He langsung berteriak di sertai ketakutan.


Dengan cepat pandangan Bai An mengarah ke Nenek He, saat melihat bayi dengan tubuh kurus, lebih tepatnya hanya menyisakan tulang dan kulit saja, untuk dagingnya, kini sepenuhnya menghilang.


Ketakutan Bai An kini tak terbendung, tanpa sadar ia mengeluarkan auranya.


Plak..!!


Sebuah tamparan keras terdengar keras.


“Apa yang kau lakukan Gege, cepat ulurkan darahmu ke putraku, jika ia kenapa-kenapa kau yang akan aku salahkan karena ini ulahmu.” Teriak Mu Xia'er.


Bai An langsung tersadar, karena saking takutnya, ia sampai tidak sadar mengeluarkan auranya.


Dengan cepat Bai An maju lalu melukai ujung jarinya.


Darah seketika merebes keluar dari tangan Bai An.


Dengan cepat Bai An menaruh tangannya secara hati-hati ke dalam mulut putranya.


Entah mengapa saat Bai An menaruh tangannya yang darahnya terus keluar, dengan lahap putranya mengemut darah Bai An, bahkan Bai An merasa tangannya juga di ****.


Tangan bayi mungil tersebut secara perlahan mulai berisi, bayi mungil tersebut mulai tersenyum ke arah Bai An.


Tangan bayi mungil tersebut mulai bergerak hingga tangannya terangkat seolah ingin menyentuh wajah Bai An.


Dengan cepat Bai An menjulurkan wajahnya ke depan, kini Bai An tersenyum.


Senyum Bai An terlihat berbeda, selama ia hidup ia tidak pernah tersenyum seperti ini.


Nenek He langsung memberikan bayi mungil tersebut kepada Bai An.


Bai An langsung mengambil bayi mungil tersebut dengan hati-hati.

__ADS_1


“Bai Chu Ye, nama mu mulai saat ini adalah Bai Chu Ye,” ucap Bai An kini tersenyum bahagia.


__ADS_2