
Setelah membuka segel di Bumi dan mereka pun pergi ke Dimensi Alam Sihir, tempat Portal yang menghubungkan Dimensi Alam Dewa.
Wuss wuss wuss..!!
Tap tap..!!
“Hem apakah kau yakin ini tempatnya?” Tanya Bai An kepada Gu Sheng. Pandangan Bai An tetap mengarah ke sebuah Portal yang cukup unik di matanya.
Kini Bai An, Gu Sheng, Duan Du, Tu Long, Bai Han, Bai Chu Ye dan Bo Wuhan memandang ke arah kawah di bawah mereka.
Di bawah kawah ada dua pohon kecil yang selalu memercikkan petir setiap saat, dan menurut Gu Sheng, inilah portalnya, karena ia dulu muncul di sini.
“Benar Tuan muda, tidak ada lagi tempat aneh selain di kedua pohon ini saat aku pertama kali muncul di sini.” Jawab Gu Sheng dengan jujur.
Hemm.!!
Tak lama mereka bertujuh saling memandang satu sama lain. Setelah melihat semuanya memang benar apa yang di ucapkan oleh Gu Sheng, terdengar sebuah suara.
“Apakah kalian telah siap?” Tanya Bai An dengan nada serius.
“Kau cukup licik juga sengaja bertanya kepadanya,” sebuah suara seketika muncul di pikiran Bai An.
Melihat Bai An hanya diam saja, Asura Blood langsung kembali ke dalam Pedang Asura.
Sementara keluarga Bai An yang mendengar itu langsung memasang wajah penuh semangat. Karena inilah yang mereka tunggu-tunggu.
“Tentu kami siap,” ucap semuanya serempak.
Bai An langsung melirik ke arah Gu Sheng dengan sedikit anggukan. “Lakukanlah,” ucap Bai An.
Gu Sheng langsung maju menuju depan pohon kembar.
Wuss..!!
Tap tap..!!
“Hei Wuhan bantu aku,” ucap Gu Sheng melirik Bo Wuhan.
Bo Wuhan tidak langsung bergerak, ia kini melirik ke arah Bai An, saat melihat Bai An mengangguk, ia langsung muncul di depan Gu Sheng.
Tanpa menunggu waktu lama, keduanya langsung mengerahkan energi mereka dalam jumlah yang sangat besar lalu di tembakkan ke tengah-tengah pohon kembar.
Blush..!!
Dret..!!
Jder..!!
__ADS_1
Seketika sambaran petir muncul dari langit, bersamaan itu sebuh celah muncul dari tengah-tengah pohon kembar.
“Urgh..!! Sial, aku tak menduga jika jumlah energi yang di butuhkan melebihi perkiraanku,” gumam Gu Sheng sedikit tersenyum pahit.
Wuss..!!
Tak lama Bai Chu Ye muncul lalu membantu keduanya untuk membuka celah lebih besar lagi.
Blush..!!
Dret dret..!!
Jder..!!
Lagi-lagi petir menyambar di sekeliling pohon kembar, namun kini jauh terasa lebih dahsyat dari sebelumnya.
Beruntung Bai An telah membuat penghalang agar petir-petir tersebut tidak mengenai anggota keluarganya.
“Ayo masuk ini tidak akan bertahan lama,” teriak Gu Sheng.
Bai An dan yang lainnya langsung mengangguk.
Wuss wuss..!!
Tu Long dan Duan Du lebih dulu masuk setelah di suruh oleh Bai An masuk, di susul oleh Bai Han dan Bai Chu Ye.
Gu Sheng dan Bo Wuhan mengangguk patuh.
Wuss..!!
Wuss..!!
Melihat semua orang masuk, kini Bai An melirik ke arah Asura Blood. “Apa kau yakin jika kedua pohon ini adalah harta yang sangat langka?” Tanya Bai An.
“Benar, selain bisa di jadikan sebuah penghubung antar Dimensi Besar, pohon petir kembar ini juga bisa di gunakan sebagai artefak pelindung, bahkan dahulu Tuan pertamaku mencoba menyerangnya menggunakan diriku, namun pohon petir kembar ini hanya mengalami goresan saja.” Jawab Asura Blood dengan nada serius.
“Hemm..!! Menurut pepatah, semakin tinggi seseorang, semakin bahaya juga seseorang itu hadapi,” ucap Bai An tersenyum tipis.
“Sama halnya dengan dirimu, aku mengira kaulah senjata terkuat, tapi aku tak menduga jika menemukan ada yang lebih kuat darimu di sini. Ini sungguh menarik bukan.” Sambung Bai An langsung memejamkan matanya.
Asura Blood terdiam saat mendengar apa yang di ucapkan oleh Bai An. Memang benar apa yang di ucapkan oleh Bai An, di seluruh Dimensi ini, masih banyak yang belum terungkap, mungkin ada juga orang-orang yang jauh lebih kuat dari musuh Tuan pertamanya, tapi orang-orang yang jauh lebih kuat tersebut sengaja menyembunyikan diri mereka.
Dret..!!
Saat Bai An membuka matanya, sebuah energi jiwa awal seketika menyelimuti tubuh Bai An.
Tap tap..!!
__ADS_1
Bai An langsung melangkah ke depan pohon petir kembar.
“Jika kau memiliki sebuah Roh, maka bekerja samalah, aku akan membawamu bersamaku mengelilingi seluruh Dimensi, kau juga akan menjadi saksi pertumbuhanku yang akan menjadi seorang yang terkuat di masa depan,” ucap Bai An langsung menggenggam kedua batang pohon petir kembar menggunakan energi jiwa yang sudah berbentuk lengan.
Jder..!!
Jder..!!
Seketika tubuh Bai An di sambar petir, namun karena ia telah mengantisifasi akan hal tersebut terjadi, Bai An terlihat baik-baik saja.
“Kau layak menjadi Tuan kami, kami yakin kau akan menjadi sosok besar suatu saat nanti, itu terbukti dari kecerdasanmu dan Roh yang ada di senjatamu juga, kami telah bertemu dengannya di masa lalu.” Tak lama dua sosok Roh muncul dari batang pohon tersebut.
Melihat kedua Roh tersebut mirip dengan sebuah burung kembar berjenis Phoenix. Bai An sedikit melebarkan matanya.
“Phoenix bercampur Naga,” gumam Bai An.
“Salah, kami dulunya adalah Burung Naga Kuno, spesies awal dari sebelum berevolusinya Naga yang sering kau lihat di dunia kultivator,” ucap kedua Burung Naga serempak.
Mendengar itu Bai An mengangguk. “Lalu kenapa kalian begitu cepat setuju ingin mengikutiku? Apakah tidak ada syarat tertentu?” Tanya Bai An yang merasa curiga. “Tidak mungkin kalian hanya setuju lantaran aku hanya sedikit cerdas bukan?” Sambung Bai An.
Kedua Roh Burung Naga saling memandang satu sama lain. “Sejujurnya kami hanya kesepian saja, dari dulu kami ingin pergi dari sini, tapi kami tidak tahu tujuan kami ke arah mana, terlebih banyak sekali orang-orang serakah yang mengetahui tentang kami sering memburu dan menggunakan kami secara tidak layak.”
“Dan kau, orang yang berbeda, walau aku merasa kau sedikit haus akan darah, tapi kau bisa menekan itu, kau juga memiliki hati tuluss yang ingin melindungi semua orang yang kau anggap penting. Itu sudah cukup bagi kami mengikutimu.” Ucap kedua Roh Burung Naga.
Mendengar itu Bai An mengangguk di sertai senyum hangat. “Baiklah jika begitu, aku akan menaruh kalian di Dunia Jiwaku, kalian juga bisa bermain dengan Roh Asura Blood.” Ucap Bai An langsung mengangkat kedua Pohon Petir Kembar lalu memindahkannya kedalam Dunia Jiwanya.
Blush..!!
Bersamaan dengan itu, Bai An juga langsung melesat ke dalam celah yang hampir tertutup.
Wuss..!!
Dret..!!
Saat Bai An sudah masuk, sebuah cahaya terang menyilaukan mata Bai An sehingga mau tak mau ia menutup matanya.
...
Urgh..!!
Terdengar suara Bai An yang sedikit merintih saat merasakan sakit di kepalanya di sertai sebuah tekanan yang terasa di sekitarnya.
Secara perlahan Bai An membuka mata, ia sedikit terkejut melihat apa yang ada di sekeliling.
“Cepat sekali aku sampai, dan juga apa ini Dimensi Alam Dewa?” Gumam Bai An bertanya-tanya dalam benaknya.
Tak lama pandangan Bai An kini mengarah ke ribuan orang di atasnya yang sedang berteriak ke arahnya.
__ADS_1