
"Ibu.."
Sosok tanpa wujud itu tersenyum lalu lenyap seperti kabut yang tertelan angin.Lucy menatap kosong kabut yang mulai menipis.Netranya mengembun,baru kali ini sosok Ibu yang sangat dirindukannya menampakkan diri.
Lucy tertunduk lama,sedangkan Danu dan Antok tidak membuang kesempatan itu.Mereka berusaha melepaskan diri dari ikatan.Namun yang ada malah saling terguling-guling ditempat.
Lucy mengepalkan tangannya lalu membuka kepalannya,bersamaan dengan itu tali yang mengikat tawanan terlepas.
Danu dan Antok terpana melihat ikatan mereka terlepas begitu saja,cepat-cepat keduanya bangkit.
"Kali ini,aku maafkan kalian.Tolong hapus video itu dan pergi"Lucy tetap menundukkan wajahnya,Danu dan Antok mengangguk cepat lalu segera berlari pergi.
Tapi mereka bingung,dimana pintunya.Tiba-tiba pintu yang tertutup secara samar terbuka lebar.Kedua sekawan itu berlari keluar.Barulah mereka tahu dimana sekarang mereka berada.Itu adalah gudang tua di halaman belakang sekolah.
"Ayo cepat sebelum dia berubah pikiran"Danu menarik tangan Antok.Antok pun berlari segera.
___
"A..A..Aaaaaa"
BRUK
Tubuh Zulkarnain jatuh menimpa kursi yang tadi dijadikan pijakan oleh Andika dan Nouval.
__ADS_1
"Papa"Nouval segera berlari ke arah Zulkarnain dan membantunya berdiri.Zulkarnain meringis kesakitan,tubuhnya seperti remuk redam.
Suara jeritan Nouval menjadi sinyal bagi penghuni rumah yang berkumpul dikamar Lisa untuk segera keluar.Lisa pun ikut keluar dari kamarnya.
Zulkarnain sudah duduk di sofa dengan Nouval disampingnya.Niken yang paling cepat menghampiri.
"Gimana keadaanmu Mas?"Ia duduk disebelah suaminya.
"Sakit semua badanku"Zulkarnain mengadu kesakitan.
"Mana Lucy?"Lisa celingukan karena ia pikir dengan terlepasnya sang Ayah berarti Lucy sudah datang.
"Dia dalam perjalanan"Jawab Bu Minah sambil mengambil tempat duduk di Sofa kosong.Lisa nampak cemas,ia merasa menyesal karena telah membuat semua kejadian buruk ini terjadi.
Lucy melirik dengan ekor matanya,membuat Andika bergidik ngeri.Andika berusaha menarik tangannya yang secara gaib mematung.
"Kak,kenapa Kakak buat Papa melekat di dinding seperti cecak begitu?Kasihan Papa Kak"Nouval dengan berani mengeluarkan pendapat.Ia pasrah dengan apa yang akan dilakukan Lucy nantinya.Hatinya benar-benar tidak terima Papanya diperlukan seperti itu.
Lucy mendekati Ayahnya,ia bersimpuh lalu membenamkan wajahnya diatas kedua paha Ayahnya.
hiks hiks hiks
Lucy menangis sesenggukan hingga tubuhnya berguncang.Semua orang yang berada di ruangan itu saling berpandangan satu sama lain.Mereka heran campur bingung melihat Lucy yang tiba-tiba menangis tergugu.
__ADS_1
Tangan Andika akhirnya terlepas dari kutukan menjadi batu.Hehehehe,ia memilih pergi dari tempat itu sebelum tersihir lagi.
"Ada apa Nak?"Zulkarnain membelai rambut Lucy dengan lembut.Padahal ia sudah sangat lemas.
Lucy mengangkat wajahnya,air mata yang tercurah membuat kelopak matanya bengkak."Ibu Ayah....Ibu...Dia datang padaku tadi"
"Ibu??"Zulkarnain seperti tidak percaya dengan apa yang diceritakan putrinya.
"Iya Ibu Ayah,,,Ibuku"Lucy meyakinkan Ayahnya dari keraguan.
Bu Minah bersusah payah duduk melantai di samping cucunya."Yang kamu maksud Aida?"Beliau juga tak kalah penasarannya.
"Iya Nek,Ibuku..Anak Nenek"
"Di..dia bilang apa?"Bu Minah gemetaran.
"Dia melarangku membunuh mereka"
"Jadi kamu tidak membunuh mereka?"Lisa terjerembab ke lantai.Ia sakit sangat sakit begitu tahu apa yang terjadi.
Lucy menggeleng lemah"Maafkan aku Lisa"
Lisa berusaha bangkit dengan susah payah lalu pergi dengan langkah terseok-seok.
__ADS_1
Satu orang pun tak ada yang mencoba menahan langkah Lisa,malah mereka bersyukur mendengar Lucy tak jadi memakan korban.