SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BAR-BAR


__ADS_3

Maisya menggandeng Dimas di sisi kiri dan Affhan di sisi kanannya. Gadis itu memang tak pernah lepas dari penjagaan dua kakaknya begitu juga dengan empat bodyguard yang mengiringi mereka.


"Paklek ke mall yuk!" ajaknya.


"Mau ngapain, mentang-mentang udah gajian!" sindir Affhan.


"Ih ... mau beli makanan apa gitu!" sahut Maisya ingin sekali jalan-jalan.


"Baby ... Mama dan semua udah buatin kita makanan banyak loh. Masa nggak dimakan sih?" ujar Dimas memperingati.


"Iya ... lagian enakan masakan Mami lagian dari masakan di luar itu," timpal Affhan.


"Mau jalan-jalan!' rengek Maisya.


Affhan sebenarnya juga sangat ingin pergi keluar dan sedikit bersenang-senang dengan hasil jerih payahnya. Tetapi, didikan orang tua yang meminta ia harus berbagi pada semua saudara membuatnya sedikit ragu.


Pemuda berusia sembilan belas tahun itu ingin membeli barang dari uang hasil jerih payahnya.


"Kalau gitu ayo kita ke mall!" ujar Dimas yang ternyata ingin juga.


"Tuan muda!' peringat Santo pada anak ketuanya itu.


"Papa kalo nggak mau ya nggak usah ikut!" ketus Maisya sebal.


"Kali ini aja Pa!" rengek Affhan pada empat pengawalnya.


Akhirnya mereka pun pergi ke mall terbesar di kota itu. Karena menjelang berbuka. Banyak sekali penjual jajanan takjil di sana.


"Papa ada lemang yang masih di bambu!" teriak Maisya menunjuk satu makanan khas.


"Beli Paklek!" pinta Affhan pada Dimas.


"Karena makanan ini baru di rumah. Pasti banyak yang mau nyoba!" ujar Dimas.


"Beli banyakan aja Paklek!" saran Maisya.


"Sepuluh batang aja kali ya!" Maisya dan Affhan mengangguk.


"Bu ini makannya pake apa?" tanya Dimas pada penjual.


Tiga anak muda dengan paras tampan dan cantik. Tentu jadi sorotan semua orang di sana. Bahkan penjual itu jadi kerepotan gara-gara ada mereka.


"Bisa pake rendang atau tapai ketan item Mas," jawab sang ibu tersipu-sipu.


"Wah, kalo rendang mungkin bisa kita Uma atau umi buatin ya. Kita makan pake tape ini pasti seru!" ujar Affhan.


"Ini dalamnya nasi?" tanya Maisya memegang bambu.


"Ketan Mba cantik," jawab penjual lagi.


Maisya tersenyum dipuji sedemikian rupa. Senyuman gadis itu menular pada semua orang.


"Masyaallah ... cantik banget!" seru beberapa orang.

__ADS_1


Empat penjaga tentu harus mengurai semua orang untuk mendekati ketiganya. Selesai membeli lemang. Mereka ke arah tempat lain.


"Paklek ... itu mau dong!" rengek Maisya pada satu penjual kue pancong.


"Dikit aja ya ... takut nggak ke makan. Nanti mubazir!" angguk Dimas.


Maisya membeli sepuluh potong kue itu. Setelah itu mereka masuk dalam mall. Di dalam juga sangat ramai. Banyak penjual dan pembeli berbaur jadi satu. Hal itu membuat Dimas dan Affhan saling mengeratkan gandengannya.


Jarang keluar rumah membuat mereka sedikit takut keramaian. Terlebih banyak keriuhan di salah satu tempat karena ada diskon besar-besaran di sana.


"Nona ... Tuan ... apa kalian masih mau masuk?" tanya Lukman sedikit khawatir pada tiga majikannya.


"Kita maju yuk!' ajak Dimas menenangkan dua keponakannya itu.


Ketiganya pun bergerak maju. Santo sudah menghubungi beberapa rekannya untuk mengatasi situasi.


Maisya melirik satu outlet sandal. Gadis itu terpikat dengan salah satu alas kaki yang menurutnya lucu.


"Ih ... lucu!"


Gadis itu tak berasa melepas pegangan tangannya. Karena banyak orang lalu lalang. Dimas dan Affhan terlepas. Lukman langsung menjaga Affhan dan mengembalikan pada Dimas.


"Baby?" Dimas mencari Maisya.


Mereka sudah ada di tengah-tengah mall yang banyak manusia. Santo langsung mencari keberadaan Maisya.


"Kita keluar Tuan!' ajak Lukman.


Dua pemuda dibawa keluar bersama tiga pengawalnya. Sedang di dalam Maisya masih asik membeli beberapa sepatu lucu untuk seluruh perusuh perempuan yang masih berjalan dengan dengkulnya itu.


"Hai!' sebuah senyum penuh rencana terukir di bibir seorang pria.


Maisya kebingungan, ia sedikit panik karena dua saudaranya menghilang. Gadis itu mulai berkaca-kaca.


Jarang bahkan tak pernah bersinggungan dengan banyak manusia membuat Maisya sedikit kurang sosialisasi.


Gadis itu mulai gelisah, ia tak terbiasa dengan orang-orang baru.


"Hei ... jangan menangis Nona. Jangan takut, aku bukan orang jahat!" ujar pria itu bersuara lembut menenangkan Maisya.


Maisya Black Dougher Young adalah anak mafia. Walau sang ayah tak pernah mengajarinya. Tapi darah mafia mengalir dalam tubuhnya. Gadis itu cepat sekali menilai lawan bicaranya.


"Maaf saya tidak kenal anda!' ujarnya ketus.


Gadis itu memilih mengambil barang belanjaannya. Ia menguatkan hatinya walau tangannya kini tengah tremor. Pramuniaga melihatnya.


"Mba nggak apa-apa?' tanyanya khawatir.


"Mba bisa di sini dulu biar semua tenang, atau mba mau telepon orang rumah?" tawarnya begitu baik hati.


Maisya menelisik gadis yang usianya sama dengannya cantik dan tampak begitu dewasa. Gadis itu merasa tenang bersama sosok pramuniaga itu.


"Aku nggak apa-apa mbak, makasih,' ujar Maisya.

__ADS_1


Santo terus berdesakan dengan orang-orang mencari keberadaan nona mudanya. Satu tangan panjang hendak mencuri dompet pria itu.


Krek! Terdengar teriakan minta ampun. Pencopet dicekal sedemikian rupa oleh Santo. Beberapa sekuriti mendatangi Santo.


"Dia mencuri dompet saya!" tuduhnya langsung dengan barang bukti di tangan pria itu.


"Kalau begitu ikut kami ke kantor pos pak kita lanjutkan ke kantor polisi ya!"


Mau tak mau Santo memberitahu rekannya atas kejadian yang menimpa. Virgou mengepal tangan kuat-kuat.


"Aku pergi!" ujarnya bosan menunggu.


Tak diindahkannya teriakan Gomesh yang mengejar. Pria itu mengambil lagi motor milik Saf dan menggebernya kencang menuju mall.


Maisya pergi dari toko sepatu. Gadis itu menenangkan dirinya. Ia melirik beberapa baju cantik. Ajaran orang tua yang melekat membuatnya memikirkan seluruh keluarga dan mengabaikan kesenangannya.


"Ih itu lucu banget!" teriaknya..


"Iya Nona itu lucu ... boleh aku membelikannya untukmu?" tawar pria itu.


Maisya tersenyum sinis pada pria yang dari tadi mengikutinya itu. Seorang laki-laki berpakaian necis dan rapi. Sepertinya boss besar karena terlihat dari dandannya.


"Maaf ... saya mampu membelikan untuk seratus saudara saya sekaligus!' sahut Mai angkuh.


"Jangan sombong Nona!'


Pria itu hendak mencolek dagu Maisya. Gadis itu menepis kuat tangan besar itu.


"Ih ... andai ada Bu'lek!" gerutunya kesal dalam hati.


"Jangan galak-galak Nona ... nanti kamu jadi perawan tua!" ledek pria itu mulai berlaku tak senonoh pada Mai.


Maisya meletakkan semua belanjaannya di lantai. Rupanya, pria itu masih ingin menguji kesabaran gadis itu.


"Ikut aku Nona. Kau akan kusirami benih cinta!" ujar pria itu vulgar.


Dug! Pria itu mengaduh ngilu. Senjatanya yang berkedut karena berpikiran mesum kini berdenyut akibat sepakan kaki Maisya yang begitu kuat.


'Kau ... kau kurang ajar!" teriak pria itu tak terima.


Satu tangan besar menampar pipi Maisya. Gadis itu mengelak dan tangan itu hanya terkena angin kosong.


Pria itu kembali bergerak, kali ini ia maju dan mengarahkan tinjunya pada Maisya.


'Kubunuh kau!" sebuah teriakan menggema.


Sosok pria besar melesat dan memukuli pria necis itu bertubi-tubi.


Virgou memeluk putrinya dan membawa gadis itu pergi. Gomesh terengah melihat pria yang pingsan dan babak belur.


"Cis!"


bersambung.

__ADS_1


Wah ... wah ... wah.


Next?


__ADS_2