SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
TAMASYA


__ADS_3

Labertha menatap semua orang yang sibuk dengan barang-barang mereka. Dua hari saja menginap di mansion lima lantai dengan design mewah ini. Ada sedih di hati wanita tua itu, huniannya kembali sepi..


"Apa tak bisa menginap sehari lagi?" tanyanya. "Karina juga belum datang."


"Maaf Bertha. Kami harus adil. Besan cucuku juga meminta kami menginap di mansionnya," jawab Bart dengan nada menyesal.


"Ah, iya ... Starlight bukan?"


"Benar, Demian kemari!"


Demian datang sambil menggendong Al Bara. Pria itu mencium wanita legenda bisnis tersebut.


"Ah kau sudah besar dan mirip dengan ...," Bertha enggan menyebut nama itu.


Matanya yang lamur sibuk mengamati wajah tampan yang kini ia usap penuh kasih sayang.


"Kau mirip dengan ayahmu," ralatnya dengan senyum indah.


Demian tersenyum dan kembali mengecup perempuan tua itu. Ia sangat paham jika ia mirip dengan ibunya. Ibu yang tega meninggalkannya demi bahagia bersama cinta pertamanya.


"Mana istrimu?" Lidya datang dengan senyum indah..


"Peluk aku sayang," pinta wanita itu lalu merentangkan tangannya.


Lidya memeluk dan mencium lembut kening Labertha. Keduanya saling tersenyum. Bertha sangat suka dipeluk oleh Lidya. Bahkan ketika tidur, ia selalu meminta wanita bertubuh mungil itu memeluknya.


"Nanti ketika kau pergi, aku mendapatkan ini dari mana?" keluhnya ketika dalam pelukan Lidya.


"Dari sini grany," jawab Lidya menyentuh dadanya.


Labertha mengurai pelukannya. Ia menatap wajah mungil berbalut hijab.


"Ah ... aku sudah merindukanmu," ujarnya terkekeh.


"Mana El Bara?" tanyanya.


"Ini El grany," jawab Demian.


"Itu Al, Dem!" sahut wanita tua itu cemberut.


Demian yang memang belum bisa membedakan El dan Al Bara kekeuh mengatakan yang digendongnya adalah El Bara.


"Ini El grany!" Lidya terkikik geli.


"Kau mengerjai suamimu," tegur Bertha dengan tersenyum.


"Maaf grany," ujar Lidya tersenyum lebar.


Mengetahui jika dirinya dikerjai oleh istrinya membuat Demian bersungut.


"Awas nanti malam!"


El Bara berada di gendongan Lastri. Lidya mendatanginya dan membawa keduanya ke hadapan Labertha.


"Aku tau kenapa Frans jatuh cinta padamu," ujar wanita tua itu.


Lastri menantap netra coklat tua di depannya.


"Karena kau penuh dengan cinta dan ketulusan," lanjut Bertha.

__ADS_1


Lastri tersenyum, ia mencium perempuan tua itu. Akhirnya semua pamit. Bram juga bilang Karina akan datang sendiri bersama suami, anak dan cucunya sendiri ke sini tapi tidak menginap dan langsung menuju hunian di mana ibu dari Kanya tinggal.


"Perjalanan bisa mencapai dua jam Bertha. Kami pamit dulu, minta maaf jika ada ...."


"Kupukul kau bocah nakal!"


Labertha memukuli Virgou yang berlaga jadi juru bicara itu hingga mengaduh dan membuat perusuh marah.


"Janan putul daddy!" seru Azha, Harun, Arion, Bariana, Arraya bersamaan.


Labertha menoleh dan melihat tatapan marah yang menggemaskan dari lima bayi itu.


"Piya ... no no tutun!" sahut Arsyad dan Aaima juga sambil menggoyang telunjuknya..


"Babies ... greatgrany kalian jahat," adu Virgou pada para bayi.


Labertha yang tak mengerti bahasa Indonesia bingung dan mulai kesal dengan pria sejuta pesona itu.


"Apa kau baru saja mengadu pada cicitku?!" geramnya yang tentu bahasa Prancis.


"Betbeny!" seru para perusuh berkacak pinggang.


"What them say?"


Akhirnya Bram menjelaskan jika para bayi yang mau dua tahun itu belum lancar bicara.


"Kalian belum jalan-jalan. Paris itu indah loh," ujar wanita tua itu pada akhirnya.


"Mungkin suatu saat nanti grany," ujar Darren.


Akhirnya semua berangkat naik bus kemarin. Beberapa wartawan yang masih setia mengelilingi pagar demi mendapat satu jepretan lagi foto keluarga besar itu. Sayang, laju bus yang sedikit kencang, membuat para wartawan takut mendekat dan akhirnya semua usaha mereka sia-sia.


"Nyonya besar ... apa kita benar-benar kesepian lagi?" tanya salah satu maid.


Bertha menghela napas panjang. Ia hanya menatap maid yang bertanya tadi.


"Ya, kita kesepian lagi," jawabnya lemah.


Sementara dalam bus yang bisa untuk tidur. Mereka ingin mampir ke menara yang paling banyak dikunjungi di kota ini, menara Eiffel.


Semua turun dari bus hanya untuk berfoto-foto. Para bodyguard dengan sigap mengamankan keluarga. Walau tanpa, Gomesh, Budiman dan Gio. Ada Dahlan yang menjadi ketua mereka dan mengkoordinir semuanya.


"Kalau malam, tempat ini indah sayang," ujar Jac pada Putri, istrinya.


Sang istri menatapnya. Aaima ada di gendongan Calvin, bayi cantik itu tak mau lepas dari dekapan remaja tampan itu.


"Hidupku selalu indah bersamamu sayang," ujar wanita itu.


Jac tersenyum bahagia. Keduanya berpelukan dan mengabadikan momen romantis sesaat ini menggunakan kamera pribadi mereka.


"Papa Jac, Ibu Putri, mau Kaila foto?" tawar gadis kecil itu.


"Apa boleh?" gadis itu mengangguk. "Tapi bayar satu euro ya," kekehnya.


"Baby!" tegur Puspita.


Kaila cemberut. Jac mengedipkan mata padanya, lalu menyelipkan lima Euro pada Kaila.


Kaila mendadak jadi tukang foto keliling. Bidikan gadis itu benar-benar bagus. Semua harus membayar satu Euro padanya jika mau difoto.

__ADS_1


"Jadi kau sudah dapat berapa?" tanya Dewi.


"Baru tiga puluh euro!' jawab Kaila setelah menghitung uangnya.


"Ah, berikan aku modal untuk beli kertas, pensil, penghapus dan alas gambar!" pinta gadis kecil itu.


"Ah ... kau mau menggambar mereka?" Dewi mengangguk.


Maisya mendengar kedua adiknya yang berencana memiliki uang Euro.


"Kalian mau beli itu di mana?" tanyanya.


"Kita cari toko buku!" Kaila mengambil ponsel dan mentranslate semua toko yang berjejer di sana.


"Ada satu toko kecil khusus untuk alat lukis;" tunjuknya.


Tiga gadis bergandengan tangan dan pergi ke toko itu. Najwa melihat pergerakan tiga gadis kecil itu.


"Eh, mereka mau ke mana?" tunjuknya.


Reno dan Hendra langsung mengawal tiga gadis itu. Beberapa pedagang berusaha mendekati mereka dan bisa diatasi oleh dua pengawal tampan itu.


"Papan pampan!" teriak Bariana tiba-tiba menyusul dua pria yang mengawal kakaknya.


"Baby!" Seruni langsung menyambar bayi cantik itu dan menggendongnya.


"Mau ke mana baby?" tanyanya dengan jantung berdetak kencang.


Tak hanya Seruni yang jantungnya mau lepas, nyaris semua ikut mengelus dada. Jika saja Seruni telat sedetik mengangkat bayi cantik itu. Bariana tak melihat jalan yang sedikit tinggi, hingga bisa membuat ia terguling di jalan.


Para bayi digendong oleh para pengawal. Dav yang menggendong Arsyad, Ditya dan Radit digandeng Lastri dan Leon.


Tiga gadis kembali. Bariana marah pada Reno dan tak mau digendong oleh pria tampan itu.


"Eundat mawu!" tolaknya marah.


"Nona baby, maaf tadi nona kakak hampir juga diganggu orang loh," ujar Reno memberi penjelasan pada bayi cantik dan menggemaskan itu.


"Beulnel?"


"Iya nona baby, masa Abang pengawal tampan bohong," sahut Reno.


Akhirnya Bariana mau digendong oleh Abang pengawal tampannya.


"Papan penawal pampan, talo bawu peldi halus pawa Baby Baliana ya!" peringatnya.


"Oteh Nona baby," sahut Reno lalu mengecup gemas pipi gembul bayi cantik itu.


Sedang Dewi mulai menawarkan jasanya pada sepasang suami istri bule untuk ia gambar.


"Vous avez de la chance mesdames et messieurs. Aujourd'hui, je vais peindre gratuitement rien que pour vous !" (anda beruntung tuan dan nyonya, hari ini saya akan melukis gratis hanya untuk anda!) tawarnya.


Hanya lima menit, gambar Dewi selesai. Sepasang suami istri itu sangat bahagia dan memuji lukisan pensil gadis itu.


Tak lama, banyak pasangan ingin dilukis oleh Dewi. Hal ini membuat Virgou berjaga di sisi gadis kecil itu. Sedang Herman dan Khasya menikmati keindahan menara Eiffel pagi hari dengan berpelukan tanpa peduli dengan anak-anak mereka.


bersambung.


ayah ... bunda ... kalian curang yaa ... mentang-mentang anaknya udah gede!

__ADS_1


next?


__ADS_2