
Saat mengingat kejadian beberapa saat tadi. Bai An terkejut luar biasa mendengar sebuah suara menyapanya.
Dengan cepat Bai An melihat ke segala arah, karena suara tersebut menggema di penjuru Dunia Energi.
“Siapa? Keluarlah jika bicara denganku,” ucap Bai An.
Wuss..!!
Seketika seorang pria muda yang terlihat mirip dirinya keluar, yang membedakannya hanyalah rambut dan mata.
Rambut pemuda tersebut bewarna abu dan matanya sedikit unik, matanya seolah menggambarkan sebuah Alam Semesta, bahkan melebihi perkiraan Bai An.
Saat Bai An menatap mata pemuda tersebut lebih lama, ia merasakan pusing.
Urrgghh..!!
“Hmm..!! Saat ini kau masih lemah Tuan muda, jadi jangan menatap mataku lebih dari 10 detik,” ucap pemuda tersebut.
Bai An yang mendengar itu langsung mengangguk. Setelah itu wajahnya langsung serius.
“Aku merasa kau terhubung denganku? Jadi siapa kau dan bagaimana kau bisa masuk kedalam lautan Energiku hingga membentuk inti?” Tanya Bai An.
“Hmm..!! Di balik bencana, ada sebuah keberuntungan, jadi aku rasa tidak perlu menjelaskannya panjang lebar,” jawab pemuda tersebut.
Bai An langsung paham.
“Jadi siapa namamu? Jika kau tidak punya nama, maka namamu adalah Bai Soul. Soul artinya jiwa, karena kau adalah Energi Jiwa, sementara So adalah panggilanmu,” ucap Bai An tanpa basa basi.
Bai So langsung mengangguk. “Terimakasih telah memberikan ku nama Tuan muda,” ucap Bai So sambil menatap ke arah Bai Tan.
Bai So tentu sangat berterimakasih kepada Bai Tan juga, karena tanpa ia, mungkin ia tak akan terlahir kembali.
Dengan santai Bai So mengayunkan tangannya untuk memberikan sisa-sisa energi yang tidak berguna saat ia mulai terbentuk beberapa tahun lalu.
Karena bersamaan dengan terlukanya Bai An, Bai So tercipta, maka dari itulah yang membuat jiwa Bai An tidak terluka.
Jika bukan karena bantuan Bai So, mungkin Bai An akan sulit sembuh, bahkan semua penghuni dunia jiwa Bai An bisa mati bersamaan dengan hancurnya dunia jiwanya.
Blush..!!
Secara perlahan Bai Tan mulai membentuk sosok tubuh transparan hingga terbentuk kembali seperti biasa.
__ADS_1
“Ahh..!! Senangnya bisa kembali mempunyai bentuk,” ucap Bai Tan kini berjalan ke arah Bai So.
“Terimasih saudara So, aku tak menduga jika saat mata Iblis tersebut menyerang kami, bertepatan dengan serangan tersebut mengarah kepada kami, kau ada disana dalam bentuk inti yang belum berevolusi,” ucap Bai Tan yang tentu dapat merasakannya saat ia melintas mencari Mo Jian.
Bai So mengangguk santai, kini ia menatap Bai An sesaat.
“Aku merasa istrimu sedang membutuhkanmu, karena saat ini ia akan melahirkan dan membutuhkan sedikit inti energi jiwaku,” ucap Bai So tidak ingin menjelaskan secara detail karena terlalu malas banyak bicara.
***
Dunia Jiwa.
Mu Xia'er kini menahan rasa sakit pada jiwanya, karena saat ini putri yang masih di dalam kandungannya terus menerus menyerap energi jiwanya secara perlahan.
Argghh..!!
Teriakan Mu Xia'er terus menggema yang membuat orang-orang yang berada di samping Mu Xia'er semakin takut jika Mu Xia'er kenapa-kenapa.
“Tahan Xia Jie-jie, aku yakin An Gege pasti akan datang,” ucap Chu Jia kini terus menerus menyemangati Mu Xia'er.
Sementara Nenek He kini tidak tahu harus melakukan apa? Karena bayi yang ada di dalam kandungan Mu Xia'er tidak mau keluar.
Arrgghh..!!
Wuss..!!
Bai An langsung muncul dengan wajah berkeringat dingin, dengan segera Bai An menyalurkan Energi Jiwa yang telah di alirkan oleh Bai So dari Lautan Energi Bai An.
Wuss..!!
Saat merasakan ada energi jiwa yang lebih murni dan melimpah, bayi yang ada di dalam kandungan Mu Xia'er seketika keluar dengan sendirinya.
Bayi tersebut seolah seperti anak berumur 3 tahun yang kini melompat dengan sendirinya ke pelukan Bai An.
Bai An terkejut melihat putrinya kini menyunggingkan senyum manis yang terlihat sangat imut.
Tanpa sadar Bai An menyetuh pipi putrinya.
“Nama mu adalah Bai Xia Xie,” ucap Bai An sambil menjulurkan tangannya tanda meminta 'Ye' kecil kepada Chu Jia.
Chu Jia langsung memberikan 'Ye' kecil kepada Bai An.
__ADS_1
“Mulai saat ini kalian bertiga adalah penerus dan kebanggan ayah, kalian harus saling menjaga satu sama lain, tidak boleh saling menyakiti.” Ucap Bai An kini merasa sudah 80% merasa lengkap dan 20% sisanya tentu saja untuk Hu Qia.
Seakan paham akan ucapan ayahnya, Bai Xia Xie hanya tertawa imut, sementara Bai Chu Ye mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah ayahnya.
Saat menggendong kedua putra putrinya, tak lupa Bai An mengalirkan energi jiwanya ke tubuh Mu Xia'er yang masih pingsan.
Satu bulan berlalu.
Kini semua keluarga Bai An berkumpul di halaman yang sangat luas, tepat di tengah-tengah ada meja.
Meja tersebut di tempati oleh Bai An, Mu Xia'er, Chu Jia, Tu We, Ning'er yang sudah selesai melakukan kultivasi tertutup dan terahir, kedua putra putrinya yang kini di gendong oleh masing-masing ibunya.
Sementara di setiap sisi, banyak sekali meja berjejer membentuk lingkaran, meja tersebut di tempati oleh para penghuni dunia jiwa yang Bai An anggap keluarga.
“An Gege, apa kau yakin akan pergi? Tidak bisakah kau lebih lama disini?” Tanya Mu Xia'er dengan sedih.
Melihat ibunya sedih Xie'er kecil yang tadinya tertawa imut berubah menjadi marah di sertai energi jiwa yang cukup kuat keluar dari tubuh bayi mungil tersebut.
Semua orang langsung menganga saat melihat kemarahan Bai Xia Xie.
Mereka juga saling pandang, di sertai kagum karena Bai Xia Xie paham akan perasaan ibunya.
Bai An yang tahu asal usul kekuatan putri kecilnya hanya bisa menghela nafas, ia terlihat sama dengan putranya Ye'er kecil.
Memiliki keunikan masing-masing saat terlahir.
“Jangan marah Xie'er ayah, ayah hanya ingin pergi menjemput ibu dan kakakmu, agar kau bisa bermain dengannya nanti saat ia di.sini.” Ucap Bai An kini mengelus pipi putrinya.
Aura Xie'er seketika menghilang dan di gantikan tawa kecil layaknya tidak sabar ingin bermain.
Sementara Mu Xia'er kini sudah pasrah sehingga ia hanya bisa mengangguk.
“Hati-hati Gege, sesekali kembalilah untuk melihat putri dan putramu tumbuh dan juga, jangan lupa untuk samakan waktu di dunia jiwa dengan dunia nyata.”
Bai An mengangguk paham. “Aku mengerti, tapi aku akan membuat sebuah bangunan 100 lantai, setiap lantainya akan memiliki waktu yang lebih lama untuk orang-orang berlatih, namun di satu sisi, setiap lantainya akan memiliki tekanan bertambah besar jika semakin tinggi mereka melangkah,” ucap Bai An yang sudah memikirkannya jauh-jauh hari sebelum ia berniat pergi.
Tapi yang Bai An butuhkan kini adalah beberapa material yang setingkat Artefak Dewa.
“Apakah An Gege sudah mendapatkan apa yang An Gege butuhkan untuk membuatnya?” Tanya Chu Jia.
Bai An menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Aku mendengar dari paman Chou jika di Alam Semesta Inti ke 4 ada banyak sekali material tingkat tinggi di sana, mungkin saja apa yang An Gege butuhkan ada di sana,” ucap Chu Jia mengingat ucapan pamannya dulu.
Bai An tersenyum cerah saat mendengar itu.