Lahirnya Raja Para Dewa 2

Lahirnya Raja Para Dewa 2
Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya


__ADS_3

“Berhenti, kami dari Guild Petualang Cahaya,” teriak seorang Elf wanita dengan gaun yang indah serta serjata tongkat kecil layaknya peri.


Bai An tersenyum tipis saat mendengar nama Guild dari 3 Guild terkuat di Kekaisaran Darium.


Dengan santai Bai An berhenti lalu melirik ke arah Elf yang memiliki kekuatan Rangking S+


“Ada apa?” Tanya Bai An dengan nada datar.


“Kau,” salah satu dari Elf yang memiliki Rangking S langsung marah dan kini menunjuk ke arah Bai An.


Sementara Elf wanita yang terkuat melihat reaksi Bai An yang biasa saja langsung berteriak.


“Mundur.”


“Terlambat,” gumam Bai An tersenyum kecil.


Wuss..!!


Sebuah bola api muncul dari tangan Bai An.


“Salamander.”


Setelah bergumam, Bai An langsung melempar bola api ke arah atas.


Tak lama, bola api seketika membesar lalu berpisah menjadi puluhan bola api.


“Bentuk pertahanan, jangan biarkan api tersebut menyerang ke kota, jika tidak kota ini akan hancur,” teriak Elf wanita yang menjadi pemimpin.


Saat ini semua penduduk kota maupun para petualang mengarah ke atas, mereka melihat bola api yang cukup banyak tersebar ke penjuru kota kini mulai turun.


Tidak ada yang menyadari Bai An kini berjalan santai keluar dari kota.


Kini terdengar kepanikan terjadi dimana-mana, bahkan Master Guild Petualang Cahaya juga mau tak mau keluar akibat keributan yang terjadi di luar.


Saat mereka melihat puluhan bola api siap menabrak kota, mereka juga langsung membuat pertahanan. Tak lupa Master Guild Cahaya menyuruh semua petualang untuk ikut andil melindungi kota.


Saat sebuah bola cahaya berbentuk kubah mulai menutupi kota, bola api langsung terjatuh cepat.


Wuss..!!


Bom bom bom..!!


Duar duar..!!


Ledakan terdengar terjadi dimana-mana, beruntung tidak ada korban jiwa maupun kota yang hancur.


...


Di kejauhan, Bai An tersenyum kecil melihat apa yang terjadi di kota. “Hemm..!! Lumayan, Master Guild Cahaya memiliki kekuatan Rangking SS+” Gumam Bai An.

__ADS_1


Dari awal, ia tidak berniat menyerang hingga membunuh. Bai An hanya ingin melihat tingkat kekuatan yang terkuat di kota itu saja.


Setelah mengetahui yang terkuat Rangking SS+ Bai An langsung menghilang dari tempatnya memantau.


...


“Sial, siapa yang berani menyerang kota tempat Guild kita bernaung? Orang ini ingin mati rupanya,” teriak Elf tua yang tak lain Elf ketiga terkuat di kota tersebut.


“Hemm..!! Apa ini perbuatan dari Guild petualang Hader? Karena hanya mereka saja yang saat ini berkonflik dengan kita?” Ucap Elf wanita sedikit tua, ia adalah Wakil Master Guild Cahaya.


“Bukan,” ucap Elf yang terlihat anggun dan muda. Seketika kedua Elf pria dan wanita tua langsung melirik ke arah Master Guild Cahaya.


“Ini bukan perbuatan mereka, jika di lihat dari serangan tadi, ia hanya bermain-main. Karena bola api tadi terlihat melayang beberapa saat, setelah perisai terbentuk, bola tersebut langsung dengan cepat turun.” Ucap Master Guild Cahaya.


Wuss..!!


Tap tap..!!


“Salam master, orang yang menyerang tadi adalah sosok berjubah hitam, kami sempat menghentikannya saat ia keluar kota, tapi kami tak menduga jika ia langsung menyerang kota,” ucap Elf Rangking S+


Mendengar itu, Master Guid Cahaya langsung bertanya apa saja yang terjadi dan bagaimana mereka menyinggung ahli kuat tersebut.


***


Satu tahun berlalu dengan cepat.


Wuss...!!


Argh..!!


“Ka..Kau-” tunjuk seorang pria paruh baya menunjuk sosok yang kini menyeringai kejam.


“Jangan pernah mencari masalah dengan kami, inilah jadinya ahir hidup kalian,” gumam Bai Han dengan nada dingin.


Duar duar..!!


Terdengar ledakan beruntun dari berbagai arah, tak lama muncul beberapa pemuda.


Wuss wuss..!!


“Daging mereka sangat asam, aku menyesal mencoba mencicipi mereka,” ucap Lang Zai dengan kesal.


“Hehehe,, dari pada mengeluh, lebih baik kita menuju Kota Gunxel, aku dengar mereka yang mempunyai andil yang paling besar memburu kita dulu,” kekeh Cen Tian kini terlihat seperti saudagar kaya raya.


Di seluruh tubuhnya di penuhi oleh kantong penyimpanan yang berasal dari Dimensi ini. Bahkan seluruh jari Cen Tian di penuhi cincin penyimpanan saat ini.


“Heng,, dasar otak harta,” dengus Lang Zai melirik Cen Tian yang semakin menyeringai saat di cerca.


“Tunggu dulu, dimana bocah itu?” Tanya Bai Han kini sadar jika Duan Li belum kembali.

__ADS_1


“Eeh, tadi aku melihat ia berkeliaran kesana kemari di pusat kota, aku mengira ia akan kesini lebih dulu,” ucap Cen Tian menggaruk kepalanya.


“Sial, bocah itu pasti tidur lagi, jika tidak tidur.” Ucapan Bai Han terhenti dan saat ini ketiganya saling melirik.


“Sial.”


Dengan cepat ketiganya melesat ke arah pusat kota yang telah hancur.


Wuss..!!


Wuss..!!


Saat mereka sampai, mereka bertiga tidak menemukan Duan Li.


Seketika ketiganya memasang wajah memerah. “Bocah itu bahkan jauh lebih mengerikan dari ayahnya.” Ucap Lang Zai langsung mengutuk Duan Du dalam hati yang mempunyai putra merepotkan.


“Ayo kita kejar anak itu, aku yakin ia telah berada di kota Gunxel dan kini-” Bai Han hanya bisa menghela nafas. Ia langsung melesat menuju kota Gunxel di ikuti Cen Tian dan Lang Zai.


***


Kota Gunxel.


“Woah,, inilah yang namanya harta tak ternilai, paman Cen Tian sungguh bodoh mengira benda tak berguna di kira harta,” gumam sosok remaja terlihat berusia 15 tahunan, tapi jika di lihat dari usia tulang, usianya belum sampai 10 tahun.


Dengan mata cerah remaja bernama Duan Li terus menatap ke arah depan.


Saking menikmati, Duan Li tidak sadar jika sosok wanita cantik kini mendekatinya.


“Hei bocah cabul, apa yang kau lakukan di sini hah,” ucap sosok wanita tersebut langsung menjewer telinga Duan Li.


“Aaaaahh mesum.!!”


“Bocah mesum.”


Tak lama, para wanita yang asik mandi kini mulai berhamburan naik lalu mengenakan pakaian, mereka semua baru sadar jika tembok yang menghalangi pemandian kini telah berlubang seukuran kepala Duan Li.


Sementara Duan Li yang di jewer kini berpura-pura kesakitan.


“Argh..!! Ampun bibi, aku kira tadi di sini adalah tempat latihan, makanya aku mencoba mengintip, dan saat mencoba mengintip, bibi langsung menjewer telingai adik kecil ini,” ucap Duan Li memasang wajah sedih dan memelas.


“Heng..!! Kau kira aku tidak tahu jika kau dari tadi mengintip,” wajah wanita cantik tersebut seketika mengganas saat tahu jika dirinya ingin di bohongi anak kecil.


“Ah bibi, kepala ku sakit, mohon lepas dulu, tubuh ku yang di luar tembok kini kaku,” tak kehabisan ide, Duan Li mencoba berasalan agar bisa kabur.


Wanita tersebut sedikit engah saat tahu kepala Duan Li kini masuk ke tembok tempat pemandian para wanita, sementara tubuhnya berada di luar.


Saat ia ingin mencoba melepaskan tangannya dari telingai Duan Li, sebuah suara terdengar anggun.


“Jangan di lepas, hancurkan tembok itu lalu bawa anak ini ke tempat ku, anak ini terlihat sangat licik. Biarkan nanti orang tuanya saja yang datang kesini membebaskannya.”

__ADS_1


Mendengar suara anggun menggema di tempat pemandian, wanita cantik tersebut seketika menatap tajam Duan Li saat tahu jika lagi-lagi dirinya ingin di bohongi.


“Aku akan menghajarmu nanti bocah licik.” Ancam wanita cantik tersbut.


__ADS_2