SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
bab 17 Perlahan Ku Hadapi Cobaan Ini


__ADS_3

“Dan entah kenapa punya feeling kalau Om Hasan akan bertindak semakin brutal kepada kami semua juga, pada saat nanti Notaris mau minta tanda tangan mama, sebagai pemilik tanah yang kamu beli itu, tanah kita di Depok”, kataku akhirnya sambil menyeruput minumanku.


“Aku juga sama, karena pengecekkan biasanya paling lambat juga 2 minggu dan ini sudah waktu mau memasukki 2 minggu, tapi kita akan hadapi sama – sama”, kata Irfan kemudian.


Aku dan Irfan, meninggalkan, Starbucks Coffee, dan kembali ke lokasi syuting, dan pada saat mulai syuting entah kenapa tiba – tiba, saja aku juga memiliki firasat, yang macam – macam lagi, tentang keadaan ini semua, dan yang tidak enak.


“Ya Allah, aku hanya meminta perlindungan kepadaMu, di jauhkan, dari semua mara bahaya, yang akan menimpa hidup aku, aku hanya, berserah kepadaMu, aku hanya ingin mengakhiri semua, apa yang aku alami ini, dengan jalan yang akhirnya bahagia, atas ridhoMu, aku hanya mau, mama dan papaku, dan semua keadaan kembali normal lagi, Ya Allah sebenarnya, apa salahku, yang menjadi prinsip hidup aku juga selama ini, apa yang menjadi keputusan dalam hidup aku untuk menjalani hidup aku, pemikiran aku tentang hidup, dan kesuksesan, aku, apakah aku adalah orang yang sombong, kalau aku berpikir tentang hidup apa yang aku jalani, adalah kehidupan aku sendiri, aku jalani karir aku, bukan dengan aku numpang hidup dengan orang lain, tapi dengan usaha aku sendiri, dan aku enggak mau menjadi orang yang di setir, apalagi dengan cara di paksa, oleh orang lain, aku hanya mempertahankan, yang menjadi prinsip, hak dalam hidup aku, apalagi, sekarang ini aku mempertahankan semua, kalau itu adalah hak – hak yang enggak bisa di ubah, semua aset nama mama aku, mau di apain saja, orang lain enggak punya wewenang, hak asasi manusia, adalah kebebsan, adalah selama yang di jalaninya itu diri sendiri, bukan tergantung dengan orang lain, aku hanya berharap kepada Allah, aku hanya berserah atas semua cobaan ini, aku kadang merasa enggak kuat, namun aku harus bertahan, dan aku hanya butuh orang lain untuk menjadi pendamping aku, dan aku melampiaskan apa yang aku rasakan, sebagai sandaran hidup aku, tapi sepenuhnya aku juga menyerahkan hidup aku kepada Allah, hanya kepadaMu aku berserah ya Allah………!!!!, atas semua masalah hidup aku, aku mohon berikan aku kekuatan hadapi semuanya, akhir dari kisah semua ini, aku serahkan, engkau sebagai sutradara, dan produser dalam hidup ini”


“Rianti, yuk kita mulai lagi”, teguran dari Irfan, membangunkan aku dari lamunan, dan aku mulai untuk syuting lagi, pada akhirnya, kami berdua syuting, selesai pada jam 9 malam, dan Irfan mengantar aku pulang, entah kenapa aku punya firasat aku ingin Irfan malam ini menginap di rumah aku dulu.


“Irfan”, tegurku dengan suara lembut.


“Malam ini nginap yah di rumah aku dulu”, kataku kemudian, dengan suara yang lirih, seperti di serang rasa ketakutan yang campur aduk di dalam hati, dan kemudian sambil menarik nafas, lalu menghembuskannya lagi dari mulut, aku melanjutkan kata - kataku.


“Perasaanku lagi enggak enak”, kataku lagi.


“Yah udah aku temani kamu mala mini”, kata Irfan dan kemudian, dia mengajak bicara Reza supirnya yang mengantar kita.


“Pak Reza, nanti turunkan saya dulu ke rumah Rianti, habis itu ambilin baju saya yah”, kata Irfan.


“Kalau enggak pinjam punya papa saja, enggak apa – apa Fan, kayaknya muat sama kamu”, timpalku.


“Yah sudah kalau begitu aku pinjam kaos harian di rumah, papa kamu saja”, sahut Irfan.


“Oke deh”, ! seruku, tidak lama kemudian, pada akhirnya, sudah tiba, di depan rumahku, dan aku membuka gembok rumah, lalu mempersilahkan, Irfan juga masuk ke dalam rumah, setelah itu, ketika kami berdua, masuk ke dalam, aku masuk dulu ke dalam kamar, dan langsung, mengganti baju, setelah itu, aku keluar kamar, dan melihat Irfan sedang mengobrol dengan mama dan papaku.


Air mataku, menetes mendengar apa yang mereka bicarakan, dan kemudian, aku mengayunkan tangan, dari depan kamar mama dan papa, Irfan menoleh ke arahku, dia tahu aku sedang memanggilnya, untuk mengobrol di dalam kamarku, Irfan langsung masuk ke dalam kamarku.


“Fan”, aku memulai kata – kata yang mau aku sampaikan kepada Irfan.


“Yang jadi masalah juga buat aku, bukanlah soal keuangan kita sedang dalam masalah, karena adanya kekurangan pemasukkan, tapi cuma butuh orang tahu, apa yang aku rasakan dengan keadaan juga masalah keluarga aku Irfan, juga kelakuan Om Hasan sama aku, semakin ke sini, semakin bikin stress aku Fan, juga yang lainnya, aku bisa benar – benar gila kalau begini terus, untung ada mama dan papa, juga kamu, tapi kita bertiga juga stress Fan dengan masalah ini semua, dan enggak tahu harus cerita dengan siapa”, kataku panjang lebar.


“Dan aku udah lagi emosi banget dengan semua teman kuliah aku termasuk, Riska”, aku menarik nafas karena emosi yang semakin panas di hati aku, namun aku hanya bisa menangis, dan aku menaruh kepala aku di pundak Irfan.


“Apa selama ini aku juga cuma di anggap sama mereka kalau ada perlunya aja juga, kalau enggak perlu, enggak hubungi, aku bukan boneka yang cuma di jadikan alat ego kepentingan urusan pribadi orang lain, tanpa mikirin, perasaan aku sendiri, keadaan aku kayak apa, selama ini kayak gitu kan, kamu bayangin perasaan aku gimana, dan enggak usah, orang – orang itu juga menuduh, menghakimi, mengejduge orang lain yang jelek, seharusnya berkaca diri sendiri, aku jadi apa – apanya ke kamu, di sebabkan, aku punya teman kuliah juga yang bukan orang bisa di ajak komunikasi kalau lagi begini, dasarrrrrrrrrrrrr anjing, bangsattttt semuanyaaaaaaaa”, tiba – tiba saja aku ingin berteriak keras, dan melempar bantal yang ada di dekat aku ke arah tembok, Irfan berusaha menenangkan aku.


“Rianti, aku yang nemenin kamu, enggak perlu yang lain kalau begitu”, kata Irfan seolah berjanji akan untuk selamanya, dia menemani aku, aku menangis lagi sejadinya, sambil mengucap astragfirulloh, agar aku bisa tenang, dan kemudian, aku mengambil air wudhu, untuk mulai sholat Isya.


Setelah sholat Isya, aku mulai memanjatkan doa, agar semua jalan hidup, yang aku jalani begitu pelik, tanpa ada teman bicara kecuali Irfan bisa ada jalan keluarnya, Irfan pun keluar dari kamar aku, dan dia masuk ke dalam kamar tamu, aku mendengar dia sendiri terisak, seolah juga meratapi nasib dirinya sendiri, di tempat yang berbeda dengan kamarku, di kamar tamu itu, Irfan mengambil wudhu dan juga sholat Isya, dia juga memanjatkan doa, atas apa yang di rasakannya juga selama ini begitu pelik.


Aku dari kamarku, mendengar tanpa sengaja dia sedang menelepon mama Vinda, sambil menangis, aku sengaja menguping dari balik daun pintu, aku rasa ingin tahu, apa yang mereka bicarakan di sana.


“Maaa, terus – terang, sebenarnya di luar masalah Rianti kita sendiri masuk dalam perangkap buaya, dengan fans, yang obsesinya, gilaaaa, dan merugikan orang lain, mereka bukan orang yang mencintai seseorang karena Allah tapi karena nafsu”, kata Irfan, itu kata – kata yang aku dengar dia bicara di telepon dengan mama Vinda.


“Sebenarnya aku juga bingung dengan keadaan ini, semua, apakah juga salah takdir aku ketemu dengan Rianti, yang teryata juga seorang penulis, enggak jauh – jauh dari dunia entertainment, tapi ini semua enggak ada hubungannya dengan itu, maaa, fans aku itu walau sebagian orang, aku sudah muak dengan sikap mereka, yang di pikirnya aku ini begok terus dan menerus di putar balikkan fakta, di atas namakan, untuk sebuah kecurangan, mereka apa – apa ke orang lain bawa nama aku, yang buat nama aku jelek, hanya karena obsesi, sehingga orang lain berpikir yang macam – macam sama aku, yang enggak tahu tentang aku, wajar saja netizen orang luar bukan orang dalem, dan seharusnya yang bertanggung jawab, itu orang dalem, maa aku sendiri menanggapi orang lain yang komsultasi dengan aku masalah gaib itu dengan baik – baik, tapi mereka pake nama aku, seolah bukan dengan cara baik – baik, aku di curangi di kala jumpa fans, aku kita di ambil, oleh mereka sendiri, mereka maling, dan orang yang bermuka dua juga ma, terserah orang menilai apa, karena salah sangka, terhadap pribadi aku, tapi Allah tahu jawaban sebenarnya”, kata Irfan.


Sudah jelas dari kata – kata Irfan tersebut, memang dia juga mengalami hal yang sama, jadi selama ini, juga memang aku juga sudah tahu, tiap kali, acara jumpa fans, uang itu enggak pernah masuk ke rekening Irfan atau mama Vinda, sebagai manager Irfan, tapi mereka sendiri, bahkan mereka membuat harga yang lebih mahal daripada fakta yang sebenarnya, kalau Irfan yang menarik bayarannya, bahkan sebenarnya Irfan tidak pernah menarik bayaran dari orang lain atas dasar apapun.


Aku mengetuk pintu kamar Irfan, dan Irfan membuka pintunya, dari sorot matanya, dia sudah tahu, kalau aku mendengar semua pembicaraan dia dan mama Vinda.

__ADS_1


“Aku juga sama, kita sama – sama hadapi, itu sudah jelas adalah bentuk sebuah alasan kenapa orang lain juga mau pecah belah hubungan kita, bukan masalah obsesi, tapi kita di antara orang – orang yang gila harta”, kataku panjang lebar dan masuk ke dalam kamarku sendiri untuk istirahat karena sudah malam.


Adzan subuh berkumandang, aku mulai terbangun untuk kembali mengambil air wudhu dan mulai sholat subuh, ketika sholat subuh, ku lakukan sudah selesai, aku bersujud, berserah kepada Allah, atas semua masalah yang aku hadapi.


“Ya Allahhhhhhhhh…., aku mohon dengan ridhoMu, atas apa yang aku hadapi sekarang ini, ada jalan terbaik dari restuMu, aku sekarang, paham, dengan apa yang aku rasakan sekarang ini, bahkan benar – benar aku mengerti, kalau semua, yang aku rasakan ini semua, yang sudah dari dulu juga, aku rasakan, adalah bukan, masalah suka atau enggaknya, orang terhadap Irfan, bukan soal fans atau hatters, tapi adalah orang – orang yang sama – sama mau menguasai hidup aku, bahkan mungkin Irfan juga, dan aku sudah sangat mengerti sekarang, Ya Allah, aku mohon dengan RahmatMu, agar aku selalu dalam perlindunganMu, dari mara bahaya apapun yang akan menimpa aku”


Baru saja selesai, memanjatkan doa, aku mendengar ketukan dari luas, dan di jam dinding, tanpa terasa, juga, sudah menunjukkan pukul 6 pagi, aku membuka pintu, dan Irfan berdiri di depan pintu kamarku, sambil membawa Hpnya.


“Hari ini, Mbak Atin mau ke rumah lagi nanti jam 10 untuk fisioterapi mama Reina, soalnya kelihatannya, mama Reina juga sudah cocok dengan Mbak Atin, nanti kita jemput lagi aja, di rumah sakit, biar dia suruh tunggu dan jangan jalan sendiri, agar enggak kena hasutan oleh siapa – siapa, setelah masuk ke dalam rumah kita kunci lagi rumah”, kata Irfan.


“Iya Irfan”, kataku mengangguk.


“Nanti temani ke Alfmart yah, mau beli whiskas buat kucing habis, dan sekalian beli sarapan bubur ayam”, kataku kemudian.


“Iyah, aku masih nginap kok di rumah kamu, dan aku akan sering nginap di rumah selama keadaan masih seperti ini”, kata Irfan menambahkan ucapannya.


Aku menutup pintu kamarku, dan ketika berada di dalam kamar sendiri, entah kenapa aku punya perasaan tidak enak juga mengenai Mira, dia sedang bertemu dengan Elin, dan mencari pendukung, agar bisa memanfaatkan situasi ini semakin pelik, rasanya sekarang saatnya aku juga harus menjadi mata – mata fans gila Irfan itu, yang membuat keadaan masalah ini semakin rumit, karena di buat dramatisir oleh mereka semua.


Aku menerobos masuk ke dalam kamar tamu, dan aku sudah tidak sabar untuk menyampaikan apa yang tersirat di hati aku, Irfan sudah tahu apa yang aku pasti katakana kepadanya, karena itu dia menatap aku tajam.


“Irfan aku punya feeling sesuatu tajam, pagi ini, dan rasanya enggak enak, kita ke rumah Elin, fans gila kamu itu, dan aku tahu, kamu pasti tahu rumahnya, pasti dia lagi melakukan sesuatu di sana”, kataku akhirnya mengungkapkan apa yang aku rasakan.


“Oke kalau begitu, aku bilang sama Mbak Atin nanti sore saja, fisioterapinya”, kata Irfan kemudian, dia nampak sedang mengetik pesan whatsapp memang.


Jam 7 sudah, waktu semakin berjalan, pagi sudah mulai terang, aku langsung mandi dan membeli bubur ayam, bersama Irfan, dan kemudian kita mengobrol di meja makan berdua.


“Yah udah kalau begitu, aku langsun mandi setelah sarapan kita ke sana, kita coba selidiki mau apa aja, Mira itu sama Elin”, kataku, dan mengambil handuk di jemuran, lalu membawanya ke kamar mandi, Irfan juga, mandi di kamar mandi yang berada di luar, yang posisinya menghadap ke arah kamar mama dan papa.


Setelah selesai, mandi, aku langsung mengganti bajuku, dengan kaos kemeja warna, hitam serta celana warna hitam juga, dan kemudian menyisir rambutku, barulah, menaruh Hp, serta dompet di dalam tas, Irfan juga, terlihat dia sudah siap, dan sedang mengobrol sejenak di kamar mama dan papa.


“Hati – hati saja”, kata mama, dan papa hanya menganggukan kepala, mendengar ucapan mama, serta papa, juga menandakan dia setuju, aku dan Irfan ke meja makan, untuk sarapan setelah itu baru berangkat, dengan taksi, dan selama dalam taksi Irfan menceritakan semua apa yang dia tahu, dan aku tidak tahu.


“Mira, sama Elin itu deketan orangnya”, kata Irfan memulai ceritanya.


“Juga sama Indah, dan sebenarnya aku tahu kebohongan dia juga dengan orang lain, yang mendzolimi juga orang lain selain aku”, kata Irfan lagi.


“Waktu itu Mira pernah cerita kan, kamu pernah dengar katanya kalau Indah itu orang yang obsesi dan halu sama aku”, kata Irfan kemudian.


“Itu bohong”, kata Irfan lagi.


“Aku tahu banget, Indah itu orang yang gimana, dia fans aku tapi berbeda dengan yang lainnya, bahkan aku juga sebenarnya kenal dengan keluarganya, karena Indah pernah ceritain itu semua di depan keluarganya”, kata Irfan menambahkan ucapannya.


“Dan aku yakin, Indah enggak mungkin nipu aku”, kata Irfan lagi.


“Tapi dengan apa yang sudah – sudah menurut aku, kamu harus hati – hati juga Fan”, aku memberikan masukkan kepada Irfan tentang apa yang di ceritakannya itu padaku.


“Iyah aku paham”, Irfan menganggukan kepalanya.


“Tapi Indah, dia sebenarnya adalah orang yang berlatar belakang, kondisi keluarganya sangat membutuhkan uang, Indah sendiri, sebenarnya, dia enggak mau masuk ke grup fans lovers aku, kata Indah, aku lebih baik menyayangi seseorang di jalan Allah, daripada memuja seseorang, yang akhirnya cinta itu adalah buta, dan membuat dia harus terjerumus ke dalam dosa”, kata Irfan menceritakan apa yang di ucapkan Indah kepadanya.

__ADS_1


“Di mata Indah sebenarnya, terhadap aku, dia hanya butuh bantuan, dan butuh perhatian dengan keadaannya enggak ada yang lain, orang – orang di sekitarnya enggak ada yang peduli sama keadaan dia, bapaknya di PHK, dan ibunya cuma ibu rumah tangga biasa, mau cari nafkah, jualan makanan, justru kadang malah belum tentu laku ada yang beli”, Irfan bercerita panjang lebar.


“Dan sebenarnya, aku pernah transfer uang untuk kebutuhan hidup dia, sebagai bantuan aku sama Indah, dan Indah sebenarnya justru menolak uang pemberian aku, masalah Indah orang yang halu atau apa, Indah itu orang yang suka kadang bercanda dengan aku, hanya sekedar menghibur dirinya sendiri, dan sebenarnya dia sendiri pun hubungannya dengan Mira dan teman – teman di fans lovers, dia enggak suka dengan semua orang itu, Indah aku tahu, dan melihatnya sendiri, kalau mereka mendzolimi Indah, memaksa Indah, waktu acara jumpa fans aku yang di Yogyakarta, dia suruh Indah, menarik bayaran di luar izin dari aku dan team, padahal kalau dari sepakatan aku, sebenarnya mereka kalau enggak ada uang, boleh nonton gratis, kamu tahu sendiri, aku orang yang seperti apa, tapi apa yang mereka lakukan terhadap Indah, benar – benar gila, Indah di suruh narik bayaran 350 ribu, per orang, dan kata mereka, itu adalah kata aku dan manager aku sudah izin, padahal enggak sama sekali, dan itu bohong sehingga lagi – lagi, orang berpikir buruk tentang aku, tapi aku tahu apa yang di lakukan Indah itu terpaksa, dan soal Indah di cap orang enggak benar, hanya karena dia pernah DM di Instragram aku panjang lebar, kata mereka kan, bilang kalau Indah itu halu, kegilaan sama aku, sampai aku blokir, mereka bohong, aku enggak pernah yang namanya blokir siapapun orang yang membutuhkan aku, apalagi Indah Dm itu curhat tentang keadannya, dan Insya Allah, selama dalam hidup aku masih bisa membantu orang lain semampuku, aku akan membantunya”, kata Irfan panjang lebar.


“Astragfirullohhhhhh…, mungkin di otak mereka karena terlalu nafsu dengan paras seseorang kali, termasuk Mira si gila itu, selain itu terlalu mengejar duniawi, dan lupa pada Allah, semua yang di ciptakan akan kembali padaNya”, aku menanggapi cerita Irfan dengan sangat antusias.


“Dan sekarang aku sudah paham, mereka benar – benar orang yang cuma hidupnya mau mencari untung saja demi ego dan kepentingan pribadi, tanpa mikirin perasaan orang lain”, kataku kemudian.


“Jika kita mencintai seseorang, dan kalau rasa sayang kita kepada orang lain, itu karena Allah, maka rasa sayang itu akan di jalan yang benar, manusia itu wajar saling membutuhkan satu sama lain, untuk kasih dan sayang, tapi sepenuhnya, kita serahkan, semua yang di rasakan itu kepada Allah, berharap dengan manusia, banyak kecewanya, tapi dengan Allah, enggak, dan fans kamu, itu adalah termasuk orang yang justru mereka sendiri, yang merendahkan harga diri mereka sendiri, karena obsesi, dan uang”, kataku panjang lebar.


“Itu benar”, Irfan mengangguk.


Pada akhirnya kami berdua sampai di alamat yang di tuju, aku dan Irfan sengaja turun tidak di depan rumah, tapi agak menjauh di depan komplek perumahan mereka, Irfan melihat lagi, catatan di notes Hpnya, mengenai alamat rumah yang sekarang kita sedang tuju.


Jl. Melati no $ Blok C


Perumahan Melati Indah


Jakarta Timur


Rumah Pak Hamzah Sanusi


“kita coba ke sini, aku semakin punya perasaan enggak enak, dan sepertinya, emang lagi cari orang yang juga untuk di suruh olehnya”, kataku kemudian.


Irfan hanya mengangguk, sambil melanjutkan langkah kakinya, dan kemudian dia berhenti di depan rumah seseorang yang pagarnya berwarna putih, aku berdiri di sebelah kirinya.


“Asalamualaikum”, sapa Irfan dari luar pagar.


“Walaikumsalam”, balas seseorang perempuan dari dalam rumah, dan terlihat dia membuka pintu rumah, dan pergi ke arah keluar rumah, lalu menghadapi kami berdua, dengan wajah penasaran dan ingin tahu.


“Mbak rumah Pak Hamzah Sanusi itu di mana yah”, ? tanya Irfan.


“Oh di sebelah kanan tiga rumah dari rumah ini”, jawab perempuan itu.


“Oh yah sudah makasih”, kata Irfan kemudian.


Aku dan Irfan melanjutkan langkah kaki ke rumah tersebut, dan benar saja memang di dalam ada Elin, jelas sekali mereka sedang membicarakan apa, aku dan Irfan bersembunyi dari belakang pintu belakang rumah, tapi merekam pembicaraan mereka, melalui rekaman suara di aplikasi Hpku.


“Masalahnya, kalau ada Rianti itu juga yang ada abis kita semua, dan kalau Irfan juga dekat dia, yah untung aja, Rianti itu juga punya masalah keluarga yang orangnya cuma mau hartanya aja, kenapa enggak kita juga cari kesempatan dari ini semua, kita juga harus dapat untung dari Irfan Santoso, orang ganteng, artis lagi, siapa yang enggak mau jadi pacar dia juga, jadi suami dia, apalagi duit dia juga, dia punya duit banyakkkk sekarung, kita juga manfaatin juga bisa, namanya juga fans yah cari untung dari idolanya, yah goblok, kalau si Indah itu, enggak mau ambil untung dari idola, terus buat apa dia jadi fansnya Irfan Santoso, kalau hanya butuh kasih dan sayang dari seseorang, jangan sama artis terkenal yah sama panti asuhan aja gitu, atau bagian perlindungan manusia”, kata Mira panjang lebar.


“Lagian juga, kita emang sengaja, mengatas namakan dia, dengan cara bilang kata dia, dan mama Vinda, alias boongin orang, kalau enggak kita, Irfan enggak bisa jadi milik kita seutuhnya”, Elin menanggapi dengan pemikiran yang sama dengan Mira.


“Jadi gimana, mau Indah kita juga jadikan alat”, ? tanya Mira.


“Bisaaaa, kita suruh Indah adakan jumpa fans lagi, tapi uangnya buat kita semua”, jawab Elin.


“Nah terus masalah Rianti gimana, tuh orang kita bisa jadikan alat juga”, ? tanya Elin.


“Kamu bukannya kenal dengan Om Hasan, Om Rianti, yang gila duit itu, yah udah

__ADS_1


__ADS_2