SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SANG PEWARIS BAB 54 Tidak jadi mati


__ADS_3

Pak Jayadi menggendong tubuh Ningsih dan dibawanya menghampiri sang Istri yang pingsan.Sambil lalu berusaha menyadarkan sang Istri,Pak Jayadi melihat ke tempat Rudi berdiri tadi.Masih ada ditempat yang sama bersama dengan orang yang sama .Keduanya menatap lekat tanpa bergerak.


Pak Jayadi terus membangunkan sang istri, akhirnya istrinya sadar juga.


"Pah..."istrinya Pak Jayadi memegang keningnya,ia merasa kepalanya sedikit pusing.


"Ayo cepat bangun Ma... cepat"Pak Jayadi menarik tangan istrinya.Sehingga membuat istrinya terseok-seok mengikuti langkahnya.


"Pa sebenarnya ada apa ??"


"Sudah jangan banyak tanya cepat masuk kamar"Pak Jayadi membuka pintu kamarnya.Mereka masuk kemudian menguncinya rapat-rapat.


Pak Jayadi menarik istri ke tempat tidur,lalu mereka menutupi tubuhnya bersembunyi dibalik selimut.Pak Jayadi gemetaran ketakutan, istri dan anaknya masih dalam keadaan bingung.


Tok tok tok tok


Pak Jayadi kaget mendengar pintu diketuk dengan keras,ia semakin ketakutan.Istri Pak Jayadi menyibak selimutnya.


"Jangan mah"Pak Jayadi tidak suka itu.Ia sangat paranoid sekali.


"Ada orang ketuk pintu Pah"


"Biarin saja"


Istri pak Jayadi semakin tidak mengerti dengan sikap suaminya hari ini.


"Yadi...Sumiii"Suara seorang wanita memanggil dari luar.


"Pah seperti suara Mbak Siti"


Pak Jayadi bingung antara percaya dan tidak,ia sangat takut itu hanya pancingan dari anak itu agar dia keluar.


"Yadii...." tok tok tok tok


Istri Pak Jayadi turun dari atas tempat tidur sambil menggendong Ningsih ,ia membuka pintu kamarnya.


"Iya mbak,ada apa?"ternyata benar itu mamanya Rudi.


"Lihat Rudi nggak ??"Wajah Mbak Siti nampak panik.


"Loh nggak Mbak,, emang Nggak sama Mbak ta??"

__ADS_1


"Tadi dia tidur, Mbak taruk dikamar.Terus Mbak ke dapur mau masak air buat susunya Rudi.Eh balik ke kamar Rudi sudah nggak ada.Apa kalian nggak liat dia??"


Istri Pak Jayadi menggeleng.


"Ada di taman tadi mbak"Pak Jayadi memberikan petunjuk.


"Benarkah ???"Tanpa menunggu lebih lama lagi,Mbak Siti langsung pergi ke taman.


Istri Pak Jayadi menutup pintu kamarnya kembali.


"Emang bener Papa lihat Rudi di taman ??"Istri pak Jayadi ingin memastikan.Pak Jayadi mengiyakan.


"Ma..ayo kita cepat pergi dari sini"


"Pergi kemana pah??"


"Kemana saja asal keluar dari rumah ini "


Istri Pak Jayadi menautkan kedua alisnya.


"Ayok ma"Pak Jayadi mulai memaksa.


"Iya tunggu Pak Supri dulu Pah"


"Nganterin Mbok pergi belanja bulanan"


Pak Jayadi menghela nafas, matanya memandang wajah anaknya yang sudah tidur itu lekat-lekat.Ia kembali teringat kejadian yang baru saja ia alami.Kematian hampir saja merenggut nyawa anaknya.Kalau sampai terjadi sesuatu kepada Ningsih,Pak Jayadi takkan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Pah aku ngantuk mau tidur dulu ya, nanti kalau Supri sudah datang bangunin ya"Istri pak Jayadi merebahkan tubuhnya,ia merasa sangat letih sekali.Pak Jayadi mengiyakan kemauan istrinya.Ia pun ikut berbaring disamping Ningsih.


Pak Jayadi membelai rambut sang anak, hatinya begitu ngilu bila ia harus kehilangan buah hatinya itu.Perlahan dan perlahan mata Pak Jayadi mulai diserang kantuk.Ia terlelap seperti terhipnotis.


___Tak terasa malam sudah menjelang, merangkak detik demi detik hingga tengah malam.Pak Jayadi belingkas bangun seperti ada sesuatu yang mengagetkannya.


Benar saja, putrinya Ningsih mengapung di atasnya.


"Ningsih"Pak Jayadi memanggil putrinya, tapi ternyata Ningsih masih terlelap.Bayi itu terus mengapung, pintu terbuka dengan sendirinya dan ia terbang keluar.Pak Jayadi Refleks berlari mengejar,ia tidak sempat membangunkan istrinya karena takut keburu anaknya menghilang.


Cepat sekali tubuh Ningsih terbang,ia sudah tidak kelihatan didalam rumahnya.Pak Jayadi celingukan mencari-cari anaknya.Tapi tidak ketemu,Pak Jayadi sangat panik.Ia berteriak-teriak memanggil putrinya.


Sekelebat bayangan lewat,Pak Jayadi menoleh seketika.Ia melihat pintu tengah terbuka lebar.

__ADS_1


Pak Jayadi teringat kejadian tadi siang, secepat kilat Pak Jayadi berlari keluar.Ia mencari-cari putrinya tapi hampa, putrinya tidak ada.Di kolam,Di taman pun tidak ada.


Pada saat Pak Jayadi sudah hampir putus asa, tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara gelak tawa Ningsih.Pak Jayadi belingsatan mencari,ia terus menerus menyeru nama putrinya.


Sampai ia mencari ke belakang pekarangan,Disanalah ia melihat putrinya merangkak berputar-putar mengelilingi sosok tubuh kecil tapi bermuka seram seperti mengenakan topeng.Di tangan anak kecil itu ada sebuah pedang samurai yang berkilauan terkena sinar lampu.


Pak Jayadi melihat anak kecil itu mengangkat pedangnya ke atas siap menebas siapapun.


"Tunggu!!ku mohon jangan apa-apa kan anakku"Pak Jayadi memelas memohon belas kasih.


Anak kecil itu menyeringai.


"Aku siap melakukan apapun asal lepaskan anakku,jika harus ada yg mati biarlah aku yang mati "


Anak itu mengulurkan tangannya sembari menjentikkan telunjuknya.


Pak Jayadi mengerti,ia berjalan mendekat dengan sisa-sisa tenaganya.Tak dapat disembunyikan kalau dia gemetaran.


Ningsih diam menatap sang ayah, Disela ketakutannya Pak Jayadi mengulum senyum kepada putri kecilnya.Dengan bahasa matanya Pak Jayadi mengatakan semua baik-baik saja kepada Ningsih.


Melihat hal itu Lucy jadi melunak, Meskipun ia menggunakan topeng iblis,Namun hatinya tetaplah Lucy anak kecil yang merindukan kasih sayang orang tuanya.


Pak Jayadi sudah dekat dengan Anak itu,ia meluruhkan badannya hingga lututnya menyentuh tanah.Dalam hatinya ia sedih karena kematian sudah di depan matanya.Dia sudah tidak bisa lagi bermain dengan Ningsih yang kini duduk diantara mereka.Ningsih yang belum mengerti apa-apa sibuk bermain tanah.


Tanpa diduga Lucy melepas topengnya dan pedang samurai ditangannya lenyap.Pak Jayadi diam mematung melihat dengan jelas wajah anak dibalik topeng itu.Matanya bersinar terang.Ia tidak mengerti kenapa anak itu melepas topengnya.


"Kau...aku beri kesempatan untuk menjaga anakmu dan menjaga keponakanmu.Jangan tamak, jangan memakan yang bukan milikmu."Lucy menunjuk tepat didepan wajah Pak Jayadi.


"Tapi jika aku tahu kau melanggar semua ucapanku, saat itu juga tidak ada kesempatan kedua untukmu"


"Apa kamu mengerti ??"


Pak Jayadi tak merespon,Ia diam dengan mulut menganga.Lucy menunjuk Ningsih,Dan bayi itu kembali mengapung di udara.Ia bergerak mengikuti kemana telunjuk Lucy tertuju.Barulah Pak Jayadi panik.


"Tolong jangan apa-apakan anakku "Pak Jayadi bersujud hingga wajahnya menyentuh tanah.


"Apa kamu mengerti apa yang aku katakan ??"


"Iya iya aku mengerti,aku minta maaf,aku akan melakukan apapun yang kamu perintahkan"


Lucy diam, perlahan ia menurunkan Ningsih ke pangkuan sang ayah.Lalu Lucy melesat pergi.

__ADS_1


Pak Jayadi menangis menciumi wajah anaknya.Ia bersyukur karena tidak jadi mati.


Semua kejadian itu disaksikan langsung oleh Rudi dari balkon rumahnya.Anak itu diam tanpa rasa takut melihat adegan-adegan itu.walaupun ia sendiri belumlah mengerti apa-apa.


__ADS_2