
Halo asalamualaikum Irfan udah tidur”, ? tanyaku.
“Walaikumsalam, aku baru bikin nasi goreng telor, kamu ke rumah aku yah, kalau mau ngobrol, aku bukain pintu yah”, jawab Irfan, dan aku mengakhiri pembicaraan dengan Irfan, aku datang ke rumahnya dan langsung duduk di kursi yang menghadap ke arah laci dapur, sambil menyuap nasi goreng buatan Irfan, entah kenapa ada sesuatu yang ingin aku ceritakan mengenai Tania dan bukan hanya itu saja.
“Irfan, menurut apakah itu salah, aku banyak mengenal orang yang terkenal hanya karena aku penulis, aku kenal mereka, bukan karena aku ngejar – ngejar orang untuk jadi terkenal Fan, dan kamu tahu sendiri, aku emang menjual buku aku di Instragram, dan hal itu juga kamu menghubungi aku buat beli buku kan”, kataku sambil menyuap suapan kedua nasi goreng ke dalam mulut.
“Yang rendah dan enggak punya harga diri, adalah mulut orang itu sendiri, terkadang manusia itu menjilat lidahnya sendiri dengan kata – kata mereka sendiri, tapi apa yang aku pikirkan saat ini, apapun itu juga, rezeki enggak akan kemana, masalah rezeki kita hanya menjalani saja, dalam hidup, aku bisa jadi penulis karena Allah, yang memberikan aku kelebihan untuk jadi penulis, tetapi semua itu hanya sementara”, kataku lagi.
“Kalau mereka menghubungi aku, apakah itu namanya, aku yang sombong, pola pikir orang yang enggak cerdas, adalah selalu judge orang lain tanpa melihat faktanya lebih dulu, aku tahu yah orang semacam Kak Aji, Kak Devi, Kak Karin, itu semua adalah orang terkenal yang sering ada di Tv, tapi aku bukan orang yang merendahkan diri aku semacam itu, hanya karena ingin mencari terkenal, menjadi terkenal atau enggak itu, semua sudah yang atur, hidup tinggal di jalani saja”, sambil menyuap makanan lagi, aku meneruskan kata – kataku.
“Aku paham”, Irfan menanggapi singkat.
Dia kembali berjalan ke arah dapur, dan kemudian membuka laci dapur, dan mengambil suset, kopi susu good day di dalamnya.
“Kamu mau kopi susu Ri”, ? Irfan menawarkannya padaku.
“Iyah aku mau”, kataku mengangguk.
“Irfan, kamu masih ingat, dulu kamu pernah masukkin aku ke grup fans kamu, tapi aku enggak pernah chattingan sama mereka di whatsapp grup, namun aku sudah tahu mereka seperti apa dari percakapan mereka, walau aku keluar secepat itu, dari grup tapi pada akhirnya, aku jadi tahu, mereka seperti apa, aku tahu maksud kamu agar aku, bisa tahu tiap event yang kamu buat, agar tahu info saja, tapi aku di undang gratis sama kamu, namun karena adanya grup fans kamu itu yang orangnya mata duitan, terobsesi tanpa berpikir pake otak sama kamu, dan orang yang gila harta juga, orang lain yang enggak tahu, jadi menilai kamu yang salah, menurut aku, semua itu karena dari kesalahan yang kamu enggak sadari juga Fan….”, kata – kataku, membuat Irfan terhenyak diam, memandang gelas yang di depannya, barulah dia membalikkan badan, dan menaruh minuman itu di atas meja.
“Dan aku enggak juga menjadikan teman dari awal juga, dengan orang yang semacam itu Fan, kamu tahu kan, aku orangnya gimana, Irfan, aku hanya menilai juga kesalahan yang kamu dulu, juga sebenarnya lakukan, seharusnya kamu enggak masukkin aku ke grup itu, tapi kalau enggak masuk, aku enggak pernah tahu mereka seperti apa”, aku melanjutkan kata – kataku.
“Yah aku minta maaf Rianti soal itu, itu semua emang karena aku yang mengawalinya, tapi sekarang kita semua jadi sama – sama melihatnya, sekarang, mereka fans aku seperti apa, sebenarnya tujuan aku, juga, agar kamu tahu mereka seperti apa Ri, sebelum aku kenal kamu, aku sudah tahu mereka seperti apa, tapi Indah orang yang berbeda daripada mereka semua”, Irfan menanggapi sambil duduk di sebelahnya dan meneguk kopi susunya.
“Seharusnya mereka enggak perlu tahu kontak whatsapp kamu Fan”, kataku lagi dan menggelengkan kepala.
“Aku minta maaf kalau aku harus ngomong kayak gini sama kamu, lebih baik aku omongin yang sebenarnya, yang selama ini aku rasain, daripada aku tahan sendiri, dan itu rasanya sakit, kalau emang kamu mau undang aku bisa ke wa pribadi aku aja kan, biasanya juga kamu begitu, sama aku”, kataku lagi.
“Rianti, aku paham kenapa aku jadi sekarang marah sama aku soal itu”, kata Irfan lagi.
“Aku minta maaf, ini emang salah aku juga, dan kalau emang kamu mau menyalahkan aku, kamu boleh bentak aku sekarang Ri”, ! tegas Irfan.
“Kesalahan, bukan untuk di jadikan keributan antara kita berdua begini, tapi dari kesalahan itu, kita belajar, bagaimana caranya semua enggak akan terulang lagi, dan masalah yang sudah terjadi, itu adalah cobaan, yang emang harus kita hadapi, Allah pasti akan cari jalan keluar terbaik untuk umatNya, karena manusia enggak ada yang lepas dari masalah hidup, tapi kalau enggak pernah ada masalah bukan hidup namanya”, kataku dengan suara mulai reda emosi yang dari tadi sedang menguasai hati.
“Kamu bantu sampai sertifikat itu ketemu, kalau emang enggak ketemu, aku ikhlas, tapi orang yang mencurinya nanti akan kena karmanya sendiri”, kataku lagi.
Baru saja bicara begitu, Irfan sudah mendapat telepon, dari Rendy dan aku mendengar lagi apa yang mereka bicarakan di telepon.
“Halo asalamualaikum iyah Ren”, kata Irfan.
“Walaikumsalam”, balas Rendy.
“Besok ketemu yah, di Mall Kelapa Gading food court biasa, pada jam 3 sore saya mau bahas tentang bukti baru yang saya temukan”, kata Rendy.
“Begini sepertinya keluarga Rianti dan fans Irfan, sedang mengincar keberadaan kamu, dan kayaknya Tania, itu lagi bayar orang buat mata – matain keberadaan kamu, sebaiknya langsung pindah lagi aja, dari situ dulu, sambil mungkin mama butuh pengobatan, saya ada informasi mengenai tempat pengobatan alternative stroke yang baru, dan di sana ada tempat menginapnya, cuma selama ini mama sudah di rawat oleh Mbak Atin yah”, kata Rendy.
“Iyah dan mbak Atin kata Rianti juga sekalian perawatan diabetes kakinya papa Rianti, “ sahut Irfan.
“Aku aja yang ngomong”, timpalku dan Irfan memberikan Hpnya kepadaku.
“Kalau masalah itu, begini mama dan papa, juga sudah di rawat oleh Mbak Atin, dia tinggal ikut di rumah kontrakan ini juga kok”, kataku menjelaskan.
“Yah sudah kalau begitu Mbak Atin ikut saja ke tempat itu, karena teryata di sini, ada artikel lagi yang sepertinya itu dalangnya Tania, fitnah mengenai Mbak Atin”, Rendy menjelaskan.
“Coba kirim saya sekarang kalau begitu”, aku mengakhiri pembicaraan dengan Rendy dan Rendy mengirimkan artikel itu via whatsapp Rendy.
“Astragfirulloh”, guman, Irfan dan menunjukkan artikel itu kepadaku.
SEORANG PERAWAT DAN FISIOTERAPI MBAK ATIN, PENYEBAB DARI FISIOTERAPI YANG LAMA, IBU REINA JADI BERHENTI, DAN ITU SEMUA KARENA HASUTAN DARI IRFAN SANTOSO, DAN IRFAN SANTOSO JUGA, MENCULIK MBAK ATIN, DAN RIANTI JUGA KEDUA ORANG TUANYA YANG SAKIT,
Gina, adalah seorang fisioterapi yang sudah lama, dan Ibu Reina sudah cocok dengan Gina tapi Gina jadi berhenti karena kedatangan orang fisioterapi yang baru Mbak Atin, dan semua itu karena hasutan Irfan, yang seorang artis juga host juga sahabat dari Rianti, bukan hanya itu Irfan melakukan penculikkan keluarga tersebut.
__ADS_1
“Ini semua berita hoaks yang juga mau menjatuhkan nama aku juga Ri”, kata Irfan.
“Dan artikel ini sumbernya dari Tania sepupu kamu itu”, kata Irfan lagi.
“Tapi dari Fans aku juga buat artikel yang mengarah kepada Indah dan kamu juga, sedangkan, dari keluarga kamu yang mengarah ke Mbak Atin juga sekarang, selain ke aku juga”, kata Irfan kemudian.
“Nanti di rumah aku mau ngomong sama Mbak Atin”, kataku kemudian.
“Dia mungkin sudah baca juga artikel ini”, kataku lagi.
Bab 8. Mereka Yang Mengawasi Semakin Gencar Untuk Meneror.
Aku pulang, ke rumah, dan memperlihatkan artikel tersebut, kepada Mbak Atin, dan Mbak Atin, yang membaca hal tersebut langsung menarik nafas panjang, dan dia sendiri juga menangis, sambil memelukku, papa yang mendengar suara tangisan Mbak Atih, dengan tertatih karena lukanya yang masih basah akibat diabetes di kaki, belum juga sembuh, mama sendiri entah kenapa, padahal Mbak Atin, adalah orang fisioterapi handal namun perubahan begitu – begitu saja, entah kenapa, tetapi semua aku serahkan kepada Allah, penyakit apapun juga, manusia hanya berusaha, tetapi yang menyembuhkan adalah Allah, namun di sini juga di satu sisi lain, aku pun merasa ada yang janggal, aku merasa, seperti ada sesuatu yang memang membuat keadaan tanpa akhir, dan ruwet.
“Mbak Rianti, kita ke rumah Irfan dulu yuk”, ajak Mbak Atin.
“Irfan ada di rumah kan”, ? kegelisahan hati Mbak Atin aku paham akan hal itu, karena dia jadi ikut terbawa – bawa, bahkan emosi juga ikut di rasakan, karena fitnah juga di layangkan oleh Mbak Atin, memang benar – benar keluarga biadap seperti iblis, ingin menguasai harta, sampai harus menyingkirkan semua oaring yang dekat denganku.
Keesokan harinya, aku dan Mbak Atin ke rumah, Irfan di pagi hari sehabis aku selesai sarapan, dan mendiskusikan masalah ini semua, aku sudah di tingkat gelisah, yang semakin, menjadi dalam diriku, dan semakin tidak tenang, kegalauan, yang membuat aku pikiran kemana – mana, dan tidak fokus dengan apa yang aku kerjakan.
“Irfan”, Mbak Atin menegur Irfan yang sedang meneguk kopi susunya, di kursi meja makan, dan Irfan mulai memasang telinganya, untuk mendengarkan apa yang ingin di katakan olehnya, namun sebelum Mbak Atin bicara, dia menoleh ke arahku sebentar, aku sudah tahu dia mau bilang apa ke Irfan.
“Kalau begini terus, lebih baik saya balik kerja di rumah sakit, saya enggak kuat kalau harus begini terus, setiap kali kami mendapatkan teror via media sosial, dan untung saja enggak sampai sini, tapi kami juga takut hal itu terjadi, saya pribadi hanya bantu Mbak Rianti ngurusin kedua orang tuanya sakit Fan…”, isak Mbak Atin sambil menunduk, dan aku menggosok pundaknya.
“Irfan aku mohon sama kamu, apakah ada jalan yang lain, kalau sampai mereka tahu aku mengontrak di sebelah rumah kamu ini”, ? timpalku.
Belum lama, aku mengatakan hal itu, Irfan sendiri juga kaget, tiba – tiba saja, Arni salah satu dari fans Irfan, ke rumah, dengan membanting pintu pagar, dan pintu rumah, memaksa masuk ke dalam.
“BANGSATTTTTT KENAPA KE SINI”. !!!! teriak Irfan keras, sengaja agar suaranya di dengar oleh tetangga, dan ada yang menolong mereka semua.
“Saya ke sini, minta pertanggung jawaban atas pembubaran fans admin Mira, kamu bukannya pernah bilang yah, tanpa fans kamu bukan apa – apa, dan bukankah semua artis begitu yah, dan aku tahu kamu begini atas hasutan ini perempuan kan”, telunjuk Arni mengarah padaku, sedangkan Irfan dengan emosi, dia langsung terang – terangan membelaku saat itu.
“prakkkkkkk”
Sampai dua kali Irfan menampar Arni, namun dia justru malah membrutal dengan tuduhan macam – macam, rupanya Arni, tidak sendiri, dia bersama yang lainnya, namun bukan Elin atau Mira, tapi Santi, dan Santi juga rupanya, membawa seseorang yang di suruh untuk mengeroyok kami semua saat itu, aku langsung membela Irfan juga.
“tutup mulut kamu anjing, saya tahu kata – kata kamu itu bohong”, !!! bentakku.
“Pakkkkk”, terdengar mama Vinda, keluar dari kamarnya, mendengar keributan dan mengarah kepada Pak endy yang kerja di rumah Irfan, dia kaget melihat bagaimana mungkin, pagar yang di gembok bisa di buka oleh fans Irfan.
“Ini gimana sih kok bisa tuh orang maksa dobrak pagar gini, padahal kan udah di gembok”, ? tanya mama Vinda.
“Saya udah kunci bu, tapi lihat saja mereka tuh bawa germo”, jawab Pak Endy.
Mau tidak mau, apa yang di lakukan mama Vinda, adalah keluar rumah, dan pergi ke arah post satpam, untuk mengusir mereka, tepat ketika mereka tengah berkelahi, mama Vinda, sudah bersama satpam tersebut, dan mengusir fans gila Irfan itu dari rumah itu, aku mulai berpikir kembali mencari jalan keluar untuk menghindar dari ini semua, rasanya teror ini semakin pelik bagiku, dan pastinya enggak lama lagi, aku akan di ikuti di rumah kontrakan ini, aku menangis di pundak Irfan, meminta tolong cari jalan keluar dengan memohon.
Dia terlihat diam, dan akhirnya, dia mulai berkata, sambil mengusap punggungku, karena aku memeluknya.
“Gimana kalau mama kamu di bawa ke pengobatan yang menginap di Bogor, aku punya kenalan di sana, namanya ustadz Haikal, karena begini, kenapa tambah pelik, aku lihat mama kamu itu di masukkin setan, yang emang bikin dia kadang suka lupa juga dengan keadaan yang orang hilang sejenak ingatan, tapi nanti ingat lagi, sekaligus buat menghindar dari teror, tapi untungnya hal itu belum parah, sebelum parah, aku saranin buat menjauh saja dari Jakarta sejenak, sampai keadaan aman dan setelah aman, barulah di pikirkan lagi, di tepat itu, juga mama kamu di rukiyah sekalian pengobatan stroke dan papa kamu juga diabetesnya”, kata Irfan.
“Mereka kadang emang bisa tahu, apa yang di kerjain oleh kamu dan kita semua, melalui dukunnya juga, dan sampai sekarang emang mereka masih dukun, bahkan mainnya itu menjadi – jadi, aku hari ini bantu pagarin dulu rumah kamu kontrakan, sebelum berangkat ke sana”, kata Irfan.
“Iyah Fan”, aku mengangguk menurut.
Setelah selesai mengobrol di rumah Irfan, pembicaraan itu aku teruskan dengan papa, aku bicara dengan papa serta mama juga, bahkan Mbak Atin di kamar orang tuaku yang baru tentang apa yang di bicarakan oleh Irfan.
“Hari ini Irfan mau pagari rumah dulu”, kataku memulai kata – kata yang pertama.
“Papa pernah dengar pengobatan itu pernah ada di Tv kan maa, katanya emang bagus juga”, sahut papaku.
“Iyah mama juga pengen bisa jalan lagi juga”, timpal mamaku.
__ADS_1
Aku tertegun sejenak, mendengar hal itu, situasi dalam pikiranku, ruwet tidak karuan, yang au pikirkan, aku sudah tidak sabar untuk mencari jalan keluar ini semua.
“Apa sebaiknya hari ini juga kita ke sana”, ? tanyaku pada mamaku.
“Daripada hidup kita enggak tenang, mungkin itu jalan terbaik”, jawab mamaku.
“Aku coba ke rumah Irfan lagi sekarang”, kataku kemudian, dan aku berjalan kembali ke rumah Irfan, pada saat di sana, aku langsung, mengungkapkan apa yang aku rasakan tersebut, karena aku sudah benar – benar di landa juga kepanikkan luar biasa, namun buntu tidak tahu harus berbuat apa, kalau pun agak sedikit lega, karena Irfan punya jalan keluar melalui pengacara, tapi dengan masalah ini, teror yang juga dari serangan gaib, aku juga harus berbuat apa.
“Aku minta di pagari itu sekarang Fan”, kataku dengan suara yang tidak tenang.
“Yah udah aku ke rumah sekarang”, kata Irfan.
“Tapi pada saat proses pemageran aku mau cek dulu rumah kamu, kayak gimana, dan terutama keadaan papa dan mama kamu, apalagi ini juga kiriman keluarga, yang aku lihat dari mata batin aku, jin yang di pakai sama keluarga kamu, itu adalah jin, yang agar mama kamu dan kamu tunduk, dan di saat kamu berontak, biar brantem sama mama kamu, itu masalahnya, karena yang mereka mau adalah kambing hitam dengan jin tipu muslihat”, kata Irfan panjang lebar.
“Karene mungkin masalahnya, dari segi medisnya, mama aku itu sakitnya stroke, dan stroke kadang suka lupa, tapi memori mama aku masih bagus”, kataku kemudian.
“Yah udah aku mau siap – siap aja sekarang, aku udah enggak kuat, aku udah enggak tahu harus gimana lagi Fan, aku udah bingung, mungkin sebaiknya, siap – siap aja, secepatnya kita bawa mama aku ke tempat pengobatan alternative itu sekalian tempat ngumpet juga di sana, dan di sana di Bogor arah puncak atas juga bukan”, ? tanyaku serius.
“Aku pesan kamar dulu dari sekarang, emang aku lihat, begini, dari segi non medisnya, gaibnya, mama kamu itu paling utamanya, harus ninggalin tempat tidurnya, selama ini benar kan, kalau lagi nonton acara aku dulu Kebajikan tiap jam 10 malam, dan kalau nonton di kamar, kadang – kadang, suka pikirannya tiba – tiba, kea rah dia mau ke tempat tidur dia yang lama, dan yang biasa waktu sehat juga di pakai, bukan yang lain, padahal di tempat tidur yang di ranjang medisnya juga sama saja, kenapa harus itu, dan kalau sama keluarga kamu, mama kamu di depannya kayak ke hipnotis, di tambah kadang stroke bisa pikun tiba – tiba juga, tiba – tiba ingat juga, seharusnya sebenarnya, aku dari dulu, aku berpikir sebaiknya rumah ini sudah enggak bisa di tempatin lagi, kamu percaya kan, sama aku enggak mungkin aku menjerumuskan kamu, emang harus di tinggalin sementara, tapi untuk sementara ini bawa mama ngumpet dulu di bogor puncak atas, di sana kan dingin, apalagi mama kamu enggak kuat panas juga jadi cocok”, kata Irfan, aku tertegun sejenak dan akhirnya menganggukan kepala.
“Malam ini kita berangkat”, ! tegaku.
Langkah kakiku, masuk ke dalam kamar, dan merapikan baju, dan kemudian merapikan baju papa dan mamaku, juga, perasaan yang sudah benar – benar di ambang depresi, karena teror gaib, juga teror nyata dari keluarga, yang semakin, buatku stress, aku ingin cepat – cepat meninggalkannya, air mataku menetes, ketika ingin berangkat, bersama mama dan papaku, ke tempat itu, aku berpelukkan sejenak, di ambang pintu kamar mama, yang duduk di kursi roda, Irfan sudah siap mengantarkan kami ke tempat itu, bersama supirnya, walau kami berangkat jam 8 malam, tidak masalah, asalkan bisa lepas dari semua teror itu, Mbak Atin juga ikut pergi ke sana.
Di dalam mobil juga ada Reza supir Irfan yang mengantar, dan Irfan yang duduk di sebelah supir mengajakku bicara.
“Setelah nanti sampai di sana, aku ikut menginap juga, sementara untuk menjaga kalian berdua di sana, aku sewa Villa di sana, dan di sana, memang kita sewa Villa juga, yang satu komplek dengan pengobatan tersebut, masalah bayarannya semua aku sudah yang bantu urus, kamu enggak perlu khawatir, yang penting nanti kamu bisa juga tenang nulis di sana, aman enggak ada yang ganggu, pikiran kamu, karena masalah teror, dan setelah sampai di sana, aku sarankan nomormu di ganti yah Ri”, saran Irfan.
Aku masih diam, belum menjawab satu kata saja, apa yang di katakana oleh Irfan kepadaku, aku sedang bicara kepada hatiku sendiri, dalam waktu bersamaan, Irfan juga mengajakku bicara tentang hal itu.
Pandangan mataku, ku layangkan, keluar jendela, melihat ke jalan – jalan di malam hari, dengan air mata yang menetes.
“ya Allah, beri aku kekuatannnn, ya allah untuk menghadapi semua ini, Ya Allah, kadang yang aku takuti, kalau misal tiba – tiba, saja mereka datang, dan mau meracuni pikiran mamaku, apa yang aku harus aku lakukan, bahkan papaku, untung saja, mamaku tetap sholat dan satu hal yang di sadari olehnya, adalah keimanan kuat mamaku, karena mungkin kesalahan yang di lakukan mamaku dulu adalah malas sholat, dan hal itu, yang membuat mamaku mudah terhasut oleh bisikkan iblis para keluargaku Ya Allah, Ya Allah…….., aku mohon padamu, aku hanya menyerahkan semuanya, masalahku ini padamu, dan jalan keluarnya padamu Ya Allah aku mohon padamu”
“Rianti”, suara teguran sekali lagi Irfan membuat aku yang lagi error pikiranku, kembali tersadar, dan dia mengajak aku, masuk ke dalam JCO donut dan coffee yang juga berada di dalam komplek tersebut, nampak Irfan juga ingin mengatakan sesuatu kepadaku.
“Rasanya malam ini juga aku mau ketemu dengan Ustadz Firman, yang besok itu mau rukiyah mama Reina dan Papa Anggoro juga ngobatin mereka, rumahnya memang satu komplek dengan pengobatan ini juga, ini kita semua kan satu komplek semua”, Irfan menjelaskan.
“Aku sudah tahu ciri – ciri yang di rasakan, dari kiriman gaib itu sendiri, ke kamu, adalah perubahan mama kamu, kalau ketemu keluarga kayak ikut omongan mereka, dan bela mereka, dan enggak percaya sama anak sendiri, juga keras kepala, enggak mau dengar anak sendiri, sama orang lain yang bela kamu juga begitu, mereka tuh kirimannya mau bikin ricuh suasana, dan ngadu domba, agar bisa kamu nurut sama mereka, melalui perantara mama kamu, dan mama juga nurut mereka, tapi yang di kirim lebih dulu, adalah ke kamu, dan kiriman mereka, kalau yang aku lihat itu agar mama kamu, seolah melihat kamu, orang yang kurang baik, dan di buat lupa dengan kamu anak yang sayang sama orang tuanya, mama kamu sendiri, tiba – tiba jadi inget kebaikan mereka doang tapi bukan kejelekkkannya, itu setannnnn tipu muslihat aku sudah paham benar, aku pernah handle pasien yang seperti itu, dan sadarnya, ketika aku kasih air putih, agar menghilangkan hipnotisnya, itu namanya kayak di hipnotis itu jadi harus di kasih minum air putih juga, metodenya, dan kenapa aku cari ke sini, yang punya metode itu di sini, tapi aku mau ketemu dulu sama Ustadz Firman”, kata Irfan panjang lebar.
Aku yang sedang tidak tenang, hanya mengangguk, dan melihat Irfan yang sedang menelepon ustadz dalam waktu bersamaan itu pun, seorang karyawan di sana, melihat kami berdua duduk di restoran ini, dan langsung menaruh menu makanan di atas meja.
“Silahkan”, katanya dengan ramah.
“Saya donut almond yah sama es kopi latte”, kataku.
“Sekalian saya mau ngomong sama mbaknya duduk sini dulu”, ! tegasku kemudian, lalu menarik nafas dulu lebih panjang, barulah mengungkapkan apa yang ingin aku mau sampaikan kepadanya.
“Mbak aku minta tolong sama mbaknya kalau ada orang di luar komplek pengobatan ini jangan pernah kasih masuk siapapun itu”, pesanku.
“Mbak udah, ngomong sama satpamnya sebaiknya ngomong sama satpam yang di depan aja Mas Zulkifli”, kata pegawai perempuan itu.
“Yah Mas Zulkifli nanti mau di suruh ke Villa saya”, kataku.
Dalam waktu bersamaan juga, pegawai itu, meninggalkan tempat kami, dan Irfan sudah selesai berbicara dengan Ustadz Firman.
“Sebentar lagi dia mau ke sini nanti”, Irfan menyampaikan padaku, dan aku mendengarkan sambil menyeruput minumanku.
“Kamu makan dulu saja pesanan kamu itu sudah di antar lebih dulu, biar aku yang pesan belakangan”, kata Irfan kemudian.
“Mas”, Irfan mengayunkan tangan kepada pegawai yang laki – laki dan dalam waktu yang bersamaan itu juga, Ustadz Firman sudah terlihat tiba di tempat dan duduk bersama kami berdua menjelaskan dari apa yang kami berdua keluhkan, tentang mamaku itu, bahkan papaku itu.
__ADS_1
“Ini namanya setan ngadu domba”, kata Ustadz Firman.