
Tanpa menunggu reaksi dari semua orang, Tu Long melambaikan tangannya, sebuah lesatan energi berbentuk cakar tercipta.
Lesatan energi tersebut mengarah ke Wu Sen Zang yang kini terperangah.
Crash..!!
Tubuh Wu Sen Zang terbelah menjadi dua. Hal tersebut di lihat secara langsung oleh ayahnya Wu Zuang Yan.
Seketika tubuh Wu Zuang Yan bergetar tak terkendali, emosinya kini semakin meledak-ledak.
“Aku akan membunuhmu,” teriak Wu Zuang Yan langsung melesat ke arah Tu Long.
Saking marahnya, ia tidak sadar jika datang menyerahkan nyawanya.
Tu Long yang melihat itu seketika memamerkan giginya yang kini berubah menjadi taring Naga.
***
Tidak jauh dari tempat mereka, Hu Lan dan Master Sekte Pedang Sejati melihat semua kejadian tersebut dalam sekejap.
Hu Lan tentu sadar siapa yang datang, bahkan tubuhnya sedikit merinding saat ini, tapi dengan cepat ia kembali normal.
“Sialan, jika begini rencanaku untuk melarikan diri dari sini akan gagal,” gumam Hu Lan merutuki Bai An dan keluarganya.
Hu Lan berhasil selamat karena berhasil memisahkan sedikit inti energinya saat pemimpin Klan Bai membunuhnya waktu itu, ia saat ini sedang bersembunyi dan ingin memanfaatkan Sekte Pedang Sejati untuk bisa keluar dari Dimensi kecil ini.
Tapi saat ini angan-angan Hu Lan telah sirna, ia juga tidak akan bisa bertarung, jika ia mengeluarkan energinya, maka itu dapat di rasakan oleh para Leluhur Klan Bai, termasuk pemimpinnya.
Secara perlahan, tanpa di sadari oleh Master Sekte, Hu Lan kini mulai melebur menjadi serpihan cahaya.
Sementara Bai An dan Duan Du yang sudah melihat hal itu langsung menghilang.
Bai An muncul di luar dunia tempatnya berada tadi.
Wuss..!!
Srek..!!
Tangan Bai An mencengkram sesuatu, tak lama apa yang Bai An cengkram kini mulai terbentuk.
Urghh..!!
“Lepaskan aku bocah sialan,” teriak Hu Lan meronta-ronta.
“Hoho,, iblis seperti dirimu mengancam diriku?” Tanya Bai An mengangkat sebelah alisnya.
“Tenang saja, aku pasti akan melepaskanmu, tapi sebelumnya aku akan menghisap seluruh ingatanmu,” sambung Bai An menyeringai kejam.
Tanpa melihat respon dari Hu Lan, Bai An mengerahkan Energi Jiwanya.
Blush..!!
Bai So langsung masuk menelusuri Jiwa milik Hu Lan.
__ADS_1
Setelah beberapa saat dan mendapatkan ingatan milik Hu Lan, Bai So keluar sambil mengangguk kecil.
Bai An langsung menyelimuti tangannya menggunakan Energi Semesta.
Piarr..!!
Terdengar suara kepala pecah hingga menjadi abu.
Setelah memastikan jika Hu Lan mati dan tidak menyisakan sedikitpun energinya, Bai An menghela nafas lega.
Bai An tidak tahu jika Hu Lan pernah di bunuh oleh Pemimpin klan Bai.
Tapi ia sadar jika Hu Lan adalah sosok iblis yang licik dan licin, jadi jika ia ingin membunuh iblis tersebut, ia harus memastikan apakah Hu Lan benar-benar mati atau tidak.
***
Bom..!!
Duar..!!
Tubuh Penetua Agung Sekte Pedang Sejati terlihat terlempar jauh dan menabrak beberapa gunung hingga membuat suara ledakan akibat benturan tubuhnya yang menabrak gunung.
Duan Du muncul lalu kembali mengayunkan tinjunya.
“Tinju Penghancur.” Teriak Duan Du.
Wuss..!!
Bom bom bom..!!
Duar..!!
Lagi-lagi tubuh Penetua Agung terlempar kembali, hal tersebut terus berulang kali dan di saksikan oleh semua penetua.
Duan Du juga senang dengan teknik barunya ini, ia mendapatkan teknik ini dari hasil jarahannya dan mencoba untuk mempelajarinya.
Saat ini gigi Duan Du terpampang jelas.
“Hehe,, ini baru namanya pertarungan tanpa pembantaian,” kekeh Duan Du merasa senang.
Di kejauhan, dahi Tu Long berkerut saat mendengar ucapan Duan Du.
“Bocah sialan, aku tahu jika kau mengejek diriku,” teriak Tu Long dengan nada kesal.
Duan Du langsung melihat ke arah Tu Long dengan wajah heran, pasalnya ia sama sekali tidak berniat mengejek Tu Long, karena ia senang dengan teknik yang ia latih tanpa harus langsung membunuh.
Tapi melihat Tu Long beda pendapat, Duan Du menyeringai kecil. “Hehe, siapa suruh kau sangat liar paman,” ejek Duan Du langsung memanfaatkan kesempatan yang ada.
“Heng,, aku juga bisa bertarung tanpa membunuh,” dengus Tu Long tak mau kalah.
Seketika mereka berdua langsung memburu semua orang yang ada di Sekte Pedang Sejati, kecuali Jiu Long.
Ledakan beruntun terdengar dimana-mana, walau begitu, Duan Du dan Tu Long menahan diri agar dunia tempat mereka berada tidak hancur.
__ADS_1
Mereka juga selalu mengeluarkan senyum saat memukul musuh, hal tersebut membuat para kultivator dari klan besar, sekte yang ada di dunua itu maupun kultivator liar bergidik ngeri.
“Mengerikan, aku tak menyangka jika Sekte terkuat di seluruh Alam Semesta Inti akan mengalami kehancuran,” ucap salah satu pria sepuh berambut putih kekuningan.
“Kau benar, aku tak tahu orang kuat tersembunyi mana yang mereka singgung sehingga membuat orang tersebut keluar membantai mereka semua tanpa terkecu-” ucapan pria sepuh berambut putih terhenti saat melihat Jiu Long dan Long Yuan.
Jiu Long dan Long Yuan terlihat mengeluarkan senyum bahagia saat melihat Duan Du dan Tu Long memukul semua anggota Sekte Pedang Sejati.
“A..Apakah mereka yang mengundang orang-orang kuat ini?” Ucap pria sepuh berambut putih dengan nada terbata-bata.
“Bagaimana mungkin, mereka kan selalu di tekan,” sambung temannya.
“Kita tidak tahu, tapi lihat lah anak remaja itu, ia yang paling sadis karena hampir semua murid Sekte Pedang Sejati ia bantai. Masih kecil tapi kekuatannya mengerikan,” ucap pria terlihat berumur 50 tahunan, wajahnya sedikit tampan.
“Hmm,, lebih baik jangan lagi menyinggung mereka, aku yakin ini ada kaitannya dengan kedua orang itu,” sambung pria sepuh berambut putih kekuningan menunjuk Jiu Long dan Long Yuan.
“Baiklah, ayo kembali, aku takut jika kita nanti akan menjadi sasaran mereka jika terus menonton,” ajak pria berusia 50 tahunan.
Seketika ketiga orang tersebut menghilang.
Mereka tak lain saingan Sekte Pedang Sejati, kekuatan mereka setara dan yang terlihat muda di antara ketiganya adalah Master Sektenya, lalu pria sepuh bermabut putih adalah Penetua Pertama dan pria sepuh berambut putih kekuningan adalah Penetua Agung.
***
Di tempat Bai Han.
Saat ini Bai Han sedang memakan banyak sekali hidangan, ia kini dengan rakus memasukkan semua makanan yang ia pegang.
Jiu Long dan Long Yuan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Han'er pelan lah makannya, nanti kau tersendak bagaimana?” Ucap Long Yuan menasehati.
“Tenang paman Yuan, aku tidak akan tersendak, makanan ini sangat enak, jika aku terlambat, maka paman Du dan paman Tu akan menyerbunya nanti,” jawab Bai Han dengan lahap sambil makan sambil bicara.
Wuss..!!
Tap tap..!!
“Han'er, jangan begitu makannya, kau itu sudah dewasa.”
Tubuh Bai Han sedikit kaku, tangannya berhenti mendadak saat mendengar ayahnya yang biacara.
Bai Han sedikit kesal melihat cara makan putranya ini seperti anak kecil.
“Hik hik,, ayah Han'er lapar,” mata Bai Han seketika berkaca-kaca saat mendapat teguran dari ayahnya.
“Iya makan ya makan saja, tapi jangan seperti ini, apa kau mau ayah kembalikan ke Dunia Jiwa,” ucap Bai An langsung mengancam.
Wajah Bai Han menegang saat mendengar ancaman ayahnya.
Dengan cepat Bai Han menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Tatapannya juga kini mengarah ke Duan Du dan Tu Long untuk meminta bantuan.
__ADS_1